Saat Dolar
Berbicara,
Maluku Menangis
Rupiah menembus Rp17.600 per dolar — rekor terburuk sepanjang sejarah. Di negeri yang sudah jauh dari pusat kekuasaan, rakyat kepulauan membayar dua kali: sekali untuk kurs, sekali lagi untuk jarak.
◆ Ambon, Maluku
Perempuan itu berdiri lama di depan rak beras di sebuah toko sembako di pinggir Pasar Mardika, Ambon. Tangannya memegang dua lembar uang seratus ribu. Matanya membandingkan harga yang tertulis dengan angka yang ada di kepalanya — angka yang ia ingat dari bulan lalu. Harga sudah naik lagi. Bukan banyak-banyak. Hanya beberapa ribu rupiah. Tapi bagi perempuan dengan tiga anak dan suami nelayan, “beberapa ribu” adalah perbedaan antara lauk ikan dan lauk garam.
Di Jakarta, para ekonom berdebat tentang level psikologis, cadangan devisa, dan intervensi Bank Indonesia. Di gedung DPR, politisi berpidato tentang perlindungan rakyat kecil. Di istana, Presiden berkata bahwa orang desa tidak pakai dolar. Tapi di Pasar Mardika — dan di ribuan pasar lain dari Ternate hingga Kepulauan Aru — dolar berbicara dengan sangat fasih, tanpa ditanya, tanpa permisi.
Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah angka di layar perdagangan valuta asing berubah menjadi lapar di meja makan, motor mogok yang tak bisa dibengkelkan, dan warung yang tutup sebelum tengah hari.
Dari Rp16.500 Menjadi Rp17.604 — Rekor yang Tak Seorang Pun Inginkan
APBN 2026 disusun dengan asumsi kurs rupiah di level Rp16.500 per dolar AS. Angka itu kini terasa seperti lelucon pahit. Dalam hitungan pekan, rupiah runtuh ke level yang belum pernah dicapai sepanjang sejarah Indonesia.
-
Awal April 2026
Rupiah menembus Rp17.000 untuk pertama kalinya sejak era krisis. Pasar keuangan mulai gelisah.
-
12 Mei 2026
Rupiah menyentuh Rp17.500 per dolar AS — level psikologis baru yang memicu kepanikan di kalangan pelaku usaha. Indeks saham BEI anjlok 2,1%.
-
15 Mei 2026
Dalam sesi pembukaan, rupiah mencatatkan all-time low: Rp17.604 per dolar AS. Perbedaan 7,3% dari target APBN menjadi beban tersendiri bagi APBN, subsidi, dan utang luar negeri.
-
17–18 Mei 2026
Rupiah masih bergerak di kisaran Rp17.600. Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar obligasi. Ekonom mulai berbicara tentang “perfect storm”.
Ada dua tersangka utama dalam kejatuhan ini: faktor global dan faktor domestik. Di luar negeri, konflik bersenjata AS–Iran yang kembali memanas mendorong investor global berbondong-bondong ke dolar sebagai pelabuhan aman. Di dalam negeri, kekhawatiran atas disiplin fiskal, independensi bank sentral, dan regulasi pasar modal menjadi bahan bakar yang mempercepat kebakaran.
“Ini bukan sekadar angka di layar. Ini adalah inflasi yang sedang berjalan kaki menuju dapur setiap keluarga Indonesia — dan di Maluku, kakinya lebih panjang.”— Analisis Ekonom CORE Indonesia
Yang membedakan krisis kurs kali ini dengan krisis 1997–1998, kata para ekonom, adalah bahwa sistem keuangan Indonesia jauh lebih kokoh. Cadangan devisa melampaui US$150 miliar, rupiah tidak dipatok pada kurs tertentu, dan utang luar negeri relatif terkendali di sekitar 30% PDB. Artinya, Indonesia tidak dalam bahaya krisis sistemik. Tapi “tidak krisis sistemik” adalah kabar yang sangat sulit untuk dirasakan di warung kopi yang beras dan gula-nya sudah naik.
Rakyat Kecil Tidak Pakai Dolar — Tapi Dolar Memakai Mereka
Presiden Prabowo Subianto berkata, “Orang desa tidak pakai dollar kok.” Pernyataan itu langsung menuai kritik. Bukan karena salah sepenuhnya — memang benar bahwa transaksi harian menggunakan rupiah — tetapi karena melewatkan satu mekanisme fundamental: rantai pasok.
▪ Rantai Transmisi
Dolar melemahkan rupiah → impor mahal → bahan baku naik → biaya produksi naik → harga jual naik → daya beli turun → ekonomi melambat.
Lingkaran ini berlaku bahkan untuk petani yang belum pernah melihat lembar dolar seumur hidupnya.
Indonesia adalah negara yang sangat bergantung pada impor untuk hampir semua fondasi kehidupan sehari-hari: gandum untuk roti dan mi instan, kedelai untuk tahu dan tempe, bahan bakar minyak, pupuk, suku cadang alat mesin pertanian, obat-obatan, hingga kemasan plastik untuk minyak goreng. Ketika rupiah melemah, semua komponen ini — yang dihargai dalam dolar — mendadak jadi lebih mahal dalam rupiah.
Ekonom CELIOS memperkirakan kenaikan harga akan terasa nyata dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Gejalanya sudah mulai tampak: komoditas plastik semakin langka, biaya distribusi membengkak, dan minyak goreng — yang kemasannya berbahan plastik impor — mulai merangkak naik. Dari sini, efek domino bekerja dengan sangat efisien.
Sembako: Meja Makan yang Semakin Sempit
Di pasar-pasar tradisional, penyesuaian harga biasanya tidak terjadi sekaligus — para pedagang dan distributor pertama-tama mencoba menahan margin. Tapi jika kurs bertahan lemah dalam waktu lama, “penyesuaian harga hampir tidak terhindarkan.” Produk yang paling rentan adalah pangan berbasis impor: tahu, tempe, roti, mi instan — makanan pokok masyarakat menengah ke bawah.
Ironisnya, bahkan sayur-mayur yang ditanam di tanah sendiri ikut mahal. Bukan karena benih atau tanamannya impor, tapi karena biaya transportasinya — truk, kapal, BBM — semuanya naik mengikuti dolar.
UMKM: Terjepit di Antara Biaya dan Loyalitas Pelanggan
Bayangkan seorang pemilik warung makan di sebuah gang di Ambon. Ia membeli LPG nonsubsidi, beras, tahu, cabai, dan plastik kresek untuk bungkus. Semua komponen itu harganya naik. Ia dihadapkan pada pilihan yang tak ada menangnya: naikkan harga dan kehilangan pelanggan yang sudah sama-sama susah, atau pertahankan harga dan perlahan-lahan bangkrut.
Ekonom UGM, Rijadh Djatu Winardi, menyebut empat jepit yang dialami UMKM secara bersamaan: biaya produksi melonjak, beban utang membengkak bagi yang punya pinjaman dolar, akses pendanaan makin sulit karena investor beralih ke instrumen dolar, dan omzet turun karena konsumen menahan pengeluaran. Keempat jepit itu terjadi bukan secara bergantian, tapi serentak.
Petani dan Peternak: Yang Menanam Pun Tak Luput
Sering diasumsikan bahwa petani lokal aman dari guncangan kurs karena mereka tidak impor produk. Asumsi itu keliru. Pupuk nonsubsidi, obat-obatan pertanian, hingga suku cadang alat mesin pertanian — semuanya masih didatangkan dari luar negeri. Ketika rupiah melemah, harga pupuk bisa melonjak hingga 50 persen, membuat biaya produksi naik tanpa diimbangi kenaikan harga jual panen. Petani menanggung biaya lebih tinggi, tapi tetap menjual di harga yang ditentukan pasar.
Peternak ayam dan sapi di pedesaan bernasib serupa: pakan ternak sebagian besar diimpor, sehingga setiap pelemahan rupiah langsung menggerus margin mereka.
Maluku: Membayar Dua Kali untuk Satu Masalah
Ada sesuatu yang perlu dipahami tentang Maluku sebelum kita bicara tentang dampak kurs: Maluku sudah mahal bahkan sebelum rupiah jatuh. Kemalangan ini bukan baru — ia adalah warisan geografis yang sudah berabad lamanya.
Maluku adalah provinsi kepulauan dengan lebih dari 1.340 pulau yang tersebar di lautan. Distribusi sembako ke pulau-pulau terpencil seperti di Kabupaten Kepulauan Aru atau Maluku Barat Daya membutuhkan perencanaan logistik yang sangat matang dan biaya yang sangat tinggi. Laporan dari berbagai kajian independen mencatat bahwa biaya transportasi laut adalah komponen utama pembentuk harga sembako di wilayah ini.
“Biaya logistik Indonesia sudah 24% dari PDB — salah satu yang tertinggi di dunia. Di Maluku, angka itu jauh lebih tinggi. Dan pelemahan rupiah bukan menambah satu lapis masalah — ia mengalikan masalah yang sudah ada.”— Kajian Rantai Pasok Kepulauan, 2025
Efek Pengganda: Kurs × Jarak × Frekuensi Kapal
Di Pulau Jawa, kenaikan harga BBM sebesar 10% berdampak pada kenaikan ongkos distribusi sekitar 10–20%. Di Maluku, efek itu dikalikan dua atau tiga kali: BBM untuk truk, ditambah BBM untuk kapal pengangkut, ditambah biaya bongkar-muat di pelabuhan kecil yang minim fasilitas. Jika kapal hanya datang seminggu sekali ke sebuah pulau terpencil, maka kenaikan biaya itu tidak bisa dilunakkan dengan frekuensi pengiriman — semua biaya terkonsentrasi dalam satu kali pengiriman.
Akibatnya, disparitas harga antara Indonesia Barat dan Timur — yang sudah tajam sebelumnya — makin menganga. Barang yang sama bisa berharga dua hingga tiga kali lipat lebih mahal di Kepulauan Aru dibanding di Surabaya, dan kini kenaikan kurs mempertebal jarak harga itu lebih jauh lagi.
UMKM Maluku: Rentan Berlipat
UMKM di Maluku sangat bergantung pada pasokan dari luar pulau. Bahan baku datang dari Surabaya, Makassar, atau Jakarta — melewati jalur laut yang panjang dan mahal. Ketika rupiah melemah dan ongkos kirim naik, seluruh struktur biaya UMKM Maluku ikut bergerak. Tidak ada buffer. Tidak ada jalur darat alternatif. Tidak ada pilihan gudang lokal yang murah.
Platform digital pun mengakui realitas ini: untuk wilayah Kepulauan Maluku dan Papua, biaya layanan logistik dipatok pada angka maksimal dan secara konsisten berada di level tertinggi dibanding wilayah lain. Pelemahan rupiah hanya membuat angka yang sudah tinggi itu bertambah tinggi.
Paradoks Nelayan: Kaya Laut, Miskin Darat
Maluku adalah salah satu provinsi dengan potensi perikanan terbesar di Indonesia. Di atas kertas, nelayan yang menjual hasil tangkapan ke eksportir seharusnya diuntungkan oleh pelemahan rupiah — karena pendapatan berbasis dolar berarti lebih banyak rupiah di tangan. Tapi ini adalah keuntungan yang hanya dinikmati oleh sebagian kecil nelayan besar yang punya akses ke rantai ekspor.
Nelayan kecil — mayoritas di Maluku — tidak ekspor langsung. Mereka menjual ke pengepul lokal dengan harga rupiah yang tidak otomatis naik mengikuti kurs. Sementara di sisi lain, solar untuk mesin kapal naik, jaring dan peralatan impor makin mahal, dan suku cadang mesin berbasis dolar semakin tidak terjangkau. Mereka menghadapi biaya input yang mengikuti dolar, tapi pendapatan yang terkunci dalam rupiah lokal.
Anak-anak di Pulau Terpencil: Gizi yang Terancam
Di balik angka-angka makroekonomi, ada konsekuensi paling sunyi sekaligus paling berat: gizi anak-anak. Di kepulauan terpencil Maluku, tingginya harga kebutuhan pokok menggerus daya beli keluarga miskin secara langsung. Ketika harga ikan, sayur, dan beras naik bersamaan — sementara pendapatan nelayan atau petani stagnan — yang pertama dikurangi adalah variasi dan kualitas makanan.
Kajian tentang distribusi sembako di kepulauan menyebutkan bahwa anak-anak di daerah kepulauan berisiko mengalami masalah gizi karena keterbatasan akses terhadap makanan bergizi akibat tingginya harga. Dalam konteks pelemahan rupiah, risiko ini tidak statis — ia terus bertumbuh seiring setiap rupiah yang melemah.
Negara pun Terjepit: Subsidi Membengkak, Ruang Sosial Menyempit
Ketika rupiah melemah, pemerintah tidak hanya menghadapi tekanan dari sisi warga — ia sendiri menghadapi tekanan dari sisi anggaran. Subsidi energi membengkak karena harga impor energi naik. Pembayaran utang luar negeri dalam rupiah menggelembung, meski nilai dolar yang harus dibayar tetap sama. Dan pada kuartal pertama 2026, BPS mencatat nilai impor melejit 10,05% secara tahunan — jauh melampaui ekspor yang hanya naik 0,34%.
Artinya: negara harus mengeluarkan lebih banyak untuk subsidi dan utang, sementara penerimaan tidak tumbuh proporsional. Ruang fiskal menyempit. Dan ketika ruang fiskal menyempit, yang pertama terancam adalah program perlindungan sosial — justru jaring pengaman bagi mereka yang paling terpukul oleh pelemahan rupiah.
DPR RI menyerukan perlindungan bagi masyarakat kecil dan pengendalian harga kebutuhan pokok. Bank Indonesia turun tangan melakukan intervensi pasar obligasi. Pemerintah menegaskan akan terus menjaga UMKM. Tapi para ekonom mengingatkan bahwa instrumen kebijakan moneter memiliki efektivitas yang terbatas jika masalah dasarnya ada di tataran fiskal dan struktural — dan intervensi pasar yang terus-menerus juga tidak murah.
Angka Itu Tidak Abstrak
Pada akhirnya, ada sesuatu yang perlu dikatakan dengan jelas: angka Rp17.604 per dolar AS bukan sekadar rekor statistik. Ia adalah kenyataan yang hidup di meja makan jutaan keluarga, di warung yang menghitung margin malam ini, di perahu nelayan yang tangkinya setengah penuh karena solar mahal, di pulau kecil di timur Indonesia yang menunggu kapal yang datang hanya sekali seminggu.
Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang lebih kokoh dari 1998. Cadangan devisa mencukupi. Rupiah bergerak bebas mengikuti pasar, tidak dipatok. Ini semua adalah kebenaran yang penting. Tapi kebenaran itu tidak mengisi piring nasi keluarga yang upahnya tidak naik secepat harga barang.
Dan bagi Maluku — dengan segala kekayaan lautnya, dengan segala kegagahan pulau-pulaunya — setiap guncangan ekonomi nasional selalu terasa dua kali lebih keras. Karena jarak bukan hanya soal kilometer. Jarak adalah biaya. Jarak adalah keterlambatan. Jarak adalah harga yang harus dibayar setiap hari oleh mereka yang lahir jauh dari pusat kekuasaan dan pusat distribusi.
Rupiah mungkin akan pulih. Kurs mungkin akan stabil kembali. Tapi pertanyaan yang lebih dalam tetap menggantung: ketika pemulihan tiba, siapa yang pulih duluan — dan siapa yang paling lama menunggu?
Di Pasar Mardika, perempuan itu akhirnya mengambil beras yang lebih murah. Ukurannya lebih kecil. Kualitasnya sedikit lebih rendah. Tapi itu yang bisa ia beli dengan uang di tangannya. Ia tidak tahu apa itu all-time low. Ia tidak peduli tentang level psikologis pasar valuta asing. Yang ia tahu: dua lembar merah itu tidak cukup lagi seperti sebulan yang lalu.
Dan itu adalah data paling jujur tentang apa yang sedang terjadi.