Kapal Laut: Perjalanan Harapan

Share:

Saya kini menjalani hari-hari dengan tenang sebagai seorang pensiunan. Tahun lalu saya didiagnosis terkena kanker kolorektal (adenocarcinomacolon) stadium 3 yang segera harus dioperasi dan dilanjutkan dengan kemoterapi. Kini, setelah 6 bulan kemudian harus melakukan kontrol pertama sesuai saran dokter di kota Makassar, yang tentu saja memiliki fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

Namun, perjalanan ini bukan perjalanan biasa. Alih-alih menggunakan pesawat, saya memilih moda transportasi laut dengan menumpang KM Labobar. Maklum, pensiunan… Kapal Pelni ini sudah termasuk tua karena dibuat sejak tahun 2004. Kapal dengan kelas ekonomi yang tentu saja penuh sesak dengan penumpang dari Indonesia Timur ke arah Barat.

Hari Keberangkatan: Ambon ke Namlea

Sore itu, dermaga Ambon dipenuhi kesibukan. Saya ditemani istri dan seorang cucu, masing-masing dengan koper kecil berisi pakaian dan surat-surat rujukan medis, memasuki KM Labobar. Saat kapal melaju membelah perairan, saya teringat ke masa muda dulu saat pertama kali ke Ambon untuk mencari pekerjaan. Kini, saya juga terkenang saat beberapa kali mengunjungi Namlea untuk proyek survey. Saat ini, saya bukan lagi seorang dosen aktif, melainkan seorang pasien yang mencari harapan.

Perjalanan ke Namlea memakan waktu sekitar lima jam. Selama di kapal, saya berbincang dengan seorang pemuda bernama Alvi yang sedang menuju Baubau untuk membuka usaha perikanan. Percakapan kami tentang kehidupan dan tantangan, membuat saya tersadar bahwa setiap perjalanan, besar atau kecil, adalah bagian dari perjuangan.

Namlea ke Baubau: Lintasan Kenangan

Dari Namlea, kapal laut melanjutkan perjalanan menuju Baubau. Malam di lautan terasa syahdu dengan lampu-lampu kecil di dermaga yang terlihat dari kejauhan. Saya menghabiskan waktu membaca Alkitab digital di dalam tablet yang saya bawa.

Di Baubau, saya singgah sebentar untuk menikmati suasana dermaga. Teh hangat cukup nikmat menjadi pengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan. Seorang lelaki muda mengenali saya dan menyapa dengan hormat, ternyata dia adalah mantan mahasiswa saya.

Baubau ke Makassar: Menuju Asa Baru

Perjalanan terakhir menuju Makassar terasa lebih menegangkan. Saya duduk di tengah keramaian penumpang kapal, memandangi ombak yang bergulung seolah mencerminkan kegelisahan hati. Bagaimana hasil pemeriksaan nanti? Apakah baik-baik saja? Apakah saya masih punya waktu lebih lama untuk bersama dengan keluarga?

Saat kapal laut akhirnya merapat di Makassar, perasaan lega dan syukur menyelimuti hati. Di terminal, saya disambut oleh keponakan yang sudah menunggu dengan pelukan hangat.

Penutup

Perjalanan ini bukan hanya perjalanan fisik, tapi juga perjalanan batin. Di setiap persinggahan, saya menemukan kembali semangat hidup, makna pengabdian, dan harapan baru. Kapal laut, dengan jalan merayap dan keriuhan penumpangnya, telah menjadi saksi perjalanan seorang mantan dosen yang mencari jalan untuk bertahan, bukan demi dirinya sendiri, tetapi demi keluarga dan orang-orang yang mencintainya.

Makassar, 13 Januari 2025.

error: Content is protected !!