Pada akhir abad ke-17, seorang pria yang dikenal sebagai Pangeran Giolo, atau Jeoly, menjadi sosok yang memikat perhatian di Inggris, dengan tubuhnya yang dihiasi tato-tato rumit yang memukau penonton Eropa. Berasal dari Pulau Miangas (Talaud), sebuah pulau terpencil di utara Indonesia dekat Mindanao, Filipina, kisah Giolo bukanlah kisah kemenangan, melainkan contoh menyedihkan dari eksploitasi kolonial, salah tafsir budaya, dan komodifikasi tubuh manusia. Melalui tato-nya—simbol hidup dari warisan budayanya—Giolo menjadi tontonan, seorang “Pangeran Bercat” yang kehidupan dan warisannya mengungkapkan hubungan rumit antara rasa ingin tahu dan kekejaman di era eksplorasi.
Perjalanan Jeoly: Dari Miangas ke London
Jeoly, yang kemudian dijuluki Pangeran Giolo oleh para penculiknya, adalah seorang pria dari Miangas, kemungkinan besar berasal dari komunitas pribumi dengan tradisi budaya yang terkait dengan Filipina atau Mikronesia. Pada tahun 1690, ia dan ibunya dibeli sebagai budak oleh bajak laut Inggris, William Dampier, di Mindanao. Dampier, seorang pengamat dan penulis yang cermat, melihat Giolo sebagai peluang untuk meraup keuntungan, bukan sebagai manusia, melainkan sebagai keajaiban yang bisa dipamerkan. Perjalanan menuju Inggris penuh penderitaan; ibu Giolo meninggal di laut, meninggalkannya sendirian di dunia asing. Pada tahun 1691, Giolo tiba di London, di mana ia dipamerkan di Blue Boar’s Head Inn sebagai “orang liar yang mulia” dan “pangeran” dari Timur yang eksotis.
Narasi yang dibangun seputar Giolo adalah karangan belaka, dirancang untuk memikat penonton yang membayar. Pamflet, seperti yang dibuat oleh John Savage dan Thomas Hyde, menggambarkannya sebagai putra Raja Gilolo (Jailolo), sebuah klaim yang mungkin terinspirasi oleh wilayah Maluku tetapi tidak akurat mengingat asal-usulnya dari Miangas. Cerita-cerita ini, yang dihiasi dengan kisah tentang tato yang konon melindunginya dari racun dan bisa ular, merampas identitas asli Giolo, menggantikannya dengan karikatur romantis yang selaras dengan fantasi Eropa tentang “yang lain.” Tato-nya, jauh dari sekadar hiasan, adalah bukti akar budayanya, namun menjadi alat eksploitasi di masyarakat yang haus akan hal-hal asing.

Tato: Seni, Identitas, dan Salah Tafsir
Tato Giolo, sebagaimana didokumentasikan dalam ilustrasi John Savage pada tahun 1692, adalah karya seni dengan pola geometris yang rumit. Menutupi dada, lengan, dan kaki, desainnya menampilkan garis-garis simetris, zig-zag, dan motif seperti ombak, yang mengingatkan pada praktik tato tradisional di Mikronesia dan Filipina. Menurut catatan Dampier, dadanya dihiasi pola persegi, ketiaknya memiliki lengkungan, dan lengan bawah serta betisnya dilingkari dengan pita seperti gelang. Tato ini bukanlah sembarang; dalam konteks aslinya, tato tersebut kemungkinan besar menandakan status sosial, perlindungan spiritual, atau keanggotaan komunal, sebagaimana umum dalam banyak budaya Pasifik.
Namun, di Inggris, tato-tato tersebut kehilangan makna budayanya. Bagi penonton Eropa, tato itu adalah keajaiban eksotis, bukti dunia “liar” yang menarik. Pamflet-pamflet tersebut melebih-lebihkan tujuannya, mengklaim bahwa tato melindungi Giolo dari bisa ular—klaim yang memanjakan ketertarikan era itu pada hal-hal mistis. Salah tafsir ini menghapus makna sebenarnya dari tato, mereduksinya menjadi tontonan demi keuntungan. Tubuh Giolo menjadi kanvas bukan untuk ceritanya sendiri, melainkan untuk proyeksi Eropa, sebuah pameran hidup di era yang memandang non-Eropa sebagai objek studi dan hiburan.
Pengawetan kulit bertato Giolo setelah kematiannya pada tahun 1692 semakin menegaskan dehumanisasi ini. Setelah meninggal karena cacar di Oxford, kulitnya dikuliti dan diawetkan oleh Universitas Oxford, dipajang bersama keajaiban lain seperti peta Tiongkok milik John Selden. Tindakan ini, yang dibingkai sebagai penyelidikan ilmiah, adalah penghinaan terakhir, mengubah tubuh Giolo menjadi artefak permanen dari ketertarikan kolonial. Tato-nya, yang pernah menjadi simbol identitas, direduksi menjadi pameran tak bernyawa, terpisah dari pria yang memakainya.
Eksploitasi Budaya dan Pandangan Kolonial
Kisah Giolo adalah miniatur dari pertemuan kolonial, dimana rasa ingin tahu sering kali menutupi kekejaman. Akhir abad ke-17 adalah periode ekspansi eksplorasi Eropa, dan tokoh seperti Giolo terjebak dalam jaringan ekspansi ini. Dipamerkan bersama “eksotis” lain di Eropa, ia adalah bagian dari tren pameran manusia yang kemudian mencakup Saartjie Baartman dan Ota Benga pada abad-abad berikutnya. Pameran-pameran ini memenuhi selera publik akan hal-hal yang tidak biasa sambil memperkuat hierarki rasial yang menempatkan orang Eropa di atas “orang liar” lainnya.
Ketertarikan pada tato Giolo juga mengisyaratkan minat awal Eropa pada seni tubuh, yang kemudian berkembang setelah perjalanan Kapten James Cook ke Pasifik. Namun, minat ini datang dengan biaya. Giolo bukan peserta yang rela; ia adalah budak, digambarkan oleh orang-orang sezamannya sebagai murung dan terisolasi. Keheningannya dalam catatan sejarah—tanpa kesaksian langsung—berbicara banyak tentang ketidakberdayaannya. Suara yang menceritakan kisahnya adalah milik Dampier, Savage, dan Hyde, yang semuanya mengambil keuntungan dari penderitaannya. Ketiadaan kuasa ini adalah pengingat nyata akan korban manusia dari tontonan kolonial.
Warisan dan Refleksi
Kisah Pangeran Giolo adalah sebuah tragedi, tetapi juga menyimpan pelajaran untuk memahami pertukaran dan eksploitasi budaya. Tato-nya, meskipun disalahartikan, adalah jembatan menuju dunia yang sulit dipahami oleh penonton Eropa. Mereka mengisyaratkan kekayaan budaya Pasifik, di mana seni tubuh adalah bahasa identitas dan kebersamaan. Saat ini, kisah Giolo beresonansi dalam diskusi tentang apropriasi budaya dan etika memamerkan tubuh manusia, baik di museum maupun media.
Perspektif modern, seperti yang diungkapkan dalam postingan di X, memandang Giolo sebagai korban kekerasan kolonial, tato-nya sebagai simbol warisan yang dieksploitasi daripada dirayakan. Meskipun pandangan ini berisiko meromantisasi kisahnya, mereka menyoroti kesadaran yang meningkat akan perlunya merebut kembali narasi seperti Giolo dari lensa kolonial. Tato-nya, yang pernah menjadi sumber ketertarikan, kini menjadi pengingat akan kemanusiaan yang diabaikan demi keuntungan dan rasa ingin tahu.
Sebagai penutup, kisah Pangeran Giolo dan tato-nya adalah jendela menuju kompleksitas pertemuan budaya di era kolonial. Perjalanannya dari Miangas ke London, yang ditandai dengan kehilangan dan eksploitasi, mengungkapkan biaya dari ketertarikan Eropa pada “yang lain.” Tato-nya, meskipun indah, lebih dari sekadar seni; mereka adalah bukti budaya dan seorang pria yang suaranya dibungkam. Dengan merenungkan warisan Giolo, kita ditantang untuk mendekati perbedaan budaya dengan hormat dan rendah hati, memastikan bahwa kisah-kisah seperti miliknya diceritakan dengan martabat yang pantas mereka terima.