Johan dan Abubakar masih terengah-engah setelah petualangan pertama mereka di terowongan misterius. Hari ini, mereka kembali ke lokasi reruntuhan laboratorium itu, penuh rasa penasaran.
Johan: “Bak, aku penasaran… Apa mungkin lorong ini bisa membawa kita ke tempat lain lagi?”
Abubakar: “Seng tau, Han. Tapi kalau iya, beta ingin melihat sesuatu yang lebih menakjubkan kali ini.”
Mereka melangkah masuk. Cahaya aneh kembali menyelimuti mereka, dan dalam sekejap, mereka berada di hutan tropis yang rimbun. Suara kicauan burung terdengar dari segala arah.
Abubakar: “Wow, katong di mana ini? Dia pung pohon beda e?”
Johan: “Aku rasa ini di Saumlaki, di Kepulauan Tanimbar!”
Abubakar: “Saumlaki? Wah, beta pung tete dolo pernah bertugas sebagai Danramil di sini. Antua sering cerita tentang keindahan hutan dan satwa liar di Tanimbar.”
Tiba-tiba, terdengar suara riang dari atas pohon. Seekor burung berwarna putih dengan jambul pendek dan mata cerdas menatap mereka.
Johan: “Lihat, Bak! Itu burung kakaktua, kan? Tapi kecil dan jambulnya nggak setinggi yang biasa kita lihat.”
???: “Krrrkk! Selamat datang di tanahku, manusia!”
Johan dan Abubakar tersentak kaget.
Abubakar: “Johan e… burung itu bicara?!”
Kakaktua: “Tentu saja aku bisa bicara! Aku Kakaktua Goffin dari Pulau Tanimbar!”
Johan mengangguk paham. “Oh! Aku pernah dengar! Kakaktua Goffin atau Cacatua goffiniana adalah burung endemik dari Maluku!”
Johan: “Endemik artinya hanya bisa ditemukan di tempat tertentu. Burung ini cuma ada di Kepulauan Tanimbar dan nggak hidup di tempat lain secara alami.”
Kakaktua: “Betul! Kami pintar, lho! Bisa menggunakan alat sederhana untuk mendapatkan makanan.”
Abubakar: “Hah? Burung bisa pakai alat? Beta kira cuma manusia sa yang bisa!”
Kakaktua: “Kami bisa! Kami menggunakan ranting untuk mengeluarkan biji dari buah atau mencari makanan di celah-celah pohon. Bahkan ilmuwan bilang, kepintaran kami mirip primata!”
Tiba-tiba, terdengar suara gaduh dari balik semak-semak. Johan dan Abubakar melihat beberapa orang membawa jaring besar.
Johan: “Bak, itu pemburu liar! Mereka pasti mau menangkap Kakaktua ini!”
Abubakar: “Kita harus melakukan sesuatu!”
Mereka dengan cepat mengambil ranting dan mulai mengguncang semak-semak, membuat suara ribut seperti ada hewan besar di dalamnya.
Pemburu 1: “Ada sesuatu di sana! Bisa jadi babi hutan!”
Pemburu 2: “Ayo kita pergi, jangan sampai kita diserang!”
Para pemburu panik dan kabur. Kakaktua Goffin terbang rendah mendekati Johan dan Abubakar.
Kakaktua: “Terima kasih, manusia! Manusia seperti kalian harus lebih banyak lagi, yang melindungi kami. Kalau tidak, kami bisa punah!”
Johan: “Iya, aku dengar kalau habitat kalian semakin berkurang dan banyak yang ditangkap untuk dijual. Itu harus dihentikan!”
Tiba-tiba, lorong waktu kembali terbuka. Angin berputar mengelilingi mereka.
Abubakar: “Sepertinya katong harus bale kapa!”
Johan: “Sampai jumpa, Kakaktua Goffin! Hati-hati dengan para pemburu!”
Dalam sekejap, mereka kembali ke reruntuhan laboratorium. Johan dan Abubakar saling berpandangan.
Abubakar: “Han, katong pung petualangan kali ini luar biasa! Katong bakudapa burung langka dan belajar banyak hal baru.”
Johan: “Benar, Bak. Dan aku rasa kita akan kembali ke lorong waktu ini lagi! Siapa tahu kita bisa bertemu makhluk endemik Maluku lainnya!”
Mereka pun tersenyum, penuh semangat untuk petualangan berikutnya…
Kakaktua Goffin (Cacatua goffiniana) adalah burung endemik yang hanya ditemukan di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Burung ini berwarna putih dengan jambul pendek dan dikenal sangat cerdas. Mereka mampu menggunakan alat sederhana untuk mencari makanan, sebuah kemampuan yang jarang dimiliki burung lain.
Sayangnya, populasi Kakaktua Goffin semakin menurun akibat perburuan liar dan perusakan habitat. Banyak dari mereka ditangkap untuk diperdagangkan sebagai hewan peliharaan. Oleh karena itu, perlindungan habitat alami mereka dan pengawasan terhadap perdagangan satwa liar sangat penting untuk mencegah kepunahan mereka.
Jika kita ingin melihat Kakaktua Goffin tetap hidup di alam liar, kita harus belajar untuk lebih menghargai dan melindungi keanekaragaman hayati Indonesia!
Share: Views: 791 LORONG WAKTU – EPISODE 4 Matahari Ambon bersinar cerah, namun di balik buku-buku pelajaran yang menumpuk di meja belajar, pikiran Johan dan […]
Share: Views: 938 Di sebuah desa kecil di pesisir pantai Maluku, terdapat sebuah batu besar yang dikenal dengan nama Batu Badaong. Batu itu berbentuk seperti […]
Share: Views: 926 LORONG WAKTU – EPISODE 3 Malam itu, Johan dan Abubakar duduk di depan tenda mereka. Langit Pulau Seram bertabur bintang, dan suara […]
2 thoughts on “Misteri Burung Putih dari Tanimbar”
2 thoughts on “Misteri Burung Putih dari Tanimbar”
Comments are closed.