LORONG WAKTU – EPISODE 4
Matahari Ambon bersinar cerah, namun di balik buku-buku pelajaran yang menumpuk di meja belajar, pikiran Johan dan Abubakar melayang jauh. Mereka duduk di kamar Johan, mencoba berkonsentrasi untuk ujian naik kelas 2 di SMP Negeri 7 Ambon, tapi kepala mereka penuh dengan gemuruh mesin tua, pusaran cahaya ungu, dan bisikan hutan purba Pulau Seram bulan lalu. Petualangan mereka di lorong waktu saat Jambore Regional itu bagaikan mimpi yang terlalu nyata.
“Bayangkan, Bak,” bisik Johan, bukunya tergeletak tak disentuh, “Soa layar’ itu! Aku yakin itu Naga Maluku yang sudah punah!” Matanya berbinar mengingat makhluk besar bergaris yang melompat lincah dari pohon ke pohon.
Abubakar mengangguk setuju, melongok dari balik kacamata, “Dan burung-burung Kakatua Goffin yang belum pernah katong lihat di buku manapun. Hutan itu penuh dengan keajaiban yang seharusnya tidak ada lagi.” Mereka memang telah melihat berbagai flora dan fauna langka, bahkan yang telah dinyatakan punah, di dalam petualangan singkat mereka. Sebuah pengalaman yang mengubah pandangan mereka tentang dunia.
Pintu kamar terbuka pelan, dan masuklah Abby, sahabat mereka yang ceria dan penuh rasa ingin tahu. “Kalian ini! Bukannya belajar, malah melamun. Ujian lusa lho!” tegurnya, meski senyum jail tak bisa disembunyikan dari bibirnya.
Johan dan Abubakar saling pandang, ini dia kesempatan mereka! Mereka sudah gatal ingin menceritakan semuanya pada Abby. “Abby, kau tidak akan percaya apa yang kami temukan di Seram!” seru Johan penuh semangat.
Abubakar menambahkan, “Ini bukan cuma hutan biasa, Abby. Katong menemukan… sebuah lorong waktu!”
Abby tertawa renyah, “Lorong waktu? Kalian terlalu banyak baca komik fantasi, ya?”
“Tidak! Ini serius!” desak Johan. Dengan bersemangat, mereka mulai menceritakan setiap detail: reruntuhan laboratorium misterius, mesin berdengung, pusaran cahaya, dan bagaimana mereka tiba-tiba berada di hutan yang dipenuhi makhluk-makhluk purba. Johan bahkan berusaha meniru suara ‘Kakatua Goffin’ yang ia temui, sementara Abubakar menjelaskan tentang jenis-jenis tumbuhan raksasa yang tidak ia kenal.
Abby mendengarkan, matanya yang awalnya skeptis perlahan membulat. Wajahnya berubah dari geli menjadi takjub, lalu penasaran. “Jadi… kalian benar-benar melihat hewan-hewan yang sudah punah?” tanyanya pelan, suaranya tercekat. Ia tahu seberapa besar minat Johan dan Abubakar pada dunia hewan dan tumbuhan langka.
Tepat saat itu, terdengar ketukan di pintu. “Sedang membicarakan apa kalian, kelihatannya seru sekali?” Suara itu milik Opa Daeng, kakek Abby, seorang pensiunan peneliti yang rambutnya memutih dan matanya selalu memancarkan kebijaksanaan.
Dengan semangat berapi-api, Johan dan Abubakar mengulang lagi petualangan mereka, kali ini dengan audiens yang lebih serius. Mereka menceritakan tentang reruntuhan, mesin aneh, dan sensasi terjebak di masa lalu Maluku yang penuh dengan flora dan fauna yang tak dikenal. Mereka bahkan menceritakan tentang makhluk menyerupai harimau bergaris yang melompat di antara dahan, dan burung-burung dengan bulu paling indah yang pernah mereka lihat.
Opa Daeng mendengarkan dengan saksama, sesekali mengelus jenggotnya. Alisnya terangkat, dan senyum tipis terukir di bibirnya. “Reruntuhan laboratorium, kamu bilang? Di Pulau Seram?” tanyanya, suaranya tenang tapi sarat makna. “Dan kalian melihat satwa-satwa yang tidak seharusnya ada di zaman ini?”
Johan dan Abubakar mengangguk cepat. “Betul, Opa! Mirip sekali dengan Naga yang ada di gambar-gambar buku hewan purba!” kata Johan penuh keyakinan.
Opa Daeng bangkit dari duduknya, berjalan ke rak buku tua yang penuh dengan buku-buku tebal dan jurnal usang. “Ini menarik,” gumamnya, menarik beberapa buku bersampul kulit tua yang sudah pudar. “Ada kemungkinan, ini adalah laboratorium peninggalan Rumphius.”
Mata Johan, Abubakar, dan Abby membulat. Rumphius? Mereka pernah mendengar namanya di pelajaran sejarah.
“Rumphius adalah peneliti Belanda dari zaman VOC,” jelas Opa Daeng, membuka salah satu buku tua. “Banyak peneliti besar datang ke Maluku pada masa lalu. Mereka tak hanya menulis tentang tumbuhan dan hewan, tapi juga meninggalkan jejak dan petunjuk. Ada Rumphius, Wallace, Beccari, hingga David Fairchild. Mereka semua terpesona oleh keanekaragaman hayati Maluku.”
Opa menunjukkan halaman-halaman yang penuh dengan sketsa tumbuhan dan hewan detail yang sangat indah, ditulis dengan huruf kuno yang elegan. Di antara semua gambar dan tulisan itu, Opa berhenti pada satu halaman yang tampak berbeda. Ada sketsa samar sebuah benda, terlihat seperti kompas dengan jarum yang terbuat dari cahaya.

“Beccari, dalam salah satu jurnalnya, menyebutnya sebagai ‘Lumen Manusela’,” kata Opa, menunjuk ke sketsa itu. “Dia menggambarkannya sebagai ‘kompas cahaya’, sebuah alat untuk menavigasi lorong waktu. Beccari percaya, Maluku menyimpan rahasia tentang celah dimensi, dan para peneliti ini mungkin berusaha untuk menembusnya, demi ilmu pengetahuan, dan juga untuk menemukan keajaiban alam yang hilang.”
Ketiga anak itu terdiam, terpaku pada gambar kompas cahaya itu. Sebuah kompas untuk lorong waktu? Ini jauh lebih seru dari pelajaran sejarah biasa!
“Jadi, mesin itu… mungkin pintu masuk ke tempat yang dulu diteliti oleh mereka?” tanya Abby, suaranya bergetar antara rasa takut dan kegembiraan.
“Sangat mungkin,” jawab Opa Daeng, tersenyum misterius. “Dan jika ini benar jejak mereka, maka ada banyak rahasia flora dan fauna Maluku yang masih tersembunyi di masa lalu, menunggu untuk ditemukan kembali.”
Johan melirik Abubakar, lalu ke Abby. Sebuah ide sudah muncul di kepalanya. “Abby, kau ikut kami kali ini?” tanyanya, matanya berbinar penuh harap. “Kita bisa mencari ‘Lumen Manusela’ dan menemukan semua hewan dan tumbuhan langka itu!”
Abby menelan ludah. Rasa takut memang ada, tapi rasa ingin tahu dan semangat petualangan yang selama ini ia dengar dari Johan dan Abubakar kini terasa memanggilnya. Melirik Opa Daeng yang tersenyum penuh arti, Abby mengangguk perlahan. “Aku ikut!”
Opa Daeng menutup bukunya, “Tapi sebelum itu, kalian harus lulus ujian. Ilmu adalah kompas terbaik untuk setiap petualangan.” Ia tersenyum, “Dan aku akan membantu kalian mempersiapkan petualangan ini. Kita akan mencari tahu lebih banyak tentang ‘Lumen Manusela’ dan di mana para peneliti itu mungkin menyembunyikannya.”
Ketiga sahabat itu saling pandang, wajah mereka dipenuhi semangat baru. Ujian sekolah kini terasa lebih ringan. Petualangan mereka berikutnya tidak hanya tentang melarikan diri dari masa lalu, tapi tentang menjelajahi dan menemukan kembali harta karun hayati Maluku yang hilang, dengan sebuah kompas cahaya sebagai pemandu.