Buka Mulutmu, Telankan Beta…

Share:

Di sebuah desa kecil di pesisir pantai Maluku, terdapat sebuah batu besar yang dikenal dengan nama Batu Badaong. Batu itu berbentuk seperti daun dan tersembunyi di antara pepohonan bakau. Warga desa percaya bahwa batu itu memiliki kekuatan magis, tetapi tak seorang pun tahu pasti apa yang tersembunyi di baliknya.

Di desa itu tinggal seorang gadis kecil bernama Ona. Sejak ibunya meninggal, Ona tinggal bersama ayahnya dan ibu tirinya, Sarlotha. Namun, Sarlotha bukanlah seorang ibu tiri yang baik. Setiap hari, Ona dipaksa mengerjakan semua pekerjaan rumah—membersihkan, memasak, bahkan mencuci pakaian. Jika Ona melakukan sedikit saja kesalahan, Sarlotha tidak segan-segan memarahinya atau bahkan memukulnya.

Ayah Ona sering pergi melaut, sehingga ia tak tahu perlakuan Sarlotha terhadap putrinya. Dalam kesendirian dan penderitaannya, Ona menemukan pelipur lara di pantai, di depan Batu Badaong. Ia sering duduk di sana, menatap ombak, dan berbicara dengan batu itu seolah-olah batu itu bisa mendengar keluhannya.

“Batu Badaong,” katanya suatu sore, “kenapa hidup beta susah sekali? Mama sudah tiada, dan mama tiri hanya bikin beta menangis setiap hari. Kalau beta bisa, beta ingin tinggal di tempat lain… jauh dari sini.”

Hari itu, ombak laut tampak lebih tenang dari biasanya, dan angin seakan membisikkan sesuatu kepada Ona. Tapi ia hanya menganggapnya sebagai angin biasa.

Hari yang Mengubah Segalanya

Suatu hari, Sarlotha marah besar karena Ona tidak menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Dengan kasar, Sarlotha mendorong Ona keluar rumah. “Pergi sana! Jangan kembali sampai semua pekerjaan selesai!” bentaknya.

Ona, yang sudah tak kuat menahan tangis, berlari ke pantai. Di sana, ia berdiri di depan Batu Badaong. Hatinya yang hancur membuatnya bernyanyi, seperti biasa ia lakukan saat merasa sedih:

Batu Badaong, batu la batangke eee,
Buka mulutmu, telankan beta, buka mulutmu telankan beta.
Guna la apa, beta hidup sendiri iii,
Sedangkan ibu sudah tiada, hidup sendiri terlalu susah.

Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar. Batu Badaong mulai bergetar dan perlahan terbuka, memperlihatkan sebuah pintu gelap yang memancarkan cahaya redup. Ona terkejut, tetapi hatinya yang penuh luka mendorongnya untuk melangkah ke dalam. “Kalau ini akhir dari penderitaan beta, biarlah,” pikirnya.

Saat Ona masuk, pintu batu menutup perlahan di belakangnya. Di dalam, Ona mendapati dirinya berada di sebuah tempat yang indah. Ada padang hijau yang luas, pepohonan berbunga, dan burung-burung bernyanyi. Di sana, ia bertemu dengan seorang wanita tua yang ramah.

“Selamat datang, Ona,” kata wanita itu dengan senyum lembut. “Beta sudah lama mendengar tangisanmu. Di sini, kamu akan hidup tanpa penderitaan. Tapi ingat, kamu tidak bisa kembali ke dunia luar.”

Ona berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Beta tidak mau kembali. Dunia luar hanya membuat beta menangis.”

Kehilangan dan Penyesalan

Di desa, ayah Ona kembali dari melaut dan mendapati putrinya hilang. Ia mencari ke mana-mana, tetapi tak seorang pun tahu keberadaan Ona. Bahkan Sarlotha, yang merasa sedikit bersalah, mulai ikut mencari. Namun, tak ada jejak gadis kecil itu.

Warga desa hanya mendengar suara angin di sekitar Batu Badaong, seolah-olah batu itu menyanyikan lagu yang pernah dinyanyikan Ona. Sejak saat itu, Batu Badaong dianggap sebagai tempat sakral. Warga percaya bahwa batu itu melindungi jiwa-jiwa yang terluka dan memberikan mereka tempat tinggal yang damai.

Pesan dari Batu

Hingga kini, Batu Badaong tetap berdiri kokoh di pesisir pantai. Warga desa sering datang ke sana untuk berdoa atau sekadar merenung. Mereka percaya, jika hati seseorang dipenuhi dengan kejujuran dan kesedihan yang tulus, Batu Badaong akan mendengar dan memberikan jawaban.

Namun, kisah Ona selalu menjadi pengingat bahwa kejahatan hanya akan meninggalkan penyesalan, dan cinta sejati akan selalu membawa harapan, meskipun dalam bentuk yang tak terduga.

Makassar, 22 Januari 2025

error: Content is protected !!