Angkot di Kota Ambon: Tantangan Trayek Panjang

Share:

Transportasi umum merupakan urat nadi bagi banyak masyarakat di Ambon, termasuk trayek Laha, Hative Besar dan Passo yang menjadi rute penting bagi warga di ketiga wilayah tersebut. Namun, muncul keluhan dari sejumlah penumpang bahwa angkot-angkot di trayek ini lebih fokus pada “kejar setoran” sehingga mengorbankan kenyamanan dan kebutuhan penumpang umum. Masalah ini semakin mencolok ketika sopir angkot lebih memilih mahasiswa sebagai penumpang utama, sementara penumpang umum sering kali diturunkan sesuka hati.

Mengapa Mahasiswa Jadi Pilihan Utama?

Sopir angkot trayek Laha, Hative Besar dan Passo cenderung memilih mahasiswa sebagai penumpang karena alasan ekonomi. Jarak antara kampus dengan pusat kota relatif pendek, sehingga:

  1. Perjalanan lebih cepat: Sopir dapat bolak-balik dengan cepat untuk mengangkut lebih banyak penumpang.
  2. Penumpang yang stabil: Mahasiswa cenderung menjadi pelanggan rutin, terutama saat jam-jam tertentu seperti pagi hari dan sore.
  3. Keuntungan lebih besar: Dengan waktu tempuh yang singkat, sopir bisa mencapai target setoran harian lebih cepat dibandingkan jika mereka mengangkut penumpang dengan tujuan jarak jauh.

Penumpang Umum: Korban Ketidakadilan Sistem

Penumpang umum yang tinggal di rute lebih jauh seperti Hative Besar sering merasa dirugikan. Banyak yang mengeluh karena diturunkan di tengah jalan atau bahkan tidak diizinkan naik jika angkot sudah penuh dengan mahasiswa. Kondisi ini membuat warga yang bergantung pada transportasi umum merasa dipinggirkan.

Selain itu, bagi warga yang membutuhkan perjalanan panjang, misalnya menuju kawasan Laha, proses menunggu angkot sering kali memakan waktu lama karena armada lebih banyak difokuskan untuk rute pendek. Bahkan, beberapa penumpang mengaku harus menumpang dua hingga tiga kali angkot hanya untuk mencapai tujuan mereka.

Apa Solusi yang Dapat Dilakukan?

Mengatasi masalah ini membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah kota, pengusaha angkot, dan masyarakat. Beberapa solusi yang bisa dipertimbangkan antara lain:

  1. Pengawasan ketat dari Dishub: Dinas Perhubungan perlu mengatur trayek angkot dengan lebih baik dan memastikan bahwa setiap penumpang dilayani secara adil, tanpa diskriminasi berdasarkan jarak atau jenis penumpang.
  2. Penerapan sistem jadwal: Sopir angkot dapat diatur dengan sistem jadwal agar jumlah armada yang melayani rute jauh dan rute pendek tetap seimbang.
  3. Insentif bagi sopir: Memberikan insentif bagi sopir yang melayani rute panjang dapat menjadi dorongan untuk menjaga keberlanjutan trayek di kawasan lebih jauh seperti Hative Besar dan Laha.
  4. Edukasi kepada sopir: Pengemudi perlu diingatkan tentang pentingnya melayani semua penumpang dengan adil dan menjaga nama baik transportasi umum di Ambon.

Moda Transportasi Alternatif dari Pemerintah Kota

Selain memperbaiki manajemen angkot, Pemerintah Kota Ambon dapat mempertimbangkan pengembangan moda transportasi alternatif yang lebih terorganisir, seperti:

  • Bus kota: Menghadirkan armada bus yang dikelola langsung oleh pemerintah dengan rute yang jelas dan jadwal yang teratur. Bus ini dapat melayani rute panjang seperti Laha dan Hative Besar, sehingga penumpang umum tidak lagi bergantung sepenuhnya pada angkot.
  • Angkutan feeder: Pemerintah dapat menyediakan kendaraan kecil yang berfungsi sebagai feeder, menghubungkan wilayah-wilayah terpencil dengan titik transportasi utama.
  • Transportasi berbasis aplikasi: Mengadopsi sistem transportasi berbasis aplikasi yang terintegrasi, di mana penumpang dapat memesan kendaraan dan mengetahui jadwal keberangkatan dengan lebih mudah.
  • Sepeda listrik dan shuttle: Untuk jarak pendek, penyediaan sepeda listrik atau shuttle berbasis komunitas bisa menjadi solusi ramah lingkungan yang sekaligus mengurangi ketergantungan pada angkot.

Kesimpulan

Transportasi umum seharusnya melayani semua kalangan tanpa memandang keuntungan jangka pendek. Perilaku sopir angkot yang hanya “kejar setoran” dan menurunkan penumpang sesuka hati mencerminkan buruknya manajemen dan pengawasan pada trayek Laha dan Hative Besar. Jika dibiarkan, situasi ini tidak hanya merugikan penumpang umum tetapi juga mencoreng citra angkot sebagai alat transportasi andalan di Ambon. Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat bersama-sama mendorong perubahan agar semua pengguna angkutan umum merasa dilayani dengan adil dan nyaman.

error: Content is protected !!