Johannes “Pa” van der Steur: Bapak Asuh Ribuan Anak di Hindia Belanda

Johannes 'Pa' Van der Steur - bapak asuh ribuan anak di Hindia Belanda
Share:

Johannes van der Steur berangkat ke Hindia Belanda pada 10 September 1892 dengan kapal uap tua Conrad, saat ia berusia 27 tahun. Delapan hari sebelumnya, ia telah diangkat sebagai misionaris dalam sebuah upacara di gereja di Parklaan, Haarlem, Belanda. Ia berangkat ke koloni Belanda di Hindia, karena ia sadar bahwa para kolonial tidak cukup hanya menerima surat dari Belanda yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk tiba, tetapi mereka membutuhkan seorang teman di tempat tersebut.

Pekerjaan pertamanya adalah mendirikan rumah singgah sederhana bagi para tentara di Magelang, yang saat itu merupakan sesuatu yang sangat mewah. Di kota itu terdapat lima batalyon tentara, sebuah sekolah kader, serta batalyon depot dengan empat kompi. Johannes mengelola tempat ini sendirian, tanpa jaminan sosial atau dukungan keuangan. Bangunan tersebut hanya berupa rumah bambu sederhana, tetapi para tentara sangat senang dan sering datang ke sana.

Wie is ‘Pa’ van der Steur?

Johannes van der Steur, yang dikenal dengan panggilan “Pa van der Steur” adalah seorang misionaris asal Belanda yang mendedikasikan hidupnya untuk mengasuh ribuan anak yatim piatu di Hindia Belanda.

Lahir di Haarlem, Belanda, pada 1865, ia mengabdikan dirinya pada pekerjaan kemanusiaan di Indonesia hingga akhir hayatnya. Kehadirannya membawa perubahan besar bagi kehidupan banyak anak yang terlantar akibat perang dan kondisi sosial-ekonomi yang sulit.

Dedikasi Terhadap Anak Yatim Piatu

Pada tahun 1893, ketika Johannes berusia 28 tahun, seorang tentara kolonial mabuk datang ke rumah singgahnya dan mengatakan bahwa seorang sersan baru saja meninggal, meninggalkan seorang istri pribumi dengan empat anak. Ia menantang Johannes dengan berkata, “Jika kau benar-benar seorang yang saleh, maka buktikanlah!” Tanpa ragu, Johannes menjawab, “Sadar dulu, lalu bawa aku ke tempat mereka.” Keesokan harinya, wanita dan keempat anaknya diterima di rumah bambu itu.

Sejak saat itu, jumlah anak yatim yang diasuhnya bertambah pesat. Dalam dua bulan saja, jumlah anak yatim yang dirawatnya telah mencapai 14 orang. Para tentara yang berkunjung ke rumah singgah itu mulai membantu Johannes dalam mencuci pakaian dan berbagai pekerjaan lainnya.

Salah satu anak bertanya bagaimana mereka harus memanggil Johannes. Johannes membiarkan mereka memilih sendiri, dan seorang anak berkata, “Kalau begitu, kami akan memanggilmu ‘Pa’, karena sekarang kami punya seorang ayah lagi!” Sejak saat itu, Johannes dikenal sebagai “Pa Van der Steur”, sebuah nama yang tetap hidup bahkan bertahun-tahun setelah kematiannya.

Bagi anak-anak asuhnya, kehadiran Pa Van der Steur adalah sebuah keajaiban. Seorang pria Belanda yang tidak sombong, tidak naik kereta kuda dengan angkuh, dan tidak mabuk seperti kebanyakan tentara kolonial. Ia adalah seorang pria Belanda yang menjadi ayah sejati bagi mereka—yang makan bersama mereka, berbicara dalam bahasa mereka, memberi mereka pakaian, sepatu, serta mengajarkan mereka membaca dan menulis. Mereka bukan lagi anak kampung yang dianggap rendah, tetapi mereka kini memiliki seorang “Pa” yang nyata.

Karena itu, banyak anak asuhnya, yang dijuluki “Steurtjes”, tetap bersyukur sepanjang hidup mereka. Pa memberi mereka kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Seorang mantan anak asuhnya, yang kemudian menjadi perwira KNIL, mengingat: “Pa van der Steur adalah ayah bagi kami semua. Ia tidak hanya memberi makan dan tempat tinggal, tetapi juga mengajarkan kami disiplin dan nilai-nilai moral.”

Johannes ‘Pa’ van der Steur (1865–1945): zijn leven, zijn werk en zijn Steurtjes

Dahulu, Pa van der Steur dikenal luas dan dihormati, baik oleh keluarga kerajaan maupun masyarakat umum. Namanya erat kaitannya dengan panti asuhan “Oranje-Nassau” di Magelang, Jawa, tempat ia dikabarkan telah merawat tujuh ribu anak. Ia adalah sosok luar biasa yang menjadi legenda bahkan sebelum wafatnya. Namun, siapa sebenarnya pribadi di balik nama besar ini?

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Johannes van der Steur—masa kecilnya di Haarlem, pengaruh dari komunitas Baptis Hari Ketujuh, serta semangat juangnya sebagai misionaris malam hari (Middernachtzendeling). Buku ini juga mengungkap latar belakang keputusannya untuk pergi ke Hindia Belanda, dan masih banyak hal lainnya.

Berdasarkan penelitian arsip yang mendalam, buku ini mengungkap banyak fakta mengejutkan dan wawasan baru. Bagaimana ia mendapatkan anak-anak asuhnya? Mengapa ia sengaja menyembunyikan kegiatan amalnya untuk para tentara? Dari mana ia mendapatkan dana untuk membiayai panti asuhannya?

Lebih dari sekadar biografi, buku ini juga menjadi jendela yang memperlihatkan gambaran Hindia Belanda pada masanya—sebuah masyarakat kolonial yang penuh kontradiksi, kompleksitas, sekaligus daya tariknya sendiri. Hanya di tempat seperti itulah, sosok seperti Van der Steur dapat berkembang menjadi “Pa”. Bagaimana proses itu terjadi, faktor apa saja yang mempengaruhinya, dan bagaimana pandangan masyarakat Hindia Belanda terhadapnya, semua dikupas dalam buku ini.

Perkembangan Panti Asuhan Pa Van der Steur

Pada tahun 1903, Pa Van der Steur telah mengasuh 350 anak yatim. Namun, kesehatannya menurun, dan ia harus pulang ke Belanda untuk cuti medis. Ini adalah satu-satunya cuti dalam 55 tahun masa baktinya di Hindia Belanda.

Selama di Belanda, ia menggalang dana untuk anak-anaknya. Ratu Emma, yang dikenal karena kepedulian sosialnya, memberikan audiensi selama satu setengah jam kepada Pa Van der Steur. Dengan dukungan dari Ratu Emma dan banyak tokoh penting lainnya, ia berhasil mengumpulkan 20.000 gulden. Setelah merasa cukup sehat, ia segera kembali ke Hindia Belanda, bahkan sebelum cutinya berakhir.

Dengan dana tersebut, ia membeli sebuah bekas barak polisi beserta lahannya dengan harga yang terjangkau. Ia menamai tempat itu “Oranje-Nassau Gesticht”, yang kemudian menjadi panti asuhan terbesar di Hindia Belanda.

Pada tahun 1907, Pa Van der Steur menikah dengan Anna Maria Zwager dalam sebuah pernikahan dengan sarung tangan (pernikahan yang dilakukan tanpa kehadiran salah satu mempelai). Lamaran pernikahannya sangat unik, ia tidak berkata, “Maukah kau menikah denganku?”, tetapi “Anna, maukah kau menjadi ibu bagi anak-anakku?”

Setelah menikah, Moe Van der Steur (ibu Van der Steur) memimpin bagian panti untuk anak perempuan, sementara Pa tetap mengasuh anak laki-laki. Hingga wafatnya pada 30 April 1936, Moe Van der Steur adalah sosok yang sangat dikasihi oleh anak-anak panti dan menjadi pendamping setia Pa.

Papie John Siahaya dan kakaknya, Papie Finus Siahaya, pernah tinggal di panti asuhan ‘Pa van der Steur’ di Magelang. Saat masih remaja, mereka pergi ke Semarang untuk mencari kakak perempuannya, Tante Brien. Mereka akhirnya tinggal dan disekolahkan di sana. Setelah itu, mereka pulang ke Ambon untuk mencari kerja dan melanjutkan kehidupan mereka. Bila menceritakan ‘Pa’, suaranya pun bergetar, papie sangat menghormatinya.

Menurut Papie, semua “Steurtjes” (julukan untuk anak asuhnya) pasti memiliki foto ‘Pa’.

“Pa van der Steur adalah papa bagi kami semua. Ia tidak hanya memberi makan dan tempat tinggal, tetapi juga mengajarkan kami disiplin dan nilai-nilai moral.”

Sepanjang hidupnya, Pa Van der Steur telah membesarkan lebih dari 7.000 anak yatim, membimbing mereka menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan berguna. Pengaruhnya sangat besar bagi anak-anak yang telah ia rawat dan dididik seperti anaknya sendiri. Bagi mereka, ia adalah “Pa”—ayah sejati mereka.

Wawancara dengan Soerabaiasch Handelsblad

Pada 26 April 1938, surat kabar Soerabaiasch Handelsblad menerbitkan wawancara dengan Pa, yang menyoroti kebutuhan dana yang terus-menerus, pertumbuhan panti asuhan, dan peningkatan jumlah anak yang diasuhnya. Ini merupakan bentuk crowdfunding melalui media cetak. Berikut isi wawancaranya:

Sebuah Kilas Balik: 40 Tahun Pengabdian
Minggu lalu adalah hari yang sangat istimewa bagi Oranje Nassau Gesticht di Magelang. Pada hari itu, Pa Van der Steur memperingati 40 tahun pelayanannya sebagai pengajar agama di bawah Dewan Gereja Protestan di Batavia.

Pada pagi hari, ia dibangunkan oleh 188 anak laki-laki berusia 6 hingga 12 tahun, yang menyanyikan lagu untuknya. Kebaktian di kapel panti asuhan juga berlangsung dengan suasana yang sangat istimewa. Sore harinya, Dewan Gereja Protestan di Magelang datang mengucapkan selamat. Sepanjang hari, ia juga menerima telegram ucapan selamat dari Dewan Gereja di Batavia.

Pada 24 April 1898, melalui Keputusan No. 8, Pa Van der Steur secara resmi ditunjuk sebagai pengajar agama di Hindia Belanda.

Kami melakukan wawancara dengan Pa, yang meskipun sudah berusia lanjut, masih secara aktif memimpin panti asuhan, yang kini menampung hampir 1.000 anak.

Awal Mula Perjalanannya
Pada 10 September 1892, Pa Van der Steur berangkat dari Belanda dengan kapal “Conrad” sebagai seorang misionaris Baptis. Ia tiba di Hindia Belanda pada akhir Oktober tahun yang sama.

Pada 4 April 1893, Pa mulai bekerja untuk membantu anak-anak kurang mampu di Hindia Belanda. Pada hari itu, ia menerima empat anak yatim pertama ke dalam rumahnya. Jumlah mereka segera bertambah dengan cepat.

Pa segera menyadari bahwa panti asuhan ini tidak bisa dijalankan tanpa bantuan seorang wanita. Awalnya, salah satu saudara perempuannya datang untuk membantunya. Namun, pada 4 April 1907, Pa menikah dengan Anna Maria Zwager, yang kemudian dikenal sebagai “Moe Van der Steur”.

Pa dan Moe van der Steur – 1938 (indischeschrijfschool.nl)

Dari empat anak pertama yang ia asuh, hanya satu yang masih hidup, dan baru-baru ini mengirimkan surat, kue, serta bunga kepada Pa, yang membuatnya sangat bahagia.

Awalnya, panti asuhan ini hanya berada di sebuah rumah kecil sederhana di Wates, Magelang. Rumah tersebut masih ada hingga kini dan sekarang digunakan oleh seorang pandai besi. Dengan cepat, Pa harus menambah bangunan baru dan menyewa rumah-rumah di sekitarnya untuk menampung semakin banyak anak.

Tahun-tahun awal penuh dengan kesulitan besar, terutama dalam hal keuangan. Sering kali, uang untuk membeli makanan ke pasar pada malam itu belum terkumpul. Namun, para tentara yang mengenal Pa turut membantu dengan mengumpulkan donasi di antara mereka sambil berkata:

🗣 “Ayo, teman-teman, ini untuk anak-anak rekan-rekan kita!

Dengan cara inilah, Pa mendapatkan dana untuk memberi makan anak-anak asuhnya keesokan harinya.

Namun,” kata Pa, “semua anak yang mengalami masa-masa sulit itu bersama saya kini telah sukses dalam hidup mereka.”

Pa Van der Steur Menjadi Pengajar Agama
Bagaimana Pa akhirnya menjadi pengajar agama?

Sekitar 40 tahun yang lalu, ia sedang mengunjungi keluarga seorang guru di Magelang. Mereka mengeluhkan bahwa anak-anak Katolik mendapatkan pelajaran agama dua kali seminggu, sementara anak-anak Protestan hanya mendapat satu kali pertemuan di Magelang.

Pa segera menghubungi pendeta di Yogyakarta dan menawarkan diri untuk mengajar agama bagi anak-anak di Magelang. Tawaran itu diterima, dan itulah awal dari perjalanannya sebagai pengajar agama.

Pada tahun 1896 atau 1897, Resident P.M.L. de Bruin Prince datang ke Magelang dan menunjukkan ketertarikan besar pada pekerjaan Pa. Ia menghadiri perayaan Natal di panti asuhan dan kemudian bertanya kepada Pa:

🗣 “Apakah Anda mendapat gaji untuk pekerjaan ini?”

Ketika Pa menjawab “tidak”, Resident de Bruin Prince mengajukan permintaan hibah sebesar 1.000 gulden untuk Pa. Tawaran ini diterima Pa, karena dana tersebut dapat digunakan untuk mengelola panti asuhan.

Setelah korespondensi dengan Dewan Gereja Protestan di Batavia, akhirnya Pa secara resmi diangkat sebagai pengajar agama dengan gaji bulanan 150 gulden.

Namun, Pa menerima pengangkatan ini dengan satu syarat:

🗣 “Saya hanya akan menerima jabatan ini jika saya tetap diberi kebebasan untuk menjalankan pekerjaan saya sesuai dengan hati nurani saya, tanpa ada batasan apa pun.”

Dewan Gereja menyetujui syarat tersebut, dan selama 40 tahun, Pa menjalankan misinya tanpa hambatan.

Pertumbuhan Panti Asuhan
Pada 1900, panti asuhan dipindahkan ke lokasi saat ini di Magelang. Saat itu, bangunannya hanya berupa bekas barak tentara, yang dibeli Pa dengan pembayaran tunai dari pemerintah kolonial.

Seiring berjalannya waktu, panti terus berkembang:
✔ Subsidi awal untuk 350 anak
✔ Di bawah Gubernur Jenderal Van Heutsz, subsidi meningkat untuk 400 anak
✔ Dukungan terus mengalir dari masyarakat dan pemerintah Hindia Belanda

Pada tahun 1903, Pa kembali ke Belanda untuk menggalang dana. Selama kunjungannya, ia diterima dalam audiensi oleh Menteri Urusan Koloni dan Ratu Emma. Ia berhasil mengumpulkan dana untuk membangun aula baru di panti asuhan.

Pesan Terakhir dari Pa Van der Steur
🗣 “Jika saya menyadari lebih awal bahwa saya telah mengabdi sebagai pengajar agama selama 40 tahun, saya akan meminta setiap orang di Hindia Belanda untuk menyumbang 40 sen bagi panti ini. Tapi saya benar-benar lupa.”

Kini, Oranje Nassau Gesticht telah menjadi kompleks besar dengan 1.000 anak asuh.

Telegram dari Dewan Gereja Protestan di Batavia berbunyi:

📜 “Pada peringatan 40 tahun pelayanan Anda, kami mengenang dengan rasa syukur pekerjaan luar biasa yang telah Anda lakukan. Semoga Tuhan memberi Anda kekuatan untuk melanjutkan tugas mulia ini selama bertahun-tahun ke depan.”

Masa Perang Dunia II dan Akhir Hidup Pa Van der Steur

Pada 15 Februari 1944, Pa Van der Steur ditangkap oleh Jepang dan dimasukkan ke kamp interniran. Bahkan dalam tahanan, ia tetap menjadi berkah bagi banyak orang. Ia selamat dari kamp Jepang dan setelah pembebasan, ia kembali ke panti asuhannya di Magelang.

Pada 16 September 1945, di usia 80 tahun, Pa Van der Steur meninggal dunia di antara anak-anak asuhnya. Kata-kata terakhirnya adalah:

“Lanjutkan pekerjaan ini meskipun aku tidak ada lagi. Tuhan akan selalu menolong kalian. Jangan ingat namaku, tetapi ingatlah pekerjaanku.”

pa van der steur

Lanjutan Warisan Pa Van der Steur

Setelah kematiannya, situasi di Indonesia semakin tidak menentu. Para mantan anak asuhnya, “Steurtjes”, yang telah mengambil alih kepemimpinan panti, memutuskan untuk memindahkan panti dari Magelang ke Jakarta karena alasan keamanan.

Panti asuhan ini kemudian berganti nama menjadi “Yayasan Pa Van der Steur”. Pada tahun 1957, kepemimpinan yayasan diambil alih oleh Bram Bernard, seorang mantan anak asuh, bersama istrinya Tine, yang juga dibesarkan di panti.

Warisan Pa van der Steur tetap hidup melalui Yayasan Pa van der Steur, yang terus beroperasi hingga kini, memberikan dukungan dan pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan di Indonesia. Dedikasinya dalam mengasuh ribuan anak tetap dikenang sebagai salah satu kisah kemanusiaan yang paling menginspirasi dalam sejarah Hindia Belanda.

Pa van der Steur bersama orkes Steurtjes [Nederlands Indie Oud en Nieuwe, Vol. 1 Issue 09]

Sebagai penghormatan, sebuah monumen didirikan di Magelang untuk mengenang jasanya. Salah satu anak asuhnya yang kemudian menjadi guru berkata: “Pa van der Steur telah pergi, tetapi ajarannya akan selalu hidup di hati kami.”

Arsip Anak-Anak Asuh Pa Van der Steur

Setelah bertahun-tahun, arsip yang berisi catatan tentang anak-anak yang diasuh oleh Pa Van der Steur masih tersimpan. Arsip ini berada di Perpustakaan Universitas Leiden dan hanya dapat diakses oleh keturunan anak-anak asuhnya.

Namun, ada dua peringatan bagi mereka yang ingin menelusuri arsip tersebut:

  • Tidak semua anak memiliki berkas dalam arsip.
  • Jika ada berkas, isinya terkadang berbeda dengan cerita yang beredar di dalam keluarga. Ini bisa menjadi hal yang sulit diterima, tetapi juga bisa memberikan kejelasan baru.

Karya Pa Van der Steur tidak berakhir dengan kematiannya. Seperti burung phoenix yang bangkit dari abu, warisannya terus hidup. Meskipun ia telah tiada, cinta dan dedikasinya bagi sesama tetap abadi.

Keberanian dan kasih sayang yang ia tunjukkan sepanjang hidupnya menjadikan Pa van der Steur bukan sekadar sosok misionaris, tetapi seorang bapak sejati bagi ribuan anak yang pernah diasuhnya.


Vilan van de Loo, adalah seorang penulis yang berfokus pada sejarah dan sastra Hindia Belanda. “Dalam biografi saya tentang Pa, saya juga membahas perhatiannya terhadap para tentara, karena sebenarnya itulah alasan utama ia datang ke Hindia Belanda.”


error: Content is protected !!