Pada suatu hari di tahun 1645, di dalam gelapnya penjara Inkuisisi di Mexico City, seorang pria duduk termenung. Alexo de Castro, seorang prajurit yang pernah bertempur demi kekaisaran Spanyol, kini terperangkap dalam jerat hukum yang tidak memberinya ruang untuk membela diri. Ia telah menyeberangi lautan luas, melewati pertempuran, pengkhianatan, dan ketidakpastian, hanya untuk berakhir dalam status sebagai tahanan, dicurigai sebagai seorang Muslim rahasia yang mengkhianati iman yang ia bela sepanjang hidupnya.
Bagaimana semua ini bisa terjadi? Bagaimana seorang pejuang bisa berakhir di balik jeruji besi, jauh dari tanah kelahirannya?
Di Ujung Dunia: Maluku yang Bergolak
Alexo lahir di Tidore, sebuah pulau kecil di Maluku, tempat pertemuan antara pedagang Arab, Tionghoa, Portugis, dan Spanyol, yang datang untuk memperdagangkan emas cair dunia: cengkih. Ia lahir di tengah dunia yang bergejolak, di mana agama dan politik saling berkelindan, menciptakan pertempuran panjang antara Islam dan Kristen, antara kekuasaan lokal dan kolonial.
Ibunya, Felipa Deça, adalah seorang putri kerajaan Maluku yang masuk Kristen setelah aliansi dengan Portugis, sementara ayahnya, Juan de Castro, adalah seorang mestizo Spanyol-Portugis yang tersesat dalam arus perdagangan global. Mereka bertemu di Tidore, menikah, dan membesarkan Alexo dalam suasana benteng Portugis yang penuh dengan ketidakpastian.
Di Maluku, agama bukan sekadar keyakinan pribadi, tetapi juga alat politik. Beberapa raja memilih masuk Islam untuk memperkuat hubungan dengan pedagang Muslim dari Jawa dan Arab, sementara yang lain menerima Kristen untuk mendapatkan dukungan dari Portugis dan Spanyol. Felipa memilih jalur kedua, tetapi keluarganya terbelah. Banyak kerabatnya yang tetap menjadi Muslim, dan inilah yang kelak menjadi bagian dari masalah Alexo.
Pada usia 13 tahun, Alexo meninggalkan Maluku dan berlayar ke Goa, India, tempat ia belajar menjadi seorang prajurit. Ia tidak tahu bahwa kepergiannya ini akan menjadi awal dari perjalanan yang tak pernah membawanya pulang.
Manila: Sebuah Harapan yang Retak
Tahun 1617, setelah bertahun-tahun mengembara, Alexo tiba di Manila, kota yang disebut-sebut sebagai “Roma di Timur.” Kota ini adalah pusat perdagangan, agama, dan kekuasaan Spanyol di Asia, tempat dimana berbagai budaya bercampur—Spanyol, Tionghoa, Filipina, Jepang, India, dan Arab, semuanya hidup berdampingan dalam tatanan sosial yang penuh ketegangan.
Sebagai seorang prajurit Benteng Santiago, Alexo memiliki posisi yang lebih tinggi daripada banyak penduduk asli, tetapi tetap lebih rendah dibandingkan orang-orang Spanyol murni. Ia menikahi seorang perempuan Bengali bernama Ynés de Lima dan menetap di San Antón, di pinggiran kota, diantara komunitas Tionghoa dan Jepang Kristen yang terus diawasi oleh pemerintah kolonial.
Namun, rumah tangga Alexo tidak damai. Ynés dan budaknya, María de Lima, sering bertengkar dengannya. Mereka menuduhnya sebagai pria kejam, seseorang yang memaksakan kehendaknya dengan kekerasan, seseorang yang tidak sepenuhnya meninggalkan masa lalunya.
Pada tahun 1623, Ynés dan María melaporkan Alexo ke Inkuisisi Manila, menuduhnya melakukan kekerasan seksual dan, yang lebih berbahaya lagi, tetap menjalankan Islam secara diam-diam.
“Ia lebih seperti seorang Moor daripada seorang Kristen,” kata Ynés. “Ia masih berhubungan dengan orang-orang Muslim di Ternate.”
Tuduhan ini sangat serius, tetapi saat itu, Inkuisisi Manila masih kekurangan bukti, sehingga mereka hanya memberikan peringatan kepada Alexo.
Ia lolos kali ini, tetapi takdir belum selesai mengujinya. Dua puluh tahun kemudian, tuduhan itu muncul kembali—dan kali ini, ia tidak akan bisa menghindarinya.
Meksiko: Di Bawah Bayangan Inkuisisi
Tahun 1645, Alexo naik kapal Galeon Manila, menuju Acapulco, Meksiko, untuk diadili oleh Inkuisisi di Mexico City. Perjalanannya memakan waktu tujuh bulan, melintasi lautan yang berbahaya, tetapi nasib yang menantinya lebih buruk daripada badai di tengah samudra.
Ketika ia tiba, situasi di Meksiko sedang memanas. Spanyol baru saja mengalami Pemberontakan Braganza, yang membuat Portugal merdeka setelah enam dekade berada di bawah kekuasaan Spanyol. Akibatnya, orang-orang Portugis di seluruh wilayah kekaisaran mulai dicurigai sebagai pengkhianat.
Lebih dari 150 orang Portugis telah ditangkap di Meksiko karena dicurigai sebagai crypto-Jews (Yahudi rahasia).
Alexo, yang sebelumnya mengaku sebagai keturunan Portugis, kini menyadari bahwa itu adalah bencana bagi dirinya sendiri.
Di dalam penjara Inkuisisi, ia berbagi sel dengan pedagang Yahudi yang dituduh sebagai bidah, orang Afrika yang didakwa melakukan sihir, para pendeta yang dianggap melanggar aturan gereja, bahkan seorang pria Irlandia yang mengaku sebagai Raja Meksiko.
Ketika tiba gilirannya untuk diinterogasi, ia mencoba mengubah narasinya.
- Jika sebelumnya ia mengatakan bahwa ayahnya adalah orang Portugis, kini ia mengklaim bahwa ayahnya adalah Spanyol asli.
- Ia membantah semua tuduhan tentang Islam, tetapi para inkuisitor sudah memiliki bukti.
Yang paling memberatkan adalah pemeriksaan fisik.
- Para dokter menemukan bekas luka yang dianggap sebagai tanda sunat, sesuatu yang di mata Inkuisisi menandakan bahwa Alexo adalah seorang Muslim rahasia.
- Ia bersikeras bahwa ia adalah seorang Katolik yang taat, tetapi para inkuisitor tidak mempercayainya.
“Ia adalah seorang Muslim yang tidak bertobat,” demikian kesimpulan mereka.
Penghakiman dan Hukuman Seumur Hidup
Para jaksa meminta hukuman mati bagi Alexo, tetapi akhirnya, ia dijatuhi hukuman pengasingan seumur hidup di sebuah biara di Meksiko.
Pada 30 Maret 1648, dalam auto-de-fé, ia berdiri di depan umum, berpakaian seperti seorang pendosa, dipaksa untuk mengakui kesalahannya di depan ratusan orang.
Ia tidak akan pernah kembali ke Maluku. Ia bahkan tidak diperbolehkan kembali ke Filipina. Ia akan menghabiskan sisa hidupnya di Meksiko, di bawah pengawasan ketat para biarawan Dominikan.
Kesimpulan: Lelaki yang Terjebak dalam Sejarah
Alexo de Castro bukan satu-satunya korban dari sistem kolonial yang keras, tetapi kisahnya menunjukkan betapa rumitnya dunia yang ia tinggali.
- Ia lahir di perbatasan antara Islam dan Kristen, di dunia yang penuh konflik agama.
- Ia hidup di sistem kasta kolonial yang tidak pernah sepenuhnya menerimanya.
- Ia mengabdi untuk Spanyol, tetapi tidak pernah diakui sepenuhnya sebagai bagian dari mereka.
Pada akhirnya, Alexo de Castro bukanlah seorang pengkhianat, tetapi seorang lelaki yang tersesat di dalam pusaran sejarah yang lebih besar darinya.
Dan seperti banyak orang lainnya, sejarah melupakannya.
Inilah kisah yang jarang kita dengar—kisah tentang orang-orang yang hidup di antara dunia, orang-orang yang berusaha bertahan, tetapi tetap dianggap sebagai orang asing di tanah yang mereka bela.
“Transpacific Mestizo: Religion and Caste in the Worlds of a Moluccan Prisoner of the Mexican Inquisition” – Ryan Dominic Crewe