Tidak ada yang tahu dengan positif kapan mulai terjadinya proses pembauran antara sekian banyaknya suku-bangsa dari Sabang sampai Merauke yang menjadi satu pada tanggal 17 Agustus 1945. Tidak tersedia data otentik. Juga di Maluku, tidak. Di Jazirah Hitu di Pulau Ambon, menurut Josef Manusama, awal pembauran itu dimulai pada pertengahan abad ke-15. Tetapi mula—mula terjadi antara orang per orang, dan agak jarang. Kemudian makin menjadi cepat dan padat. Menjelang akhir tahun 1982 kawin mawin antara suku dan agama adalah suatu yang lumrah dewasa ini. Dengan sendirinya sagu dan papeda, pakan asli orang Maluku, sudah dikenal orang Jawa, orang Bugis Makassar dan sebagainya jauh di kedalaman masa lalu.
Orang Ambon yang menetap di Sulawesi Selatan sebagai salah satu daerah pemukiman di luar kepulauan Maluku dalam rangka proses integrasi dan integritas selama ini sudah hampir 4 generasi. Bisa dihitung dan dijejaki kembali karena tingkat ketiga dari mereka yang pertama-tama tiba pada tahun 80-an di Ujung Pandang atau Makassar di waktu itu, masih tetap ber-KTP Ujung Pandang. Mungkin ada sebelumnya sederetan generasi yang sudah bermukim di Ujung Pandang di waktu lalu, tetapi kami tidak berhasil menemukan data atau catatan otentik untuk membenarkannya. Selama kami menanya sana sini antara ratusan keluarga orang Ambon yang berdiam di Ujung Pandang sekarang ini, tidak ada nama-nama keluarga yang disebut-sebut selain nama-nama keluarga yang dijadikan patokan perhitungan ke-4 generasi yang masih tetap tinggal di Ujung Pandang.
Perincian dari ke-4 generasi yang kami pinjam dari Riwayat Singkat IPKRISS yang ditulis oleh M. Umar Djoha Daeng Situju dan Johannis Wata BA perlu digambarkan pada latar belakang gambaran sejarah daerah ini yang walaupun sama-sama mengalami zaman pendudukan Jepang yang mengguncangkan sendi-sendi hidup bersama daerah itu, tetapi implikasi dan pengaruhnya sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Perubahan-perubahan dengan letupan-letupan peristiwa dalam perkembangan selanjutnya meninggalkan bekas-bekas goresan dan bopengan harus dihadapi KRIM sebagai teman seperjuangan yang sebagai manusia biasa agak sulit untuk melewatinya begitu saja.
Ke – 4 generasi dalam garis besarnya adalah sebagai berikut:
- Generasi pertama: Pada umumnya terdiri dari anggota tentara Kolonial dan pegawai birokrasi penjajahan yang sangat sentralistis, otoriter dan tidak manusiawi. Dengan sendirinya generasi ini membawa serta kepercayaan. Diantaranya ada juga yang menjadi guru bantu dan guru Injil. Pada ununnya mereka dikirim ke pedalaman dan mereka pada umumnya tidak bisa berbahasa Belanda.
- Generasi kedua: Generasi ini adalah keturunan langsung dari generasi sebelumnya, pada umumnya lahir di Ujung Pandang atau di Makassar waktu itu. Kesempatan untuk berkembang lebih baik ketimbang yang pertama. Pendidikan mereka juga lebih baik prestasinya bisa dilanjutkan ke Mulo dan kemudian ke AMS. Yang sangat menonjol di antara mereka: melanjutkan studinya ke perguruan tinggi dengan beasiswa dari Pemerintah di Jakarta. Lulusan MULO dan AMS bekerja sebagai pegawai tingkat menengah pada pemerintahan Kolonial. Pada generasi ini sudah timbul hasrat dan keinginan untuk menyesuaikan dan memasyarakatkan diri pada masyarakat sekitarnya. Sekali-sekali dengan tibanya pendatang baru dari Maluku maka nilai-nilai lama yang sudah agak bergeser ke samping ingin bergerak kembali ke keadaan semula dengan proses penggeton diri yang tinggi dengan berbagai macam pengaruh dan dampaknya. Dari hasil benturan yang terjadi antara kekuatan-kekuatan dalam diri generasi kedua ini, maka muncullah sekelompok anak muda yang bergerak sendiri mengikuti jalannya Gerakan Kebangsaan yang dipelopori oleh Alexander Jacob Patty yang untuk sementara ditahan Oleh Belanda di Makassar dalam perjalanan pembuangannya ke Boven-Digul Tanah Merah. Walaupun tenaga-tenaga muda itu kemudian disuruh memilih antara Pergerakan Nasional ataukah ingin tetap tinggal bekerja pada Pemerintah Kolonial di waktu itu, pada umumnya hampir semua memilih yang terakhir, tetapi sementara itu sudah tersedia tempat menyemaikan bibit-bibit baru untuk kemudian hari. Dua puluh tahun kemudian dari generasi ini pula lahirlah bibit-bibit baru yang akan memimpin kebangkitan Rakyat Indonesia Maluku, biasanya disebut KRIM. mulai dari waktu didirikan di bulan Juli 1946 sampai dengan dibabarkannya pada tahun 1951.
- Generasi ketiga: Pada umunnya anggota generasi ini lahir di Ujung Pandang, antara tahun-tahun 1940-1950. Suasana sekolah dari generasi kedua tidak mereka jumpai. Juga situasi dan kondisi hidup dengan pergolakan-pergolakan yang berkepanjangan yang mempercepat generasi kedua ini menjadi matang. Beda dengan generasi- generasi sebelumnya, bahwa generasi yang sedang berkembang ini betul-betul hidup dalam suasana negara yang berdaulat dan merdeka yang diimpikan oleh generasi kedua di waktu lalu. Pola dan corak hidup generasi ini lain sekali. Dapat dilihat dari cara dan usaha penyesuaian diri muda mudi orang Ambon pada masyarakat sekitarnya tanpa pretensi, kepicikan pikiran dan pengetahuan serta rasa endosentris yang sempit dan tebal.
- Generasi keempat: Karena masih dalam awal perkembangannya, maka belum dapat dikemukakan hal-hal yang spesifik generasi tersebut. Hanya perlu diketahui bahwa sebagaimana generasi yang kedua berbeda dengan generasi yang pertama dan yang ketiga berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya maka keempat ini akan berbeda pula dengan yang lain-lainnya.
Memasuki tahun 1945 semua kekuatan Jepang hampir di semua medan pertempuran dipukul mundur. Sulawesi Selatan turut dipengaruhi. Kegiatan sehari-hari Jepang menjadi layu, dimana-mana kelihatan gejala-gejala kelesuan. Tetapi ada kegiatan yang menarik perhatian masyarakat, ialah pembebasan tawanan—tawanan Jepang. Kamp tawanan Jepang di Maros dan lain-lain tempat mulai dikosongkan. Tempat pengungsian di Pakatto yang sebagian besarnya ditempati oleh bekas-bekas tentara Kolonial yang terdiri dari orang Ambon harus dipindahkan ke Bengo di Bone menimbulkan kegelisahan yang mungkin bisa berbalik menimbulkan keadaan yang genting sekali, jika tidak turut ditangani oleh tokoh-tokoh orang Ambon yang datang bersama-sama DR. Ratulangi dari Jakarta, ialah J. Syaranamual. Bersama sama dengan J. Latumahina dan M. L. Palaupessy, mereka turut membantu menyelesaikan peristiwa tersebut yang menanamkan bibit-bibit ketidaksenangan yang dikemudian hari menjadi kesempatan untuk muncul berupa bentrokan kecil-kecilan.
Tanggal 15 dan 16 Oktober 1945. Terjadilah peristiwa yang dikemudian hari diberi nama ” de Ambon moord “. Masyarakat Ambon yang pada waktu itu bertempat tinggal di mana saja dalam daerah Sulawesi Selatan betul-betul dipengaruhi peristiwa yang maha dahsyat itu. Kebingungan dan rasa takut yang sangat mendalam mengguncangkan pandangan dan sikap hidup mereka dan dalam kehidupan yang begitu mencekam mereka lari mencari keselamatan diri dan keluarga, sewaktu tiba regu-regu penolong Australia. Mereka ditantang, dimaki-maki dan disoraki oleh massa yang berjubel-jubel. Ratusan, mungkin ribuan orang sebagai kesetanan dorong mendorong dan saling mendahului untuk menghantam korban. Tidak, tahu dari mana datangnya massa yang begitu banyak dan menakutkan. Tidak, di mana saja ada tinggal orang Ambon, rumah mereka dimasuki gerombolan liar di mana sering terjadi kesalahpahaman ada Orang Sangir ataukah Indo Makassar sering disangka orang Ambon, mereka dipukuli juga. Orang Ambon di seluruh Makassar waktu itu dikejar dari rumah ke rumah yang pada umumnya hanya terdiri dari sepasang orang tua dan beberapa anak mereka yang masih kecil. Yang meningkat umur sementara itu sudah ke sekolah MULO, AMS dan HBS sudah mulai dibuka. Juga beberapa buah “Legere school” semacam sekolah dasar dewasa ini. Peristiwa yang tidak berperi kemanusiaan itu hampir-hampir menghancurkan ide dan cita-cita untuk mendirikan KRIM yang hanya menantikan waktu dan kesempatan yang tersedia. Baru dibulan Juli 1946 niat yang sudah lama itu dikonkretkan, sejak tibanya J. Syaranamual bersama-sama DR. Ratulangi dari Jakarta. Itulah impian dan tugas utamanya, paling tidak akan berusaha agar supaya kekuatan masyarakat Orang Ambon yang potensial itu tidak akan memihak pada lawan di kemudian hari. Sampai pada waktu J. Syaranamual sekeluarga tinggalkan Makassar untuk Hijrah ke Jogjakarta, beliau tidak berhasil malahan sebaliknya kekuatan orang-orang kiblik didahului oleh provokasi NICA, termakan dengan terjadinya peristiwa 15 dan 16 Oktober 1945.
Walaupun berdirinya KRIM tidak didukung oleh tidak lebih dari dua puluh orang Ambon yang secara kebetulan tidak terseret masuk Benteng Fort Rotterdam, karena pada waktu terjadi peristiwa pengeroyokan dan pembunuhan massal berhasil diselamatkan oleh teman seperjuangannya, dan dilihat dari sudut kode etik berpolitik berdirinya organisasi tersebut tidak dapat dipertanggung jawabkan, tetapi didesak oleh keadaan sekitar terlebih-lebih sesudah di-counter oleh Ir. J. A. Manusama bersama-sama Sasabone dan Sahusilawane dengan pembangunan masyarakat Maluku dengan semboyan “Untuk berusaha untuk memenuhi kepentingan orang Ambon dalam Negara Indonesia Timur yang merdeka dan berdaulat, teristimewa dalam Negara Indonesia Timur yang mempunyai hak yang Sama”) dan sadar akan rasa harga diri dan sebagai bangsa yang telah merdeka, maka dipaksakannya berdiri. Menurut J. Syaranamual Belanda sudah berhasil masuk gelanggang, sudah sulit untuk mengeluarkannya. Keadaan tidak akan menjadi lebih baik, mungkin akan lebih buruk daripada yang sudah-sudah.
Yang diperkirakan Syaranamual betul-betul terjadi sesuai Konperensi Malino. Perkembangan kebijaksanaan Politik NICA diikuti dengan gerakan operasi militer yang ketat. Sedikit saja yang dicurigai dan diciduk kemudian ditahan sebagai tahanan Politik. J. Latumahina, salah seorang pembantu utama DR. Ratulangi sudah diseruaikan bersama-sama yang lain. J. Sitanispessy, salah seorang anggota Komite Nasional Daerah Provinsi Sulawesi sudah ditangkap dan tidak tahu kapan akan dibebaskan. Susunan pengurus KRIM yang pertama tersusun sebagai berikut:
- Ketua : Abd. Muluk Makatita
- Sekretaris : Bing Latumahina
- Bendahara : Jan Latupapua
- Pembantu-pembantu Umum : – Ny. Tanamal
- – J. Sitaniapessy
- – H. Sitania
- – J. Tuwanakotta
- – B. Putiray
- – F. Picaulima
Garis politik dari KRIM adalah: Berdiri 100% di belakang Proklamasi 17 Agustus 1945. Program kerjanya adalah : Ke dalam berusaha untuk menyadari dan meyakinkan bahwa masyarakat orang Ambon itu adalah Bangsa Indonesia dan berkewajiban untuk mempertahankan kemerdekaan itu.
Sampai dengan pertengahan tahun 1947 KRIM tidak aktif, karena sedang diberlakukan S. 0. B. Pada tanggal 11 Desember 1946. Juga sebelum itu, karena atas permintaan untuk berapat dan sebagainya ditolak atas berbagai macam alasan, Hanya antek-antek NICA saja yang bebas bergerak, seperti Persatuan Timur Besar / PTB yang didirikan pada tanggal 22 Januari 1947, yang diketuai oleh Eur. Sergeant Iste Klas L. Christoffel dan dibantu oleh Hitipouw, Kasebatan, Manuputty dan Pattiraudjawane dengan semboyan “nooit en nimmer los van Nederland”. Juga bisa leluasa adalah PARNESI atau Partai Negara Serikat Indonesia, kreasi Nadjamuddin Daeng Malewa. Menghadapi pejuang-pejuang Merah-Putih di meja perundingan dan diplomasi Najamuldin Daeng Malewa dengan kekuatannya. Kawan setianya adalah G. R. Pantuw, Sonda Daeng Mattayang dan A. Latupeirissa, seorang Ambon, tetapi tidak sejalan dengan KRIM. Siasat mereka berhasil melumpuhkan untuk sementara waktu orang-orang Kiblik yang sudah beralih ke medan diplomasi, karena tahu dan menyadari bahwa perjuangan menghadapi Belanda dengan antek-anteknya di medan fisik sudah kalah total. Begitu pula diharapkan di kehidupan politik praktis. Dengan disponsori Sonda Daeng Mattayang yang dibantu oleh Najamuddin Daeng Malewa dari kursi kedudukannya sebagai Perdana Menteri Negara Indonesia Timur berhasil mereka mengambil alih kedudukan serta merampas hak kekuatan Mr. Tadjuddin Noor sebagai ketua Parlemen Sementara NIT. Mosi Rekonstruksi yang diajukan pihak lawan untuk mengimbangi Mosi tidak percaya dari Mr. Binol dkk., yang mewakili Fraksi Progresip dengan juru bicara J.E. Tatengkeng dan dikuasai oleh Arnold Monohutu dimenangkan mereka dengan 36 setuju laman 32 tidak. Kekalahan pertama-tama yang harus dialami orang-orang Kiblik. Besar pula taruhannya, karena Mr. Tadjuddin Noor harus hijrah ke Yogyakarta tinggalkan Ujung Pandang atau Makassar di waktu itu. Belum berhasil mengatasi kekalahan-kekalahan yang diderita selama ini, harus mundur lagi setapak di meja perundingan. Mr. Tadjuddin Noor tokoh kedua setelah Dr. Ratulangi yang sama-sama tiba dari Jakarta di zaman Jepang harus hijrah ke Jogjakarta tinggalkan Makassar waktu itu. Orang di persona-non-grata-kan Belanda.
Menghadapi keadaan yang suram itu jauh-jauh sebelumnya sudah diperhitungkan. Karena itu Arnol Monuhutu sebagai calon pengganti utama kepemimpinan garis politik ditarik dari Ternate yang pada struktur jaringan operasional yang pertama dikembangkan oleh Dr. Ratulangi pada zaman Jepang harus membantu sebagai tenaga inti perkembangan digaris belakang. Situasi dan kondisi di awal tahun 1947 sudah lain dari gambaran semula. Dari Jawa sudah terlambat tiba bantuan yang sudah diperhitungkan. Untuk menutupi kekurangan yang sangat dirasakan sekali pada waktu itu, maka semua tenaga muda digaris belakang ditarik ke Makassar. L. E. Manuhua, seorang tokoh muda di dunia kewartawanan ditarik dari Ambon untuk membantu Hengkie Rondonuwu, Soegardo, Bert Korompis, Ali Kamah dengan media organisasi PKR seperti Sahabat, Wirawan dan Pedoman Harian yang kemudian di awal tahun-tahun ’50-an diganti menjadi Pedoman Rakyat. Dari Ternate tiba Abdjan Soleiman yang diaktifkan dalam usaha pergerakan massa dalam pembinaan operasi teritorial. Dari Bali sudah tiba Soetedja, Wedastra dan lain-lain. A. W. Sjahrani dan kawan-kawannya dari Kalimantan sudah siap membantu. Pada KRIM melalui Muluk Makatita yang duduk sebagai salah seorang pembantu umum pada PKR pusat Makassar diminta untuk menggalang kembali kekuatan yang potensial yang ada di Benteng Fort Rotterdam yang selama ini dipakai untuk kepentingan Belanda dengan antek-anteknya.
Bersama-sama dengan Persatuan Wanita Maluku yang didirikan pada pertengahan tahun 1946 dan diketuai oleh Ny. O. Pattileuw yang dibantu oleh beberapa tenaga wanita Maluku lainnya dibantu oleh Gabungan Pelajar Maluku yang dikoordinasikan oleh G. J. Tatipikalewang, maka diharapkan itu bisa berhasil. Terapi situasi dan kondisi di waktu itu tidak turut membantu. Selama tahun 1947 tidak ada berhasil dikerjakan. Malahan Partai Kedaulatan Rakyat yang didirikan pada tanggal 24 November 1946 sebagai pelambang dan pelanjut dari Pusat Keselamatan Rakyat Sulawesi yang ditahun 1945 didirikan oleh Dr. Ratulangi dan dari padanya diharapkan bagaimana harus meng-counter pihak lawan, tidak bisa berbuat banyak. Baik golongan Federalis yang cou’te due cou’te bekerja sama dengan Belanda maupun Orang-orang Kiblik, terutama yang terakhir, sedang menanti-nanti pada waktu itu Jawaban Republik Indonesia Yogyakarta kepada Belanda. Konflik Indonesia Belanda tidak banyak membantu Makassar, kadang kala Makassar disudutkan pada posisi yang lemah sekali. Keadaan mulai membaik sewaktu Nadjamuddin Daeng Malewa dicopot dari kedudukannya sebagai Perdana Menteri NIT dan pada Kabinet Warouw dimosi tidak percaya oleh Fraksi Progresip yang diketuai Arnold Monohutu. Sejalan dengan keadaan yang sudah membaik itu, maka KRIM juga mempersiapkan dana dan dayanya menghadapi perubahan yang akan datang. Sampai tiga kali diadakan perubahan pengurus dengan tujuan komposisi kepengurusan itu dapat diterima oleh masyarakat orang Ambon yang untuk sebahagian besarnya masih tinggal di Benteng Fort Rotterdam. Hasilnya juga ada, ialah pertambahan jumlah keanggotaannya. Sementara itu dalam, kubu pertahanan lawan sudah terjadi sikut menyikut. DR. C. Lion Cachet, penyiazat besar pada zaman hebat-hebatnya NICA yang berhasil melumpuhkan setiap lawannya ialah tokoh-tokoh utama dari PKRS, pada akhirnya di-persona-non-grata-kan oleh menteri Urusan Dalam Negeri NIT, walaupun ia dibela oleh teman-teman sejawatnya dan oleh Algemene Regeringscommissaris voor Borneo en Grote Oost.
Menjelang akhir tahun 1947 didirikan Partai Angkatan Muda Indonesia dengan Bert Korompis sebagai Ketua dan L. E. Manuhua sebagai seorang tokoh muda dari KRIM dipilih menjadi sekretaris I dan Ali Kamah Sekretaris II. Bersama dengan itu Partai Tenaga Rakyat Cabang Makassar memperbaharui kepengurusannya dengan G. R. Pantouw sebagai Ketua Cabang Makassar. Memasuki tahun 1948 perkembangan kehidupan Politik praktis makin menguntungkan perjuangan menegakkan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945. Lahirlah ide untuk membentuk gabungan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, suatu bentuk federasi dari partai-partai Politik dan gerakan yang memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia Kiblat Yogyakarta yang terdapat, hidup dan berkembang dalam daerah kekuasaan Negara Indonesia Timur. Salah satu dari organisasi-organisasi yang tergabung atau menggabungkan diri adalah Kebaktian Rakyat Indonesia Maluku di Makassar. Ny. Lokollo, Bendahara KRIM, mewakili organisasinya dalam konperensi mini GAPKI yang diadakan dari tanggal 29 April 1948 – 3 Mei 1948. Wartawan tingkat Nasional yang hadir waktu itu dari Jakarta adalah: R. Soekardjo Wirjopranoto dari Jakarta, mewakili Mimbar Indonesia; Rosihan Anwar juga dari Jakarta, mewakili SIASAT Kaya, M. Karim dan A. J. Usman dari Gorontalo mewakili Badan Perjuangan Rakyat Indonesia; Abdulrachman Karim dari Banjarmasin, mewakili Kalimantan Berjuang dan Hamzah Ilahude dari Manado, mewakili Menara. Dalam susunan Pengurus GAPKI yang pertama duduk Ny. Lakollo sebagai Pembantu Umum mewakili KRIM, bersama-sama J. E. Tatangkeng, I. H. Doko, A. L. Tobing, E. U Pupella dan sebagainya yang mewakili organisasi mereka masing-masing. Ketua organisasi gabungan ini adalah Arnold Monohutu.
Hasil dari usaha untuk mendekati masyarakat orang Ambon yang untuk sementara dengan berdempet-dempet tinggal di Benteng Fort Rotterdam sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda kegembiraan, terutama pada generasi mudanya sudah ada di antara generasi kedua yang lahir pada umunnya sesudah tahun 20-an yang setiap malam mengikuti pidato Bung Tomo dari Radio Pemberontak Jawa Timur. Malah ada yang berani berlangganan Mimbar Indonesia yang mulai terbit pada tahun 1947 sampai dengan terbitan yang terakhir. Bukan itu saja, juga sudah ada di antaranya yang bersedia membantu mengaktifkan Kebaktian Rakyat Indonesia Maluku bahkan ada yang bersedia untuk diangkat menjadi pengurus. Suatu tawaran yang sangat simpatik dan dimanfaatkanlah tawaran tersebut dan Piet Tutupoly, seorang tenaga muda, diangkat menggantikan kedudukan Abd. Muluk Makatita. Penggantian ketua ini terjadi pada tanggal 29 Agustus 1948, juga kursi Pembantu Umum B. Patiray yang sudah kosong selama ini berhasil dipilih penggantinya. Jumlah anggota adalah 79 Orang, dimulai dengan 20 orang jumlah anggota pada waktu didirikan. Ada kemajuan namun jumlah itu sangat sedikit sekali dan kemungkinan jumlah anggota yang paling sedikit/kecil, dibanding sekian banyak organisasi dengan jumlah anggotanya yang puluhan ribu yang tergabung pada gabungan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia.
Hasil rujuk kembali dari dua buah kelompok yang jauh berbeda dari sikap politiknya yang sebelumnya saling tuduh-menuduh sebagai penghianat adalah hasil usaha Abd. Muluk Makatita. Ketua lama dan seorang Islam Ambon yang dapat mengerti akan kesulitan dan berbagai macam masalah yang harus dapat diselesaikan dan dibenahi oleh masyarakat orang Ambon itu sendiri dan pada akhirnya beliau berhasil. Tak henti-hentinya berusaha mempertemukan kedua kelompok itu, kadang kala harus mulai dari awal kembali jika gagal ditengah. Mungkin dengan tenaga baru sebagai mahasiswa dari Fakultas Ilmu Ekonomi cabang Makassar Universitas Indonesia di Jakarta, apalagi ketua baru ini adalah orang dalam sebagai penghuni Benteng Fort Rotterdam, cita-cita semula sewaktu KRIM didirikan minimal bisa direalisasikan. Sejalan dengan program kerja dari pengurus baru, maka diadakanlah pertemuan ke dalam untuk meninjau cara dan kerangka operasi yang selama ini telah dikerjakan. Terutama sebagai anggota-anggota KRIM harus bergerak dan menjadi tenaga inti pada kerabat-kerabat seperjuangannya, seperti Nawawi Sahupala pada pandu Anshar, Correns Hully Djunaid dan Hamin Jongken pada organisasi kelasykaran PETA (Pencinta Tanah Air) yang sedang disiapkan dan hanya menanti kesempatan yang cukup membantu untuk dimunculkan. Tidak terlupa dari acara pertemuan itu untuk membicarakan masalah Om-om KNIL yang nampaknya mulai agresif dan mengalkulasikan untung rugi menjadi anggota Tentara Belanda dan tidak. Melalui jalur-jalur tertentu dimonitoring gerak gerik PTB sebagai induk organisasi terakhir mereka. Juga didekati Kesatuan Militer Maluku yang beralamat Kampemen K. I. S.. Organisasi terakhir ini adalah pecahan dari PTB dan sangat eksklusif. Hanya Om-Om Ambon dari Tentara KNIL saja yang diterima menjadi anggota. Malah yang kawin keluar dalam pengertian keluar yaitu wanita dari Maluku bersuami suku lain, masih dipertimbangkan.
Untung KRIM dapat diselamatkan sewaktu dipenghujung tahun 1948 hampir seluruh jaringan kerja ilegal di Sulawesi Selatan, terutama dalam kota Makassar di waktu itu, dari garis kerja sama Dolongpaha dengan mereka yang didrop dari Yogyakarta berhasil ditangkap pihak musuh, karena hubungan operasionalnya yang sebelumnya sudah diputus tidak ada pengamanan diri dari kerja ilegalnya. Sembrono sekali dimana saja ketemu, terjadilah diskusi dengan gerakan-gerakan tangan yang mencurigakan, suatu gerakan yang mencurigakan sekali dan juga merupakan pelajaran yang berharga sekali dan membikin pengurus dan para aktivisnya menjadi hati-hati. Aksi militer II yang dilancarkan Pemerintah Hindia Belanda sangat mempengaruhi iklim politik negara Indonesia Timur, terutama di Ibu kotanya. Belanda menghadapi 2 medan, di front depan langsung menghadapi Republik Indonesia dan digaris belakang diganggu oleh sisa-sisa orang-orang Kiblik yang menurut perhitungan mereka sudah tidak berkutik lagi. Mereka tidak menyadari bahwa mulai awal gerakannya langkah mereka sudah keliru. Seandainya perubahan-perubahan yang begitu mendasar geraknya, yang menjungkir balikkan segala sendi-sendi hidup bersama pada zaman pendudukan Tentara Dai Nippon Teikoku, jika hasil gambaran itu diterima sebagai awal perundingan tidak begitu menyulitkan kedudukan Belanda pada waktu itu. Gambaran Sejarah dari situasi dan kondisi hidup bersama pada tahun-tahun sebelum perang Asia Timur Raya yang terpatri pada benak kelompok Indo Belanda pada awal konflik Indonesia-Belanda yang diberi wewenang untuk memerangi orang-orang Indonesia yang dijadikan patokan perhitungan mereka. Apalagi jika daerah yang akan diatur pernah dikenal sebelumnya, seperti Dr. C. Lion Cachet. Seorang pejabat lama daerah Sulawesi Selatan sebelum pecah perang Asia Timur Raya, maka makin bertingkahlah mereka “Zon daerah kenner”. Pada akhirnya kekeliruan segala perhitungan mereka. Pada tahun 1949 terjadi beberapa kali perubahan pimpinan. Pernah L. E. Manuhua menjadi ketua, dilain waktu berubah menduduki posisi sekretaris I KRIM.
Menghadapi perubahan yang begitu cepat terjadi, satu belum selesai sudah ditumpangi perubahan lainnya, maka sudah dihitung-hitung dari pertengahan tahun 1948 untuk mendirikan suatu Organisasi Pemuda Pelajar Asal Maluku yang mungkin dapat membantu mengubah pandangan hidup dan iklim politik yang dihadapi mereka pada waktu itu. Cukup lama juga tinggal tergantung jadi tidak didirikan organisasi pemuda pelajar yang dicita-citakan. Pada akhirnya mulai dibentuk pada awal tahun 1949. Mulai tanggal 1 Maret 1949 diterbitkan oleh KRIM Bulanan MENA MURIA sebagai media resmi organisasi. Penanggung Jawab adalah L. E. Manuhua. Moto yang disepakati adalah sebagai berikut dan ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Belanda:
Innerlijk klinkt ’t immer in mij: …Ik houd van mijn Land…! Ik bemin mijn volk…; Ik heb mijn taal lief…! Edoch… Zijn mijn uiterlijkheden wel in overeenstemming met de stem mijner harten?….
Terjemahan:
“Di dalam hatiku selalu bergema:… Aku mencintai Tanah Airku…! Aku mencintai Bangsaku…! Aku mencintai Bahasaku…! Tetapi… apakah lahirku sudah selaras dengan suara hatiku?…”
Media organisasi ini berapa kali berhasil diterbitkan. Diantaranya ada yang rubrik “dari kantong per kantong” dengan judul “Het Roer Moet Om”. Rubrik ini khusus diperuntukkan untuk teman-teman sebaya yang berasal dari satu daerah, tetapi yang berada di seberang bergabung dengan lawan. Penanggung jawab rubrik ini adalah J. Breemer. Dengan diterbitkannya majalah nomor 5 dari majalah bulanan ini pada bulan Juli 1949, maka perubahan penanggung jawaban majalah tersebut diganti dengan J. Breemer. Aktivitas dan kreativitas dari anggota KRIM, L. E. Manuhua menjadi penghubung antara Makassar-Yogyakarta dalam bidang kewartawanan, karena kedudukannya di Mena Muria harus dipindahkan pada yang mampu menanganinya. Moto Majallah itu berubah pula adalah sebagai berikut ditulis dalam dua bahasa:
Is er schoner taak voor den mens weggelegd dan de lichtende fakkel der idee voor zijn volk uit te dragen?….
Terjemahan:
“Adakah tugas yang lebih mulia bagi manusia selain menyalakan obor cita-cita untuk bangsa dan tanah airnya?…”
Pada tahun 1949 didirikan organisasi pemuda pelajar yang sudah setahun didiskusi dan diperdebatkan. Nama organisasi itu adalah Ikatan Pemuda Indonesia Maluku, biasanya disingkat IPIM. Perlu diterangkan bahwa dalam kata pemuda sudah terisap pengertian Pelajar. Ketua Umunnya adalah Abdjan Soelaiman, seorang Islam Ambon asal Ternate. Cukup banyak yang dibikin organisasi pimpinan Abdjan Soelaiman dengan sekian banyak tenaga muda asal Maluku yang tergabung pada IPIM, tetapi di sini bukan pada tempatnya untuk membeberkan hasil usahanya diwaktu itu.
Tahun 1950, sudah tiba Komisi Militer dan Teritorial Indonesia Timur. Diantara angota-anggota stafnya terdapat beberapa putra Indonesia asal Maluku, ialah Kapten Leo Lopulissa, Letnan Satu Minggus Nanlohy dan Letnan Satu Bing Latumahina. Terutama yang terakhir yang pada waktu KRIM didirikan pernah berfungsi sebagai sekretaris I. Seorang kenalan lama. Dengan gambaran imajinatif yang terdapat pada benak-benak tokoh KRIM diwaktu itu bahwa dengan datangnya perwira-perwira tentara Nasional Asal Maluku maka menghadapi sikap dan cara kasak-kusuk dari bekas Menteri Muda Keuangan NIT R. J. Metekohy, bersama-sama dengan Menteri Kehakiman NIT Mr. Dr. Chr. Soumokil untuk membangun pasukan polisi Khusus yang dengan sendirinya menolak Tentara Nasional Indonesia untuk menjaga keamanan kawasan tersebut cukup bantuan tenaga dan pikiran untuk mencari jalan bagaimana sebaiknya masalah ini diselesaikan. Yang sudah dikerjakan KRIM pada tahun 1949 dalam masalah yang selalu ditiup-tiup oleh R. J. Metekohy adalah mengirim mosi tert. 26 Maret 1949 yang menolak kawat dari “Comnissio Rechtposi General di Negeri Belanda serta wakil Makoka di Jakarta. yang meminta “Maluku Selatan dalam Rijksverband”. Juga menyokong Mosi dari Dewan Raja-Raja dan Dewan Perwakilan Rakyat Timor dan Kepulauan yang menolak Mosi PTB yang mengatas namakan rakyat Timor dan Kepulauan yang meminta Timor dalam “Rijksverband”. Juga menyokong Mosi dari Dewan Perwakilan Rakyat Timor dan Kepulauan yang memutuskan “Tetap tinggal dalam lingkungan NIT”.
Menghadapi masalah R. W. Monginsidi yang selalu dikaitkan pada figur Ir. Dr. Chr. Soumokil yang agak menimbulkan gesekan dalam organisasi KRIM mengakibatkan beberapa tokoh utama dalam KRIM itu mulai pasif yang dengan sendirinya menimbulkan keadaan yang menjengkelkan tokoh-tokoh muda yang tergabung dalam IPIM. Di Ambon sudah terjadi peristiwa 19 Januari 1950, ialah pembakaran pasar Ambon, dimana pada peristiwa itu 2 kompi dari baret Merah dan Hijau sudah memperlihatkan kebolehannya dengan tujuan mempengaruhi kota Ambon yang condong mengikuti tokoh-tokoh muda yang tergabung pada IPIM. Sambil menanti bagaimana masalah pembakaran Pasar Ambon itu diselesaikan KRIM maupun IPIM di Makassar pada waktu itu dihadapkan pada masalah pembubaran Negara Indonesia Timur. Bukan untuk dibangga-banggakan, tetapi dalam usaha untuk mematikan NIT itu, pada hakikatnya sudah “Abortus” pada waktu Fraksi Progresip berbaris meninggalkan rapat ke 10 sidang ke I tahun 1947 bersama sama ketua Parlemen NIT Mr. Tadjuddin NOOR dengan Mr. S. Binol dan Abdullah Daeng Mappudji sebagai wakil Ketua I dan wakil Ketua II, yang disponsori oleh Biro Pejoang Pengikut Republik Indonesia pada tanggal 17 Maret 1950, KRIM dan IPIM tidak tinggal diam. Dari 19 orang anggota panitia Demonstrasi keinginan rakyat yang diedarkan dengan surat edaran tertanggal 13 Maret 1950, maka 5 orang dari anggota panitia tersebut adalah anggota dari organisasi KRIM dan IPIM. Dan 27 Partai Politik yang mendukung Demonstrasi Rakyat pada tanggal 17 Maret 1950 yang menuntut pembubaran Negara Indonesia Timur turut terhitung KRIM dan IPIM. Panitia Demonstrasi Keinginan Rakyat diketuai Jusuf Beauty dan sekretaris Panitia adalah R. S. Usman.
Peristiwa atas peristiwa yang terjadi sesudah peristiwa 17 Maret 1950 melibatkan langsung baik KRIM maupun IPIM sampai terjadinya peristiwa yang pernah menghebohkan iklim politik nasional diwaktu itu, ialah dengan terjadinya Proklamasi dari “Apa yang dinamakan Republik Maluku Selatan” pada tanggal 25 April 1950. Langsung pada hari berikutnya dikeluarkanlah Komunike bersama yang ditanda tangani oleh wakil-wakil dari KRIM, IPIM dan PEMUDA PATTIMURA dan pada tanggal 1 Mei 1950 dibentuk Front depan untuk berperang melawan “Apa yang dinamakan RMS”. Hasil dari pada perundingan dengan Staf Operasi dari Teritorium VII, maka pada pendaratan yang pertama yang diturunkan di Pulau Namlea pada tanggal 14 Juli 1950, di samping Batalion Patimura dan 352 Mataram/Slamet Rijadi, turut juga pasukan dari latihan baris berbaris selama kurang lebih 2 bulan yang disponsori Front Penentang.
Masih ada satu peristiwa yang mempunyai efek nasional, tetapi secara fisik terjadi di kota Makassar dimana wakil-wakil dari KRIM dan IPIM turut dalam panitia yang dibentuk untuk maksud tersebut. Yang sedang dinanti-nantikan pada waktu itu adalah kedatangan Bung Karno dan Istri akan jatuh pada tanggal 17 April 1950 dan akan tinggal di Makassar selama 2 hari. Tetapi karena Bulan April itu terjadi pemberontakan Andi Azis dan masalah itu tidak dapat diselesaikan dalam waktu yang cukup pendek, maka niat untuk menerima kedatangan Bung Karno Suami Istri diundurkan sampai bulan Juli 1950. Pada tanggal 28 Juli 1950 tiba Bung Karno di Makassar, sesudah beristirahat sebentar di lapangan Karebosi untuk rapat umum. Yang perlu dicatat sebagai catatan sejarah pada waktu terjadilah teriakan “Merdeka” sampai hitungan ke 17 dan teriakan Merdeka itu dipimpin oleh Bung Karno. Mengapa sampai terjadi peristiwa demikian? Karena pada waktu sambutan atas pekik “Merdeka” tidak begitu semarak kedengaran, maka diminta diulangi sampai 17 kali. Mungkin tidak pernah terjadi di tempat lain, tetapi di kota Makassar waktu itu terjadi peristiwa tersebut. Saksi hidup masih banyak, tanyalah pada mereka.
Peda tahun 1951 KRIM atau Kebangkitan Rakyat Indonesia Maluku dibubarkan. Seperti biasanya, sesudah berbincang-bincang sebentar ditutuplah pertemuan. Berakhirlah satu babakan tertentu dalam hidup mereka yang terlibat langsung dengan didirikan KRIM pada awal perjuangan kemerdekaan di Sulawesi Selatan. Yang tinggal hanya kenangan, yang belum tentu menyenangkan diri pribadi.
Ujung Pandang, 25 Nopember 1982.
Hanoch Luhukaij
NIP. 130432298