Ketika Maluku Terluka: Seruan Damai Menjelang Sidi Baru dan Paskah

Share:

Dalam beberapa minggu terakhir, tanah Maluku kembali diguncang oleh bentrokan antarwarga di beberapa lokasi. Luka lama seakan belum benar-benar sembuh, dan sekarang, percikan-percikan emosi yang belum terurai kembali menyala. Bagi kita yang pernah menyaksikan atau mengalami masa kelam konflik sosial di masa lalu, berita ini bukan sekadar laporan kriminal biasa—melainkan dentingan peringatan akan rapuhnya jalinan damai yang selama ini dibangun dengan susah payah.

Di tengah situasi ini, umat Kristen di Maluku (GPM) sedang bersiap menyambut dua momen penting dalam kehidupan gerejawi: Sidi Baru dan Hari Raya Paskah. Sidi Baru menandai tonggak kedewasaan iman, saat anak-anak kita menyatakan janji setia kepada Tuhan di hadapan jemaat. Paskah berbicara tentang kebangkitan, pengampunan, dan kehidupan baru. Keduanya adalah perayaan yang menuntut kita bukan hanya tampil bersih secara lahiriah, tetapi juga jernih dalam sikap hati dan perilaku sosial.

Maka, pertanyaannya: bagaimana sebaiknya Gereja bersikap?

Gereja Sebagai Pelita di Tengah Kegelapan

Gereja tidak bisa hanya menjadi penonton. Gereja harus berdiri sebagai pelita, bukan hanya di mimbar, tetapi juga di tengah masyarakat. Ketika emosi dan dendam menguasai jalanan, gereja harus hadir dengan pesan yang menyejukkan, namun juga tegas: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9).

  1. Bersikap Propetik, Bukan Netral Apatis
    Gereja tidak boleh memilih aman dan diam. Ia harus berbicara sebagai suara kenabian, mengingatkan semua pihak—baik jemaat sendiri maupun saudara-saudara sebangsa—bahwa kekerasan tidak pernah menjadi jalan Tuhan. Sikap netral bukan berarti membisu, melainkan berdiri teguh di atas prinsip keadilan, perdamaian, dan kasih.
  2. Memperkuat Dialog Antarumat
    Momentum Paskah dan Sidi Baru harus digunakan untuk merintis kembali jembatan-jembatan yang mulai rapuh. Gereja-gereja lokal bisa menginisiasi pertemuan lintas iman, pertemuan pemuda lintas desa, atau aksi damai yang melibatkan berbagai komunitas. Jangan menunggu pemerintah atau tokoh elite; perubahan sosial yang sejati lahir dari gerakan akar rumput.
  3. Mendidik Jemaat, Terutama Generasi Muda
    Dalam masa persiapan Sidi, para calon anggota sidi harus dibekali bukan hanya pengetahuan doktrinal, tapi juga pemahaman kontekstual: bagaimana menjadi terang dan garam dalam masyarakat yang terluka. Mereka bukan hanya calon anggota dewasa gereja, tapi juga pemimpin masa depan yang harus mewarisi iman yang hidup, bukan iman yang apatis.
  4. Mengobati Luka Melalui Doa dan Tindakan Nyata
    Gereja dapat mengadakan malam doa bersama lintas denominasi, aksi solidaritas untuk korban bentrok, atau membuka pos-pos penguatan psikososial. Dalam Paskah, kita mengenang luka Yesus yang menghidupkan. Maka kita pun terpanggil untuk menyentuh luka masyarakat dengan tangan kasih.

Damai yang Dimulai dari Dalam

Tidak ada Paskah yang sejati tanpa rekonsiliasi. Tidak ada Sidi Baru yang berarti jika anak-anak kita tumbuh dalam kebencian dan ketakutan. Maka, biarlah gereja menjadi tempat pengampunan, bukan kebencian; tempat penyembuhan, bukan pelarian; tempat pembaruan, bukan pelestarian luka.

Saat kita menyanyikan lagu “Kristus Bangkit! Haleluya!”, marilah kita sungguh-sungguh percaya bahwa damai bukan hanya mimpi, melainkan tugas. Tugas setiap orang percaya. Tugas kita bersama.

error: Content is protected !!