Enteng Tanamal: Maestro Musik Maluku yang Memperjuangkan Hak Seniman

Share:

Di balik gemerlap panggung musik Indonesia pada era 1960-an hingga 1980-an, ada sosok yang tak hanya mahir memetik senar gitar, tetapi juga gigih memperjuangkan hak para seniman. Enteng Tanamal, seorang musisi, aktor, dan aktivis hak cipta, telah meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah seni tanah air. Dengan bakatnya yang luar biasa dan dedikasinya terhadap dunia musik, Enteng bukan hanya seorang maestro, tetapi juga teladan bagi generasi seniman.

Bakat Musik dari Fak-Fak

Enteng Tanamal, yang memiliki nama asli Hein Tanamal, lahir pada 9 Oktober 1943 di Fak-Fak, Papua (saat itu dikenal sebagai Irian Jaya). Sejak usia tiga tahun, ia sudah menunjukkan ketertarikan pada musik, sebuah bakat yang akan membawanya melintasi berbagai panggung di Indonesia. Kehidupan awalnya di Fak-Fak membentuk karakternya yang tangguh, sebuah sifat yang kelak tercermin dalam perjuangannya sebagai seniman. Enteng menyelesaikan pendidikan setara SMA (SLA) pada 1962 di Jakarta, yang menjadi titik awal kariernya di ibu kota.

Dari Band Lokal ke Panggung Nasional

Perjalanan musik Enteng dimulai saat ia bergabung dengan band Suara Mutiara di Jakarta. Bersama grup ini, ia mengikuti Festival Band Bocah se-Jakarta Raya dan Festival Band Bocah se-Indonesia di Gedung Olahraga Ikada, sebuah ajang yang menandai langkah pertamanya di dunia musik profesional. Pada 1960, ia menjadi bagian dari Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin, di mana ia mulai dikenal sebagai salah satu pemain gitar terbaik pada masanya.

Pada 1964, Enteng bergabung dengan Sapta Nada, sebuah band yang beranggotakan musisi ternama seperti Bing Slamet, Idris Sardi, dan Benny Mustafa. Di tahun yang sama, ia membentuk Band Pantja Nada bersama Sani, Udhinsyah, Hengki Firmansjah, dan Cucung. Bersama Pantja Nada, Enteng menggelar pertunjukan musik di berbagai kota besar di Indonesia, tampil bersama penyanyi top seperti Bob Tutupoly, Titiek Puspa, dan Pattie Bersaudara. Penampilannya yang energik dan kemampuan bermain gitar yang luar biasa membuatnya menjadi sorotan di kalangan pecinta musik.

Enteng Tanamal membentuk band pengiring di studio rekaman yang dikenal dengan nama The Comets. Bersama dengan bassist Dimas Wahab, ia kemudian mendirikan band The Pro’s, yang juga melibatkan para musisi seperti Pomo, Fuad Hasan, dan Broery Marantika.

Pada tahun 1968, mereka melakukan tur ke Singapura dan menghabiskan sekitar enam bulan tampil di Tropicana Night Club, dimana mereka sempat merekam album yang diberi nama Broery & The Pro’s. Setelah kembali ke Indonesia, Enteng melanjutkan kariernya dengan bermain di klub malam bersama musisi lain seperti Idris Sardi, Benny Mustafa, Kiboud Maulana, dan Tonny Suwandi.

Selama ia bekerja di Pertamina, Enteng mendapat tugas khusus untuk memimpin Band Pertamina Unit VI di Dumai, yang juga melibatkan Jopie Item, Benny Mustafa, Rully Djohan, dan Tonny Suwandi. Pada tahun 1974, ia kembali ke Jakarta dan mulai aktif dalam menciptakan musik untuk film-film layar lebar.

Salah satu karya musiknya yang tercatat adalah single Oh Dara yang dirilis pada 1965. Meskipun diskografinya sebagai penyanyi solo tidak terlalu banyak, Enteng lebih dikenal sebagai penata musik yang andal. Ia berkontribusi dalam beberapa film, seperti Dara-Dara (1971), Suster Maria (1974), Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974), Rahasia Gadis (1975), Impian Perawan (Melati) (1976), Ranjang Siang Ranjang Malam (1976), Marina (1977), Cinta Bersemi (1977), Anggrek Merah (1977), dan Istri Dulu Istri Sekarang (1978), dimana ia bertindak sebagai penata musik.

Antara tahun 1976 hingga 1978, Enteng Tanamal menjabat sebagai supervisor rekaman di PT Yukawi. Pada masa itu, ia mulai mengorbitkan putrinya, Yoan, sebagai penyanyi cilik. Mulai tahun 1978, Enteng beralih menjadi produser dengan mendirikan studio rekaman yang dinamai sesuai putri pertamanya, yaitu PT Yoan Recording Studio.

Karier di Dunia Akting

Selain musik, Enteng Tanamal juga menjajal dunia akting. Ia tampil dalam beberapa film pada era 1970-an, menunjukkan bakatnya sebagai aktor serba bisa. Beberapa film yang melibatkan Enteng sebagai aktor antara lain Ratna (1971), Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974), Jangan Biarkan Mereka Lapar (1974), Kasih Sayang (1974) Pengakuan Seorang Perempuan (1974), Rahasia Gadis (1975), dan Yoan Sayang, Anakku Sayang (1977). Meski perannya sebagai aktor tidak sebesar kontribusinya di bidang musik, kehadirannya di layar lebar menambah warna dalam kariernya yang beragam.

Peran dalam Karier Elly Pical

Enteng Tanamal juga memiliki peran penting diluar dunia seni, yakni dalam dunia olahraga tinju. Pada 1987, petinju legendaris Indonesia, Elly Pical, yang saat itu sedang berkonflik dengan manajernya, Simson Tambunan dan Anton Sihotang, memilih Enteng sebagai asisten manajernya. Bersama penyanyi Melky Goeslaw sebagai manajer utama, Enteng membantu Elly mengelola karier tinju profesionalnya selama periode tersebut. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa pengaruh Enteng meluas hingga ke ranah yang tidak terduga, membuktikan fleksibilitas dan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Perjuangan untuk Hak Cipta Seniman

Enteng Tanamal bukan hanya seorang musisi dan aktor, tetapi juga aktivis yang peduli pada nasib seniman. Ia aktif di Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) serta Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI), dua organisasi yang memperjuangkan kesejahteraan musisi dan pencipta lagu. Enteng sering menjadi pembicara dalam acara-acara terkait hak cipta, seperti simposium internasional yang diadakan KCI pada 2007 di Jakarta.

Pada 2007, Enteng menegaskan pentingnya pembayaran royalti oleh pengguna karya musik, sesuai dengan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Ia juga menyoroti kurangnya sosialisasi dan kesadaran masyarakat terhadap hak cipta, yang menjadi salah satu alasan YKCI menggelar simposium tersebut. Pada 2009, ia mendorong pemerintah untuk membentuk Komisi Perlindungan Hak Seniman guna mengatasi maraknya pembajakan karya seni, sebuah langkah yang menunjukkan visinya untuk melindungi hak-hak seniman Indonesia.

Kehidupan Pribadi

Enteng Tanamal menikah dengan Tanty Yosepha, seorang aktris terkenal pada era 1970-an yang dikenal dengan suara lembutnya. Pasangan ini dikaruniai seorang anak bernama Yoan Tanamal. Kehidupan pribadi Enteng cenderung tertutup, tetapi pernikahannya dengan Tanty sering disebut sebagai salah satu kisah cinta yang hangat di kalangan artis pada masanya. Hingga informasi terakhir pada 2018, Enteng masih aktif di PAPPRI dan YKCI. Namun, pada usianya yang kini mencapai 81 tahun (pada 2025), tidak ada informasi terbaru mengenai aktivitasnya, sehingga kemungkinan ia telah mengurangi kegiatan publik.

Warisan dan Pengaruh

Enteng Tanamal adalah sosok multitalenta yang memberikan kontribusi besar pada musik, perfilman, dan perlindungan hak cipta di Indonesia. Ia dikenal sebagai salah satu pemain gitar terbaik pada masanya, seorang penata musik yang andal, dan aktor yang serba bisa. Namun, yang paling menonjol adalah dedikasinya dalam memperjuangkan hak cipta seniman. Melalui PAPPRI dan YKCI, Enteng memastikan bahwa pencipta lagu mendapatkan hak yang layak atas karya mereka, sebuah perjuangan yang relevan hingga kini di tengah tantangan digital dan pembajakan.

Meski tidak memiliki popularitas besar sebagai penyanyi solo, jejak Enteng dalam dunia seni Indonesia tetap dikenang. Ia adalah bukti bahwa seorang seniman tidak hanya menciptakan karya, tetapi juga bisa menjadi agen perubahan bagi komunitasnya. Enteng Tanamal adalah maestro sejati dari Maluku, yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi dengan semangatnya untuk keadilan dan kesejahteraan seniman.

Pada tahun 2002, Enteng Tanamal menerima penghargaan Anugerah Musik Indonesia dalam katagori Lifetime Achievement Award.

Inspirasi dari Seorang Maestro

Enteng Tanamal adalah teladan bagi seniman muda Indonesia. Dari Fak-Fak hingga panggung nasional, perjalanan hidupnya penuh dengan dedikasi, bakat, dan perjuangan. Ia mengajarkan bahwa menjadi seniman bukan hanya tentang menciptakan karya, tetapi juga tentang memperjuangkan hak dan martabat profesi tersebut. Warisannya sebagai musisi, aktor, dan aktivis hak cipta akan terus menginspirasi generasi mendatang, menjadikan Enteng Tanamal sebagai salah satu pilar penting dalam sejarah seni Indonesia.


ENTENG TANAMAL – TOKOH 4 ZAMAN || LMK KCI Digital Official

2 thoughts on “Enteng Tanamal: Maestro Musik Maluku yang Memperjuangkan Hak Seniman

Comments are closed.

error: Content is protected !!