Di tengah gemerlap musik Indonesia, nama Zeth Lekatompessy bertahta sebagai salah satu ikon musik Maluku yang legendaris. Lahir di Ambon pada 4 Juni 1940, Zeth, yang akrab disapa Bapa Teka atau Opa Zeth, adalah penyanyi serba bisa yang mampu membawakan berbagai genre—pop, blues, reggae, samba, rock, dangdut, lagu daerah, hingga seriosa. Dengan suara maskulin yang kuat dan penampilan panggung yang memukau, ia tidak hanya menghibur tetapi juga menyatukan hati melalui musiknya.
Fondasi Musik
Zeth Lekatompessy lahir di Negeri Amahusu, Ambon, dari pasangan Hermanus Lekatompessy dan Elisabeth Matitaputty. Berasal dari marga Lekatompessy, yang merupakan marga asli Latuhalat, ia tumbuh dalam budaya Maluku yang kaya akan tradisi musik. Sejak usia lima tahun, Zeth sudah bernyanyi di gereja Amahusu, membawakan lagu-lagu rohani seperti Tongkat Daku Tuhan. Latihan vokal bersama paduan suara gereja, ditambah disiplin fisik berjalan naik-turun bukit, membentuk stamina dan kekuatan suaranya.
Pendidikan Zeth berlangsung di Sekolah Rakyat Amahusu dan SMP Negeri 2 Ambon, di mana ia mulai menonjol dalam lomba menyanyi antar siswa. Pada kelas II SMP, ia meraih juara pertama lomba menyanyi se-SMP di Ambon, menunjukkan bakat alaminya. Setelah lulus SMP, ia sempat bekerja sebagai kuli angkut batu dan pasir sebelum menjadi pegawai tata usaha di Universitas Pattimura selama 14 tahun. Namun, panggilan musik terlalu kuat, mendorongnya untuk mengundurkan diri dan mengejar karier sebagai penyanyi profesional.
Perjalanan Karier: Dari Ambon ke Panggung Dunia
Karier musik Zeth dimulai dengan langkah kecil namun penuh makna. Pada 1964, ia memenangkan juara pertama kategori hiburan/pop dalam ajang Bintang Radio dan TV se-Ambon. Pada 1974, ia bergabung sebentar dengan grup D’lloyd sebelum memilih jalur solo. Titik balik terjadi pada 1976, ketika ia meraih juara dua nasional dalam lomba Bintang Radio, mengukuhkan namanya di kancah nasional. Penampilannya yang energik dan humoris membuatnya dicintai, baik di acara pernikahan lokal maupun panggung kompetisi.
Zeth tidak hanya bersinar di Indonesia. Pada 1978, ia tampil di Papua Nugini untuk misi perdamaian antara masyarakat Irian Jaya dan Papua Nugini. Pada 1992, bersama tim Siwalima Maluku, ia memukau penonton di Belanda dengan penampilan yang penuh semangat. Ia juga tampil di Amerika Serikat, menerima Piala Grand Marshall pada Tournament of Roses, serta di Australia dan berbagai negara Eropa. “Kepuasan karena bisa keliling dunia membawa Indonesia,” katanya, mencerminkan kebanggaannya mewakili tanah air.
Puncak kariernya terjadi pada 2007, saat ia menggelar Zeth Concert di Ambon. Dalam konser ini, ia memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penyanyi pria tertua yang membawakan 30 lagu non-stop tanpa partitur, menunjukkan stamina dan profesionalismenya di usia 67 tahun. Pada 2010, ia tampil di acara puncak Sail Banda, menyanyikan Indonesia Tanah Pusaka di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, memperkuat statusnya sebagai duta musik Maluku.
Karakteristik Vokal dan Penampilan
Zeth dikenal karena suaranya yang “laki-laki,” kuat, dan penuh energi, sering dibandingkan dengan legenda seperti Engelbert Humperdinck, Tom Jones, dan Nat King Cole. Wilayah suaranya sangat luas, mencakup nada rendah (B) hingga tinggi (G1), memungkinkannya menjelajahi berbagai genre dengan mudah. Ketepatan nadanya luar biasa, didukung pendengaran mutlak untuk tonika dan kemampuan menghafal lirik serta melodi dengan cepat. Ia juga mahir membaca notasi, hasil dari latihan panjang di gereja.
Penampilan panggung Zeth adalah perpaduan antara musikalitas dan karisma. Humor tingginya, seperti candaan tentang pengucapan “basudara” agar tidak terdengar “basu darah,” selalu menghibur penonton. Bahkan di usia senja, vokalnya semakin tebal, terutama pada nada bass, menunjukkan kematangan yang langka. Ia selalu tampil maksimal, baik di panggung besar maupun di daerah konflik seperti Ambon selama kerusuhan 1999–2002, di mana ia menyanyikan lagu-lagu bertema persaudaraan seperti Gandong dan Maluku Tanah Pusaka.
Kontribusi Sosial dan Budaya
Zeth bukan hanya penyanyi; ia adalah duta perdamaian dan budaya. Selama konflik Ambon, ia berani tampil di Lapangan Merdeka dan daerah rawan, menyanyikan lagu-lagu seperti Kita Semua Bersaudara Indonesia Manise untuk mempromosikan persatuan. “Dengan musik, tali persaudaraan bisa semakin erat dan perdamaian pun terwujud,” ujarnya. Penampilannya di Papua Nugini pada 1978 juga menjadi bagian dari misi diplomatik, menunjukkan kekuatan musik sebagai alat perdamaian.
Sebagai putra Maluku, Zeth turut mengukuhkan Ambon sebagai Kota Musik Dunia. Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy, mengakui kontribusinya dalam membawa nama Ambon ke panggung global. Lagu-lagunya, seperti Sio Mama (versi Inggris), Lets Sing Ambon Manise, dan Hitam Kuli Kanari, mencerminkan kebanggaan akan identitas Maluku sambil merangkul audiens yang lebih luas. Ia juga menjadi inspirasi bagi musisi muda, dianggap sebagai “guru” bagi nama-nama besar seperti Utha Likumahuwa, Yopie Latul, dan Broery Pesolima.
Penghargaan dan Warisan
Zeth meraih berbagai penghargaan sepanjang kariernya, termasuk juara lomba menyanyi se-SMP Ambon, juara pertama Bintang Radio dan TV (1964), juara dua nasional Bintang Radio (1976), dan Anugerah Bhakti Musik Indonesia dari PAPPRI (2007). Rekor MURI-nya pada 2007 menjadi bukti ketangguhan fisik dan dedikasinya. Penghargaan internasional, seperti Piala Grand Marshall, menegaskan reputasinya di luar negeri.
Warisan Zeth terletak pada kemampuannya menyatukan orang melalui musik. Ia menginspirasi generasi musisi Maluku dan Indonesia, meninggalkan jejak dalam lagu-lagu yang mempromosikan persatuan. Direktur Ambon Music Office, Ronny Loppies, menyebutnya sebagai penyanyi yang “born to sing,” dengan dedikasi yang mengalir ke musisi muda. Setelah wafatnya pada 11 Februari 2022 di Amahusu, Pemerintah Kota Ambon mengurus pemakaman sebagai penghormatan, sementara tokoh seperti Andre Hehanussa dan IAKN Ambon Symphony Orchestra menyampaikan duka mendalam.
Kehidupan Pribadi dan Akhir Hayat
Zeth menikah dengan Hendrine Matitaputty pada 1963 dan dikaruniai delapan anak. Meski memiliki kesempatan untuk menetap di ibu kota, ia memilih tinggal di Amahusu, setia pada akar budayanya. Kesehatan Zeth menurun menjelang akhir hidupnya. Pada 2018, ia jatuh sakit saat menghadiri Sarasehan Nasional di Jakarta. Pada 2022, ia dirawat di RS Alfatah Ambon sebelum melanjutkan perawatan di rumah. Ia meninggal dunia pada 11 Februari 2022 pukul 06.00 WIT, meninggalkan kenangan akan suara emas dan semangatnya yang tak pernah padam.
Kesimpulan
Zeth Lekatompessy adalah legenda hidup yang membawa nama Maluku dan Indonesia ke panggung dunia. Dengan suara yang kuat, penampilan yang karismatik, dan dedikasi untuk perdamaian, ia tidak hanya menghibur tetapi juga menyatukan hati. Lagu-lagunya, seperti Kita Semua Bersaudara Indonesia Manise, tetap bergema sebagai pengingat akan kekuatan musik dalam membangun persaudaraan. Sebagai putra Ambon yang rendah hati, Zeth meninggalkan warisan yang abadi, mengukir namanya dalam sejarah musik Indonesia sebagai simbol kebanggaan dan inspirasi.