Islam di Ambon dan Haruku: Wajah Lokal dalam Catatan Kolonial Kraemer

Share:

Ambon, sebuah pulau di kepulauan Maluku, sering kali diasosiasikan sebagai “tanah Kristen” dalam narasi sejarah kolonial Hindia Belanda. Citra ini muncul karena dominasi orang Ambon Kristen dalam posisi administratif dan militer di Hindia Belanda. Namun, persepsi ini menutupi realitas keberadaan komunitas Muslim yang signifikan, yang menurut Dr. H. Kraemer pada awal abad ke-20 mencapai 18.000 jiwa, hanya sedikit di bawah jumlah orang Kristen (25.000 jiwa). Dalam tulisannya, Mededeelingen over den Islam op Ambon en Haroekoe (Catatan tentang Islam di Ambon dan Haruku), Kraemer, terinspirasi oleh pendekatan lapangan Snouck Hurgronje, mendokumentasikan pengamatannya selama delapan hari di antara komunitas Muslim di kedua pulau tersebut.

Artikel yang ditulis pada awal abad ke-20 ini, menjadi sumber berharga untuk memahami dinamika Islam di wilayah yang sering diabaikan dalam studi Islam Indonesia. Artikel ini bertujuan menguraikan temuan Kraemer dengan pendekatan ilmiah-populer, menyoroti sejarah, karakter, hubungan sosial, dan perkembangan intelektual Islam di Ambon dan Haruku, serta relevansinya dalam konteks kolonial.

Sejarah Awal Islam di Ambon

Islam masuk ke Ambon melalui jalur perdagangan yang menghubungkan Maluku dengan pesisir utara Jawa dan Ternate. Pada abad ke-16, ketika Portugis tiba di Maluku, mereka menemukan pusat Islam yang kuat di Semenanjung Hitu, Ambon Utara. Hitu menjadi simpul penting dalam jaringan perdagangan dan politik yang melibatkan Ternate dan pelabuhan-pelabuhan Jawa seperti Gresik dan Giri. Hubungan ini tidak hanya ekonomi, tetapi juga politis dan religius, dengan Islam menjadi simbol identitas lokal dalam menghadapi ekspansi Portugis.

Konflik dengan Portugis tidak dapat dilepaskan dari dimensi agama, karena pada masa itu politik dan agama menyatu dalam kesadaran masyarakat. Menurut catatan sejarawan Valentijn, orang Hitu melakukan persekusi terhadap orang Kristen, dan beberapa desa Kristen beralih ke Islam sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi Portugis. Perang “agama” ini sebenarnya adalah perjuangan politik melawan kekuasaan kolonial, dengan kristenisasi menjadi alat ekspansi Portugis. Pada 1580, pembunuhan dua pendeta Portugis di Jepara oleh orang Jawa terkait dengan dinamika di Hitu, menunjukkan betapa kuatnya perlawanan yang didorong oleh identitas Islam.

Islam vs Kristen: Dinamika Kolonial

Semenanjung Hitu menjadi pusat kekuatan Muslim di Ambon, dengan Kampung/Desa Batu Merah di Kota Ambon juga sepenuhnya menganut Islam. Ketika Belanda menggantikan Portugis pada 1605, mereka melanjutkan perjuangan melawan Hitu, yang menjadi salah satu momen penting dalam perebutan kekuasaan di Maluku. Nama-nama seperti Van Outshoorn dan Van Diemen terkait dengan pematahan kekuasaan Hitu. Kraemer mencatat bahwa ingatan tentang “mimpi kekuasaan” Hitu masih hidup di kalangan tetua kampung, menunjukkan kebanggaan atas sejarah perlawanan mereka.

Pada abad ke-17, interaksi keagamaan antara Muslim dan Kristen masih dinamis, dengan konversi terjadi di kedua arah. Contohnya, Valentijn mencatat konversi David Bintang, seorang pejabat keagamaan dari Manipa, ke Kristen pada 1672, serta pembaptisan 38 orang Makassar pada 1656. Namun, hubungan ini kemudian menjadi statis, tanpa perpindahan agama yang signifikan. Belanda, dengan fokus pada kristenisasi, memperkuat posisi orang Kristen Ambon, sementara komunitas Muslim cenderung terpinggirkan dalam urusan pendidikan dan administrasi.

Karakter Islam Ambon

Kraemer menggambarkan Islam di Ambon sebagai “statis” dan terpinggirkan dibandingkan komunitas Kristen, yang mendapat perhatian lebih dari pemerintah kolonial. Komunitas Muslim, terutama di Hitu, hidup dalam isolasi relatif, yang memungkinkan pelestarian struktur sosial dan budaya asli Ambon. Bahasa tanah (dialek lokal) masih umum digunakan di kalangan Muslim, berbeda dengan Kristen, di mana hanya dua kampung (Alang dan Liliboi) yang masih mempertahankannya. Struktur sosial seperti pela (perjanjian timbal balik) dan uli (kelompok genealogis) juga lebih terlihat di kalangan Muslim.

Islam di Ambon tidak mengalami Islamisasi sistematis, melainkan beradaptasi dengan adat lokal. Kraemer menegaskan bahwa ini bukan karena sifat konservatif Islam, melainkan karena kurangnya pengaruh eksternal aktif. Berbeda dengan Islam yang egaliter dan detail dalam mengatur kehidupan, di Ambon Islam “menikah” dengan tradisi lokal, seperti upacara adat dan pandangan animisme. Sebaliknya, kristenisasi Belanda yang agresif cenderung menghapus unsur budaya asli Ambon, meskipun Kraemer berpendapat bahwa Kristen seharusnya lebih transformatif daripada destruktif.

Hubungan Sosial Muslim-Kristen

Hubungan antara Muslim dan Kristen di Ambon dan Haruku digambarkan Kraemer sebagai harmonis, ditopang oleh ikatan genealogis dan sistem pela. Banyak keluarga Muslim dan Kristen mengklaim berasal dari leluhur yang sama (upu), dan hubungan pela mengikat kampung Muslim dan Kristen dalam perjanjian ekonomi dan sosial. Contohnya, Uli Solemate mencakup kampung Muslim seperti Tulehu dan Tengah-Tengah serta kampung Kristen seperti Waai dan Suli. Di Haruku, Uli Hatu Haha mengikat Pelau (Muslim) dan Hulaliu (Kristen).

Praktik simbolik lintas agama juga menonjol, seperti kunjungan tahunan penduduk Hulaliu (Kristen) untuk “merawat” masjid kecil di Rohomoni, atau kotak persembahan gereja di Latuhalat yang merupakan hadiah dari seorang Muslim. Anak-anak Muslim sering diasuh di rumah Kristen untuk mengakses sekolah, dengan pengasuh Kristen memastikan anak-anak tetap mematuhi aturan halal. Namun, perbedaan seperti pandangan terhadap babi kadang menyebabkan pemisahan permukiman, seperti Tial Slam dan Tial Serani di Hitu, atau Seri Sori Slam dan Seri Sori Serani di Saparua.

Islam di Haruku: Adat vs Syariat

Islam di Haruku menunjukkan variasi yang signifikan antar kampung. Kailolo dikenal sebagai kampung paling terislamisasi, dengan masjid yang aktif dan banyak haji (50-60 orang). Sebaliknya, kampung seperti Kabau, Rohomoni, dan Pelau masih kuat dipengaruhi adat, dengan masjid hanya dibuka pada hari Jumat dan selama Ramadhan. Kraemer mencatat adanya konflik antara “partai adat” yang konservatif dan “partai ugama” yang reformis. Di Kabau, misalnya, kelompok reformis mendirikan langgar untuk salat karena masjid tetap ditutup oleh kelompok adat.

Tradisi keagamaan mencerminkan perpaduan adat dan syariat. Pesta potong kambing (Idul Adha) lebih besar daripada Idul Fitri, dengan ritual yang menyerupai upacara pembersihan desa pra-Islam, seperti prosesi kambing di Liang yang melibatkan dikir dan pembagian daging. Angkat aroha, perayaan Maulid, melibatkan penyembelihan ayam dan slametan keluarga, dengan elemen mistis seperti ohi (struktur rumah kecil dengan makanan dan dupa). Perkawinan adat (nikah astana) masih umum, meskipun nikah hukum Islam mulai diterima.

Jaringan Intelektual Islam Ambon

Kraemer mendokumentasikan sejumlah kitab keislaman yang beredar, seperti Safinatun Najah, Sullam al-Tawfiq, Hidajat al-Salikin, dan Ihya’ Ulumuddin karya Ghazali, yang menunjukkan preferensi terhadap ibadah dan mistik. Pengaruh tarekat Qadiriyyah dan Naqsybandiyyah terlihat dalam teks tentang bai’a dan silsila. Interpretasi mistik syahadat, serupa dengan primbon Jawa, juga ditemukan, menggambarkan kecenderungan kuat terhadap tasawuf.

Tokoh seperti Hadji Joesoep dari Singapura, yang mengajar ma’rifat dan menjanjikan kebebasan dari kewajiban syariat, sempat mengguncang komunitas dengan kitabnya Haykal Indera Alam. Kehadiran tokoh-tokoh seperti ini menunjukkan adanya pengaruh eksternal yang mulai meresap, meskipun mendapat penolakan dari beberapa regent yang melihatnya sebagai pengganggu.

Kesimpulan

Islam di Ambon dan Haruku, sebagaimana didokumentasikan Kraemer, adalah Islam berwajah lokal yang kaya akan perpaduan dengan adat. Pelestarian struktur sosial seperti pela dan uli, serta tradisi seperti potong kambing dan angkat aroha, menunjukkan adaptasi Islam dengan budaya asli Ambon. Namun, komunitas Muslim juga mengalami stagnasi akibat isolasi dan kurangnya perhatian kolonial terhadap pendidikan dan administrasi mereka. Pada awal abad ke-20, tanda-tanda kebangkitan mulai muncul, didorong oleh kesadaran politik melalui Ambonraad dan pengaruh dunia Islam global. Catatan Kraemer menegaskan bahwa Islam di Indonesia bukanlah monolit, melainkan mozaik lokal yang dinamis, layak mendapat perhatian lebih dalam kajian sejarah dan budaya.


Dr. H. KraemerMededeelingen over den Islam op Ambon en Haroekoe

error: Content is protected !!