Menggali Nilai Sejarah Masjid Wapauwe: Warisan Budaya yang Penuh Makna

Share:

Maluku adalah tempat pertemuan budaya dan agama yang kaya, yang diwariskan dari masa lalu hingga sekarang. Masjid Wapauwe adalah salah satu bukti keberagaman dan sejarah panjang perkembangan agama di wilayah ini. Masjid ini adalah yang tertua di Maluku dan salah satu yang tertua di Indonesia. Berlokasi di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, masjid ini adalah saksi bisu perjalanan sejarah Islam di Maluku.

Islamisasi di Balik Sejarah Mesjid Wapauwe

Mesjid Wapauwe di Negeri Kaitetu tidak terlepas dari perjalanan para mubaligh Islam asal Timur Tengah yang membawa ajaran Islam ke masyarakat di utara Pulau Ambon, khususnya jazirah Hitu, atau yang lebih dikenal sebagai Tanah Hitu. Kisah kedatangan penyiar Islam dituangkan dalam cerita rakyat dan naskah “Hikayat Tanah Hitu” karya Safar Ar Rijali, seorang pejuang Islam setempat yang dikenal dengan sebutan Imam Rijali.

Imam Rijali menyebutkan bahwa penyiar Islam tidak datang dari pedagang Gujarat, melainkan dari Persia dengan misi khusus untuk menyebarluaskan syariat Islam. Misi ini didorong oleh dinamika politik pada era Mu’awiyah pendiri Dinasti Umayyah, dimana umat Islam mulai melakukan ekspansi dakwah setelah mendengar keberadaan kerajaan Hindu-Buddha di Asia Tenggara dan Dinasti Tang di Tiongkok.

Perdagangan yang terjalin antara Timur Tengah dan masyarakat Maluku memperkuat jaringan perdagangan orang Arab di Asia Tenggara, serta membawa pendekatan kelembagaan. Islam diperkenalkan melalui lembaga “Upu Hata” di Tanah Hitu dan misi dari Kesultanan Moloku Kie Raha, saat Maluku Selatan belum memiliki struktur pemerintahan yang terorganisir.

Kedatangan Jamilu, cucu Kesultanan Jailolo, sekitar tahun 1400 M, semakin memperkuat pengaruh Islam di Hitu. Sebelum kedatangan Jamilu pada pertengahan abad ke-15, penduduk pegunungan Wawane telah memeluk Islam. Bersama Tuni Maulana, penyiar Islam sebelumnya, mereka membangun masjid yang sederhana.

Sumber lokal menunjukkan bahwa Kepulauan Maluku telah dikunjungi umat Islam sejak abad ke-14, ketika Ternate diperintah oleh Raja Molomateya (1350-1357). Muslim Arab yang tiba di Ternate memberikan pengetahuan pembuatan kapal, diikuti oleh kedatangan Maulana Husein dari Jawa yang terkenal dalam menulis teks Arab dan mengajarkan Al-Qur’an. Raja Ternate yang terkenal beralih ke Islam adalah Zainal Abidin, yang memerintah dari 1468-1500 dan mengunjungi Sunan Giri di Gresik dengan Jamilu.

Referensi lain, seperti Suma Oriental dan A Treatise on the Moluccas, menunjukkan bahwa raja-raja di Maluku mulai beragama Islam sekitar 1460-1465. Salah satu diantaranya adalah Sultan Bayanullah atau Ben Acorala, raja Ternate pertama yang menggunakan gelar Sultan, sementara raja lainnya menyandang gelar Rajo atau Kolano. Selain Ternate dan Tidore, juga tercatat keberadaan umat Islam di Banda, Haruku, Makian, Motir, dan Bacan.

Kedatangan Jamilu di Pulau Ambon bertujuan mengembangkan ajaran Islam di lima negeri sekitar Wawane: Essen, Wawane, Atetu, Nukuhaly, dan Tehala. Jamilu dicintai masyarakat Wawane karena bijak dalam mengajarkan Islam di masjid tersebut. Beliau turut memperbaiki dan melengkapi masjid, yang kemudian dinamai Masjid Jamilu. Saat ini, masjid tersebut dikenal sebagai Masjid Wapauwe di Negeri Kaitetu.

Diceritakan, sebelum Perang Wawane yang dimulai tahun 1634, kedatangan Belanda mengganggu kedamaian di Tanah Hitu. Karena merasa tidak aman, pada 1614 masjid dipindahkan ke Kampung Tehala, sekitar 6 km dari Wawane. Ini mencerminkan semangat gotong royong masyarakat Kaitetu dalam memindahkan masjid dari perbukitan Wawane ke Tehala.

Masjid dipindahkan ke dataran yang banyak tumbuh pohon mangga hutan, dalam bahasa Kaitetu dikenal sebagai “Wapa,” dan dalam bahasa Hitu sebagai “Wapu.” Nama Masjid Wapauwe berarti masjid yang didirikan di bawah pepohonan mangga berabu.

Pada tahun 1646, Belanda menguasai seluruh Tanah Hitu dan memindahkan penduduk dari daerah pegunungan ke pesisir, termasuk penduduk lima negeri Wawane. Proses pemindahan berlangsung pada tahun 1664, yang kemudian ditetapkan sebagai tahun berdirinya Negeri Kaitetu.

Keunikan Arsitektur Masjid Wapauwe

Perkembangan masjid mencerminkan proses Islamisasi dan dampaknya. Arsitektur masjid tidak hanya menunjukkan penggunaan material, tetapi juga konsep dan simbol yang mendasarinya, menjadi ciri khas Masjid Wapauwe. Salah satu ciri utama adalah desain atap tumpang, yang juga merupakan elemen arsitektur di Nusantara. Bentuk atap berundak ini diwariskan dari tradisi Indonesia sebelum penyebaran Islam.

Arsitektur adalah hasil desain yang memenuhi kebutuhan fisik dan metafisik, serta aspek fisik dan psikologis masyarakat. Setiap bangunan memiliki makna sebagai penanda nilai-nilai Islam, dan arsitektur Masjid Wapauwe merepresentasikan gaya lokal.

  • Bangunan ini terdiri dari dua bagian: ruang utama berukuran 10 x 10 m dan serambi di depan berukuran 6,35 x 4,75 m. Struktur masjid berbentuk persegi dan unik karena dibangun tanpa paku atau pasak pada sambungan kayunya.
  • Di puncak atap terdapat tiang alif baru, pengganti tiang lama yang rusak, melambangkan Tuhan Yang Maha Esa. Tiang asli, terbuat dari kayu bintanggur, dibuat pada tahun 1700 M dan masih tersimpan di serambi masjid. Beberapa tiang, balok, dan atap asli telah diganti karena kerusakan. Tiang alif menjadi ciri khas yang membedakan masjid ini dari yang lain. Tiang alif adalah atap tertinggi yang dihiasi tombak, melambangkan tauhid.
  • Atap masjid berbentuk limas bertingkat dua, terbuat dari rumbia, dengan bubungan ditutupi ijuk hingga puncaknya yang berbentuk kubah. Terdapat 4 tiang utama dan 12 tiang penyangga dari kayu nani, dengan 4 tiang utama melambangkan empat sahabat Nabi Muhammad SAW, sementara 12 tiang penyangga dianggap merepresentasikan rukun Islam dan iman.
  • Dinding dan atap masjid mempertahankan keasliannya, dengan dinding dari gaba-gaba dan atap dari ilalang yang sering direnovasi. Masjid dihiasi kaligrafi, dengan ukiran di setiap sudut dan tulisan “Allah-Muhammad” di atap timur dan barat, serta “Muhammad” di sisi utara dan selatan.
  • Lantai awalnya dari kerikil putih, kini diganti semen dan dilapisi karpet. Pada tahun 1977, pagar dan sumur wudhu dibangun di sisi selatan. Masjid dikelilingi pagar dan memiliki gapura sebagai pintu masuk utama berukuran 107 cm x 180 cm, yang merupakan replika dari pintu asli yang telah rusak.

Masjid ini masih mempertahankan arsitektur aslinya, dibangun dari kayu dengan dinding atas dari pelepah sagu kering (gaba-gaba). Proses penggantian atap dilakukan secara kolektif, di mana setiap kepala keluarga menyumbangkan satu ikat daun atap dan 25 bangkawang untuk renovasi atap. Dinding bawah terbuat dari batu yang dibakar sebagai perekat. Masjid Wapauwe memiliki keunikan karena konstruksinya tanpa menggunakan paku atau pasak kayu pada sambungan. Tiang-tiang kayu dihubungkan dengan teknik penyambungan unik yang diikat dengan ijuk, atau disebut gamuttu secara lokal.

Artefak di Masjid Wapauwe

Masjid ini menyimpan benda-benda bersejarah sejak pendiriannya, menjadi saksi bisu sejarah masjid dan masyarakat Islam di daerah tersebut. Benda-benda tersebut antara lain:

  • Mushaf Al-Qur’an. Naskah ini adalah tulisan tangan kuno tanpa iluminasi, dibuat oleh Imam pertama Masjid Wapauwe, Muhammad Arikulapessy, sekitar tahun 1550 M.
  • Mimbar Khutbah. Mimbar ini, yang terletak di ruang utama masjid, terbuat dari kayu nani dan lara (Metrosideros), serta dihiasi bendera berbentuk segitiga bercorak merah dan putih.
  • Bedug. Bedug ini terbuat dari kayu linggua (Pterocarpus indicus) dan kulit rusa, dengan panjang 2 meter dan beberapa ukiran halus di bagian bawah. Menurut masyarakat Kaitetu, bedug ini awalnya sepanjang 3 meter, tetapi dipotong oleh Belanda. Panjang yang baru menghasilkan suara yang lebih kuat hingga mengguncang dinding Benteng New Amsterdam, yang berjarak ± 200 m dari masjid.
  • Tongkat Khutbah. Tongkat ini terbuat dari kayu, dengan bentuk luar yang menyerupai rotan, dibawa oleh Tuni Ulama, pendakwah pertama dari Arab.
  • Lampu Antik. Dua lampu antik berbentuk piring ini berfungsi sebagai tempat minyak kelapa dan sumbu. Selain itu, ada juga lampu peninggalan Portugis yang dapat dinaikkan atau diturunkan menggunakan batu pemberat.
  • Timbangan Zakat Fitrah. Timbangan ini terbuat dari kayu dan dilengkapi pemberat dari kulit kerang, namun tidak terawat dan kini hanya menjadi koleksi masjid.
  • Mustaka/Cungkup. Mustaka/cungkup (kubah) ini dibuat pada tahun 1700 M, terbuat dari kayu mintagur/bintanggur (Calophyllum soulattri).
  • Kaligrafi “Muhammad”. Kayu diukir dengan kaligrafi di keempat sudut masjid, menggambarkan Nabi Muhammad dan mencerminkan kesempurnaan dan keseimbangan. Kaligrafi ini didominasi oleh warna coklat dengan tulisan “Muhammad” (utara-selatan) dan “Allah Muhammad” (timur-barat).
  • Hal menarik lainnya dari masjid ini adalah ornamen pada pintu lama yang masih asli, termasuk lempengan kuningan berbentuk kura-kura dengan kalimat: “Allahhuma shalli wasallim alaih. ―Lailaahaillallah muhammad darrasulullah.

ARTEFAK

Manuskrip Kuno

Selain koleksi di Masjid Lama Wapauwe, Rumah Pusaka Marga Hatuwe menyimpan berbagai manuskrip kuno. Semua benda pusaka Hatuwe terawat dengan baik, dirawat oleh Bapak Husein Hatuwe, keturunan imam pertama Masjid Wapauwe, Muhammad Arikulapesy. Benda-benda tersebut antara lain:

  • Al-Qur’an yang ditulis oleh Nur Cahya, cucu Imam pertama Masjid Wapauwe, Muhammad Arikulapesy, diukir di atas kertas Eropa dan selesai pada tahun 1590. Naskah ini tanpa iluminasi dan tanpa titik di akhir ayat.
  • Kitab Barzanji dihiasi bunga cengkeh dan pala.
  • Naskah Khutbah Idul Fitri ditulis di atas kertas yang disambung hingga panjangnya 2 meter, dan teks khotbah disimpan di atas atap bambu.
  • Hisab al-Falaqiah (kalender) berisi perhitungan bulan menurut Rukyah dan Hisab.

MANUSKRIP

Tokoh Penting dalam Sejarah Masjid Wapauwe

Imam Perdana Jamilu

Perdana Jamilu adalah keturunan dari Kesultanan Islam Jailolo, yang terletak di wilayah Moloku Kie Raha di Maluku Utara. Pada abad ke-15, Perdana Jamilu memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di kawasan Maluku. Ia fokus khususnya di wilayah Tanah Hitu. Wilayah ini meliputi desa-desa seperti Wawane, Assen, Atetu, Tahala, dan Nukuhaly. Ia dikenal sebagai tokoh yang pertama kali mendirikan Masjid Wapauwe.

Imam Muhammad Arikulapessy

Pada abad ke-16, peran penting dalam sejarah masjid dilanjutkan oleh Imam Muhammad Arikulapessy. Dia adalah seorang ulama lokal yang dikenal karena ilmunya yang mendalam tentang Islam. Kontribusinya dalam menyebarkan agama di Maluku juga sangat besar. Beliau dikenal pula sebagai penulis Al-Qur’an kuno yang masih tersimpan di masjid hingga kini. Imam Muhammad Arikulapessy adalah imam pertama Masjid Wapauwe.

Nur Cahya

Nur Cahya adalah cucu dari Imam Muhammad Arikulapessy. Beliau banyak menulis manuskrip tua yang kini menjadi warisan bagi perjalanan Islam di Maluku.

Perpindahan Masjid Wapauwe

Masjid Wapauwe memiliki kisah unik terkait dengan perpindahannya. Setelah dibangun pada tahun 1414 di Desa Wawane, masjid ini dipindahkan ke Desa Kaitetu pada tahun 1614. Konon, perpindahan ini dilakukan tanpa membongkar bangunan masjid secara fisik. Masyarakat setempat percaya bahwa perpindahan tersebut merupakan hasil dari kekuatan gaib yang berasal dari doa dan keyakinan masyarakat setempat. Mereka meyakini bahwa masjid ini “digerakkan” oleh kekuatan spiritual dan dibimbing menuju tempat yang lebih aman.

Fakta Menarik:
Perpindahan ini menandai titik penting dalam sejarah masjid. Pada masa itu, Desa Kaitetu menjadi pusat pertemuan banyak komunitas. Komunitas-komunitas ini mendukung penyebaran Islam di Maluku. Ini juga memperkuat peran masjid sebagai simbol kekuatan dan ketahanan komunitas Muslim di tengah tantangan kolonial.

Pemugaran

Selama keberadaannya di Negeri Kaitetu, Masjid Lama Wapauwe telah mengalami banyak perbaikan. Pada tahun 1464 oleh pendirinya sendiri, yaitu Imam Perdana Jamilu. Pada tahun 1895, dinding bagian bawah yang terbuat dari gaba-gaba diganti dengan pasir dan kapur. Pada 1959, lantai kerikil diubah menjadi semen. Pada 1971, kubah kedua dan atap kubah dari daun sagu diganti dengan seng. Tahun 1977, pagar pelataran masjid dibangun, dan sebuah sumur digali di sisi selatan ruang tambahan untuk air wudhu. Pada 1982, prasasti dibangun dan diresmikan oleh Prof. Dr. Ir. Badhiar Rivai, Ketua LIPI. Pada 14 September 1997, atap kubah seng diganti dengan atap daun sagu yang dilapisi ijuk. Pada Maret 2008, terhadi penggantian struktur atap yang terbuat dari pelepah sagu diganti dengan bahan yang baru.

Warisan Budaya yang Tak Tergantikan

Masjid Wapauwe bukan hanya merupakan sebuah bangunan bersejarah. Masjid ini juga sebuah warisan budaya. Warisan ini menggabungkan unsur-unsur sejarah, agama, dan tradisi lokal. Keunikan masjid ini terlihat dari arsitekturnya. Cerita yang mengelilinginya juga menarik. Hal ini menjadikannya sebagai saksi bisu dari perjalanan panjang sejarah Islam di Maluku.

Keunikan arsitektur mencerminkan tradisi yang diwariskan. Peranannya dalam menjaga identitas spiritual masyarakat Maluku sangat signifikan. Hal ini menjadikannya sebagai bagian penting dari warisan budaya yang tak ternilai harganya. Tempat ini juga menjadi destinasi wisata sejarah. Ini bagi siapa saja yang ingin mengetahui lebih banyak tentang sejarah Islam di Maluku.

Selain itu, peran masjid ini dalam penyebaran ajaran Islam di Maluku sangat penting. Agama dapat berintegrasi dengan budaya lokal. Ini menciptakan hubungan yang harmonis antara agama dan masyarakat.

Wisata Sejarah ke Masjid Wapauwe

Bagi wisatawan yang tertarik dengan sejarah dan budaya, Masjid Wapauwe adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Suasana desa Kaitetu yang tenang dan pemandangan alamnya yang indah membuat kunjungan ke masjid ini menjadi pengalaman yang mendalam.

Tips Berkunjung:

  • Masjid Tua Wapauwe, sebuah masjid yang terletak di Negeri Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Lokasinya berjarak sekitar 42 km dari pusat Kota Ambon.
  • Hormati tradisi lokal dengan berpakaian sopan.
  • Luangkan waktu untuk melihat artefak kuno di dalam masjid.
error: Content is protected !!