Kota Ambon, dengan segala keindahannya, terus dihadapkan pada persoalan sosial yang kerap mencoreng citra kota ini. Subuh tanggal 12 Januari 2025, kawasan Tugu Trikora menjadi saksi kekacauan akibat aksi balap motor liar dan mabuk-mabukan yang dilakukan oleh sekelompok anak muda. Kejadian ini bukan hanya menciptakan ketegangan di masyarakat, tetapi juga memunculkan isu liar yang dimanfaatkan oleh provokator untuk memperkeruh suasana. Ironisnya, insiden ini terjadi beberapa saat sebelum momentum penting: pentahbisan Majelis di seluruh Gereja Protestan Maluku (GPM) di Maluku.
Pertanyaannya: Siapa yang harus bertanggung jawab atas peristiwa ini? Pemerintah Kota? Aparat Keamanan? Tokoh Pemuda? Tokoh Agama? atau Keluarga? Atau mungkinkah semua pihak memikul sebagian tanggung jawab?
Anak Muda Tanpa Tempat, Jalanan Jadi Pelampiasan
Salah satu akar masalahnya adalah minimnya fasilitas yang layak bagi anak-anak muda untuk menyalurkan energi dan kreativitas mereka. Ketiadaan tempat khusus untuk aktivitas seperti balap motor membuat mereka menjadikan jalan raya sebagai arena balapan. Mabuk-mabukan menjadi cara mereka “melarikan diri” dari kebosanan atau tekanan hidup. Apakah ini sepenuhnya salah mereka? Atau kita sebagai masyarakat juga turut andil dalam kegagalan menyediakan ruang yang aman dan produktif bagi mereka?
Membuka Jalan: Sirkuit untuk Anak Muda Ambon
Solusi nyata diperlukan untuk mencegah kejadian serupa terulang. Salah satu ide yang patut dipertimbangkan adalah pembangunan sirkuit balap motor di Ambon. Sirkuit ini bisa menjadi tempat resmi bagi para pecinta balap untuk menyalurkan hasrat mereka secara aman dan legal. Dengan sistem yang terorganisir, seperti kejuaraan rutin, pelatihan balap, hingga pengawasan ketat, kegiatan ini bisa menjadi wadah pembinaan anak muda.
Alternatif Kegiatan Pemuda yang Kreatif dan Berguna
Selain pembangunan sirkuit, pemerintah juga harus menginisiasi berbagai kegiatan kreatif dan berguna bagi masa depan pemuda. Beberapa alternatif yang dapat dipertimbangkan meliputi:
- Pusat Kegiatan Pemuda Multiguna: Fasilitas ini dapat mencakup ruang seni, musik, dan teater. Pemuda dapat mengembangkan bakat mereka di bidang seni sambil belajar keterampilan baru.
- Program Pelatihan Kewirausahaan: Pemerintah dapat menyediakan pelatihan bisnis untuk membantu pemuda memulai usaha kecil. Program ini dapat meliputi pelatihan digital marketing, pengelolaan keuangan, dan inovasi produk.
- Kompetisi Teknologi dan Inovasi: Mengadakan lomba-lomba teknologi seperti coding, robotika, atau pengembangan aplikasi untuk menarik minat pemuda yang berbakat di bidang teknologi.
- Kegiatan Olahraga yang Terorganisir: Selain sirkuit balap, pemerintah bisa membangun lapangan olahraga multifungsi atau mengadakan turnamen rutin untuk berbagai cabang olahraga.
- Kelompok Relawan Sosial: Membentuk komunitas relawan yang bergerak di bidang lingkungan, pendidikan, atau kesehatan. Ini dapat memberikan rasa tanggung jawab sosial kepada pemuda.
- Program Pertukaran Pemuda: Memberikan kesempatan bagi pemuda Ambon untuk belajar dan bertukar pengalaman dengan pemuda dari daerah lain melalui program pertukaran nasional maupun internasional.
Contoh dari Kota Lainnya
Beberapa kota di Indonesia telah berhasil menciptakan ruang-ruang kreatif untuk pemuda:
- Bandung: Dengan konsep “Bandung Creative Hub,” kota ini menyediakan ruang bagi anak muda untuk berkreativitas di bidang seni, teknologi, dan desain. Program-program pelatihan di sini telah melahirkan banyak startup dan komunitas kreatif.
- Surabaya: Pemerintah kota Surabaya membangun “Koridor Co-Working Space,” sebuah fasilitas gratis bagi pemuda untuk belajar, bekerja, dan berkolaborasi. Ada pula pelatihan digital dan workshop untuk mendukung ide-ide bisnis.
- Denpasar: Kota ini dikenal dengan “Youth Park,” yang menyediakan fasilitas olahraga, seni, dan ruang diskusi untuk pemuda. Keberadaan tempat ini mengurangi aktivitas negatif karena pemuda memiliki ruang untuk beraktivitas.
Ambon dapat mengambil inspirasi dari kota-kota ini untuk menciptakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Tanggung Jawab Semua Pihak
Persoalan ini tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Berikut adalah peran yang harus dimainkan oleh setiap elemen masyarakat:
- Pemerintah Kota (Pemkot): Pemkot Ambon memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan fasilitas publik yang memadai. Pembangunan sirkuit balap atau tempat rekreasi lainnya adalah investasi penting untuk masa depan anak muda kota ini.
- Aparat Keamanan: Penegakan hukum yang tegas diperlukan untuk mencegah aksi balap liar dan mabuk-mabukan. Namun, aparat juga perlu mendekati anak muda dengan cara yang humanis, misalnya melalui pendekatan komunitas.
- Tokoh Pemuda: Pemimpin komunitas pemuda harus mengambil peran aktif dalam membimbing anak-anak muda. Program-program yang menarik dan relevan perlu dirancang untuk mengalihkan mereka dari kegiatan negatif.
- Tokoh Agama: Gereja, Masjid dan tokoh agama lainnya bisa menjadi tempat curahan hati dan pengarah moral bagi anak muda. Khotbah dan program gerejawi maupun masjid yang relevan dengan kondisi mereka sangat penting.
- Keluarga: Pendidikan dan perhatian dari keluarga adalah benteng pertama bagi anak muda. Orang tua harus lebih peka terhadap kebutuhan emosional dan sosial anak-anak mereka.
Harapan untuk Masa Depan
Keributan yang terjadi di kawasan Tugu Trikora adalah pengingat bagi kita semua untuk tidak lagi menutup mata terhadap kebutuhan anak muda. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan anak muda itu sendiri, masalah ini bisa diatasi. Bayangkan Ambon yang menjadi contoh kota ramah pemuda, dengan berbagai fasilitas yang mendukung kreativitas dan aspirasi mereka.
Masa depan anak muda Ambon adalah tanggung jawab kita bersama. Jika kita tidak bergerak sekarang, kapan lagi?