Benarkah Murid-Murid Yesus Bukan Orang Terpelajar?

Share:

“Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka…” — Kisah Para Rasul 4:13.

Kalimat ini sering dikutip dengan nada haru, bahkan kadang disertai rasa malu terselubung: “Lihatlah, murid-murid Yesus saja orang awam, tidak sekolah tinggi, bahkan mungkin buta huruf. Tapi mereka dipakai Tuhan luar biasa!” Di balik pujian yang tampak merendahkan diri itu, terselip sebuah kesalahpahaman yang telah mengakar selama berabad-abad: bahwa para rasul digambarkan sebagai orang bodoh. Namun, apakah Alkitab benar-benar mengatakan demikian? Atau justru kita sedang membaca teks kuno dengan kacamata modern yang sempit, memproyeksikan prasangka zaman kita ke dalam dunia yang sangat berbeda?

Namun, benarkah Alkitab memang mengatakan demikian? Ataukah kita sedang membaca teks kuno dengan kacamata modern?

Konteks Sosial-Budaya: Latar Belakang Murid-Murid di Galilea dan Yudea

Untuk memahami secara tepat frasa “orang biasa yang tidak terpelajar” dalam Kisah Para Rasul 4:13, langkah pertama yang krusial adalah melihat kembali latar belakang sosial-budaya Yudea pada abad pertama. Anggapan bahwa murid-murid Yesus digambarkan sebagai orang bodoh atau kurang cerdas sepenuhnya salah jika dinilai dari perspektif historis dan sosial. Sebaliknya, deskripsi “orang biasa” merujuk pada realitas ekonomi dan status sosial mereka, bukan pada kapasitas intelektual mereka. Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes secara eksplisit digambarkan dalam Injil sebagai nelayan dari kota Kapernaum di Galilea.

Profesi ini menempatkan mereka dalam strata masyarakat pedesaan tertinggi, yaitu kaum tani pekebun tanah atau buruh tani. Ekonomi mereka bersifat subsisten, bergantung langsung pada hasil tangkapan ikan di Danau Galilea untuk bertahan hidup. Kehidupan mereka sangat sederhana dan penuh tantangan, ditambah lagi dengan tekanan ekonomi yang dialami oleh petani dan nelayan di bawah pemerintahan Romawi, yang sering kali menuntut pajak yang tinggi dan menguras sumber daya alam. Gambaran inilah yang menjadi dasar dari konsep “orang biasa”—mereka bukanlah bangsawan, sastrawan, atau sarjana.

Penting untuk dibedakan antara status ekonomi “biasa” dengan status intelektual “tidak terpelajar”. Di dunia abad pertama, kemampuan membaca dan menulis dalam bahasa Ibrani, Aramaik, atau Yunani adalah ciri khas dari kelompok elit sosial. Kelas-kelas ini mencakup imam-imam di Bait Suci, para ahli Taurat, dan para sarjuna agama yang bertugas menyalin, memelihara, dan menafsirkan Kitab Suci. Pendidikan formal yang tinggi, yang sering kali berpusat pada retorika, filsafat Yunani, dan hukum, juga merupakan hak istimewa bagi anak-anak dari keluarga kaya atau pejabat negara. Bagi seorang nelayan, jalur menuju pendidikan semacam itu sama sekali tidak relevan dan tidak mungkin dijangkau. Namun, ketidakmampuan mereka untuk mendapatkan pendidikan formal tidak serta merta berarti mereka bodoh atau tidak cerdas. Mereka mungkin memiliki kejeniusan praktis yang tinggi—ketajaman intuisi dalam memprediksi pergerakan ikan, kekuatan fisik untuk bekerja keras, dan kecerdasan sosial untuk bertahan hidup di komunitas pedesaan yang sulit. Keberanian tak terduga yang mereka tunjukkan ketika berhadapan dengan Mahakonsili Sanhedrin di Kisah Para Rasul 4 adalah bukti nyata dari karakter dan kebijaksanaan spiritual mereka, bukan kecerdasan intelektual formal. Dengan demikian, istilah “orang biasa” dalam konteks ini lebih menggambarkan asal-usul mereka yang sederhana dan status ekonomi mereka yang rendah, daripada sebuah pernyataan tentang kecerdasan mereka. Klaim modern yang menyederhanakan ini menjadi “mereka bodoh” adalah sebuah distorsi signifikan terhadap realitas historis dan narasi Alkitab itu sendiri.

Nelayan seperti Petrus dan Yohanes, meskipun secara ekonomi berada di lapisan bawah, bukanlah golongan yang benar-benar buta huruf dalam arti absolut. Mungkin mereka mampu membaca tulisan sederhana yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, namun mereka jelas tidak memiliki pelatihan formal dalam ilmu-ilmu tulisan tingkat tinggi yang diajarkan oleh para ahli Taurat. Pengakuan mereka sebagai “orang biasa” oleh para pembesar agama saat itu bukanlah sebuah ejekan karena mereka bodoh, melainkan pengakuan fakta sosial yang tidak bisa disangkal: mereka datang dari luar institusi pengetahuan dan otoritas agama yang dominan.

Analisis Linguistik: Memecahkan Misteri Kata Yunani Agrammatos

Inti dari kesalahpahaman mengenai Kisah Para Rasul 4:13 terletak pada satu kata Yunani: agrammatos (ἀγράμματος). Terjemahan “tidak terpelajar” atau “awam” dari kata ini telah banyak disederhanakan dalam penggunaan modern menjadi “bodoh”. Untuk memahami makna sejatinya, kita harus kembali ke etimologi dan konteks penggunaannya dalam budaya abad pertama. Secara harfiah, agrammatos berasal dari kata a- (bentuk negasi) dan gramma (huruf atau tulisan), yang secara harfiah berarti “tanpa huruf” atau “tidak terlatih dalam tulisan”. Dalam praktiknya, istilah ini merujuk pada individu yang tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis secara fasih, khususnya dalam konteks formal dan akademis. Ini adalah istilah yang secara spesifik digunakan untuk membedakan antara kelompok yang terlatih secara intelektual (seperti para ahli Taurat dan sarjuna agama) dan kelompok yang tidak terlatih (rakyat jelata).

Dalam Perjanjian Baru, kata agrammatos tidak selalu memiliki konotasi negatif yang sempurna, dan maknanya sangat bergantung pada konteksnya. Contohnya yang paling menyoroti adalah ketika Paulus menulis kepada jemaat di Galatia, ia mengatakan, “Anda tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk terhadap saya, tetapi Anda adalah orang-orang yang tidak terlatih” (Galatia 3:1). Di sini, Paulus tidak sedang mengkritik mereka karena kurang pintar. Sebaliknya, ia menggunakan istilah ini untuk menegaskan bahwa mereka, sebagai orang-orang yang tidak terlatih, telah menerima Injil hanya melalui telinga mereka, bukan melalui argumen rasional atau pengetahuan manusia. Ia ingin menekankan bahwa keyakinan mereka didasarkan pada wahyu ilahi, bukan pada kecerdasan dunia. Ini menunjukkan bahwa dalam beberapa konteks, agrammatos dapat merujuk pada seseorang yang tidak dibebani oleh pengetahuan formal atau tradisi intelektual, sehingga hatinya lebih terbuka bagi wahyu ilahi.

Di masyarakat Yahudi sebelum tahun 70 Masehi, istilah ini memiliki konotasi sosio-kultural yang kuat. Di satu sisi, ada penghargaan besar terhadap para sarjuna agama dan ahli Taurat yang fasih membaca dan menafsirkan Kitab Suci. Mereka dianggap sebagai garda terdepan pengetahuan dan otoritas agama. Namun, di sisi lain, istilah ini juga sering kali digunakan secara negatif oleh para pemimpin agama elite seperti Farisi. Mereka memandang rendah kelompok yang mereka sebut am ha’aretz (“rakyat tanah”), yang secara harfiah berarti “orang-orang dari tanah.” Orang-orang ini adalah para petani dan nelayan yang tidak memiliki pendidikan formal dalam hukum Taurat. Mereka dianggap kurang tahu hukum, lebih suka ritual, dan tidak layak menjadi saksi atau ahli hukum dalam kasus-kasus penting. Oleh karena itu, ketika para pemimpin agama di Sanhedrin mengakui bahwa Petrus dan Yohanes adalah agrammatos, mereka secara sadar atau tidak menyebutkan status sosial dan pendidikan yang rendah dari kedua rasul tersebut, yang secara inheren dianggap tidak berpengaruh dan tidak memiliki otoritas intelektual.

Ironi Teologis: Mengapa Lukas Menyebut Petrus dan Yohanes “Tidak Terpelajar”?

Penyebutan Petrus dan Yohanes sebagai agrammatos dalam Kisah Para Rasul 4:13 bukanlah sebuah detail acak atau ejekan. Sebaliknya, ini adalah elemen naratif yang sangat disengaja oleh Lukas untuk menciptakan sebuah ironi teologis yang kuat. Momen dramatis ini terjadi setelah Petrus memberikan pidato yang berani dan meyakinkan kepada Mahakonsili Sanhedrin, menjelaskan penyembuhan seorang penderita lumpuh dan menegaskan bahwa keselamatan hanya ada dalam nama Yesus. Ketika narasi menyatakan, “Wah, siapa gerangan orang-orang ini?” (Kis. 4:13), para pemimpin agama itu menghadapi paradoks yang tak terduga. Di hadapan mereka adalah dua individu yang, menurut standar dunia, tidak memiliki apa-apa: tidak punya gelar teologis, tidak pernah belajar di sekolah rabbinik, dan tidak memiliki retorika yang halus. Namun, mereka berbicara dengan kepercayaan diri, kebenaran, dan kuasa yang luar biasa. Pengakuan mereka sebagai agrammatos secara dramatis menyoroti bahwa kekuatan pewartaan mereka tidak berasal dari pendidikan formal atau kecerdasan intelektual manusia.

Ironi ini menjadi penegasan fundamental dari pesan Injil itu sendiri: kebenaran ilahi sering kali diwartakan oleh media-media yang tidak terduga dan tidak sesuai dengan standar kecerdasan dunia. Kekuatan yang membuat Sanhedrin terkesan adalah gabungan dari pengalaman langsung Petrus dan Yohanes dengan Yesus yang bangkit, kemuliaan ilahi yang mereka pancarkan, dan yang terpenting, kuasa Roh Kudus yang menyertai mereka. Kuasa Allah bekerja melalui media yang lemah agar keagungan-Nya menjadi jelas. Dengan menyebut mereka agrammatos, Lukas secara sengaja menempatkan dua orang awam ini sebagai subjek utama narasi, menantang otoritas dan kebijaksanaan dunia yang diwakili oleh para ahli Taurat dan pemimpin Sanhedrin. Para pemimpin itu sendiri gagal merespons dengan argumen yang logis; mereka hanya bisa saling bertukar pandang dan khawatir akan dampak publik. Ini menunjukkan betapa efektifnya pewartaan dua rasul “awam” tersebut. Narasi ini secara implisit bertanya kepada pembacanya: “Bagaimana mungkin dua orang ‘awam’ ini bisa tahu dan bicara dengan begitu yakin?” Jawabannya adalah karena mereka dipenuhi oleh Roh Allah. Dengan demikian, frasa “orang biasa yang tidak terpelajar” bukanlah sebuah cacat, melainkan sebuah fitur naratif yang menunjukkan bahwa Injil adalah kabar baik yang universal dan kuasa ilahi bekerja melalui semua orang, tidak hanya yang terdidik.

Evolusi Penafsiran: Warisan Makna Ayat Ini dalam Tradisi Gereja

Tradisi penafsiran gereja selama lebih dari dua milenium memberikan wawasan yang sangat berharga tentang bagaimana umat percaya telah memahami dan menerapkan Kisah Para Rasul 4:13. Evolusi makna ayat ini menunjukkan bahwa interpretasi yang lebih kaya dan bernuansa telah ada sejak awal, jauh dari kesederhanaan modern yang menyebut murid-murid itu “bodoh”. Para Bapa Gereja pada abad-abad awal, seperti Ignatius dari Antiochia, Clement dari Aleksandria, dan Origenes, secara konsisten menonjolkan dimensi moral dan spiritual dari kata agrammatos. Bagi mereka, Petrus dan Yohanes adalah model teladan bagi semua orang Kristen. Makna agrammatos mereka adalah tentang kerendahan hati dan ketulusan hati. Karena kedua rasul itu tidak dibebani oleh pengetahuan dunia yang sombong dan pengetahuan filosofis yang rumit, hati mereka menjadi lebih terbuka untuk menerima dan menyerukan wahyu ilahi. Mereka adalah contoh nyata bahwa kebenaran ilahi lebih berharga daripada kebijaksanaan manusia yang paling hebat sekalipun. Penekanan mereka bukan pada ketidaktahuan, melainkan pada ketersediaan hati untuk melayani Tuhan.

Selama Era Reformasi, pemikiran Martin Luther dan John Calvin berevolusi. Mereka melihat potensi politik dan teologis dalam Kisah Para Rasul 4:13. Mereka menekankan aspek “orang awam” yang berani menghadapi kaum elit dan otoritas. Pada saat itu, Gereja Katolik memiliki hierarki birokrasi yang kuat, dan akses ke Alkitab serta penafsiran teologis sering kali dikontrol oleh kaum imam dan biarawan. Para reformator melihat ayat ini sebagai legitimasi teologis bagi setiap orang Kristen untuk membaca Alkitab secara pribadi dan berbicara tentang imannya, terlepas dari gelar atau ijazah teologis formal. Kisah ini menjadi senjata ideologis dalam perang melawan korupsi dan otoritas yang berlebihan di gereja. Maknanya bergeser dari kerendahan hati moral menjadi hak dan tanggung jawab kaum awam untuk aktif terlibat dalam kehidupan gereja.

Lebih lanjut dalam sejarah, dalam gerakan Pentakosta pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, frasa ini menjadi simbol sentral. Kekuatan dan karunia Roh Kudus dianggap lebih berharga daripada pendidikan formal atau doktrin teologis yang rumit. Gerakan ini menekankan pengalaman pribadi dengan Tuhan dan manifestasi karunia rohani—seperti berbahasa lidah, nubuat, dan penyembuhan—sebagai indikator kebenaran teologis yang otentik. Kembali pada Kisah Para Rasul 4:13, mereka melihat dua rasul “awam” yang dipenuhi oleh Roh Kudus, yang kemudian memancarkan kemuliaan Tuhan dan kekuatan pewartaan yang luar biasa. Ini menegaskan bahwa kehadiran dan kuasa Roh Kudus adalah bukti otentik dari panggilan dan otoritas ilahi. Bahkan dalam perkembangan penafsiran modern yang menyesatkan, warisan tradisi gereja secara konsisten menolak interpretasi permukaan yang menyederhanakan. Bahkan ketika maknanya berevolusi—dari humilitas moral ke hak-hak kaum awam, lalu ke pengalaman pribadi dengan Roh Kudus—maknanya tetap positif dan inspiratif. Klaim modern yang menyebut mereka “bodoh” adalah sebuah penyimpangan dari warisan penafsiran yang lebih kaya dan bernuansa.

Kesimpulan: Pelajaran untuk Jemaat Awam dari Kisah Para Rasul 4:13

Setelah melakukan analisis mendalam terhadap konteks sosial-budaya, makna linguistik, dan evolusi tradisi penafsiran, kesimpulan yang paling jelas dan kokoh adalah bahwa frasa “orang biasa yang tidak terpelajar” dalam Kisah Para Rasul 4:13 tidak berarti bahwa Petrus dan Yohanes adalah “orang bodoh”. Sebaliknya, ini adalah deskripsi yang disengaja oleh Lukas untuk menyoroti sebuah ironi teologis yang fundamental: kebenaran ilahi sering kali diwartakan oleh orang-orang yang tidak memiliki pendidikan formal dan tidak diakui oleh sistem kekuasaan dunia. Mereka adalah “orang biasa” dalam arti praktis, berasal dari latar belakang ekonomi yang sederhana sebagai nelayan, bukan bangsawan atau sarjana. Kata Yunani agrammatos secara spesifik merujuk pada fakta bahwa mereka tidak memiliki pendidikan formal di sekolah-sekolah rabbinik atau retoris Yunani. Namun, ketiadaan pendidikan formal ini bukanlah sebuah cacat, melainkan sebuah fitur naratif yang menegaskan bahwa kekuatan pewartaan mereka datang bukan dari retorika atau argumen filosofis, melainkan dari pengalaman langsung dengan Yesus yang bangkit dan kuasa Roh Kudus.

Bagi jemaat awam hari ini, Kisah Para Rasul 4:13 memberikan pelajaran yang sangat menantang dan memberdayakan. Cerita ini menepis mitos bahwa panggilan untuk melayani Tuhan dan memberitakan Injil bergantung pada gelar akademis, ijazah teologis, atau kecerdasan intelektual yang tinggi. Sebaliknya, ini menegaskan bahwa Tuhan memilih untuk menggunakan hati yang tulus, kerendahan hati, keberanian, dan kesediaan untuk dipenuhi oleh Roh-Nya. Warisan penafsiran gereja selama dua milenium menunjukkan bahwa makna ayat ini telah selalu positif dan inspiratif, mulai dari ajakan kepada kerendahan hati moral oleh para Bapa Gereja, hingga legitimasi bagi kaum awam untuk membaca Alkitab selama Reformasi, hingga penekanan pada pengalaman pribadi dengan Roh Kudus dalam gerakan Pentakosta. Interpretasi modern yang menyederhanakan ini menjadi “mereka bodoh” adalah sebuah penyimpangan yang merugikan, karena meremehkan keberanian dan kebijaksanaan luar biasa yang ditunjukkan kedua rasul tersebut. Pelajaran yang harus diambil adalah bahwa nilai seseorang dalam Kerajaan Allah tidak diukur dari pendidikannya, tetapi dari seberapa besar ia mau menjadi wadah bagi kuasa dan kebenaran ilahi.


REFERENSI

Poverty in the first-century Galilee

The Economy of Roman Palestine

The rabbinic traditions about the pharisees before 70 CE: An overview

Pharisaic Dominance Before 70 CE and the Gospels’ Hypocrisy Charge (Matt 23:2–3)

Acts Commentary & Bible Study

2004 – Sean Freyne – Jesus, A Jewish Galilean

Introdução de Atos a Apocalipse

“Jewish Scribes in the Late Second Temple Period: Differences Between the Composition, Writing, and Interpretation of Texts”

Jacob Neusner-The Rabbinic Traditions About The Pharisees Before 70 Parts I II III – Brill1971

The Rabbinic Traditions about the Pharisees Before 70, 3 Volumes (Dove Studies in Bible, Language, and History)

Of The Second Temple Period: Jewish Sects

error: Content is protected !!