Antara Keledai Yesus dan Tunggangan Elite

Share:

Pada hari itu, ribuan tahun lalu, sebuah prosesi sederhana mengguncang Yerusalem. Seorang pria dari Nazaret—dengan jubah usang dan tatapan teduh—masuk kota suci bukan dengan kereta kuda, bukan diatas gajah seperti raja timur, dan tentu bukan dalam iringan pasukan elit bersenjata. Ia datang menunggang seekor keledai, binatang beban yang rendah hati, lamban, dan sering dianggap bodoh. Namun justru dari keledai itulah pesan besar disampaikan: kekuasaan sejati tak memerlukan kegagahan, dan pemimpin sejati tak butuh menaklukkan, melainkan merendahkan diri.

Sayangnya, di negeri ini—di zaman kini—makna tunggangan itu telah berubah. Kini yang ditunggangi bukanlah keledai. Yang ditunggangi adalah para pejabat. Dan yang menunggangi mereka? Para pengusaha besar, taipan, kontraktor peliharaan, bos tambang, pemilik mall, dan tentu saja, para penjaja proyek siluman.

Kuda? Keledai? Bukan. Ini Tunggangan Berjas.

Kalau Yesus masuk kota membawa damai, para pejabat kita masuk kantor membawa proposal. Bukan membawa keselamatan, tapi membawa tanda tangan. Mereka tidak menunggang keledai, mereka ditunggangi. Dengan elegan, tentu saja. Dengan jas Armani, dasi sutra, dan wajah penuh janji manis.

Dulu keledai berjalan pelan, tenang, karena membawa beban mulia. Sekarang para pejabat kita berjalan cepat—tergesa-gesa—bukan karena beban mulia, tapi karena dikejar deadline pemodal. “Pak, izin tambang belum keluar.” “Bu, anggaran belum cair.” “Pak, anak saya perlu jabatan di BUMN.” Dan semua itu dibalas dengan senyum—atau kalau perlu, diam dan stempel.

Ah, betapa mereka begitu ringan dikendalikan. Sedikit rayuan, satu perjalanan ke Singapura, satu koper, satu kamar hotel dengan pemandangan Marina Bay—dan sang pejabat berubah menjadi kendaraan yang begitu setia. Lebih patuh dari GPS, lebih lembut dari supir Uber, dan tentu lebih cepat dari logistik KPU.

Tunggangan Canggih, Hati Kosong

Apa bedanya keledai dan pejabat yang jadi tunggangan sekarang? Keledai itu jujur. Ia tahu dirinya hanya alat, tapi ia juga punya batas. Ia akan berhenti bila lelah. Ia akan mengamuk bila dipaksa terlalu jauh. Tapi para pejabat tunggangan ini? Tidak. Mereka tidak pernah mengamuk. Tidak pernah lelah. Selalu siap: demi tender, demi konsesi, demi suara dalam kongres, demi foto bersama di podium.

Mereka berjalan mulus, bahkan saat melewati ladang konflik agraria, tambang rakyat, tumpahan minyak, atau reruntuhan sekolah yang ambruk karena dana BOS dikorupsi. Mereka jalan terus. Tidak menoleh. Tidak melenguh.

Karena apa? Karena yang di atas mereka bukan Tuhan—tapi pemilik saham.

Mereka Bukan Pemimpin, Mereka Kendaraan

Kita—rakyat—diperlihatkan sandiwara. Mereka berdiri di podium, berbicara tentang kedaulatan. Tapi dari balik layar, mereka cuma menunggu perintah: dari siapa yang membiayai kampanye, dari siapa yang mengatur opini, dari siapa yang punya data hasil survei.

Mereka bukan penunggang zaman. Mereka bukan pembawa damai. Mereka hanya tunggangan. Dan sialnya, mereka nyaman dengan peran itu. Mereka tidak keberatan jadi kendaraan selama bensinnya premium dan arahnya menuju proyek pribadi.

Jadi, Di Minggu Palma Ini…

Kita mengenang Yesus dan keledainya. Sebuah peristiwa kudus yang penuh simbol kesederhanaan dan ketulusan. Tapi di sisi lain, kita juga mengenang para pejabat kita: simbol kemunafikan modern yang tak butuh cambuk untuk tunduk—cukup dengan SMS dari pemilik modal.

Maka izinkan saya menutup dengan sebuah harapan: semoga suatu hari nanti, para pemimpin kita berhenti menjadi tunggangan. Dan mungkin, meski kecil kemungkinan, mereka belajar dari keledai yang rendah hati itu—yang membawa Raja Damai masuk Yerusalem dengan tenang, bukan untuk menjual tanahnya, tapi untuk menyelamatkannya.


error: Content is protected !!