Dari Kampus ke Desa: Kolaborasi UKIM dan UNPATTI Membangun Harapan Baru di Kawa

Share:

Desa Kawa di Seram Bagian Barat, merupakan kampung nelayan yang terkenal sebagai penghasil ikan tuna di Maluku. Desa ini dikelilingi oleh nelayan yang setiap hari membawa pulang ikan tuna segar dalam jumlah melimpah. Namun, di balik kekayaan itu, ada tantangan besar: angka stunting yang tinggi di kalangan anak-anak dan kurangnya pemanfaatan sumber daya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Di sinilah cerita inspiratif dimulai, ketika dua universitas ternama di Maluku, Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) dan Universitas Pattimura (UNPATTI), bergandengan tangan dalam Program Kosabangsa untuk membawa perubahan nyata.

Program ini bukan sekadar proyek akademis, melainkan sebuah gerakan kolaborasi yang menyatukan ilmu pengetahuan, masyarakat lokal, dan pemerintah desa. Dipimpin oleh dosen-dosen berdedikasi dari UKIM, Sinthia Rosanti Maelissa, M.Kep., Sp.Kep.K., bersama timnya, dan didampingi oleh pakar dari UNPATTI, Prof.Dr. Natelda R. Timisela, S.P., M.P., program ini memanfaatkan ikan tuna sebagai senjata utama melawan stunting dan kemiskinan.

“Kami sangat mengapresiasi tim dari UKIM dan UNPATTI, terutama dukungan dari kementerian. Ilmu dan bantuan alat yang diberikan sangat membantu peningkatan skala produksi dan pengendalian stunting di Desa Kawa,” ujar Penjabat Kepala Desa Kawa, Abuhaer Kilwou, S.Pd., yang turut serta dalam kegiatan.

Kolaborasi Kosabangsa UKIM-UNPATTI di desa Kawa | Foto: N. Timisela (koleksi pribadi)

Nelayan yang biasanya hanya menjual ikan segar kini belajar dan mengembangkan berbagai inovasi pengolahan menjadi produk bernilai tambah seperti abon, bakso, otak-otak, dan tempura berbasis surimi. Melalui pelatihan intensif yang dimulai dari Focus Group Discussion (FGD), anggota Kelompok Pokhlasar Lestari Mekar diajari teknologi pengolahan modern. Bahkan limbah ikan seperti tulang diubah menjadi tepung bernutrisi menggunakan cabinet dryer hybrid, membuka peluang ekonomi baru bagi UMKM lokal. Ini bukan hanya tentang produksi, tapi juga tentang keberlanjutan—pelatihan pengemasan, penentuan tanggal kedaluwarsa, sertifikasi halal dan BPOM, hingga pemasaran digital memastikan produk mereka bisa bersaing di pasar yang lebih luas.

Dengan pendekatan teknologi tepat guna, masyarakat kini belajar bagaimana menjaga kualitas hasil laut, mengemas produk dengan baik, hingga memasarkan secara digital. Bagi warga Kawa, laut bukan lagi sekadar sumber penghidupan harian, melainkan sumber inspirasi dan inovasi.

Sementara itu, di sisi kesehatan, kader posyandu Desa Kawa diberdayakan dengan alat seperti koper gizi dan instrumen SIDIK SIAMA untuk mendeteksi dini stunting pada balita dan ibu hamil. Mereka juga belajar mengolah ikan menjadi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bergizi, yang langsung berdampak pada penurunan angka stunting. Program “Penerapan Teknologi dan Inovasi Pengolahan Ikan Tuna Lokal Sebagai Produk Pangan Fungsional dalam Menunjang Gizi dan Ekonomi Masyarakat Desa Kawa, Seram bagian Barat”, didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) serta didukung LLDIKTI Wilayah XII, menunjukkan bagaimana pendidikan tinggi bisa menjadi jembatan menuju masyarakat yang lebih sehat dan mandiri.

Apa yang membuat program ini begitu inspiratif? Ini adalah kisah tentang kekuatan gotong royong. Di Desa Kawa, di mana stunting pernah menjadi momok yang menghambat generasi muda, kini ada harapan baru. Ibu-ibu kader posyandu yang semula ragu kini percaya diri memberikan PMT kepada anak-anak mereka, sementara para pengolah ikan melihat pendapatan mereka meningkat berkat produk inovatif. Ini mengingatkan kita bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil: dari laut ke meja makan, dari pengetahuan ke pemberdayaan. Seperti yang tersirat dalam apresiasi masyarakat, program ini bukan hanya memberikan alat dan ilmu, tapi juga menanamkan semangat untuk mandiri dan berkelanjutan.

Kolaborasi UKIM dan UNPATTI ini telah menanam benih harapan di hati masyarakat Kawa. Harapan bahwa desa-desa di Maluku bisa maju tanpa kehilangan jati diri, bahwa kerja sama lintas kampus bisa menjadi kekuatan baru bagi pembangunan daerah, dan bahwa laut yang luas ini menyimpan masa depan cerah jika dijaga bersama. UKIM dan UNPATTI telah membuktikan bahwa kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah bisa mengubah potensi alam menjadi kekuatan transformasi. Program ini pun membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami arti sesungguhnya dari Tri Dharma Perguruan Tinggi: bahwa ilmu pengetahuan hanya bermakna ketika menyentuh kehidupan nyata.

Mari kita ambil inspirasi dari sini: setiap daerah memiliki ‘ikan tuna’nya masing-masing—sumber daya yang menunggu untuk dimanfaatkan. Dengan semangat seperti ini, Indonesia bisa membangun generasi yang lebih sehat, kuat, dan sejahtera. Program Kosabangsa di Desa Kawa bukan akhir, tapi awal dari banyak cerita sukses lainnya.

Kawa mungkin hanyalah satu titik kecil di peta Indonesia, tetapi di sana, ilmu pengetahuan dan semangat gotong royong sedang menulis bab baru tentang arti membangun bangsa dari pinggiran.

error: Content is protected !!