Descensus Christi ad Inferos: Perjalanan Yesus di Dunia Orang Mati

Share:

Salah satu misteri iman Kristen yang cukup dalam, yaitu perjalanan Yesus di dunia orang mati (kadang disebut descensus ad inferos atau descent into hell). Hal ini disebut secara singkat dalam Pengakuan Iman Rasuli: “…disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut…” (descendit ad inferos). Meskipun tidak dijelaskan panjang lebar dalam Alkitab, banyak tokoh Gereja dan cendekiawan Kristen telah memberikan tafsiran tentang hal ini.

Penelitian tentang perjalanan Yesus di dunia orang mati sebelum kebangkitan-Nya merupakan topik yang kaya dalam teologi Kristen, dengan akar yang kuat dalam Alkitab, tradisi Gereja, dan interpretasi cendekiawan. Artikel ini akan mengeksplorasi gambaran perjalanan tersebut serta pandangan dari tokoh Gereja dan cendekiawan, menyajikan analisis mendalam untuk memberikan pemahaman yang komprehensif.

Dasar Alkitabiah

Perjalanan Yesus di dunia orang mati didasarkan pada beberapa ayat kunci dalam Perjanjian Baru. 1 Petrus 3:18-20 menyebutkan bahwa Kristus, setelah menderita dan mati, “pergi memberitakan kabar kepada roh-roh yang di dalam penjara” yang tidak taat pada zaman Nuh. Interpretasi ini sering dihubungkan dengan roh-roh yang memberontak, kemungkinan malaikat yang jatuh, seperti disebutkan dalam Yudas 6 dan Ibrani 2:16, yang menunjukkan bahwa “roh-roh” merujuk pada makhluk rohani, bukan manusia. Efesus 4:8-10 juga menyatakan bahwa Kristus “turun ke bagian bumi yang paling bawah” sebelum naik ke surga, yang sering diartikan sebagai kunjungan ke dunia orang mati. Kisah Para Rasul 2:31, Petrus mengutip Mazmur dan menyatakan bahwa “jiwa-Nya tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati.” Selain itu, Wahyu 20:11-13 membedakan Hades sebagai tempat sementara untuk jiwa-jiwa, berbeda dengan neraka (Gehenna) sebagai tempat hukuman abadi, sesuai versi Alkitab seperti NASB dan NIV.

Kredo Para Rasul, yang digunakan dalam liturgi Kristen sejak awal, juga menyatakan bahwa Yesus “turun ke tempat orang mati” (descendit ad inferna), meskipun bukan teks Alkitab, ini mencerminkan keyakinan Gereja awal. Ayat-ayat lain seperti Matius 27:46 (pengalaman ditinggalkan oleh Allah), Roma 1:3-4 (kebangkitan menurut Roh kekudusan), dan Kolose 2:15 (kemenangan atas kuasa kegelapan) memberikan konteks tambahan tentang misi Yesus selama periode ini.

Gambaran Perjalanan Yesus

Gambaran perjalanan Yesus di dunia orang mati dapat dirangkum sebagai berikut:

  • Kunjungan ke Hades/Sheol: Yesus diyakini masuk ke Hades, tempat jiwa-jiwa orang mati menunggu, bukan neraka hukuman. Ini didukung oleh penegasan bahwa Hades adalah tempat sementara, seperti dalam Lukas 16:20 (kisah Lazarus dan orang kaya) dan Lukas 23:43 (Yesus berjanji kepada penjahat di kayu salib bahwa ia akan bersama-Nya di Firdaus).
  • Memberitakan Kabar Kemenangan: Berdasarkan 1 Petrus 3:19, Yesus tampaknya memberitakan kabar kepada roh-roh yang di dalam penjara, yang kemungkinan besar adalah malaikat yang jatuh, bukan manusia, karena Ibrani 9:27 menyatakan bahwa manusia diberi satu kesempatan untuk keselamatan, bukan kesempatan kedua setelah kematian. Tindakan ini mungkin merupakan deklarasi kemenangan atas kuasa kegelapan, seperti dalam Kolose 2:15.
  • Pembebasan Jiwa Orang Benar: Tradisi Gereja, terutama Katolik dan Ortodoks, menekankan bahwa Yesus membebaskan jiwa-jiwa orang benar dari Perjanjian Lama yang menunggu di Sheol, seperti Adam, Hawa, Abraham, dan Musa, dan membawa mereka ke surga. Ini dikenal sebagai “Pembebasan Harrowing of Hell,” yang digambarkan dalam ikon Ortodoks Timur sebagai Yesus mengangkat Adam dan Hawa dari kubur.
  • Solidaritas dengan Kemanusiaan: Beberapa cendekiawan, seperti Karl Barth, melihat tindakan ini sebagai solidaritas dengan kemanusiaan yang berdosa, menegaskan bahwa Yesus mengambil alih hukuman dosa sepenuhnya, termasuk pengalaman ditinggalkan oleh Allah, seperti dalam Matius 27:46.

Namun, detail spesifik perjalanan ini tetap misterius, karena Alkitab tidak memberikan narasi rinci. Penafsiran bervariasi, dengan beberapa menekankan aspek kemenangan (1 Petrus 3:22), sementara yang lain fokus pada pembebasan jiwa-jiwa, seperti dalam Efesus 4:8-10.

Pandangan Tokoh Gereja dan Cendekiawan

Berbagai tokoh Gereja dan cendekiawan telah memberikan interpretasi teologis yang kaya tentang peristiwa ini, yang dapat dirangkum dalam tabel berikut:

Tokoh/CendekiawanPandanganSumber
St. Thomas Aquinas
(abad ke-13)
Menyebutkan 4 alasan:
1) Menanggung hukuman
dosa, 2) Misi cinta, 3) Me-
ngalahkan setan, 4) Mem-
bebaskan jiwa suci.
Summa Theologica,
Aquinas Catechism
Melito dari Sardis
(abad ke-2)
Menyatakan Yesus “meng-
hancurkan neraka, me-
ngikat yang kuat, dan mem-
bawa manusia ke surga.”
Homili On the Pasch 102
Ireneus dari Lyon
(abad ke-2)
Mengajarkan Yesus menye-
lamatkan orang saleh
Perjanjian Lama yang
menantikan Mesias.
Tradisi Bapa Gereja
Origenes (abad ke-3)Berpendapat Yesus mem-
beritakan Injil di Hades,
memberikan kesempatan
kepada roh-roh.
Komentari Alkitab
Hans Urs von Balthasar
(abad ke-20)
Menyarankan Yesus meng-
alami penderitaan total di
dunia orang mati, termasuk
rasa ditinggalkan oleh
Allah.
Mysterium Paschale
Karl Barth (abad ke-20)Melihat sebagai solidaritas dengan kemanusiaan ber-
dosa, menegaskan peng-
ambilan hukuman dosa.
Teologi Reformasi
N.T. Wright (kontemporer)Berhati-hati, menekankan
kemenangan atas maut,
bukan spekulasi detail
perjalanan.
Komentari Alkitab, buku
teologi

Katekismus Gereja Katolik (KGK 633) juga menegaskan bahwa Yesus masuk ke tempat orang mati untuk membebaskan orang benar yang menantikan Penyelamat, didukung oleh ayat-ayat seperti Filipi 2:10, Kisah Para Rasul 2:24, Wahyu 1:18, dan Efesus 4:9. Tradisi Ortodoks Timur menggambarkan peristiwa ini dalam ikon Anastasis, menunjukkan Yesus mengangkat Adam dan Hawa, simbol pembebasan jiwa-jiwa dari Hades.

Martin Luther dan John Calvin

Martin Luther dan John Calvin, dua tokoh Reformasi Protestan abad ke-16, memiliki pandangan tentang turunnya Yesus ke dunia orang mati (Descensus Christi ad Inferos), meskipun pandangan mereka berbeda dalam penekanan dan interpretasi. Berikut adalah penjelasan singkat dan spesifik tentang pandangan mereka berdasarkan konteks teologi Reformasi:

Martin Luther

  • Pandangan Umum: Luther menerima doktrin bahwa Yesus turun ke dunia orang mati, sebagaimana dinyatakan dalam Kredo Para Rasul, yang tetap menjadi bagian penting dalam tradisi Lutheran. Ia memahami peristiwa ini sebagai bagian dari kemenangan Kristus atas dosa, maut, dan kuasa setan.
  • Penekanan Teologis:
    • Luther menafsirkan turunnya Yesus ke dunia orang mati sebagai tindakan kemenangan (triumphus) di mana Yesus menyatakan kuasa-Nya atas setan dan kuasa kegelapan. Dalam beberapa khotbahnya, Luther menggambarkan Yesus “mengikat setan” dan “menghancurkan kuasa neraka,” yang selaras dengan konsep Harrowing of Hell dalam tradisi sebelumnya.
    • Ia tidak terlalu fokus pada pembebasan jiwa-jiwa orang benar dari Perjanjian Lama (seperti dalam tradisi Katolik atau Ortodoks), tetapi lebih pada aspek Kristus sebagai Pemenang yang menaklukkan maut. Luther melihat peristiwa ini sebagai kelanjutan dari karya penebusan Kristus di kayu salib.
    • Dalam Katekismus Besar Luther, meskipun topik ini tidak dibahas secara rinci, ia menegaskan pentingnya Kredo Para Rasul, termasuk frasa “turun ke tempat orang mati,” sebagai bagian dari iman Kristen.
  • Catatan: Luther cenderung menghindari spekulasi berlebihan tentang detail peristiwa ini, karena Alkitab tidak memberikan narasi rinci. Ia lebih menekankan makna teologisnya, yaitu kemenangan Kristus, daripada membayangkan apa yang terjadi di dunia orang mati.

John Calvin

  • Pandangan Umum: Calvin memiliki pandangan yang lebih kontroversial dan berbeda dari tradisi sebelumnya. Ia menolak interpretasi harfiah bahwa Yesus secara fisik atau rohani turun ke Hades atau dunia orang mati setelah kematian-Nya. Sebaliknya, Calvin menafsirkan “turun ke tempat orang mati” secara metaforis.
  • Penekanan Teologis:
    • Dalam Institutio Christianae Religionis (Institutes of the Christian Religion, Buku II, Bab 16), Calvin berpendapat bahwa frasa “turun ke tempat orang mati” dalam Kredo Para Rasul merujuk pada penderitaan Yesus di kayu salib, khususnya pengalaman-Nya merasakan murka Allah dan pemisahan dari Bapa (seperti dalam Matius 27:46, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”). Bagi Calvin, “dunia orang mati” adalah simbol dari penderitaan spiritual dan hukuman dosa yang dialami Yesus demi penebusan umat manusia.
    • Calvin menolak gagasan bahwa Yesus pergi ke Hades untuk membebaskan jiwa-jiwa atau memberitakan kabar kepada roh-roh, seperti yang disarankan dalam 1 Petrus 3:19. Ia berpendapat bahwa ayat ini lebih mungkin merujuk pada pemberitaan Kristus melalui Roh-Nya pada zaman Nuh, bukan aktivitas setelah kematian-Nya.
    • Calvin juga skeptis terhadap tradisi Harrowing of Hell, menganggapnya sebagai spekulasi yang tidak cukup didukung oleh Alkitab. Baginya, fokus utama adalah kematian dan kebangkitan Yesus sebagai inti keselamatan, tanpa perlu menambahkan narasi tentang dunia orang mati.
  • Catatan: Pendekatan Calvin lebih rasional dan berbasis teks Alkitab (sola scriptura), sehingga ia menghindari interpretasi yang bergantung pada tradisi Gereja atau spekulasi teologis. Pandangannya ini memengaruhi beberapa cabang Reformasi, terutama dalam tradisi Calvinis, yang cenderung meminimalkan doktrin turun ke dunia orang mati.

Perbandingan Singkat

TokohPandangan tentang Turun ke Dunia Orang MatiFokus Utama
Martin LutherMenerima secara harfiah sebagai kemenangan Kristus atas setan dan maut di
Hades, meskipun tidak
spekulatif.
Kemenangan Kristus atas
kuasa maut.
John CalvinMenolak turun secara
harfiah; menafsirkannya
sebagai penderitaan
spiritual Yesus di kayu salib.
Penderitaan penebusan di kayu salib.

Konteks dan Pengaruh

  • Luther: Sebagai bagian dari tradisi Lutheran, pandangan Luther tetap mempertahankan elemen tradisional dari Kredo Para Rasul, sehingga doktrin turun ke dunia orang mati masih diajarkan dalam Gereja Lutheran, meskipun dengan penekanan pada kemenangan Kristus.
  • Calvin: Pandangan Calvin memengaruhi tradisi Reformed (Calvinis), seperti Gereja Presbiterian dan beberapa denominasi Protestan lainnya, yang cenderung tidak menekankan doktrin ini atau menafsirkannya secara simbolis. Akibatnya, dalam beberapa komunitas Calvinis, frasa “turun ke tempat orang mati” dalam Kredo Para Rasul bahkan dihilangkan atau dijelaskan sebagai penderitaan Kristus.

Sumber dan Referensi

  • Luther: Khotbah-khotbahnya (misalnya, tentang Kredo Para Rasul) dan Katekismus Besar (meskipun tidak secara eksplisit mendetail).
  • Calvin: Institutes of the Christian Religion, Buku II, Bab 16, serta komentarinya tentang 1 Petrus 3:19.
  • Analisis sekunder: Studi tentang teologi Reformasi, seperti karya Alister McGrath (Christian Theology: An Introduction) atau sumber seperti GotQuestions.org yang membahas perspektif Protestan.

Variasi dalam Tradisi Gereja

  • Gereja Katolik: Menekankan pembebasan jiwa-jiwa orang benar, dengan fokus pada KGK 635 yang menyatakan Yesus membuka pintu gerbang surga. Ini selaras dengan pengajaran Aquinas dan tradisi liturgi, seperti pembacaan pada Sabtu Suci yang menggambarkan keheningan besar karena “Sang Raja tertidur” dan membangkitkan semua yang telah tertidur sejak awal.
  • Gereja Ortodoks Timur: Sangat menekankan Harrowing of Hell sebagai bagian integral kebangkitan, dengan ikonografi yang kaya menunjukkan kemenangan Yesus atas maut.
  • Gereja Protestan: Pandangan bervariasi. Denominasi seperti Lutheran menerima konsep ini berdasarkan Kredo Para Rasul, sementara kelompok evangelikal sering skeptis karena kurangnya detail eksplisit dalam Alkitab, dengan fokus lebih pada kemenangan atas maut daripada pembebasan jiwa-jiwa.

Kontroversi dan Ketidakpastian

Meskipun banyak tradisi menerima konsep ini, ada kontroversi mengenai detailnya. Misalnya, apakah Yesus benar-benar memberitakan Injil untuk keselamatan roh-roh di Hades (seperti pandangan Origenes) atau hanya deklarasi kemenangan (seperti N.T. Wright). Ibrani 9:27 menegaskan tidak ada kesempatan kedua setelah kematian, yang menimbulkan debat apakah tindakan Yesus adalah penebusan atau pengumuman kemenangan. Hans Urs von Balthasar, dengan teori penderitaan total di dunia orang mati, juga kontroversial, karena menambahkan elemen mistik yang tidak semua teolog setuju.

Kesimpulan

Perjalanan Yesus di dunia orang mati sebelum kebangkitan-Nya tampaknya melibatkan kunjungan ke Hades untuk memberitakan kemenangan, membebaskan jiwa-jiwa orang benar, dan menegaskan kuasa-Nya atas maut. Pandangan tokoh Gereja seperti Aquinas, Melito, dan cendekiawan modern seperti Barth dan Wright memperkaya pemahaman ini, meskipun detailnya tetap misterius dan subjek interpretasi teologis. Tradisi Gereja Katolik, Ortodoks, dan Protestan menawarkan perspektif yang bervariasi, mencerminkan kompleksitas topik ini dalam iman Kristen.

error: Content is protected !!