Jangan Lunak pada Koruptor: Rampas Aset Tanpa Ampun, Biarkan Keluarga Rasakan Jeranya!

Share:

Presiden Prabowo Subianto baru saja melempar bom asap yang memuakkan dalam perang melawan korupsi. Dia setuju aset koruptor dirampas, tapi dengan nada sok bijak: “Apakah adil anaknya menderita?” Wah, sungguh mengharukan! Sementara rakyat Indonesia bergelut dengan kemiskinan akibat duit negara dicolong para tikus berdasi, Prabowo malah sibuk membela keluarga koruptor yang hidup mewah dari hasil rampok. Ini bukan keadilan, ini pengecutan! Jika negara terus-terusan lunak dengan dalih “kasihan keluarga”, korupsi akan tetap jadi investasi emas bagi para pencuri berkuasa. Efek jeranya? Hilang bagai angin lalu, dan rakyat semakin apatis, muak melihat elite lolos dengan mudah.

Mari kita lihat fakta dingin yang tak bisa dibantah. Data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan bahwa kerugian negara akibat korupsi pada 2024 saja mencapai Rp45,7 triliun, tapi pemulihan aset dari 2020 hingga 2024 baru menyentuh Rp2,5 triliun – angka yang menyedihkan, seperti setetes air di lautan pencurian. Bahkan, total potensi kerugian dari kasus-kasus korupsi pengadaan barang dan jasa mencapai Rp47,18 triliun. Dan jangan lupakan kasus korupsi kuota haji 2024 yang merugikan negara lebih dari Rp1 triliun – duit umat yang seharusnya untuk ibadah, malah jadi pesta pora elite. Sementara itu, keluarga koruptor? Mereka asyik menikmati rumah mewah, mobil sport, pendidikan di luar negeri, dan gaya hidup ala sultan. Bukan rahasia lagi: dari 2015 hingga 2023, ada 46 kasus korupsi yang melibatkan anggota keluarga, dengan puluhan tersangka dari kalangan istri, anak, atau kerabat. Mereka bukan korban tak berdosa; mereka komplotan yang diam-diam ikut meraup untung!

Prabowo bilang, “Jangan sampai anak dan keluarga menderita.” Tapi pertanyaan balik: Apakah adil anak-anak rakyat menderita karena sekolah rusak, rumah sakit tak layak, dan infrastruktur amburadul akibat korupsi? Mengapa kita harus peduli pada keluarga koruptor, sementara jutaan anak bangsa terlantar tanpa masa depan? Ini hipokrasi kelas kakap! Jika aset dirampas setengah hati, dengan pengecualian untuk “kebutuhan dasar” keluarga, maka korupsi tetap menggiurkan. Bayangkan: seorang koruptor bisa bilang, “Ambil saja sebagian, tapi sisakan untuk anak istri.” Hasilnya? Generasi koruptor baru lahir, mewarisi mentalitas pencuri.

Pendekatan lunak ini bukan solusi, tapi racun. Negara harus tegas: rampas semua aset hasil korupsi tanpa pandang bulu! Lacak aliran dana, sita rumah mewah, mobil, bahkan rekening pendidikan di luar negeri. Biarkan keluarga rasakan pahitnya – itu bagian dari efek jera. Jika mereka benar-benar tak tahu, biarlah mereka mulai dari nol, seperti rakyat biasa yang tak pernah colong duit negara. Hukum harus buta terhadap air mata palsu; keadilan sejati adalah memulihkan apa yang dirampok dari rakyat.

Wahai Presiden Prabowo, jangan jadi pahlawan kesiangan yang malah melindungi musuh negara. Korupsi adalah kanker yang membunuh bangsa – obatinya adalah pisau bedah tajam, bukan plester. Jika RUU Perampasan Aset tak kunjung disahkan, gunakan saja mekanisme existing dengan gigih. Rakyat tak butuh pidato manis; kami butuh tindakan keras. Rampas aset koruptor sekarang, atau korupsi akan terus jadi “investasi” terbaik di negeri ini. Bangsa ini layak lebih baik – jangan biarkan elite terus tertawa sementara kita menangis!

error: Content is protected !!