Kamis Putih merupakan salah satu hari raya yang memiliki makna yang sangat dalam dalam tradisi Kristen, khususnya selama Pekan Suci. Pada hari istimewa ini, umat Kristen memperingati Perjamuan Terakhir yang diadakan oleh Yesus bersama para murid-Nya. Perjamuan ini tidak hanya menjadi simbol kedekatan dan persahabatan, tetapi juga menandai institusi Sakramen Ekaristi, yang merupakan ritus suci dalam iman Kristen.
Selain itu, hari ini juga mengingatkan kita tentang tindakan luar biasa Yesus ketika Ia membasuh kaki para murid-Nya, sebuah tindakan yang menggambarkan kerendahan hati dan pelayanan tanpa pamrih. Semua peristiwa ini terjadi menjelang awal penderitaan Yesus, yang dimulai di Taman Getsemani, di mana Ia menghadapi tantangan dan kesulitan sebelum penyaliban-Nya. Kamis Putih mengajak kita untuk merenungkan makna sejati dari pengorbanan, cinta, dan pelayanan dalam kehidupan kita.
Jalan Menuju Pemuridan
Ada keterkaitan yang menarik antara mantan Uskup Agung Canterbury Rowan Williams, Jean Vanier, dan Paus Fransiskus—mereka semua pernah menjadi pusat perhatian media karena keterlibatan mereka dalam ritual pembasuhan kaki.
Ketika Rowan Williams memperkenalkan praktik ini di Katedral Canterbury pada tahun 2003, banyak orang menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh. The Daily Telegraph bahkan mencatat bahwa “arsiparis katedral mengatakan mereka tidak menemukan catatan adanya uskup agung sebelumnya yang mencuci kaki jemaat di Katedral Canterbury.” Seolah-olah ini hanyalah sebuah kebaruan aneh yang mungkin dibawa Williams dari jabatan sebelumnya di Wales, ke dalam rutinitas gereja yang sudah mapan dan, mungkin, dianggap hampir sempurna.
Sebelumnya, pada tahun 1998, Jean Vanier mengadakan liturgi pembasuhan kaki dalam pertemuan para pemimpin gereja di Dewan Gereja Dunia (World Council of Churches). Reaksi individu para peserta tidak terdokumentasi, tetapi kemudian Vanier mengenang momen ketika ia melihat seorang uskup Ortodoks berlutut dan membasuh kaki seorang pendeta Baptis Amerika perempuan. Ia berkata,
“Gestur terkadang berbicara lebih keras dan lebih lama dibandingkan kata-kata.”
Vanier kemudian diundang untuk berbicara kepada para uskup Komuni Anglikan dalam pertemuan mereka yang tegang pada Januari tahun itu. Ia mengajak mereka untuk saling membasuh kaki satu sama lain. Setelahnya, para uskup memutuskan untuk “berjalan bersama”, meskipun terdapat perbedaan di antara mereka.
Vanier juga menjadikan pembasuhan kaki sebagai elemen utama dalam komunitas L’Arche, sebuah gerakan yang ia dirikan untuk menciptakan komunitas di mana orang-orang dengan dan tanpa disabilitas intelektual dapat hidup bersama.
Kemudian, ada tindakan Paus Fransiskus yang menjadi pusat perhatian dunia. Pada 28 Maret 2013, hanya beberapa minggu setelah terpilih sebagai Paus, ia mengunjungi penjara anak-anak di Roma dan membasuh kaki beberapa narapidana, baik pria maupun wanita, sebagai bagian dari perayaan Pekan Suci.
Peristiwa ini menarik imajinasi publik dan banyak uskup bergegas mengikuti teladan tersebut. Namun, ada pula yang menolaknya dengan keras, termasuk beberapa penasihat liturgi. Mereka bersikeras bahwa apa yang dilakukan Paus “bukanlah pembasuhan kaki liturgis yang sebenarnya.”
Mengapa tiba-tiba ada kekhawatiran untuk membedakan antara pembasuhan kaki oleh Paus kepada para narapidana dan “pembasuhan kaki liturgis yang sesungguhnya”?
Kita mungkin bertanya-tanya bagaimana sebagian orang mendefinisikan “liturgi”. Namun, mungkin kita tidak perlu terkejut, karena pembasuhan kaki selalu menjadi hal yang kontroversial di kalangan Kristen. Bahkan dalam teks Injil yang menjadi dasar semua liturgi pembasuhan kaki di kemudian hari, Injil Yohanes, peristiwa ini disajikan sebagai sebuah provokasi, yang memicu penolakan terbuka dari Petrus:
đź“– “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya!” (Yohanes 13:8)
Mengapa Pembasuhan Kaki Begitu Kontroversial?
Alasan di balik keterkejutan Petrus (dan mengapa perintah liturgis dalam Injil ini akhirnya diminimalkan hingga hampir tidak terlihat) tidak sulit ditemukan. Mencuci kaki adalah urusan pribadi, dan berlutut di tanah, menyentuh kaki yang kotor dan berbau, bukanlah tindakan yang elegan.
Di dunia kuno, menyediakan air untuk mencuci kaki tamu adalah tanda tuan rumah yang baik. Dalam Kejadian 18:4, misalnya, Abraham menawarkan air untuk mencuci kaki para malaikat yang berkunjung. Namun, tugas membasuh kaki sendiri diberikan kepada budak perempuan yang paling rendah kedudukannya.
Fakta bahwa tindakan Williams, Vanier, dan Paus Fransiskus mendapat begitu banyak perhatian mungkin dapat dijelaskan sebagai ketidaktahuan para wartawan tentang liturgi atau tentang kisah Perjamuan Terakhir Yesus. Atau mungkin karena ajaran Yesus bahwa “siapa yang ingin menjadi yang pertama harus menjadi hamba bagi semua” (Markus 10:44) telah hampir terlupakan.
Kenyataannya, mayoritas umat Kristen belum pernah melihat, apalagi mengalami, pembasuhan kaki dalam ibadah mereka.
Perkembangan Pembasuhan Kaki dalam Sejarah Gereja
Pembasuhan kaki pernah dipraktikkan dalam gereja-gereja awal (1 Timotius 5:10), tetapi kita tidak tahu seberapa luas atau kapan tepatnya ritual ini menjadi bagian dari Kamis Putih (seperti yang terjadi di gereja Ortodoks saat ini).
Di Barat, ritual ini menjadi bagian dari kehidupan biara, baik sebagai bagian dari kehidupan komunitas maupun sebagai tanda keramahan terhadap tamu. Pada Abad Pertengahan, ritual ini berkembang menjadi tindakan simbolis para raja, yang menunjukkan “kerendahan hati sejati mereka” dengan kemegahan seremonial.
Saat Reformasi Protestan, beberapa gereja mengabaikannya sama sekali karena dianggap terlalu rumit dan tidak perlu. Di sisi lain, kelompok Baptis dan kaum reformis radikal mengadopsinya sebagai perintah gereja, tetapi kemudian menyadari bahwa praktik ini tidak nyaman.
Di gereja Katolik, hingga ritus baru Pekan Suci diperkenalkan pada tahun 1956, pembasuhan kaki hanya dilakukan oleh para uskup di katedral dan sering kali diadakan terpisah dari perayaan utama Pekan Suci.
Setelah tahun 1956, ritual ini mulai diperkenalkan ke gereja-gereja paroki, tetapi hanya sebagai opsi yang memerlukan koor yang bisa menyanyikan nyanyian antiphonal. Oleh karena itu, hanya sedikit umat yang melihatnya karena upacara ini hanya dilakukan dalam Misa Kamis Putih.
Pada 1969, perubahan besar memungkinkan penggunaan lagu-lagu biasa sebagai pengganti nyanyian antiphonal, sehingga lebih mudah diadakan di gereja-gereja biasa.
Namun, pemahaman yang aneh mulai berkembang—bahwa pembasuhan kaki adalah drama yang meniru Perjamuan Terakhir.
Kesimpulan: Mengembalikan Makna Sejati Pembasuhan Kaki
Dalam beberapa abad terakhir, pembasuhan kaki lebih sering dianggap sebagai teater liturgis, demonstrasi kerendahan hati yang “penuh pertunjukan”, atau bahkan sekadar pengganti sedekah kerajaan (Maundy Money).
Namun, Injil Yohanes secara eksplisit menyatakan bahwa tujuan pembasuhan kaki adalah untuk mengajarkan bagaimana kita harus saling melayani sebagai murid Kristus.
“Setiap orang harus siap membasuh kaki orang lain.”
Pembasuhan kaki menunjukkan hubungan timbal balik dalam pelayanan, yang menjadi wajah nyata kasih yang harus dimiliki umat Kristen satu sama lain.
Sumber: Thomas O’Loughlin – “Discipleship and the Maundy Thursday Liturgy“