Di tengah birunya perairan Kepulauan Kei, dimana terumbu karang menari bersama ombak, tersembunyi sebuah harta kuliner yang sederhana namun memukau: Lat. Dikenal sebagai “anggur laut” atau “green caviar,” hidangan ini bukan sekadar makanan, tetapi juga cerminan jiwa masyarakat Kei—harmonis, penuh rasa, dan erat dengan alam. Dari pasar malam Tual hingga meja adat di desa-desa, Lat mengundang setiap lidah untuk merasakan keajaiban laut Maluku, sekaligus menyatukan hati dalam semangat kebersamaan.
Warisan dari Laut Kei
Lat, atau Lat-lat, adalah sayur urap khas Kepulauan Kei yang terbuat dari anggur laut (Caulerpa sp.), sejenis rumput laut berbentuk bulir-bulir hijau kecil menyerupai anggur. Dalam bahasa lokal, “Lat” adalah nama yang penuh keakraban, meskipun di Sulawesi disebut Lawi-lawi dan di Lombok dikenal sebagai Latoh. Hidangan ini telah menjadi warisan leluhur, diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2011, dan terus hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kei.
Perairan dangkal Kei Kecil, dengan hutan mangrove dan lalang lautnya, adalah rahim alami bagi anggur laut. Masyarakat Kei, yang mayoritas nelayan, mengambil Lat langsung dari dasar laut atau pinggir pantai, mencerminkan hubungan intim mereka dengan alam. Seperti falsafah adat “ain ni ain” (kita semua satu), Lat bukan hanya makanan, tetapi juga simbol keseimbangan antara manusia, laut, dan leluhur.
Keajaiban Rasa dan Cara Pembuatan
Membuat Lat adalah seni sederhana yang menghormati kesegaran bahan. Anggur laut segar dicuci bersih untuk menghilangkan pasir dan lendir, lalu dicampur dengan bumbu yang terdiri dari kelapa parut, bawang merah, cabai rawit, garam, dan perasan jeruk nipis. Bumbu kelapa dikukus sebentar untuk menyatukan rasa, lalu dicampur dengan Lat segar tanpa dimasak, menjaga tekstur renyahnya yang khas. Saat dikunyah, bulir-bulir Lat meletup di mulut seperti kaviar, menghadirkan rasa manis, asin, dan umami yang mengingatkan pada kerang segar.
Lat hadir dalam tiga varian: bumbu mentah untuk kesegaran maksimal, bumbu kelapa basah seperti urap tradisional, dan sarundeng dengan kelapa sangrai untuk tekstur kering. Uniknya, Lat tidak boleh dipanaskan atau disimpan di kulkas, karena bulir-bulirnya akan layu, kehilangan pesona “krenyes-krenyes” yang membuatnya istimewa. Disajikan sebagai lalapan atau lauk bersama embal (singkong olahan), ikan asar, atau sambal colo-colo, Lat adalah perayaan cita rasa laut Kei.
Manfaat Kesehatan: Harta Gizi dari Laut
Lat bukan hanya lezat, tetapi juga penuh manfaat kesehatan. Anggur laut kaya akan protein nabati, vitamin C, B, dan B5, mikromineral (besi, kalium, kalsium), serta antioksidan. Mengonsumsi Lat membantu menjaga kecantikan kulit dan rambut, mengurangi risiko depresi, mencegah obesitas, dan meningkatkan kesehatan mata serta jantung. Sifat antibakteri dan pelembapnya bahkan dimanfaatkan dalam produk kosmetik, sementara potensinya dalam bioremediasi menunjukkan nilai lingkungan yang luar biasa.
Lat dalam Budaya Kei: Perekat Kebersamaan
Di Kepulauan Kei, Lat bukan sekadar hidangan, tetapi juga pengikat budaya. Disajikan dalam acara keluarga, upacara adat, atau penyambutan tamu, Lat mencerminkan semangat keharmonisan dan kebersamaan. Di pasar malam Tual atau desa wisata seperti Ngilngof, Lat menjadi daya tarik bagi wisatawan, memperkenalkan kekayaan kuliner Kei ke dunia. Popularitasnya bahkan meluas hingga Jepang, Filipina, dan Eropa, di mana Lat dikenal sebagai umibudo, makanan laut yang eksotis.
Namun, keberlanjutan Lat menghadapi tantangan. Kerusakan terumbu karang akibat praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan mengancam kelimpahan anggur laut. Untungnya, potensi budidaya Caulerpa sp. di pertambakan menawarkan harapan untuk pelestarian sumber daya ini, sekaligus mendukung ekonomi lokal.
Inspirasi dari Lat untuk Dunia
Lat adalah bukti bahwa keajaiban bisa lahir dari kesederhanaan. Dari perairan Kei yang jernih, hidangan ini membawa pesan tentang keseimbangan antara manusia dan alam, serta kekuatan budaya dalam menyatukan komunitas. Di tengah dunia yang serba cepat, Lat mengajak kita untuk berhenti sejenak, menikmati rasa laut yang segar, dan menghargai ikatan dengan lingkungan dan sesama.
Jadi, saat Anda berkunjung ke Kepulauan Kei, jangan lewatkan untuk mencicipi Lat di tepi pantai, ditemani angin sepoi-sepoi dan senyum ramah warga lokal. Seperti bulir-bulir anggur laut yang meletup di mulut, Lat akan meninggalkan kenangan yang tak terlupakan—dan mungkin, inspirasi untuk hidup lebih harmonis. Lat bukan sekadar makanan; ia adalah cerita Kei yang hidup, siap menggugah lidah dan hati Anda.