Monia Latuarima: Perempuan Pejuang dari Hatuhaha

Share:

Di ujung timur Kepulauan Maluku, terdapat Hatuhaha, sebuah wilayah yang tidak hanya kaya akan keindahan alam tetapi juga sejarah perjuangan melawan penjajahan. Di sanalah nama Monia Latuarima (Latualinya) terukir dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai sosok pahlawan perempuan yang gagah berani. Perannya yang besar dalam Perang Alaka II menjadikannya simbol keberanian dan keteguhan kaum perempuan Maluku.

Awal Perjuangan

Pada awal abad ke-20, Perang Alaka II meletus sebagai reaksi atas kebijakan kolonial Belanda yang semakin menekan rakyat Hatuhaha. Kekuasaan kolonial memaksakan pajak yang berat, monopoli hasil bumi, dan pelarangan adat setempat yang memicu kemarahan masyarakat. Dalam situasi penuh tekanan ini, Monia Latuarima muncul sebagai pemimpin yang tidak gentar melawan ketidakadilan.

Namun, kisah perlawanan rakyat Hatuhaha terhadap Belanda sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum itu. Sejak abad ke-17, rakyat Hatuhaha telah berulang kali menghadapi serangan VOC yang ingin menguasai Maluku. Pada Januari 1637, kabar buruk tiba di utara Pulau Haruku. Gubernur Jenderal Anthonie van Diemen telah datang dari Jawa dengan armada besar, berniat menaklukkan Hatuhaha dan memaksakan kekuasaan VOC.

Perlawanan di Benteng Kitakutu

Para pemimpin Hatuhaha segera berkumpul di Benteng Kitakutu di Gunung Alaka. Mereka adalah Kapitan Akipai dari Kailolo, Kapitan Tuarihi dari Pelau, Kapitan Matakau dari Kabau, dan Kepala Kapitan Mahupessy dari Rohomoni. Mereka tahu bahwa Belanda akan memaksa rakyat mereka pindah ke daerah pesisir dan menjual rempah-rempah hanya kepada VOC. Maka, mereka memutuskan untuk bertempur.

Di tengah persiapan perang, putri Kapitan Mahupessy, Monia Latuarima, merasa gelisah. Ia menyadari bahwa Belanda selalu datang dengan pasukan yang lebih besar. Namun, ia juga tahu bahwa kecerdikan dapat mengalahkan kekuatan. Saat Belanda akhirnya menyerang pada 5 Maret 1637, Mahupessy dan Matakau bertahan di muara Sungai Wai Ira, tetapi mereka kalah. Mahupessy gugur dalam pertempuran itu.

Kematian ayahnya membakar semangat Monia. Ia segera mengambil alih kepemimpinan dan mulai memberi perintah. “Kita butuh batang-batang pohon di lereng bukit itu!” katanya lantang. Para prajurit Hatuhaha bergerak cepat, sementara Monia mengatur strategi dengan penuh kecermatan.

Di sisi lain, pasukan Belanda merasa yakin bahwa mereka akan menang. Dengan kepala Kapitan Hatuhaha telah tewas, mereka mengira perlawanan akan segera runtuh. Mereka pun mendaki jalur sempit menuju Benteng Kitakutu tanpa menyadari jebakan yang telah dipersiapkan.

Serangan Balik yang Mengejutkan

Ketika pasukan Belanda mendekati benteng, mereka tiba-tiba diserang dengan klappernoten—batok kelapa berisi abu panas—yang dilempar dari atas. Para prajurit Belanda terkejut dan menjadi buta seketika. Saat mereka kebingungan, Monia berteriak, “Gulung batang-batang pohon itu sekarang!”

Batang-batang besar yang telah ditebang sebelumnya meluncur menuruni lereng dengan kecepatan dahsyat, menghancurkan segala yang ada di jalannya. Kepanikan menyebar di antara pasukan Belanda, yang berlarian tak tentu arah. Di tengah kekacauan itu, suara Monia menggema di bukit-bukit Hatuhaha, memberi semangat kepada para pejuang.

Namun, Belanda tidak menyerah begitu saja. Mereka mendapatkan bantuan dari pasukan Alfoeren di Selatan Seram. Perlawanan di Benteng Kitakutu terus berlangsung, tetapi semakin sulit dipertahankan. Setelah hampir setahun bertahan, rakyat Hatuhaha terpaksa meninggalkan benteng mereka dan berpindah ke desa-desa pesisir, sebagaimana yang dikehendaki oleh VOC.

Warisan Monia Latuarima

Meski akhirnya Benteng Kitakutu jatuh, keberanian Monia Latuarima tetap dikenang. Ia tidak hanya memimpin perlawanan, tetapi juga menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam perjuangan rakyat Maluku. Kisahnya menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya, membuktikan bahwa kecerdikan dan keberanian bisa mengubah jalannya sejarah.

Hari ini, nama Monia Latuarima (Latualinya) hidup dalam ingatan rakyat Hatuhaha sebagai simbol perlawanan dan keteguhan hati dalam menghadapi penjajahan.

Pertempuran VOC di Alaka. Monia Latuarima memimpin perlawanan (sekitar 1640)
MALONAE
Malonae, imi piri imi kata wa au anau wake’eru
Mae mae Upu mae mae yama,
Mae hihi sahu loto mina
Mae hihi  toto sairau rehe ri,
Ehenala iteka adato maheri”
Metene kati ori nusa eya oo
Imi koto uli ulino se to eya
Matasyia ole pamata mata leya oo
Hale kawa nusa eya
Suwe nusa’im barakate
error: Content is protected !!