Buku Nuaulu Religious Practices: The Frequency and Reproduction of Rituals in a Moluccan Society karya Roy Ellen adalah sebuah jendela langka ke dunia ini, sebuah karya etnografis yang tidak hanya mendokumentasikan praktik keagamaan Nuaulu, tetapi juga mengajak kita merenungkan bagaimana ritual membentuk identitas, komunitas, dan kelangsungan budaya. Diterbitkan oleh KITLV Press pada tahun 2012, buku ini adalah puncak dari penelitian Roy Ellen selama empat dekade, menawarkan wawasan mendalam tentang frekuensi dan reproduksi ritual dalam masyarakat kecil yang hidup di persimpangan tradisi dan modernitas.
Roy Ellen: Sang Pengelana Nuaulu

Roy Ellen adalah Profesor Emeritus Antropologi dan Ekologi Manusia di Universitas Kent. Ia memperoleh gelar PhD dari London School of Economics, tempat ia juga memulai posisi pengajaran pertamanya. Ia mengajar di Universitas Kent dari tahun 1973 hingga 2012, dimana ia menjabat sebagai profesor sejak tahun 1988 dan menjadi direktur pendiri Pusat Keanekaragaman Biokultural (Centre for Biocultural Diversity).
Ellen telah melakukan kerja lapangan jangka panjang di kalangan masyarakat Nuaulu di Seram, Maluku, antara tahun 1969 dan 2015, serta penelitian di bagian lain Kepulauan Maluku, Indonesia, dan Brunei. Penghargaan akademiknya mencakup Fellowship atau Jabatan Profesor Tamu di Australian National University, Netherlands Institute for Advanced Study, Universitas Leiden, dan Universitas Vera Cruz, Meksiko. Ia telah menyampaikan Curl Lecture dari Royal Anthropological Institute dan menjabat sebagai Presidennya antara tahun 2007 dan 2011. Publikasi utamanya meliputi Environment, Subsistence and System (1982), The Cultural Relations of Classification (1993), On the Edge of the Banda Zone (2003), The Categorical Impulse (2005), dan Nuaulu Religious Practices (2012).
Perjalanan Etnografis di Hutan Seram
Roy Ellen pertama kali menginjakkan kaki di Seram pada tahun 1969 sebagai mahasiswa doktoral. Selama periode 1969 hingga 2015, ia menjalin hubungan erat dengan Nuaulu, sebuah masyarakat berjumlah sekitar 2.000 jiwa yang tinggal di wilayah tengah-selatan pulau ini. Buku ini berfokus pada desa Rouhua dan sekitarnya, menangkap esensi dari ritual-ritual seperti matahenne (upacara pubertas laki-laki), ritual kelahiran, dan pernikahan, yang menjadi detak jantung kehidupan sosial dan spiritual Nuaulu. Dengan pendekatan yang metodis, Roy Ellen menganalisis data lapangan yang dikumpulkan antara 1970 dan 2003, termasuk catatan harian, foto, audio, dan video, untuk memetakan frekuensi dan periodisitas ritual-ritual ini.
Apa yang membuat karya ini istimewa adalah ketekunan Roy Ellen dalam menghadapi tantangan. Penelitiannya terhambat oleh konflik sipil di Maluku (1999–2003), yang menyebabkan dislokasi populasi dan kerusakan infrastruktur. Namun, melalui izin khusus dari Universitas Pattimura dan ketekunan pribadi, ia menjadi salah satu peneliti asing pertama yang kembali ke Maluku pasca-konflik. Kegigihannya mencerminkan semangat antropologi itu sendiri: sebuah komitmen untuk memahami manusia, bahkan di tengah ketidakpastian.
Ritual sebagai Cermin Budaya
Inti dari Nuaulu Religious Practices adalah eksplorasi bagaimana ritual direproduksi dalam masyarakat Nuaulu. Roy Ellen tidak hanya mendeskripsikan upacara-upacara seperti matahenne—di mana anak laki-laki diinisiasi ke dalam kedewasaan melalui prosesi suci, pembunuhan kuskus, dan pemberian kain kulit kayu—tetapi juga menganalisis pola frekuensi dan variasi dalam pelaksanaannya. Ia menunjukkan bahwa ritual bukanlah peristiwa statis; mereka hidup, beradaptasi dengan dinamika sosial seperti pertumbuhan populasi, ketersediaan tetua (monite), atau bahkan gangguan eksternal seperti konflik.
Salah satu kekuatan buku ini adalah pendekatan kuantitatifnya yang jarang ditemukan dalam etnografi. Roy Ellen menghitung frekuensi ritual berdasarkan data demografis dan laporan lapangan, mengungkap asimetri dalam penyelenggaraan upacara. Misalnya, tahun 1971 adalah periode puncak untuk matahenne, tetapi dengan jumlah peserta yang lebih sedikit, sementara periode 1980–1988 tidak melihat matahenne sama sekali di Rouhua. Analisis ini tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang Nuaulu, tetapi juga berkontribusi pada teori ritual secara global, berdialog dengan karya-karya Harvey Whitehouse, Robert McCauley, dan E. Thomas Lawson tentang transmisi dan bentuk ritual.
Namun, ia tidak membiarkan angka-angka mengaburkan jiwa budaya Nuaulu. Ia menggambarkan ritual sebagai ekspresi kosmologi, di mana setiap tindakan—dari memukul kulit kayu hingga berdoa kepada leluhur—menghubungkan yang hidup dengan yang mati, manusia dengan alam. Dalam matahenne, misalnya, kain kulit kayu merah (karanumu) bukan sekadar pakaian; ia adalah simbol kedewasaan dan ikatan dengan leluhur, diikat dengan doa untuk kesehatan dan keturunan. Ritual-ritual ini, tulis Roy Ellen, adalah “tarian antara manusia dan roh,” menciptakan keseimbangan antara kehidupan sehari-hari dan dunia spiritual.
Dialog dengan Etnograf Lain
Roy Ellen tidak bekerja dalam isolasi. Ia mengakui kontribusi dua etnograf Nuaulu lainnya: Urbanus Tongli dan Rosemary Bolton. Tongli, dengan perspektif Dumontian-nya, menawarkan analisis abstrak tentang metafora persaudaraan dalam ritual, melihat pernikahan dan ritual sebagai cara untuk memisahkan dan menyatukan klan. Pendekatannya, meskipun kadang sulit dipetakan ke data empiris Roy Ellen, memberikan kerangka kosmologis yang kaya. Sebaliknya, Bolton, dengan pendekatan empiris dari Summer Institute of Linguistics, menyumbangkan deskripsi rinci tentang bahasa dan ritual Nuaulu, memperluas basis etnografisnya. Kolaborasi ini menunjukkan kerendahan hati akademik Roy Ellen, yang dengan terbuka mengakui batasan data pribadinya dan menghormati variasi dalam praktik Nuaulu yang didokumentasikan oleh rekan-rekannya.
Kepekaan Ellen terhadap konteks budaya juga terlihat dalam penanganannya terhadap data sensitif. Ia menghormati larangan Nuaulu, seperti tidak membahas ritual perempuan di hadapan laki-laki karena darah menstruasi dianggap polusi, atau menjaga kerahasiaan matahenne dari yang belum diinisiasi. Bahkan, ia mencatat praktik Nuaulu yang sengaja “mengacak” pengetahuan suci untuk melindungi leluhur dari pengungkapan yang tidak sah, sebuah tindakan yang menegaskan otonomi budaya mereka.
Kontribusi Teoretis dan Relevansi Kontemporer
Secara teoretis, Nuaulu Religious Practices menjembatani antropologi klasik dengan pertanyaan modern tentang transmisi budaya. Dengan mengeksplorasi frekuensi dan periodisitas ritual, Roy Ellen menawarkan wawasan tentang bagaimana tradisi bertahan di tengah perubahan sosial. Buku ini tidak secara eksplisit menguji teori Whitehouse atau McCauley, tetapi data miliknya memberikan bahan bagi para sarjana untuk memperdebatkan bagaimana ritual yang jarang dilakukan, seperti matahenne, dapat memiliki dampak emosional yang kuat, sementara ritual yang sering, seperti kelahiran, memperkuat kohesi sosial.
Di luar akademia, karya ini relevan bagi siapa saja yang peduli dengan pelestarian budaya. Nuaulu hidup di dunia yang terus berubah, di mana konflik, modernisasi, dan transmigrasi mengancam cara hidup tradisional. Namun, seperti yang ditunjukkan Roy Ellen, ritual-ritual mereka tetap hidup, beradaptasi tanpa kehilangan esensi. Matahenne, misalnya, telah menggantikan praktik berburu kepala dengan pembunuhan kuskus, sebuah evolusi yang mencerminkan fleksibilitas budaya. Buku ini mengingatkan kita bahwa pelestarian budaya bukan tentang membekukan tradisi, tetapi memungkinkan mereka bernapas dan berkembang.
Sebuah Undangan untuk Merenung
Nuaulu Religious Practices bukan sekadar monograf akademik; ia adalah undangan untuk melihat dunia melalui mata Nuaulu. Dengan prosa yang jelas dan analisis yang mendalam, Roy Ellen membawa kita ke hantetane, platform suci di hutan Seram, di mana anak laki-laki menjadi pria, klan memperbarui ikatan mereka, dan leluhur berbisik dalam angin. Buku ini adalah bukti kekuatan etnografi untuk menjembatani budaya, menawarkan pelajaran tentang keberanian, komunitas, dan ketahanan.
Bagi pembaca Indonesia, karya ini memiliki makna khusus. Maluku, dengan kekayaan budayanya, sering kali terpinggirkan dalam narasi nasional. Roy Ellen mengingatkan kita bahwa di setiap desa, di setiap ritual, ada cerita yang layak didengar. Nuaulu Religious Practices adalah panggilan untuk menghargai warisan kita, untuk mendengarkan suara hutan, dan untuk merayakan keberagaman yang membuat Indonesia begitu luar biasa.
Seperti kain kulit kayu yang diikat dalam matahenne, buku ini adalah jalinan tradisi dan ilmu pengetahuan, masa lalu dan masa kini. Ia mengajak kita untuk berdiri di ai owa nima, lima potong kayu suci, dan bertanya: bagaimana kita, seperti Nuaulu, dapat menghormati akar kita sambil melangkah menuju masa depan?