Kisah Putidjah, istri Kapitan Telukabesi, merupakan salah satu narasi lokal yang merefleksikan dinamika antara memori sejarah, identitas kolektif, dan warisan kolonial. Awalnya merupakan fiksi sejarah dalam roman karya Ritter, kisah ini kemudian diadaptasi oleh Kandou ke dalam bahasa Melayu dan akhirnya diinternalisasi oleh masyarakat Morela sebagai bagian dari sejarah sakral mereka. Teks ini menyajikan bagaimana perubahan naratif, strategi penguatan otoritas pencerita, serta elemen lokal—seperti kapata dan bukti fisik berupa batu nisan—digunakan untuk mengafirmasi keaslian sejarah Putidjah. Selain itu, kisah ini menggambarkan bagaimana masyarakat Ambon Muslim menafsirkan kembali figur Putidjah sebagai simbol perjuangan dalam konteks jihad dan perlawanan terhadap penindasan.
Rumphius mencatat dalam De Ambonse historie (1687) tentang sebuah peristiwa dramatis selama penaklukan benteng Hitu Kapahaha, pada pagi hari tanggal 25 Juli 1646. Ia melaporkan bahwa pemimpin benteng itu hampir saja tertangkap oleh tentara Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC):
“Telukabesi hampir saja tertangkap oleh kami, begitu dekat hingga mereka mengira akan bisa menangkapnya, tetapi salah satu dari dua istrinya menyelinap diantara mereka, dan diapun akhirnya tertembak mati. Maka ia berhasil melarikan diri dengan susah payah…”
Kutipan pendek ini menjadi dasar dari berbagai penggambaran perlawanan kolonial antara rakyat Hitu dan VOC, termasuk dalam sebuah novel sejarah Hindia tahun 1844, sebuah hikayat Ambon dari tahun 1901, dan sebuah sejarah desa Hitu yang ditulis pada tahun 1997. Dalam artikel ini, kita menelusuri jejak yang ditinggalkan oleh peristiwa tersebut dalam karya sastra dan dalam budaya lisan Maluku.
Demi Kelangsungan Hitu
Hitu adalah nama dari semenanjung utara Pulau Ambon. Saat ini, nama itu hanya sekadar istilah geografis, tetapi pada awal abad ketujuh belas, “negeri Hitu” bagi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) merupakan sebuah realitas politik. Hitu bukanlah sebuah kesultanan seperti Ternate atau Tidore di Maluku Utara, melainkan sebuah federasi dari tujuh persekutuan desa, dengan suatu “pemerintahan” yang terdiri dari empat orang. Secara bergiliran, salah satu dari mereka bertindak sebagai primus inter pares (yang utama di antara yang setara), dengan gelar Kapitan Hitu yang diberikan oleh bangsa Portugis.
Sejarawan Knaap menggambarkan Hitu dengan sistem pemerintahan empat kepala ini sebagai contoh awal pembentukan negara, sebuah perkembangan yang muncul dari perluasan dan pergeseran perdagangan cengkih dari Maluku Utara ke Maluku Tengah.
Ketekunan rakyat Hitu dalam mempertahankan otonomi politik dan ekonomi mereka merupakan duri dalam daging bagi VOC. Pada tahun 1634, Kakiali, yang saat itu menjabat sebagai Kapitan Hitu, ditangkap dalam sebuah perundingan dan dibuang ke Pulau Onrust dekat Batavia. Pada tahun-tahun berikutnya, wilayah Ambon dan sekitarnya mengalami gejolak hebat sehingga VOC nyaris kehilangan kendali, dan pada tahun 1637 harus mengirimkan armada dari Batavia untuk memulihkan ketertiban.
Bersama armada itu, Kakiali kembali. Ia mendapatkan kembali gelarnya, tetapi harus menyerahkan kewenangannya kepada pejabat yang ditunjuk oleh VOC. Dengan hati yang pahit, ia mengundurkan diri ke benteng Hitu di Wawani, dari mana ia mempererat hubungan diplomatik dengan Makassar. Konflik dengan VOC terus berkobar, dan pada tahun 1643, Kakiali dibunuh atas perintah VOC oleh seorang pembunuh bayaran. Seminggu kemudian, benteng Wawani jatuh ke tangan VOC dan para penyintas melarikan diri ke Kapahaha, sebuah benteng yang terletak lebih ke timur laut.
VOC menganggap saat itu sebagai momen yang tepat untuk menghapus pemerintahan Hitu secara permanen dan menempatkan desa-desa Hitu langsung di bawah kekuasaannya. Dalam kroniknya De Ambonse Historie, Rumphius menyatakan bahwa kebijakan ini harus dianggap sebagai “salah satu sebab utama mengapa orang-orang Hitu selama tiga tahun berikutnya masih bertempur dengan begitu gigih.”
Antara Tahun 1643 dan 1646
Kapahaha menjadi benteng terakhir pertahanan Hitu. VOC berusaha menyerbu Kapahaha, dan ketika itu tak memungkinkan, mereka memblokade pasokan sagu dan ikan. Blokade dan ekspedisi hukuman di sekitar wilayah itu pada awalnya tidak banyak membuahkan hasil, tetapi diperketat setelah upaya negosiasi gagal. Ketika semua desa Hitu dilarang lagi melaut, dukungan terhadap Kapahaha pun mulai melemah.
Jatuhnya benteng pada 25 Juli 1646 ke tangan sekelompok kecil tentara di bawah pimpinan Kapten Jacob Verheiden, tetap saja merupakan kejutan bagi semua pihak.
Para Penutur
Setelah kejatuhan Kapahaha, para penyintas—atas arahan VOC—menetap di pesisir. Kini, keturunan mereka masih tinggal di desa Morela. Mereka menganggap sejarah Kapahaha sebagai sejarah mereka sendiri. Para sesepuh masih bisa menunjukkan tempat-tempat dimana pos penjagaan Hitu pernah berdiri, dimana pertempuran kecil terjadi, dan di mana benteng-benteng VOC dibangun.
Mereka mengenang perjuangan tersebut dalam pesta adat tahunan, lagu-lagu sejarah, dan tarian-tarian. Yang menarik, kaum perempuan pun turut melakukan tari cakalele (tarian perang tradisional), sebagai bentuk penghormatan atas peran aktif mereka dalam mempertahankan Kapahaha.
Relevansi yang Tetap Hidup
Lagu-lagu sejarah dari Morela baru-baru ini telah ditulis dan direkam dalam kaset oleh Suleman Latukau, seorang tetua adat yang dihormati. Ia juga menambahkan penjelasan dalam bentuk prosa. Publikasi ini memperlihatkan bagaimana para penyanyi dan penutur Hitu meneruskan ingatan atas episode sejarah kolonial ini kepada generasi muda.
Yang menjadi fokus bukan semata-mata pada sejarah peperangan, tetapi lebih kepada aspek sosial dari perjuangan itu. Perlawanan terhadap penghapusan pemerintahan Hitu menciptakan ikatan sosial antara klan, desa, dan pulau yang hingga kini masih dianggap penting dan berharga oleh generasi penerus.
Lagu-lagu sejarah itu memuat seruan berulang tentang persatuan dan solidaritas, melampaui batas keluarga dan komunitas desa:
Sole pali nusa wali aa looka
Perkuat persatuan dalam satu ikatan keluargaIte laha loia peia yupu yana
Saling mendukung selaluLahat utanata hua loya hinia
Junjung tinggi kehormatan dan tetap bersatu
Seruan-seruan ini terdengar makin menggugah seiring semakin dalam perasaan para penyanyi terhadap penderitaan yang dibawa oleh perjuangan Kapahaha.
Klaim Sejarah yang Tak Pudar
Warga Morela tetap mempertahankan klaim mereka atas posisi historis yang penting. Sebagai contoh, penduduk desa tetangga Mamala pada awal 1980-an menyusun sebuah buku kecil tentang sejarah desa mereka yang memuat keterlibatan mereka dalam perjuangan abad ketujuh belas melawan VOC. Namun karena versi peristiwa itu ditentang oleh pihak Morela, buku tersebut justru memicu bentrokan keras antara kedua desa.
Desa Morela menegaskan dirinya sebagai ahli waris dan penjaga sejarah heroik Kapahaha. Status ini telah meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir karena perlawanan rakyat Hitu terhadap VOC kini dipandang di Indonesia sebagai cikal bakal perjuangan nasional untuk kemerdekaan.
Sejarah dan Fiksi
Para penyanyi dan penutur secara khusus menjaga agar nama-nama mereka yang berperan penting dalam sejarah desa tetap diingat. Dalam episode yang berkaitan dengan perjuangan di Kapahaha, yang paling menonjol adalah Patiwani, yang telah terbukti kepemimpinannya sebagai komandan di benteng Wawani, dan Telukabesi, yang memegang komando militer. Patiwani gugur dalam pertempuran laut ketika mencoba menerobos blokade. Telukabesi berhasil melarikan diri saat Kapahaha direbut, tetapi tak lama kemudian menyerah kepada Kompeni. Setelah ditahan sebentar, ia dieksekusi.
Istri Telukabesi, yang menurut Rumphius tewas saat ia melemparkan diri di Kapahaha diantara suaminya dan para penyerangnya, mendapatkan nama dan wajah dalam sejarah lisan desa Morela. Menurut para pencerita, namanya adalah Putidjah dan ia memimpin para perempuan Kapahaha dalam pertempuran. Mereka bahkan mengejutkan pendengar dengan menyatakan bahwa Putidjah sebenarnya adalah seorang gadis Belanda. Dan seakan itu belum cukup mengejutkan, mereka menambahkan bahwa pada saat yang tragis itu, ia ditembak mati oleh ayah kandungnya sendiri, yaitu Kapten Jacob Verheiden.
Apakah istri Telukabesi benar-benar seorang Belanda dan apakah Verheiden benar-benar membunuh putrinya sendiri di Kapahaha? Rumphius tidak menyebutkannya dalam karyanya De Ambonse Historie, begitu pula Ridjali dari Hitu, yang selamat dari perebutan Kapahaha dan kemudian menulis kronik Hikajat Tanah Hitu selama masa pengasingannya. Sumber-sumber abad ke-17 lainnya juga tidak menyebutkan peristiwa ini, yang jelas tidak mungkin terlewatkan oleh para saksi mata.
Sejarawan Maluku masa kini pun ragu akan kebenaran cerita ini. Beberapa secara hati-hati menyebutnya sebagai cerita rakyat. Namun anggapan ini menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Sebab, dalam sejarah lisan desa biasanya tidak banyak ruang untuk intrik dramatis. Selain itu, genre ini dianggap sakral dan harus diceritakan dengan sangat hati-hati: kecil kemungkinan para penutur sengaja menambahkan elemen fiktif ke dalam sejarah leluhur mereka. Maka, pertanyaannya tetap: dari manakah asal cerita ini?
Sebuah Novel Sejarah Hindia
Kisah tentang istri Telukabesi yang berasal dari Belanda dan ditembak mati oleh ayahnya sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar terjadi, tapi juga bukan hasil imajinasi rakyat. Cerita ini berasal dari tulisan sastra Wilhelm Leonard Ritter.
Penulis ini sangat aktif di dunia sastra Batavia pada pertengahan abad ke-19. Pada tahun 1843 dan 1845, ia menerbitkan dua kumpulan tulisan yang laris—berisi campuran artikel jurnalistik, sketsa sosial, dan kisah sejarah. Karya terbesarnya dalam kumpulan “Nieuwe Indische Verhalen en herinneringen uit vroegeren en lateren tijd” (1845) adalah sebuah novel sejarah setebal 400 halaman berjudul Toeloecabesie. Setahun sebelumnya, novel ini sudah dimuat sebagai cerita bersambung dalam “Tijdschrift voor Nederlands-Indië“.
Ritter yang tinggal di Batavia, mengikuti perkembangan sastra di Belanda. Pada akhir 1830-an, para penulis seperti Oltmans, Van Lennep, Toussaint, dan Conscience mempopulerkan roman sejarah. Genre ini sangat digemari oleh pembaca borjuis yang haus akan cerita tentang masa lalu penuh warna yang dramatis, romantis, sekaligus sarat pesan moral. Ritter melihat peluang untuk mengangkat masa lalu Hindia Belanda dan memilih sebuah episode sejarah yang terjadi tepat 200 tahun sebelumnya: “Amboina in 1644“, demikian subjudul novelnya..
Sumber utama Ritter adalah “Oud en Nieuw Oost-Indiën” (1724) karya Valentijn. Ia mengikuti narasi sejarah dari Valentijn dengan setia. Maka “Toeloecabesie” dapat dikategorikan—menurut istilah Drop—sebagai sebuah roman yang disisipkan dalam sejarah.
Penuh Warna dan Romantis
Novel ini mematuhi semua kaidah genre roman sejarah, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Misalnya, sayangnya Ritter kadang menyela cerita dengan penjabaran sejarah yang terlalu panjang. Tapi novelnya juga memiliki kekuatan: ada banyak informasi menarik tentang kebiasaan unik, terutama dari komunitas Muslim di Hindia Timur abad ke-17. Pembaca akan bertemu dengan berbagai tokoh berwarna di sekitar tokoh utama: istri setia bernama Se Tiedja, dinamai dari Khadidjah, istri Nabi Muhammad.
Dari pihak Hitu, hadir tokoh Toeloecabesie (Telukabesi) yang muda dan impulsif, penasehat bijaknya Patiwani, imam yang gigih Ridjali, dan kepala desa konyol Latoewiloeloe, yang menjadi pengkhianat setelah cintanya ditolak oleh Se Tiedja, yang malah memilih Toeloecabesie. Dari pihak Kompeni, ada Gubernur keras Gerrit Demmer, kapten penyendiri Jacob Verheiden, letnan ceria Swager, dan bujangan setia Abraham Fluweel, yang akhirnya menemukan kebahagiaan dengan seorang janda beranak delapan.
Plot utama berkisar pada rahasia asal-usul Se Tiedja. Verheiden, saat kapalnya karam di antara Buru dan Seram, mengikat putrinya yang masih kecil ke sebuah tong dan menyerahkannya ke laut. Anak itu terdampar di pulau Buano dan diadopsi oleh Patiwani. Saat dewasa, ia dinikahkan dengan Toeloecabesie. Meski setia pada suami dan perjuangan Hitu melawan Kompeni, Se Tiedja dihantui oleh ingatan masa lalu, apalagi setelah bertemu kapten Verheiden, ayah kandungnya.
Krisis identitasnya digambarkan Ritter sebagai konflik kesetiaan agama: apakah ia sebetulnya seorang Kristen dan karena itu harus meninggalkan Islam? Saat benteng Kapahaha jatuh, ia mengorbankan dirinya untuk melindungi suaminya. Verheiden mengenalinya saat ia sekarat karena kalung medali di lehernya—motif yang sangat umum dalam sastra romantik.
Idealisme yang Tak Berdaya
Seperti ringkasan tadi, Ritter menggambarkan konflik kolonial dari dua sisi: Hitu dan Belanda. Ini membuat novel Toeloecabesie sangat menarik. Pada abad ke-19, banyak perang dilancarkan untuk memperkuat kekuasaan kolonial. Ritter dalam novelnya menyatakan bahwa perlawanan Muslim terhadap kekuasaan Belanda adalah sesuatu yang patut dihormati dan didekati dengan sikap besar hati.
Tentang Toeloecabesie, Ritter menulis:
“Semboyannya hanyalah kebebasan dan kemerdekaan, tanpa motif tersembunyi, tanpa keinginan akan kekuasaan atau keuntungan rendah. Melihat kondisi menyedihkan negerinya, ia digerakkan oleh niat yang luhur dan tekad yang jantan.”
Patiwani juga digambarkan sebagai sosok tulus dan bijaksana, terinspirasi dari pujian yang diberikan Valentijn terhadapnya. Dalam novel, Patiwani berharap bahwa anak angkatnya (yang ia duga keturunan Belanda) dapat meluluhkan hati Kompeni dan membawa perdamaian. Harapan itu ternyata sia-sia. Tapi Ritter ingin meyakinkan pembaca bahwa hanya dengan saling menghormati dan berdamai, masyarakat sipil yang damai bisa terwujud.
Toeloecabesie dapat disebut sebagai sebuah roman ide yang disisipkan dalam sejarah, dengan pesan idealistik. Namun, dengan pengetahuan kita sekarang tentang berbagai perang kolonial yang masih akan terjadi setelah abad ke-19, idealisme itu tampak tak berdaya.
Sebuah Hikayat Ambon
Sekitar lima puluh tahun kemudian, pada tahun 1901, muncul sebuah buku kecil setebal 40 halaman di Batavia yang berisi ringkasan cerita novel Ritter dalam bahasa Melayu. Buku ini ditulis oleh Kandou, seorang guru asal Minahasa yang bekerja di Ambon dan sangat tertarik dengan bahasa, budaya, dan sejarah Ambon.
Buku kecil ini segera menjadi sumber utama bagi para penyanyi dan pencerita sejarah desa Morela. Dengan cara itulah, bagian dari roman Ritter diangkat menjadi sejarah lisan. Dan karena cerita ini, seperti sudah disebutkan sebelumnya, harus disampaikan dengan hormat dan hati-hati, maka tidak pernah lagi dianggap sebagai fiksi. Dalam proses ini, cerita yang lahir dari dunia roman Belanda abad ke-19 berubah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Morela.

Dalam bukunya, Kandou sama sekali tidak menyebutkan bahwa kisah ini berasal dari Ritter. Ia juga tidak menyajikan bukunya sebagai karya fiksi sastra, melainkan sebagai sebuah hikayat otentik dari Ambon. Karena itu, ia membumbui bahasanya dengan berbagai unsur bahasa daerah dan menyebut tokoh utamanya dengan nama Kotidjah, bentuk Ambon-Melayu dari nama Khadidja, tanpa menggunakan kata sandang kehormatan se atau si. Selain itu, ia membuka Hikajat Kotidjah-nya dengan kalimat Kata jang empoenja tjeritera [Menurut pemilik cerita]. Dengan kata lain, ia memberi kesan bahwa cerita tersebut diperoleh langsung dari para penutur lokal sebagai kisah sejarah Ambon yang otentik. Ini adalah suatu bentuk rekayasa yang disengaja.
Namun, cara penyajian seperti itu tidak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa Hikajat Kotidjah sangat jauh dari ciri-ciri umum sejarah desa Ambon yang lazim. Tema persaingan romantis seperti antara Toeloekabessij dan Latoewiloeloe merupakan hal yang langka dalam dunia penceritaan orang Maluku. Gagasan tentang rekonsiliasi kolonial yang dikedepankan oleh Ritter dan Kandou juga tidak biasa: hal ini bertolak belakang dengan seruan akan kesatuan dan semangat juang yang mengemuka dalam kisah-kisah sejarah desa tradisional.
Perbedaan antara hikayat sastra dan kisah sejarah lisan juga tampak dalam gaya bertutur. Kandou, misalnya, memberikan gambaran tentang pikiran dan perasaan para tokohnya. Hal ini tidak sesuai dengan cara bercerita para penutur Maluku, yang sepenuhnya berfokus pada tindakan dan ucapan para leluhur. Kandou juga menggunakan sudut pandang naratif yang terus berganti: kebebasan semacam ini tidak dimiliki oleh seorang penutur sejarah klan atau desa saat ia menceritakan kisah para leluhurnya. Selain itu, Kandou juga mengambil kebebasan untuk menyisipkan kilas balik (flashback) dalam ceritanya, bahkan yang berjarak dua puluh tahun. Seorang penutur sejarah desa tidak akan melakukan hal ini: ia terikat pada urutan kronologis yang, meskipun sering tanpa tanggal pasti, tetap dijaga.
Jadi, Hikajat Kotidjah sama sekali tidak seotentik Ambon seperti yang hendak ditampilkan oleh penulisnya. Namun demikian, tulisan ini membuat kisah romantis Ritter dikenal di Ambon dan dipercaya sebagai kisah nyata. Mungkin saja ada pembaca yang merasakan bahwa kebenaran sejarah cerita ini diragukan. Namun, ketika seorang penulis atau penutur mengaku memperoleh cerita dari penutur anonim, orang luar tidak punya banyak cara untuk memverifikasi keabsahan kisah tersebut. Kisah-kisah sejarah desa memang ditujukan untuk kalangan dalam (insider) dan biasanya diselimuti oleh aura kerahasiaan dan misteri.