Struktur Keotentikan
Namun demikian, setidaknya para penutur di desa Morela seharusnya mampu memverifikasi apakah cerita dalam hikayat Kandou adalah fakta atau fiksi: mereka merupakan keturunan langsung dari Telukabesi dan para pengikutnya. Bagaimana reaksi mereka terhadap kisah mengejutkan bahwa istri Telukabesi adalah seorang anak buangan Belanda dan ditembak mati oleh ayah kandungnya sendiri saat kejatuhan Kapahaha?
Meskipun hikayat Kandou tidak meyakinkan sebagai gambaran sejarah Ambon yang otentik, para penutur di Morela justru menerima kisah tersebut sebagai bagian dari sejarah mereka. Mereka menyebut tokoh wanita itu Putidjah, sebuah bentuk yang diturunkan dari kata akrab upu, yang biasa digunakan sebagai sapaan hormat untuk orang tua dan leluhur.
Kisah ini memang mudah untuk disesuaikan. Perempuan-perempuan dari Kapahaha memang memiliki peran penting dalam mempertahankan benteng, dan memang benar secara historis bahwa istri Telukabesi mengorbankan nyawanya saat benteng jatuh demi menyelamatkan suaminya. Yang baru hanyalah elemen cerita bahwa ia adalah anak angkat Patiwane dan bahwa ayah kandungnya adalah seorang perwira tentara Belanda. Namun, tetap saja menakjubkan betapa mudahnya para penutur mengadopsi cerita tersebut. Rupanya mereka menganggap bahwa dalam perjalanan waktu, ingatan sejarah mereka telah berlubang dan bahwa informasi dari hikayat Kandou bisa digunakan untuk menambalnya.
Hal-hal yang Perlu Dipahami
Jika kita mencermati cara para penutur mengklaim sejarah Kotidjah sebagai milik mereka, pertama-tama dapat disimpulkan bahwa hanya inti cerita Ritter yang tersisa dalam sejarah desa Morela. Tidak hanya unsur-unsur warna-warni panorama sejarah yang dihapus, tetapi juga banyak tokoh, adegan, dan alur cerita yang kurang penting. Kandou sendiri telah memangkas cerita Ritter secara signifikan, tetapi ia masih mempertahankan alur persaingan antara Toeloekabessij dan Latoewiloeloe. Dalam versi Latukau atas peristiwa tersebut, bahkan konflik ini pun dihilangkan. Bagi Latukau, yang penting hanyalah informasi mengenai asal-usul Putidjah, pernikahannya, anak-anaknya, dan peranannya dalam pertempuran di Kapahaha:
Perlu diketahui pula sejarah ringkas Putijah sebagai isteri kapitan Telukabesi ini. Yaitu Putijah seorang gadis Belanda […]. Putijah adalah anak angkat kapitan Patiwane dan dinikahkan dengan kapitan Telukabesi. Putijah turut berjuang dengan suaminya hingga akhir hayatnya. Putijah diangkat menjadi pimpinan srikandi Kapahaha. Beliau gugur sebagai kusuma bangsa pada perlawanan final tanggal 27 Juli 1646 itu. Dua anak laki-laki yang berumur 5 dan 2 tahun ini – yang sulung dibawa ke negeri Belanda oleh kapten Verheiden, yang bungsu tertinggal kini menghidupkan marga Leikawa sekarang.
Bagi Latukau, cerita ini tidak lebih dari catatan pinggir dalam kisah hidup Telukabesi. Namun, ia tetap menganggap penting untuk meyakinkan pendengarnya tentang keaslian sejarahnya. Untuk itu, ia menggunakan cara-cara yang lazim digunakan para penutur Maluku untuk menegaskan kesejarahan suatu cerita: kapata (nyanyian sejarah) sebagai genre lisan, penyebutan nama-nama, serta tempat-tempat pembuktian.
Kapata Putidjah sebagai Narasi Historis dan Identitas Kolektif
Latukau dalam naskah aslinya tidak menyertakan kapata tersendiri tentang Putidjah. Namun saat diminta, ia bersedia menuliskan teks sebuah kapata tentang kisah hidupnya. Isinya menceritakan bagaimana Corilina, putri Van der Haghen, terdampar di Buano, ditemukan oleh orang Bugis, dibawa ke benteng Wawane, lalu diangkat anak oleh kapitan Patiwane dan dinamakan Putidjah, menikah dengan Telukabesi, berjuang dan gugur di Kapahaha, serta kisah kedua anaknya.
Nahoda Stevene lehe sawa taka leiHitu nusa Apono 2, Her nale usai utun nena ~ Pada tahun 1600, Van der Haghen berlayar menuju Pulau Ambon, ke semenanjung Hitu
Nisa supu lihute hahotu sapane pasalita lulune lau nusa Buan ~ Kapalnya kandas karena badai besar di perairan Pulau Buano
Yanane, ombola tahinai nalane Corilina nipatau waa salauwa ~ Ia menempatkan putrinya Corilina dalam sebuah tong dan membiarkannya hanyut
Pamamanu waa rala nisa supu sapane sanopa Bugise Manda ~ Lalu, ia ditemukan oleh sebuah perahu layar milik orang Bugis dari Makassar
Nipahua waa sapane taka haita hatu nuku elya Wawane ~ Mereka membawanya ke pantai Hatunuku di wilayah benteng Wawane
Sipei asi waa malesi Patiwane hiti nalane Putijah ~ Ia dibawa kepada kapitan Patiwane dan namanya diubah menjadi Putidjah
Patiwane laha loi-a salele yana tunine maasusu ~ Kapitan Patiwane mengangkatnya sebagai anak angkat dan sangat menyayanginya
Nale waa nale Putijai malua paasoa malamaita matua adate elya Kapahahai ~ Ketika Putidjah dewasa, dewan adat di benteng Kapahaha memintanya untuk menikah dengan kapitan Telukabesi (Ahmad Leikawa)
Ena ma, ine soulahai malesi Telukabesi (Ahmade) kapitane Kapahahai ~ Mereka menikah, dan Telukabesi adalah kapitan dari Kapahahai
Sibarole tumata lua malona nalane Basense rula Teiyakane ~ Mereka memiliki dua anak laki-laki, Basens dan Teijakan
Lisalia elya Kapahaha sihiti Putijai aiyalo malua soa Kapahahai ~ Selama perang mempertahankan Kapahaha, Putidjah diangkat sebagai pemimpin kaum perempuan
Putijah nisasupu ajale lete lisa uai elya Kapahahao, hula pitu nasaranea ~ Putidjah gugur di medan perang terakhir pada 24 Juli 1646
Anani paamena Basense naisitepui Kapitene Verheidene lete nusai Walanda ~ Anak tertua, Basens, dibawa ke Belanda oleh kapiten Verheiden
Waline lalata susu Teiyakane nikakupahai-a rumatau Leikawa waa Latu Hausihu ~ Anak bungsu, Teijakan, melanjutkan garis keturunan Leikawa di Morela
Pemilihan bentuk genre, yaitu sebuah nyanyian dalam bahasa lama, menunjukkan bahwa Latukau ingin agar kisah Putidjah dipandang sebagai sejarah sejati yang asli dan tak terbantahkan. Namun kisah ini, yang juga muncul dalam roman sejarah Toeloecabesie karya Ritter, tampaknya baru dimasukkan ke dalam sejarah desa Morela pada abad ini, setelah terbitnya adaptasi dalam bahasa Melayu oleh Kandou. Mungkin karena itulah teks ini — dibandingkan dengan kapata-kapata sejarah lainnya yang biasanya sangat retoris atau liris — memberikan kesan yang mencolok sebagai teks yang bersifat prosaik. Kapata tentang Putidjah ini juga tidak terdapat dalam rekaman audio Latukau yang berisi kapata-kapata lain dari Morela. Dengan kata lain, kapata ini tampaknya memiliki status yang berbeda dari nyanyian sejarah lainnya.
Identitas dan Legitimasi Naratif
Roman Ritter mendapatkan ketegangan dan nuansa sentimentalnya dari fakta bahwa istri Telukabesi ternyata adalah putri dari Jacob Verheiden, seorang perwira VOC yang akhirnya menaklukkan benteng tersebut. Kandou mengadopsi unsur cerita ini, dan setelahnya diikuti pula oleh para penutur lainnya. Hanya Latukau, seorang penutur dari Morela, yang memiliki versi berbeda tentang asal-usul Putidjah: menurutnya, Putidjah bukanlah putri Verheiden, melainkan anak dari Steven van der Haghen. Van der Haghen adalah kapten dari armada Belanda kedua yang mencapai Kepulauan Maluku, dan tinggal dengan kapalnya di Hitu dari Mei hingga Oktober tahun 1600.
Karena “pengungkapan” ini, cerita kehilangan banyak daya tarik dramatisnya. Namun, yang diperoleh Latukau adalah peningkatan kewibawaannya sebagai penutur. Sejarah klan dan desa di Maluku merupakan milik rohani dari lingkaran kecil orang dalam: merekalah yang memiliki hak eksklusif untuk menceritakan sejarah leluhur secara utuh dan benar. Jang empunja tjeritera [para pemilik cerita] akan berupaya untuk hanya mengungkap sebagian dari sejarah tersebut kepada publik, sementara unsur-unsur lainnya disimpan sebagai rahasia [pengetahuan rahasia]. Secara khusus, nama-nama asli dan lengkap dari para leluhur termasuk dalam pengetahuan rahasia tersebut, yang menjadi bukti sejauh mana seorang penutur benar-benar memahami sejarah yang diceritakan. Nama-nama adat ini biasanya tidak dibocorkan kepada orang luar, juga untuk menghindari penyalahgunaan dalam praktik-praktik magis. Bila ada nama asli yang dibuka ke publik, seperti dalam kasus Putidjah, hal itu menunjukkan keinginan penutur untuk menegaskan otoritasnya sebagai orang yang memahami secara mendalam, sekaligus menegaskan karakter sakral dari cerita tersebut.
Benda Pusaka dan Bukti Sejarah

Penutur Maluku dalam sejarah klan dan desa biasanya menyertakan bukti nyata sebagai dasar historisitas cerita mereka. Ini bisa berupa elemen dalam lanskap, seperti formasi batuan yang unik, atau warisan benda berharga dari tekstil, keramik, atau logam. Dalam kasus Putidjah, yang menjadi bukti nyata adalah batu nisan.
Kemungkinan besar, unsur cerita ini berasal dari pernyataan Ritter bahwa Verheiden menguburkan jasad putrinya di Kapahaha. Kandou memenuhi harapan pembacanya di Ambon dengan menambahkan elemen nyata lainnya. Ia menulis bahwa makam itu dihiasi dengan sebuah papan [papan nama] bertuliskan nama Belanda gadis itu: Lorina Verhijden. Hal ini memberi dasar bagi para penutur di Morela untuk mempercayai bahwa memang ada batu nisan sebagai bukti nyata atas asal-usul Belanda Putidjah. Di atas Kapahaha, hingga saat ini masih terdapat sebuah makam tanpa nama, tersusun dari bongkahan batu karang. Masyarakat percaya bahwa itu adalah makam istri Telukabesi yang gagah berani, dan dengan keyakinan menyebutkan bahwa makam tersebut dulunya dilengkapi dengan batu nisan marmer bertuliskan: Hier rust Corilina Verheiden.
Namun, mereka yang kini mengunjungi makam tersebut tidak akan menemukan batu nisan itu. Menurut Latukau, para tetua dari generasi sebelumnya telah menyembunyikannya ke dalam salah satu celah batu yang sangat dalam di Kapahaha, karena khawatir batu nisan yang berharga itu akan dicuri oleh para perampok makam.
Sejak meninggalnya para tetua tersebut, tak seorang pun lagi yang mengetahui keberadaan batu nisan itu.
Sebagian orang menuduh bahwa pelaku pencurian makam adalah residen Jansen, yang pada tahun 1920-an dan 1930-an sering berkeliling desa-desa di Ambon untuk mengumpulkan data etnografi. Dikatakan bahwa ia berniat membawa batu nisan putri Verheiden ke Belanda, dan dengan itu merampas warisan sejarah masyarakat Morela. Namun, bila ditelaah lebih dalam, fakta sebenarnya justru terbalik. Masyarakat Hitu sendirilah yang telah mengambil alih sejarah ini dan kini menganggapnya sebagai milik rohani mereka.
Transformasi Makna: Dari Rekonsiliasi ke Perlawanan
Para penutur di Morela telah mengadaptasi kisah dari imajinasi sastra Ritter dan Kandou sesuai dengan kebutuhan dan harapan mereka. Kisah ini kini menjadi bagian dari sejarah desa mereka, sama sakral dan tak tersentuhnya dengan episode-episode lainnya. Apa yang menarik minat mereka dari sosok gadis Belanda yang ikut bertempur melawan VOC dan mempertaruhkan nyawanya demi suami Hitu-nya?
Roman Ritter Toeloecabesie ditulis untuk selera pembaca borjuis Hindia Belanda abad ke-19. Sosok tragis Se Tiedja, yang terombang-ambing antara asal-usul dan loyalitasnya, antara Kristen dan Islam, sangat menggugah imajinasi para pembaca dan menyentuh semangat kedermawanan serta pendamaian dalam konflik kolonial kala itu. Bagi Kandou, tema ini juga menjadi pusat cerita. Ia menggambarkan bagaimana baik orang Hitu maupun serdadu VOC menitikkan air mata saat menyaksikan kematian Kotidjah, dan menutup kisahnya dengan: “Dengan hal yang demikian lawan pun sudah menjadi kawan“.
Namun dalam konteks Indonesia pasca-dekolonisasi, sosok Putidjah memiliki makna yang sama sekali berbeda. Ia bukan lambang perdamaian, melainkan panggilan moral untuk berpihak dan mengangkat senjata dalam menghadapi ketidakadilan, penindasan, dan ketidakbebasan di masa-masa krisis. Fakta bahwa Putidjah—terlepas dari asal-usul Belandanya—tetap setia hingga mati pada perjuangan Hitu, memperkuat keyakinan para penutur dan pendengarnya bahwa dalam kekalahan mereka di Kapahaha, orang-orang Hitu adalah pemenang moral. Dari keyakinan ini mereka mendapatkan kekuatan untuk menghadapi masa depan. Di hadapan kesadaran sejarah yang penuh semangat ini, idealisme romantis Ritter menjadi tidak relevan.
Bagi umat Muslim Ambon, kisah ini memiliki dimensi tambahan. Pertempuran Kapahaha bagi mereka merupakan bagian dari jihad [perang suci] yang bisa saja berkobar kembali di masa-masa krisis. Dalam perjuangan Hitu di abad ke-17, umat Islam dan Kristen saling berhadapan dengan seruan buang tjapeu [buang topi] dan buang destar [buang sorban]. Ketika kekerasan kembali meledak di Kepulauan Maluku pada awal tahun 1999, kedua kelompok kembali berhadap-hadapan sebagai kelompok putih dan kelompok merah. Kali ini, bukan demi kelangsungan negeri Hitu, melainkan karena krisis politik dan sosial yang sangat serius di Indonesia. Meskipun tujuan perjuangan telah berubah, api perlawanan pastilah juga disulut oleh kisah-kisah sejarah tentang Kakiali, Patiwani, Telukabessy, dan Kotidjah sebagai kusuma bangsa, srikandi Kapahaha.

Kesimpulan
Transformasi kisah Putidjah dari novel kolonial menjadi bagian dari narasi sejarah Morela memperlihatkan bagaimana memori kolektif dibentuk ulang sesuai kebutuhan sosial, politik, dan kultural komunitas. Dalam narasi lokal, Putidjah bukan sekadar simbol rekonsiliasi kolonial, melainkan ikon perlawanan, pengorbanan, dan legitimasi sejarah. Penceritaan ini tidak hanya menegaskan identitas komunitas Hitu, tetapi juga menyediakan landasan moral dan spiritual dalam menghadapi krisis. Dengan menampilkan Putidjah sebagai bunga bangsa, serikandi Kapahaha, masyarakat Ambon menegaskan bahwa sejarah adalah milik mereka yang menghidupkan dan memperjuangkannya.
Sumber: HANS STRAVER – ‘Een van zijn twee wijven schoot daar tusschen’: Koloniale geschiedenis in een Indische roman, een Ambonse hikajat en een Hituese kapata.