Pasar Mardika di Ambon adalah salah satu pusat perekonomian terbesar di kota ini. Dengan lokasi strategis dan akses yang mudah, pasar ini menjadi tempat berkumpulnya pedagang ikan, sayur-mayur, dan kebutuhan pokok lainnya. Namun, meski telah dibangun gedung pasar baru yang lebih modern dan bersih, semrawut tetap menjadi kata yang melekat pada Pasar Mardika.
Pasar Mardika di Ambon adalah salah satu pusat perekonomian terbesar di kota ini. Dengan lokasi strategis dan akses yang mudah, pasar ini menjadi tempat berkumpulnya pedagang ikan, sayur-mayur, dan kebutuhan pokok lainnya. Namun, meski telah dibangun gedung pasar baru yang lebih modern dan bersih, semrawut tetap menjadi kata yang melekat pada Pasar Mardika.
Mengapa Pasar Mardika Tetap Semrawut?
- Kurangnya Ketegasan dalam Penegakan Aturan
Meski fasilitas baru telah disediakan, pemerintah sering kali kesulitan memaksa pedagang untuk pindah ke tempat yang telah ditentukan. Pedagang cenderung kembali ke lokasi semula karena tingginya arus pembeli di badan jalan. - Minimnya Sosialisasi dan Pendampingan
Para pedagang sering merasa bahwa lokasi baru kurang strategis dan pembeli enggan masuk ke dalam gedung pasar. Kurangnya sosialisasi dan pendampingan dari pemerintah membuat mereka enggan beradaptasi dengan perubahan. - Terminal yang Tidak Terorganisir
Keberadaan terminal angkot di sekitar pasar tanpa pengaturan yang jelas menciptakan kemacetan lalu lintas dan semakin memperparah kondisi semrawut di kawasan tersebut. - Pemanfaatan Ruko yang Tidak Tepat
Banyak ruko di sekitar Pasar Mardika yang dijadikan tempat tinggal alih-alih toko aktif. Hal ini mengurangi fungsi kawasan sebagai pusat perdagangan dan menambah kepadatan. - Kebiasaan Masyarakat yang Sulit Diubah
Baik pedagang maupun pembeli masih terbiasa dengan pola lama: bertransaksi di pinggir jalan yang dianggap lebih mudah dan cepat dibandingkan masuk ke dalam pasar.

Dampak Semrawutnya Pasar Mardika
- Kemacetan Lalu Lintas
Aktivitas jual-beli di badan jalan memicu kemacetan, terutama saat angkot berhenti sembarangan untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. - Penurunan Kualitas Hidup
Kepadatan di sekitar pasar membuat lingkungan tidak nyaman. Sampah sering menumpuk, bau tidak sedap menyebar, dan polusi visual semakin parah. - Penurunan Daya Tarik Kota
Sebagai pusat aktivitas ekonomi, wajah semrawut Pasar Mardika mencoreng citra Ambon sebagai kota yang sedang berkembang. Hal ini juga memengaruhi wisatawan yang datang ke kota ini.
Solusi untuk Pasar Mardika yang Lebih Tertata
1. Penataan dan Relokasi Terencana
- Pindahkan Pedagang ke Gedung Pasar Baru: Pemerintah harus bersikap tegas dalam menertibkan pedagang yang berjualan di badan jalan. Sediakan insentif sementara, seperti pengurangan biaya sewa, untuk menarik mereka ke lokasi baru.
- Atur Zona Perdagangan: Tentukan zona khusus untuk pedagang ikan, sayur-mayur, dan kebutuhan lainnya agar lebih terorganisir.
2. Reorganisasi Terminal Angkot
- Pindahkan terminal angkot ke lokasi yang lebih strategis tetapi tidak menyatu dengan pasar. Hal ini akan mengurangi kemacetan dan memberikan ruang lebih bagi pedagang serta pembeli.
- Terapkan sistem trayek yang lebih jelas dan efisien untuk mengurangi angkot berhenti sembarangan.
3. Revitalisasi Ruko
- Buat regulasi yang mengharuskan ruko digunakan sebagai tempat usaha, bukan tempat tinggal. Berikan insentif kepada pemilik ruko untuk menyewakan ruang mereka kepada pedagang pasar.
4. Edukasi dan Pendampingan
- Berikan edukasi kepada pedagang tentang pentingnya menjaga kebersihan dan keteraturan pasar.
- Fasilitasi dialog antara pedagang, pembeli, dan pemerintah untuk mencari solusi bersama.
5. Pengawasan dan Penegakan Hukum
- Bentuk tim khusus untuk mengawasi aktivitas di pasar dan memastikan pedagang tidak kembali ke badan jalan.
- Terapkan sanksi tegas bagi pelanggar, baik pedagang maupun pengemudi angkot yang tidak menaati aturan.
6. Meningkatkan Infrastruktur Pasar
- Pastikan gedung pasar baru memiliki fasilitas yang memadai, seperti area parkir luas, ventilasi yang baik, dan tata letak yang nyaman.
- Sediakan akses internet di pasar untuk menarik pembeli muda yang terbiasa dengan teknologi.

Belajar dari Kota Lain
Beberapa kota di Indonesia telah berhasil menata pasar tradisional mereka dengan baik:
- Solo: Pasar Gede ditata ulang dengan memperhatikan arus pembeli dan aksesibilitas.
- Bandung: Relokasi pedagang kaki lima di Alun-Alun Bandung berhasil menciptakan area yang lebih bersih dan tertata.
- Makassar: Pasar Terong ditata dengan zonasi yang jelas, memisahkan antara pedagang sayur, ikan, dan daging.
Kesimpulan
Pasar Mardika adalah denyut nadi perekonomian Ambon, tetapi wajah semrawutnya menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi. Penataan pasar bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga pedagang dan masyarakat.
Dengan pendekatan yang terencana dan melibatkan semua pihak, Pasar Mardika bisa berubah menjadi pusat perdagangan yang nyaman, bersih, dan tertata. Saatnya Ambon membuktikan bahwa tradisional tidak harus identik dengan semrawut.