Di tengah gemerlap musik Indonesia era 1980-an, sebuah grup vokal wanita asal Maluku muncul dengan harmonisasi suara yang manis dan memikat. Lex’s Trio, yang terdiri dari empat bersaudara berdarah Maluku, berhasil mencuri perhatian dengan lagu-lagu mereka yang penuh nostalgia. Salah satu hits mereka, “Salam Dunia,” menjadi simbol dari kelembutan vokal dan kehangatan budaya Maluku yang mereka bawakan.
Harmoni dari Keluarga Tetelepta
Lex’s Trio adalah grup vokal yang terdiri dari empat wanita bersaudara: Agustina Tetelepta (Tina), Yuliaty Tetelepta (Aty), Mien Tetelepta, dan Estherlina Tetelepta (Lien). Nama “Lex’s” diambil dari nama ayah mereka, Alex Tetelepta, sebagai penghormatan atas dukungan keluarga terhadap karier musik mereka. Berasal dari Maluku, keempat bersaudara ini mewarisi darah seni yang kental, sebuah ciri khas dari banyak musisi Maluku yang menghiasi dunia musik Indonesia pada masa itu.
Grup ini mulai dikenal pada akhir 1970-an hingga 1980-an, sebuah era di mana musik pop dengan harmonisasi vokal sedang digemari. Lex’s Trio membawa nuansa pop yang lembut dengan aransemen sederhana namun penuh perasaan, yang menjadi daya tarik utama mereka. Meskipun beranggotakan empat orang, mereka sering tampil dengan format trio (tiga orang) secara bergantian, kecuali pada album Suka Sama Suka di mana mereka tampil berempat.
Harmonisasi Manis yang Memikat
Lex’s Trio dikenal dengan kemampuan mereka dalam menyajikan harmonisasi vokal yang manis, sebuah keunggulan yang membuat mereka menonjol di antara grup vokal lainnya pada masanya. Gaya musik mereka dipengaruhi oleh pop akhir 1970-an hingga 1980-an, seringkali dengan aransemen yang mengingatkan pada grup seperti LCLR, yang populer pada era tersebut.
Mereka boleh dibilang sebagai salah satu kelompok vokal perempuan paling produktif di masanya. Dengan album-album yang dirilis secara rutin, mereka berhasil menarik perhatian banyak pendengar, meskipun sebagian besar album mereka lebih sering menyajikan lagu-lagu lama daripada yang benar-benar baru. Beberapa lagu ikonik mereka, seperti “Tembang Cinta” dan “Gengsi Dong,” bisa dihitung dengan jari, namun tetap saja menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan musik mereka.
Di album “Balada Tadi Malam,” mereka mencoba sesuatu yang berbeda dengan menggabungkan lagu-lagu hits dari penyanyi lain dengan beberapa komposisi baru yang dibuat khusus untuk mereka. Beralih dari jalur pop melankolis yang biasanya mereka usung, Lex’s Trio menjelajahi genre pop kreatif dalam album ini. Lagu-lagu seperti “Sabda Alam” dan “Juwita” dari Chrisye, serta “Kidung” dari Chris Manusama, menunjukkan kemampuan mereka untuk membawa nuansa baru tanpa kehilangan ciri khas harmonisasi yang sudah menjadi trade mark mereka.
Sayangnya, meskipun album ini menawarkan banyak inovasi, “Balada Tadi Malam” tidak berhasil meraih kesuksesan komersial yang diharapkan dan penjualannya pun kurang memuaskan. Namun, bagi Lex’s Trio, keberhasilan sebuah album sepertinya bukanlah satu-satunya ukuran karir. Nama mereka tetap bersinar, bahkan hingga era 90-an, menjadikan mereka salah satu grup legendaris Indonesia yang abadi dalam ingatan para penggemar musik. Keberanian mereka dalam bereksperimen dan menjelajahi berbagai genre membuktikan bahwa mereka adalah pelopor di dunia musik tanah air.
Diskografi
Salah satu lagu hits mereka yang paling dikenal adalah “Salam Dunia,” ciptaan Harry Van Hove. Lagu ini memiliki melodi yang enak didengar dengan nuansa pop khas akhir 1970-an, menampilkan harmonisasi vokal Lex’s Trio yang lembut dan menyatu. Selain itu, mereka juga merilis beberapa album dan lagu yang menjadi nostalgia bagi penggemar musik lawas:
- Bunga Di Tepi Jalan (dirilis oleh Purnama Record, tahun tidak diketahui secara pasti): Album ini berisi lagu-lagu cover dari Koes Plus, seperti:
- “Bunga Di Tepi Jalan”
- “Do’a Suci”
- “Malam Ini”
- “Ayah”
- “Mengapa”
- “Tiba Tiba Aku Menangis”
- “Kerinduan”
- “Kembali”
- “Hatimu & Hatiku”
- Album Lain:
- Terlambat (1980)
- Hati Kecil Penuh Janji (1980)
- Semoga di Hari Nanti (1980)
- Cita dan Cita (2015)
- Fernando (2016)
- Marilah Kemari (2016)
- Lagu-Lagu Lain:
- “Kau Selalu Di Hatiku”
- “Berita Kepada Kawan”
- “Melayani” (tersedia di situs seperti Zona Lagu)
Meskipun memiliki kualitas vokal yang baik, Lex’s Trio tidak pernah mencapai puncak popularitas besar. Album mereka sering kali mendapat penjualan yang biasa-biasa saja, dan mereka lebih dikenal melalui penampilan live atau lagu-lagu tertentu yang mendapat perhatian.

Tantangan dan Perjalanan Karier
Lex’s Trio menghadapi tantangan dalam mempertahankan eksistensi di tengah persaingan ketat dunia musik Indonesia pada era 1980-an. Meskipun harmonisasi mereka diakui, mereka tidak memiliki album yang benar-benar meledak di pasaran. Popularitas mereka lebih terasa melalui lagu-lagu tertentu seperti “Salam Dunia” dan penampilan live yang memukau.
Pada 28 Februari 1996, grup ini kehilangan salah satu anggotanya, Tina, yang meninggal dunia. Kepergian Tina menjadi pukulan berat, tetapi Lex’s Trio tetap melanjutkan perjalanan musik mereka dengan tiga anggota tersisa: Lien, Mien, dan Aty. Mereka terus tampil dan merilis karya hingga beberapa tahun kemudian, meskipun aktivitas mereka mulai berkurang setelah era 2000-an.
Warisan Budaya Maluku dalam Musik
Lex’s Trio adalah bagian dari gelombang musisi berdarah Maluku yang menghiasi dunia musik Indonesia pada era 1970-an hingga 1980-an, sezaman dengan grup seperti Masnait Group. Mereka membawa identitas budaya Maluku melalui harmonisasi vokal yang lembut, sebuah ciri khas yang sering diasosiasikan dengan musisi dari daerah tersebut. Lagu-lagu mereka, meskipun banyak yang merupakan cover, tetap mempertahankan nuansa emosional yang kental, mencerminkan kehangatan dan kepekaan budaya Maluku.
Aktivitas Terkini dan Ketersediaan Karya
Tidak ada informasi spesifik mengenai aktivitas Lex’s Trio setelah era 2000-an, sehingga kemungkinan mereka telah mengurangi aktivitas panggung. Namun, karya mereka tetap dapat dinikmati melalui platform musik modern seperti Spotify dan Apple Music, di mana lagu-lagu seperti “Salam Dunia”, “Kau Selalu Di Hatiku”, dan “Berita Kepada Kawan” masih tersedia. Situs seperti Zona Lagu juga menyediakan akses untuk mengunduh lagu mereka, seperti “Melayani”. Beberapa koleksi album mereka juga terekam dalam katalog WorldCat, menunjukkan bahwa karya mereka masih dihargai oleh penggemar musik lawas.
Harmoni yang Tetap Hidup
Lex’s Trio mungkin tidak mencapai puncak popularitas seperti grup vokal besar lainnya, tetapi mereka meninggalkan jejak yang manis dalam sejarah musik Indonesia. “Salam Dunia” dan lagu-lagu mereka lainnya menjadi pengingat akan era emas musik pop Indonesia, di mana harmonisasi vokal menjadi daya tarik utama. Keempat bersaudara Tetelepta ini membuktikan bahwa bakat keluarga dan warisan budaya Maluku dapat bersinar di panggung nasional, meski dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Lex’s Trio adalah simbol harmoni—baik dalam musik maupun dalam ikatan keluarga—yang terus hidup dalam kenangan para penggemar musik tanah air.
https://shorturl.fm/jsCOr
https://shorturl.fm/rRkhH