Rabu, 28 Januari 2026, Universitas Pattimura (Unpatti) resmi melepas 1.340 lulusan dalam prosesi wisuda perdana dari skema empat kali setahun. Ribuan toga berkibar, senyum orang tua merekah, dan riuh tepuk tangan memenuhi ruangan. Namun, di balik kemegahan Auditorium Unpatti, ada beban sejarah yang jauh lebih berat daripada sekadar memindahkan tali toga: Sejauh mana ruh “Bina Mulia Ke Lautan” benar-benar mendarah daging dalam sanubari para lulusan ini?
PIP Bukan Sekadar Aksesori Kurikulum
Pola Ilmiah Pokok (PIP) Unpatti, “Bina Mulia Ke Lautan”, adalah kompas moral dan intelektual. Visi ini seharusnya menjadi pembeda antara lulusan Unpatti dengan lulusan universitas di Jawa atau Sumatera. Di Maluku, laut bukanlah pemisah, melainkan pemersatu dan sumber kehidupan.
Namun, pertanyaannya tajam: Apakah 958 sarjana dan 304 tenaga profesi yang baru dilantik ini memahami cara mengelola kedaulatan laut? Ataukah “Bina Mulia Ke Lautan” hanya menjadi catatan kaki dalam buku pedoman akademik yang berdebu, sementara orientasi lulusannya tetap “berorientasi daratan”—berjubel mengantre kursi PNS atau menjadi staf administratif di gedung-gedung beton?
Industrialisasi Wisuda vs Kedalaman Karakter Kepulauan
Kebijakan wisuda empat kali setahun berisiko mengubah universitas menjadi “pabrik” yang mengejar kuantitas. Jika Unpatti tidak hati-hati, peningkatan frekuensi ini bisa menggerus artikulasi PIP dalam proses belajar-mengajar.
Seorang lulusan Hukum dari Unpatti harusnya lebih tajam dalam hukum maritim dibanding lulusan luar. Seorang Dokter lulusan Unpatti harusnya menjadi pakar dalam manajemen kesehatan masyarakat kepulauan terpencil. Jika lulusan periode Januari 2026 ini tidak memiliki kekhasan kompetensi berbasis laut dan pulau-pulau kecil, maka Unpatti telah gagal mengartikulasikan jati dirinya sendiri. Kita tidak butuh sekadar sarjana; kita butuh “Intelektual Maritim.”
Ketika universitas berubah menjadi mesin produksi yang memuntahkan ribuan lulusan setiap tiga bulan, ada kekhawatiran bahwa proses pematangan intelektual terkikis oleh kecepatan administratif. Gelar Sarjana, Magister, hingga Doktor jangan sampai menjadi komoditas yang hanya dinilai dari kecepatan durasi studi, mengabaikan kedalaman riset dan ketajaman analisis. Kita tidak butuh “pabrik ijazah”; kita butuh pusat inkubasi pemikiran.
Paradoks Maluku: Kaya Sumber Daya, Miskin Penyerapan
Angka 1.340 bukanlah jumlah yang sedikit untuk ukuran daerah seperti Maluku. Tantangan terbesarnya adalah relevansi. Maluku adalah provinsi kepulauan dengan potensi Blue Economy yang masif, namun apakah kurikulum di Unpatti sudah benar-benar “berbau laut”?
Sangat ironis jika lulusan Unpatti masih harus berbondong-bondong mengantre menjadi tenaga honorer atau pegawai administratif, sementara sektor perikanan modern, pengelolaan energi, dan pariwisata strategis di Maluku justru dikendalikan oleh tenaga ahli dari luar daerah. Unpatti memiliki beban moral untuk memastikan bahwa lulusannya tidak hanya mahir menghafal teori di kelas, tetapi juga mampu menjinakkan tantangan geografis Maluku yang kompleks.
Tanggung Jawab Unpatti: Membumikan Lautan
Unpatti memikul tanggung jawab besar untuk memastikan PIP ini menjadi senjata praktis bagi alumni, melalui tiga langkah krusial:
- Relevansi, Bukan Sekadar Kelulusan: Unpatti bertanggung jawab memastikan bahwa ilmu yang diberikan relevan dengan realitas lapangan. Lulusan tidak boleh hanya unggul di transkrip, tetapi gagap di dunia kerja. Kampus harus memiliki data penelusuran alumni (tracer study) yang transparan dan dipublikasikan, maka wisuda hanyalah ritual administratif, bukan keberhasilan pendidikan. Pertanyaan tajamnya adalah:
- Berapa persen lulusan Unpatti terserap kerja dalam 6–12 bulan?
- Seberapa banyak yang bekerja sesuai bidang keilmuan?
- Hilirisasi Riset Kelautan ke Tangan Alumni: Unpatti tidak boleh hanya puas dengan publikasi jurnal. Hasil riset PIP tentang pemberdayaan masyarakat pesisir harus menjadi model bisnis atau program kerja bagi para alumni untuk diimplementasikan di desa-desa kelahiran mereka.
- Kurikulum yang “Basah”: Unpatti bertanggung jawab membuktikan bahwa kurikulumnya telah bertransformasi. Lulusan harus dibekali kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim dan krisis pangan global dari perspektif kelautan. Jika tidak, PIP hanya akan menjadi mitos akademik belaka.
- Filosofi “Bina Mulia”: Kata “Mulia” menuntut integritas moral. Di tengah karut-marut eksploitasi sumber daya alam, lulusan Unpatti harus menjadi benteng terakhir yang menjaga laut Maluku dari kehancuran, bukan justru menjadi kaki tangan korporasi yang merusak ekosistem kepulauan.
Kesimpulan: Pulanglah ke Laut
Wisuda 1.340 lulusan ini adalah ujian bagi visi “Unpatti Unggul, Bersinar Menuju World Class University.” Keunggulan global tidak akan tercapai dengan meniru universitas kontinental (daratan). Keunggulan Unpatti justru terletak pada kedalamannya menyelami potensi lautnya.
Kepada para lulusan: Jangan biarkan ijazah Anda kering di daratan. Jadilah “Garam dan Terang” sebagaimana pesan Rektor, namun dalam konteks Maluku, jadilah garam yang memberi rasa pada industri kelautan kita, dan terang yang memandu arah masa depan kepulauan ini.
Jika “Bina Mulia Ke Lautan” gagal diartikulasikan dalam karya nyata para alumni, maka 1.340 toga yang terbang di Januari 2026 ini tak lebih dari sekadar perayaan statistik yang kehilangan jiwanya.