“Ia Menanggung Luka Kita” — Sebuah Refleksi Jumat Agung dalam Bayang-Bayang Perang dan Krisis Global

Share:

Dua ribu tahun yang lalu, di sebuah bukit bernama Golgota, seorang manusia tak bersalah digantung di kayu salib. Langit menjadi gelap. Bumi bergoncang. Dan dunia seolah berhenti bernapas.

Hari ini, langit di Iran, Gaza, di Yaman, di Sudan, di Ukraina — juga gelap. Bukan karena gerhana, tetapi karena asap rudal, bara kebencian, dan api perang yang tak kunjung padam.

Jumat Agung berbicara langsung ke jantung dunia yang sedang sakit ini.

Konflik di Timur Tengah — yang telah merenggut ratusan ribu nyawa — kini bukan sekadar tragedi kemanusiaan regional. Ia telah menjadi krisis global yang merambat diam-diam ke meja makan jutaan keluarga di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Selat Hormuz terancam. Jalur energi dunia bergolak. Harga BBM merayap naik. Inflasi menggerus daya beli. Nelayan di Ambon, petani di Flores, buruh di Surabaya — mereka merasakan getaran dari perang yang jaraknya ribuan kilometer. Inilah wajah globalisasi yang kerap kita lupakan: penderitaan seseorang di belahan bumi lain adalah penderitaan kita juga.

Dan di sinilah Jumat Agung menemukan relevansinya yang paling dalam.

Yesus tidak mati karena kecelakaan sejarah. Ia mati karena keberanian untuk berdiri di tengah sistem yang korup, kekuasaan yang lalim, dan kekerasan yang dilembagakan — dan menolak membalas dengan cara yang sama.

Ketika Petrus menghunus pedang di Taman Getsemani, Yesus memerintahkan, “Sarungkan pedangmu.” Ini bukan kelemahan — ini adalah pilihan yang paling revolusioner yang pernah dibuat dalam sejarah umat manusia: memutus rantai kekerasan dengan menyerapnya, bukan memantulkannya kembali.

Perang di Timur Tengah hari ini, seperti setiap perang sepanjang sejarah, adalah tragedi yang lahir dari rantai yang sama: balas dendam atas balas dendam, luka di atas luka, generasi demi generasi yang dibesarkan dalam trauma. Tidak ada pemenang dalam spiral kekerasan. Yang ada hanya derajat kekalahan yang berbeda.

Salib Kristus adalah sebuah pernyataan teologis sekaligus politis: kekerasan tidak memiliki kata terakhir.

Krisis energi yang dipicu ketidakstabilan Timur Tengah mengingatkan kita pada sesuatu yang sangat mendasar — bahwa akses terhadap kehidupan yang layak, terhadap terang dan kehangatan, tidak boleh menjadi hak istimewa segelintir orang.

Yesus yang disalibkan adalah Yesus yang sama yang pernah memberi makan lima ribu orang dari lima roti dan dua ikan. Ia peka terhadap kelaparan fisik sebagaimana Ia peka terhadap kelaparan rohani. Jumat Agung menantang setiap orang percaya untuk bertanya dengan jujur:

Apakah kita cukup marah terhadap ketidakadilan yang membuat si kaya makin kaya dari perang, sementara si miskin membayar harganya dalam senyap?

Para pedagang senjata meraup untung. Perusahaan minyak besar mencatat rekor laba. Sementara seorang ibu di pengungsian Gaza memasak dengan kayu bakar, dan seorang buruh harian di Manado memangkas pengeluarannya karena harga gas naik lagi.

Inilah salib kontemporer kita — ketika keserakahan dan kekuasaan mengorbankan yang lemah.

Ada bahaya besar dalam spiritualitas yang terlalu “surgawi” — yang hanya memandang ke atas sambil menutup mata terhadap bumi yang berdarah. Jumat Agung bukan undangan untuk larut dalam kesedihan privat, melainkan panggilan untuk hadir bersama mereka yang menderita, persis seperti Maria, Yohanes, dan Maria Magdalena yang memilih tinggal di bawah salib ketika yang lain melarikan diri.

Hadir bersama yang menderita — itulah inti dari Jumat Agung.

Dalam konteks krisis global hari ini, itu berarti:

  • Bersuara ketika gencatan senjata terus dipolitisasi demi kepentingan sempit.
  • Berdoa dengan kesungguhan, bukan sebagai ritual, tetapi sebagai bentuk perlawanan rohani terhadap dusta dan kekerasan.
  • Hidup dengan lebih sederhana — menyadari bahwa konsumsi kita terhubung dengan nasib orang lain di belahan bumi yang jauh.
  • Menolak kebencian terhadap siapapun berdasarkan agama, ras, atau kebangsaan — karena Yesus wafat untuk semua manusia, bukan untuk satu kelompok saja.

Jumat Agung adalah hari kegelapan. Tetapi ia bukan hari terakhir.

Krisis global, perang, krisis energi, ketidakadilan — semua ini adalah Jumat Agung kolektif umat manusia. Gelap dan nyata. Menyakitkan dan melelahkan.

Namun iman Kristiani tidak berhenti di bukit Golgota. Ia bergerak menuju kubur yang kosong. Ia menyatakan bahwa kematian, kekerasan, dan kegelapan tidak memiliki kuasa terakhir atas sejarah.

Ini bukan optimisme yang naif. Ini adalah harapan yang sudah teruji oleh penderitaan — harapan yang lahir justru dari dalam kedalaman luka yang paling dalam.

Dunia sedang menantikan orang-orang yang mau turun dari menara gading mereka, berdiri di bawah salib realitas, dan berkata dengan hidup mereka:

“Saya percaya bahwa kasih lebih kuat dari kebencian. Bahwa damai lebih kuat dari perang. Dan bahwa terang, sekecil apapun, selalu mengalahkan kegelapan.”


Selamat merenungkan Jumat Agung. Kiranya wafat Kristus bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan cermin yang menantang kita untuk melihat dunia — dan diri kita sendiri — dengan lebih jujur.

🕯️ Eli, Eli, lama sabakhtani? — dan dalam kesunyian itulah, Allah hadir paling dalam.

error: Content is protected !!