Three Times a Lady – Cinta Tiga Musim: Refleksi Alkitabiah tentang Kasih yang Bertumbuh dalam Perjalanan Hidup

Share:

Ada lagu lawas yang bagi generasi 70–90-an pasti tak asing: “You’re once, twice, three times a lady… and I love you.” Dinyanyikan oleh The Commodores dengan vokal Lionel Richie, lagu ini awalnya terdengar seperti romansa sekuler biasa. Namun, di balik lirik sederhananya tersimpan kebenaran yang mendalam—bahkan sangat selaras dengan hikmat Alkitab.

Lagu ini lahir dari momen haru: Lionel Richie mendengar ayahnya berterima kasih kepada ibunya di hari ulang tahun pernikahan mereka. Sang ayah berkata, “Terima kasih, sayang. Kau telah menjadi istri yang luar biasa, ibu yang luar biasa, dan sahabat yang luar biasa.” Dari sanalah muncul ungkapan: “Three times a lady.”

Dan justru di situlah kita menemukan metafora ilahi tentang cinta tiga musim—sebuah perjalanan kasih yang bertumbuh sepanjang hidup pernikahan.

Musim Semi: Cinta yang Menggebu

Musim semi adalah masa pacaran dan awal pernikahan, ketika cinta berapi-api seperti yang digambarkan dalam Kitab Kidung Agung. Ini adalah waktu ketika seorang pria berkata, “Aku rela mati untukmu,” kepada kekasihnya.

Cinta ini penuh gairah, seperti nyala api Tuhan (shalhevet ya), sebagaimana tertulis dalam Kidung Agung 8:6: “Taruhlah aku seperti meterai di hatimu… karena kuat seperti maut cinta itu.” Dalam konteks Hari Raya Paskah, musim semi melambangkan pembebasan dan awal baru, sebagaimana kasih Kristus yang menebus gereja-Nya (Efesus 5:25-28).

Musim Panas: Cinta Tanpa Syarat

Ketika anak-anak datang, rumah tangga memasuki musim panas—masa panen, tetapi juga masa ujian. Di sini, istri bukan hanya kekasih, tapi ibu yang memberi hidup, merawat, dan mengorbankan diri demi keluarga.

Namun, musim panas tak selalu cerah. Ada masa paceklik—usaha gagal, sakit datang, atau tekanan hidup menguji komitmen. Di sinilah cinta diuji: apakah masih bertahan ketika kekayaan lenyap, ketika kecantikan memudar, ketika kelelahan menghampiri?

Kitab Rut menjadi teladan sempurna. Rut tetap setia pada Naomi, mertuanya yang renta dan miskin, meski ia masih muda dan bisa menikah lagi. Cintanya bukan karena untung, tapi karena kasih setia tanpa syarat (hesed). Inilah cinta musim panas: unconditional love yang tetap menyala di tengah badai.

Musim Gugur: Cinta yang Menjadi Persahabatan

Ketika anak-anak telah dewasa dan pergi membangun hidup sendiri, suami-istri kembali berdua. Di sinilah musim gugur tiba—masa refleksi, kedalaman, dan keintiman yang matang.

Sang suami menatap istrinya dan berkata dalam hati: “Lu lagi, lu lagi… Ternyata hartaku hanyalah kamu.” Di usia senja, cinta berubah menjadi persahabatan sejati—satu-satunya yang menemani hingga akhir hayat.

Inilah pesan utama Pengkhotbah 9:9:

“Nikmatilah hidup dengan istri yang kau kasihi sepanjang umur hidupmu yang sia-sia di bawah matahari…”

Perhatikan: “istri” (bentuk tunggal, ishah), bukan “istri-istri.” Padahal penulisnya—Raja Salomo—memiliki 700 istri dan 300 gundik! Ironis, bukan? Justru orang yang paling “berpengalaman” dalam cinta justru mengakui: “Aku tak punya istri seperti Rut. Aku tak punya cinta sejati.”

Di sinilah Tuhan berbicara melalui paradoks: dari mulut seorang poligami, Ia menyuarakan ideal monogami—kasih yang setia, eksklusif, dan bertahan seumur hidup.

Musim Dingin: Cinta yang Kekal

Dan ketika napas terakhir ditarik, tubuh menjadi dingin—itu adalah musim dingin. Tapi bagi orang percaya, ini bukan akhir. Ini adalah pintu menuju pernikahan Anak Domba (Wahyu 19:7)—dimana kasih yang kita latih di bumi mencapai kepenuhannya di surga.

Empat musim kehidupan: semi, panas, gugur, dingin. Tiga kali jatuh cinta kepada perempuan yang sama. Bukan karena bosan, tapi karena semakin mengenal, semakin menghargai, semakin mencintai.

Three Times a Lady: Panggilan bagi Para Suami

Pesan ini memang ditujukan khusus kepada para suami:

“Jatuh cintalah tiga kali kepada perempuan yang sama.”

  • Pertama, sebagai kekasih (musim semi).
  • Kedua, sebagai ibu (musim panas).
  • Ketiga, sebagai sahabat sejati (musim gugur).

Dan di balik ketiganya, ada Trinitas Kasih Ilahi:

  • Kasih Bapa yang memberi hidup,
  • Kasih Putra yang menebus,
  • Kasih Roh Kudus yang menghibur.

Seperti Kristus mengasihi jemaat (Efesus 5:25), demikianlah suami harus mengasihi istrinya—bukan karena apa yang ia berikan, tapi karena siapa dia: anugerah Tuhan dalam hidupmu.

Jangan Tunda Kebahagiaan yang Sederhana

Hidup ini singkat—hevel, seperti “setarikan napas” (Pengkhotbah 1:2). Kita tak tahu siapa yang lebih dulu dipanggil Tuhan. Maka, jangan sia-siakan hari ini.

Ucapkan “Terima kasih, sayang.”
Peluk dia tanpa alasan.
Hargai kehadirannya—bukan sebagai fungsi, tapi sebagai berkat.

Karena kebahagiaan sejati bukan di luar sana.
Ia ada di rumahmu.
Di meja makan.
Di secangkir teh yang ia seduh pagi ini.

Penutup: Semua Indah pada Waktunya

Seperti lagu yang mengawali dan mengakhiri ibadah itu:

“If I had to live my life over again, dear… I’d spend each and every moment with you.”

Bukan dengan orang lain.
Bukan di masa lalu yang ideal.
Tapi dengan dia—di sini, sekarang, dalam kehidupan nyata yang fana namun penuh makna.

Three times a lady.
Three seasons of love.
One lifetime of grace.

Dan di akhir perjalanan, ketika pondok daun ini runtuh, kita akan bersama—bukan karena kebetulan, tapi karena kasih yang setia dari awal hingga akhir.

Shalom.


Sumber: 👇

CINTA TIGA MUSIM – Three Times A Lady | Dr. Rita Wahyu Wulandari
error: Content is protected !!