REFLEKSI IMAN • IN MEMORIAM
Perjuangan yang Tak Pernah Putus
Mengenang seorang sahabat dalam iman, kasih, dan perjuangan
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
— Matius 22:39
Kemarin, seorang sahabat telah pergi untuk selamanya.
Kami bersahabat sejak sama-sama menjalani studi S3. Kami pernah duduk bersama, berbagi pikiran, melewati pergumulan akademik, dan membangun persahabatan yang tidak berhenti ketika studi berakhir. Ada ikatan lain yang kemudian membuat persahabatan kami semakin dalam: sejak 2023, kami sama-sama berjuang melawan kanker.
Saya dengan carcinoma colon (kanker usus besar). Dia dengan carcinoma mammae (kanker payudara).
Lebih dari tiga tahun, sahabat saya berjuang. Saya tahu, perjuangan melawan kanker bukan sekadar urusan tubuh yang kesakitan, obat-obatan, kemoterapi, atau hasil pemeriksaan laboratorium. Ada perjuangan batin yang tidak selalu terlihat. Ada malam-malam panjang ketika pikiran berkelana ke tempat yang tidak pernah kita inginkan. Ada ketakutan, kelelahan, harapan yang naik turun, dan pertanyaan-pertanyaan yang kadang tidak sanggup kita ucapkan kepada siapa pun.
Terlebih lagi, sahabat saya bukan hanya seorang akademisi. Ia juga seorang pelayan Tuhan, seorang Majelis Gereja Protestan Maluku (GPM). Selama sisa hidupnya, ia mengabdikan diri untuk melayani Tuhan dan umat-Nya.
Namun, pada titik tertentu dalam perjuangannya, muncul sebuah pertanyaan yang begitu mengguncang hati: “Di mana Tuhan?”
Pertanyaan itu terus terngiang dalam pikiran saya.
Bagaimana mungkin seseorang yang telah melayani Tuhan, yang selama ini menolong orang lain untuk bertahan dalam iman, pada akhirnya harus bergumul dengan pertanyaan tentang kehadiran Tuhan dalam penderitaannya sendiri?
Tetapi semakin saya merenungkannya, semakin saya menyadari bahwa pertanyaan itu bukanlah sesuatu yang harus kita hakimi. Itu adalah jeritan seorang manusia yang sedang berada di batas kekuatannya. Seorang manusia yang lelah. Seorang manusia yang kesakitan. Seorang manusia yang mungkin sudah terlalu lama berusaha bertahan.
Dan bukankah manusia tetaplah manusia, sekalipun ia seorang pelayan Tuhan?
Ketika orang yang biasa menguatkan orang lain membutuhkan penguatan
Ada sesuatu yang sering luput dari perhatian kita dalam kehidupan pelayanan gereja. Kita terbiasa melihat pelayan Tuhan sebagai orang yang kuat, sabar, penuh pengharapan, dan selalu siap menolong. Ketika umat berduka, merekalah yang datang menghibur. Ketika umat kehilangan arah, merekalah yang menunjukkan jalan. Ketika umat bergumul dengan iman, merekalah yang mengingatkan tentang kasih dan penyertaan Tuhan.
Namun, siapa yang memperhatikan mereka ketika mereka sendiri mulai kehilangan kekuatan?
Siapa yang bertanya apakah mereka baik-baik saja, bukan sekadar apakah pelayanan berjalan dengan baik?
Siapa yang memberi mereka ruang untuk menangis, mengeluh, merasa takut, atau bahkan mengakui bahwa mereka sudah tidak sanggup lagi?
Kadang-kadang, tanpa disadari, pelayan Tuhan begitu sibuk mengasihi dan melayani orang lain sampai lupa bahwa dirinya sendiri juga membutuhkan kasih dan pelayanan.
Mereka merasa harus tetap kuat karena banyak orang bergantung pada mereka. Mereka merasa harus tetap hadir karena ada tugas yang menanti. Mereka mungkin terbiasa mendahulukan kebutuhan umat, keluarga, dan gereja, sementara kebutuhan tubuh dan jiwanya sendiri ditempatkan paling belakang.
Sampai suatu ketika, tubuh tidak lagi sanggup diajak berkompromi.
Kanker tidak mengenal jabatan dalam gereja. Stadium 3 atau 4 tidak menjadi lebih ringan hanya karena seseorang adalah Majelis. Rasa sakit tidak berkurang hanya karena seseorang rajin berdoa. Dan air mata tidak kehilangan maknanya hanya karena seseorang pernah menghibur begitu banyak orang dengan firman Tuhan.
Pelayan Tuhan juga bisa lelah. Pelayan Tuhan juga bisa takut. Pelayan Tuhan juga bisa bertanya, “Mengapa saya harus mengalami semua ini?”
Dan mereka tidak menjadi kurang beriman hanya karena berani mengakui pergumulan itu.
Pelayan Tuhan juga manusia. Mereka yang biasa menguatkan orang lain pun membutuhkan ruang untuk dikuatkan.
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”
Yesus menyampaikan perintah ini dalam Matius 22:39. Kita sering menekankan bagian pertama: kasihilah sesamamu manusia. Kita mengajarkan kepedulian, pengorbanan, pelayanan, dan kesediaan untuk memberikan diri bagi orang lain.
Semua itu benar. Tetapi ada bagian lain yang tidak boleh kita abaikan: seperti dirimu sendiri.
Di dalam perintah itu, Yesus menempatkan kasih kepada sesama dalam hubungan dengan kasih kepada diri sendiri. Mengasihi sesama bukan berarti meniadakan diri sendiri. Melayani orang lain bukan berarti mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Berkorban bukan berarti membiarkan diri hancur tanpa pertolongan.
Kasih yang diajarkan Yesus bukanlah undangan untuk membenci atau mengabaikan diri sendiri demi orang lain. Sebaliknya, kasih itu mengajak kita memperlakukan sesama dengan kepedulian yang juga kita perlukan bagi diri kita sendiri.
Jika kita ingin orang lain mendapatkan perawatan ketika sakit, bukankah kita juga perlu menerima perawatan ketika tubuh kita sakit?
Jika kita ingin orang lain beristirahat ketika kelelahan, bukankah kita juga berhak beristirahat?
Jika kita meminta umat untuk jujur tentang ketakutan dan pergumulan mereka, bukankah pelayan Tuhan juga boleh mengakui bahwa dirinya sedang takut?
Jika kita mendorong orang lain untuk mencari pertolongan, bukankah kita sendiri juga perlu berani meminta pertolongan?
Mengasihi diri sendiri bukanlah egoisme. Mengakui keterbatasan bukanlah kegagalan iman. Menerima pertolongan bukanlah tanda kelemahan rohani.
Justru dengan menyadari bahwa dirinya juga manusia yang rapuh, seorang pelayan Tuhan dapat belajar mengasihi dengan lebih utuh. Ia tidak harus selalu menjadi orang yang memberi kekuatan; sesekali ia juga perlu menjadi orang yang menerima kekuatan dari orang lain.
Sebab pelayan Tuhan bukanlah sumber kekuatan yang tidak pernah habis. Ia pun membutuhkan orang lain untuk menopangnya.
Ketika pertanyaan “Di mana Tuhan?” tidak lagi mudah dijawab
Saya tidak berani menyederhanakan pertanyaan sahabat saya. Saya juga tidak ingin menjawabnya dengan kalimat-kalimat rohani yang terdengar benar, tetapi mungkin terasa kosong bagi seseorang yang sedang menanggung penderitaan begitu berat.
Ketika rasa sakit berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, mengatakan bahwa seseorang hanya perlu lebih banyak berdoa bisa menjadi beban tambahan bagi jiwanya. Ketika tubuh semakin lemah, kita tidak selalu membutuhkan penjelasan tentang mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan. Kadang-kadang, kita hanya membutuhkan seseorang yang bersedia duduk di samping kita, mendengarkan tanpa menghakimi, dan tidak terburu-buru memberikan jawaban.
Bukankah Alkitab sendiri memberi ruang bagi ratapan?
Dalam Mazmur 22:2, pemazmur berseru, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Bahkan Yesus sendiri, di kayu salib, mengucapkan seruan yang sama sebagaimana dicatat dalam Matius 27:46.
Ia ada di bibir orang-orang beriman, bahkan di bibir Anak Allah. Tuhan yang mendengar seruan di Golgota juga mendengar seruan di kamar sakit itu.
Karena itu, pertanyaan “Di mana Tuhan?” bukanlah lawan dari iman. Kadang-kadang justru lahir dari kedalaman iman yang sedang terluka.
Iman tidak selalu tampil dalam bentuk keyakinan yang tenang. Kadang-kadang, iman hadir dalam bentuk jeritan. Kadang-kadang, doa bukan lagi rangkaian kata yang indah, melainkan air mata dan keheningan. Kadang-kadang, seseorang tidak lagi mampu mengatakan bahwa ia kuat, dan yang tersisa hanyalah keinginan agar penderitaannya berakhir.
Ketika sahabat saya sampai pada titik itu, saya tidak ingin menilainya sebagai seseorang yang gagal dalam iman. Saya ingin mengingatnya sebagai manusia yang telah berjuang begitu lama, yang memiliki batas kekuatan, dan yang membutuhkan belas kasih sebagaimana manusia lainnya.
Saya tidak tahu seluruh pergumulan batin yang ia alami. Saya tidak dapat memastikan apa yang sesungguhnya ia rasakan pada saat-saat terakhirnya. Namun, saya percaya bahwa pertanyaan dan air matanya tidak membuatnya kehilangan martabat sebagai manusia yang dikasihi Tuhan.
Kita tidak perlu mengetahui semua jawaban untuk tetap hadir dalam kasih.
Ketika seseorang berjuang untuk mati, bukan lagi untuk hidup
Ada satu hal yang sangat berat untuk saya kenang: sahabat saya sampai pada titik ketika ia berjuang untuk mati, bukan lagi untuk hidup.
Kalimat itu menyimpan kelelahan yang sulit diukur oleh orang yang tidak mengalaminya sendiri. Setelah perjuangan yang begitu panjang, mungkin yang paling ia dambakan bukan lagi tambahan waktu yang dipenuhi rasa sakit, melainkan kelegaan dari penderitaan yang tak tertanggungkan.
Saya tidak menuliskan ini untuk membenarkan keputusasaan, apalagi untuk menghakimi pilihan atau pergumulan batinnya. Saya menuliskannya karena kita perlu berani melihat kenyataan bahwa penderitaan yang berkepanjangan dapat menguras bukan hanya tubuh, tetapi juga daya tahan jiwa seseorang.
Di titik seperti itu, yang dibutuhkan bukan teguran bahwa ia kurang beriman. Bukan pula tuntutan agar ia terus terlihat kuat demi orang-orang yang dilayaninya.
Yang dibutuhkan adalah kehadiran, kelembutan, pendampingan, pertolongan medis, dan dukungan yang tidak membuatnya merasa bersalah karena sudah kelelahan.
Mungkin kita tidak mampu menghilangkan rasa sakitnya. Mungkin kita tidak mampu menjawab semua pertanyaannya. Tetapi kita masih dapat memastikan bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Dan jika kita sungguh-sungguh percaya bahwa setiap manusia berharga di mata Tuhan, kita juga harus belajar menghormati martabat orang yang sedang menderita, mendengarkan keinginannya dengan sungguh-sungguh, dan memastikan bahwa ia mendapatkan perawatan serta pendampingan yang layak.
Kasih tidak selalu berarti mendesak seseorang untuk terus bertahan dengan cara yang kita kehendaki. Kasih juga berarti hadir di tengah penderitaannya, mencari pertolongan yang tepat, dan tidak membiarkan rasa sakitnya menjadi sesuatu yang harus ia tanggung sendirian.
Sebuah pelajaran bagi gereja dan para pelayan Tuhan
Kepergian sahabat saya meninggalkan duka. Namun, peristiwa ini juga mengajak saya merenungkan kembali kehidupan pelayanan kita.
Jangan sampai gereja begitu sibuk memikirkan bagaimana pelayanannya menjangkau umat, tetapi lupa menjangkau orang-orang yang selama ini menjalankan pelayanan itu.
Jangan sampai seorang Majelis selalu ditanya tentang tugasnya, tetapi tidak pernah ditanya tentang kesehatannya.
Jangan sampai seorang pendeta, penatua, diaken, pengurus sektor/unit, atau pelayan gereja lainnya merasa harus menyembunyikan rasa sakitnya karena takut dianggap lemah.
Jangan sampai kalimat “Tuhan pasti menolong” menjadi pengganti bagi kehadiran nyata, perhatian, bantuan biaya pengobatan, pendampingan psikologis, atau sekadar waktu untuk mendengarkan.
Gereja perlu membangun budaya pelayanan yang tidak hanya mengajarkan pengorbanan, tetapi juga merawat mereka yang berkorban. Bukan hanya mengutus orang untuk melayani, tetapi juga memastikan bahwa mereka memiliki ruang untuk beristirahat, mendapatkan pertolongan, dan menerima kasih.
Sebab, pelayanan bukanlah perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling sanggup berkorban. Dan kesetiaan kepada Tuhan bukanlah kewajiban untuk mengabaikan tubuh dan jiwa sendiri.
Kita tidak boleh menunggu seorang pelayan Tuhan jatuh sakit parah untuk menyadari bahwa ia juga membutuhkan perhatian. Kita tidak boleh menunggu seseorang kehilangan harapan untuk mulai bertanya apakah selama ini ia sungguh-sungguh didengarkan.
Mengasihi sesama seperti diri sendiri berarti membangun komunitas yang saling menjaga. Bukan hanya komunitas yang pandai memberikan nasihat rohani, tetapi juga komunitas yang bersedia hadir ketika nasihat saja tidak cukup.
Pada akhirnya, kita semua adalah manusia yang membutuhkan kasih
Kini, sahabat saya telah pergi. Saya tidak dapat lagi berbagi cerita dengannya, berdiskusi tentang banyak hal, atau bertukar pengalaman tentang perjuangan melawan kanker.
Sebagai sesama penyintas yang masih melanjutkan perjalanan, kehilangan ini membuat saya kembali menyadari betapa rapuhnya kehidupan. Kita dapat memiliki pendidikan tinggi, kedudukan, pengalaman pelayanan, dan iman yang telah kita pelihara selama bertahun-tahun. Namun, di hadapan penyakit dan kematian, kita tetap manusia yang membutuhkan pertolongan, penghiburan, dan kasih.
Saya ingin mengenang sahabat saya bukan hanya sebagai seorang Majelis GPM yang melayani Tuhan dan umat-Nya, tetapi juga sebagai seorang sahabat yang telah berjuang dengan segala kekuatan yang dimilikinya.
Saya tidak ingin pertanyaan terakhirnya menjadi alasan bagi siapa pun untuk meragukan imannya. Sebaliknya, pertanyaan itu hendaknya menjadi cermin bagi kita: sudahkah kita menjadi gereja yang sungguh-sungguh hadir bagi mereka yang menderita? Sudahkah kita mengasihi para pelayan Tuhan, bukan hanya karena pelayanan yang mereka berikan, tetapi karena mereka adalah manusia yang berharga?
Dan bagi saya sendiri, ayat Matius 22:39 kini terasa semakin dalam maknanya.
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
— Matius 22:39
Mungkin selama ini kita terlalu sering membaca ayat itu sebagai perintah untuk terus memberi. Padahal, di dalamnya juga ada pengingat bahwa kita tidak boleh melupakan diri sendiri. Kita perlu belajar menerima kasih, mengakui keterbatasan, meminta pertolongan, dan memberi ruang bagi tubuh serta jiwa untuk dirawat.
Kita dipanggil untuk mengasihi sesama. Tetapi kita juga perlu belajar menerima kenyataan bahwa diri kita sendiri adalah bagian dari sesama yang harus dikasihi.
Pelayan Tuhan juga perlu dilayani, orang yang biasa menguatkan juga perlu dikuatkan, dan orang yang sepanjang hidupnya memberi kasih juga perlu mengalami kasih itu sendiri.
Selamat jalan, sahabatku.
Terima kasih untuk persahabatan, perjuangan, dan pelajaran kehidupan yang telah kita lalui bersama. Saya tidak tahu semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menyertai perjalananmu. Namun, saya berharap, ketika orang-orang mengenang hidup dan pelayananmu, mereka tidak hanya mengingat betapa banyaknya engkau telah memberi, tetapi juga belajar bahwa orang yang memberi pun perlu dirawat.
Kiranya Tuhan menerima hidupmu dalam kasih dan damai-Nya.
Dan kiranya kepergianmu mengingatkan kami yang masih melanjutkan perjalanan ini: jangan terlalu sibuk melayani orang lain sampai lupa mengasihi diri sendiri.
Karena kasih yang sejati tidak meminta kita berhenti menjadi manusia demi menjadi pelayan Tuhan. Kasih justru mengajar kita untuk merawat kemanusiaan kita, sambil terus belajar mengasihi Tuhan dan sesama.