Malam itu, angin sepoi-sepoi menyapu jalanan di sekitar Tugu Trikora, namun suasana tenang tak bertahan lama. Suara knalpot motor yang meraung-raung menguasai udara, seolah memanggil setiap perhatian yang ada di sekitar. Di pinggir jalan, sekelompok pemuda berkumpul dengan gelas plastik dan botol alkohol yang berderet di samping motor-motor mereka.
Di antara kerumunan, Leo duduk di atas motornya sambil menyesap minuman dari gelas plastik. Tatapannya tajam, tertuju pada Arman yang tengah tertawa bersama teman-temannya. Sejak balapan tadi, Leo merasa dihina. Motornya yang dikenal kencang kalah hanya karena Arman, menurutnya, curang. “Dia sengaja senggol rodaku,” batinnya, penuh amarah.
Arman, di sisi lain, merasa puas dengan kemenangannya. “Leo memang selalu besar kepala,” katanya kepada salah satu temannya, cukup keras untuk didengar Leo. Kalimat itu menjadi pemicu. Dengan langkah cepat, Leo mendekati Arman. “Apa kau bilang tadi?” tanyanya dingin, namun penuh ancaman.
Arman mendongak, matanya setengah mabuk. “Aku bilang kau kalah. Terima saja, jangan cari alasan,” jawabnya sambil tertawa kecil.
Leo langsung mencengkeram kerah baju Arman. “Jangan main-main denganku, Man!” teriak Leo. Suasana langsung berubah tegang. Beberapa pemuda mencoba melerai, tetapi Arman malah mendorong Leo hingga hampir terjatuh.
“Apa kau mau cari masalah?” tantang Arman, suaranya keras dan penuh emosi.
Pertengkaran itu menjadi pusat perhatian. Beberapa orang mulai berteriak, ada yang menyemangati, ada pula yang panik. Namun, emosi sudah terlanjur meledak. Dalam sekejap, dorong-mendorong berubah menjadi perkelahian. Leo melayangkan pukulan, dan Arman membalas. Teman-teman mereka ikut terlibat, hingga suasana berubah menjadi kacau balau.
Botol-botol kaca beterbangan, pecah di jalanan. Beberapa motor tumbang akibat didorong. Kerumunan menjadi tak terkendali. Di kejauhan, beberapa warga yang resah mengamati dari balik jendela rumah mereka. Salah seorang di antaranya, seorang ibu paruh baya, akhirnya memberanikan diri menghubungi polisi.
Tak lama kemudian, suara sirene memecah kegaduhan. Kerumunan mulai bubar, beberapa pemuda mencoba melarikan diri dengan motor mereka. Namun, polisi sudah mengepung area tersebut. Leo dan Arman, yang masih saling melayangkan ancaman meski darah mengalir dari wajah mereka, ditangkap bersama beberapa pemuda lainnya.
Malam itu, Tugu Trikora, yang biasanya menjadi tempat berkumpul dan bersantai, menjadi saksi bisu dari kehancuran kecil akibat emosi yang tak terkendali. Saat duduk di dalam mobil polisi, Leo dan Arman saling diam, menyadari bahwa malam yang seharusnya biasa berubah menjadi bencana karena kebodohan mereka sendiri.
Berita tentang keributan ini tersebar cepat di lingkungan sekitar, menjadi peringatan bagi warga dan pengingat bahwa ruang publik bukan tempat untuk amarah dan kesembronoan. Bagi Leo dan Arman, malam itu adalah awal dari refleksi panjang tentang konsekuensi dari setiap tindakan mereka.
Di atas KM. Labobar – 12 Januari, 2025