Video tentang bocah Trenggalek, DeLiang Al Farabi, menjadi viral di media sosial. Dalam video itu, DeLiang mengikuti webinar berbahasa Inggris yang dihadiri siswa SD dan SMP Polandia, di mana ia membagikan pengalamannya sebagai penulis muda.
Awal Perjalanan di Dunia Menulis
Sejak usia dini, DeLiang telah menunjukkan minat yang besar dalam menulis. Ia telah menerbitkan puluhan buku, sembilan di antaranya berupa novel dan semuanya berbahasa Inggris. Buku pertamanya berjudul DeLiang the Deer, sementara novel pertamanya berjudul A Tale of J: A Dark Winter. Beragam genre telah ia jajaki, mulai dari cerita anak-anak, novel fantasi, hingga komedi gelap. Kreativitas dan ketekunannya dalam menulis menghasilkan karya-karya yang tidak hanya menarik bagi pembaca di Indonesia, tetapi juga mendapat perhatian luas dari pembaca internasional.

Keberhasilan di Panggung Global
Beberapa karya DeLiang telah meraih pencapaian luar biasa. Dua novel karyanya, yakni A Tale of J Quirky Friends dan Stories of the Worst Bullies History, berhasil masuk dalam Top 15 Amazon Book Amerika dan Inggris di kategori Dark Comedy. Sementara novel fantasinya yang berjudul Rigel: The Last Guardian sempat menduduki posisi Top 50 Amazon Amerika dan Inggris.




Selain itu, buku-buku DeLiang tersedia dalam bentuk cetak dan Kindle di platform Amazon, dengan beberapa judul teratas seperti The Boy Who Become a Fairy Rigel: Two Books in One, A Tale of J: A Dark Winter, A Letter to Daisy, dan The Boy Who Become a Fairy Rigel: The Ultimate Battle.
Latar Belakang dan Inspirasi
Memiliki nama lengkap Muhammad DeLiang Al Farabi, ia lahir di Taipei, Taiwan pada 18 Juni 2012. DeLiang adalah anak sulung dari tiga bersaudara, dengan seorang adik perempuan bernama Daisy dan seorang adik laki-laki bernama Dirandra. DeLiang tumbuh besar di Bristol, Inggris, ketika kedua orang tuanya menempuh pendidikan doktoral di sana.
Setelah kembali ke Indonesia, orang tua DeLiang membangun platform edufic, yaitu kelas untuk keluarga Islam. DeLiang mendapatkan royalti pertamanya sebesar Rp 20 juta pada usia 10 tahun setelah menerbitkan tiga buku ilustrasi di usia tujuh tahun. Kini, ia tengah menyelesaikan novel terbarunya, The Battle of Badr, yang akan diterbitkan oleh penerbit di London.
Hobi membaca dan bakat menulis yang dimiliki DeLiang tentu saja diturunkan dari orang tuanya yang menyukai dunia literasi. Pada tahun 2023, DeLiang mengaku telah membaca 368 judul buku. Didikan dan dukungan penuh dari orang tuanya menjadi faktor utama yang mendorongnya untuk terus berkarya.
Akar Keluarga dari Maluku Utara
DeLiang berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang kuat dalam budaya Maluku Utara. Ayahnya, Ario Muhammad, berdarah Labuha—sebuah pulau ketiga di selatan Pulau Tidore. Ario sendiri lahir di Pulau Makian, sebuah pulau lain yang berjarak beberapa pulau dari Labuha. Karena itu, Ario menempuh pendidikan SMP dan SMA di kota yang lebih besar, yaitu Ternate.

“Abi is a good listener tapi bukan seorang yang bagus dalam melihat.”
Masa Depan yang Cerah
Dengan berbagai pencapaiannya sejauh ini, DeLiang Al Farabi telah membuktikan bahwa anak-anak Indonesia memiliki potensi besar di kancah global. Perjalanannya di dunia literasi masih panjang, dan besar kemungkinan ia akan terus menorehkan prestasi gemilang di masa depan. Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak anak muda untuk berani bermimpi, berkarya, dan membawa nama Indonesia ke panggung dunia.