Kota Tual kembali menunjukkan wajah kerukunan yang indah dalam perayaan malam takbiran tahun ini, Minggu (30/3/2025). Dalam suasana yang penuh syukur dan kebersamaan, ribuan umat Muslim menyambut datangnya Hari Raya Idulfitri dengan pawai obor yang megah, beriringan dengan kumandang takbir yang menggema di langit malam. Namun, yang membuat perayaan ini begitu istimewa adalah sambutan hangat dari umat Kristen yang tergabung dalam Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Tual. Di depan gereja mereka, suara trompet mengalun merdu, menyambut arak-arakan pawai dengan penuh kehangatan.
Simbol Toleransi di Kota Tual
Sebagai kota yang dihuni oleh masyarakat dengan keberagaman agama, Tual telah lama dikenal sebagai simbol keharmonisan di Maluku. Setiap tahunnya, malam takbiran di kota ini tidak hanya menjadi momen religius bagi umat Muslim, tetapi juga ajang kebersamaan yang melibatkan seluruh warga, tanpa memandang perbedaan kepercayaan.
Pawai obor yang berlangsung di berbagai sudut kota menyatukan masyarakat dalam suasana yang syahdu. Ribuan peserta, dari anak-anak hingga orang dewasa, berjalan dengan membawa obor yang menyala, menandai kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Sementara itu, gema takbir yang dikumandangkan menciptakan suasana yang menggetarkan hati, membangkitkan rasa persaudaraan yang mendalam.
Ketika rombongan pawai melewati Gereja GPM Tual, suasana semakin haru. Sejumlah jemaat yang telah bersiap di halaman gereja mulai meniup trompet mereka, menciptakan irama yang berpadu dengan suara takbir. Momen ini menjadi simbol nyata dari toleransi yang telah lama mengakar di Kota Tual—dua agama besar yang hidup berdampingan, saling menghormati, dan berbagi kegembiraan dalam perayaan keagamaan masing-masing.
Pesan Damai dari Para Pemimpin Agama
Wali Kota Tual, Hi. Akhmad Yani Renuat, dalam sambutannya mengungkapkan rasa bangga atas harmoni yang terus terjalin di kota ini. “Kota Tual adalah rumah bagi kita semua. Malam ini, kita menyaksikan bagaimana kebersamaan dan toleransi bukan hanya kata-kata, tetapi juga tindakan nyata. Semoga ini menjadi teladan bagi daerah lain di Indonesia.”
Dari pihak warga Kristen, seorang jemaat yang turut meniup trompet di depan gereja mengungkapkan bahwa keikutsertaan mereka dalam menyambut pawai takbiran adalah bentuk kasih dan kepedulian terhadap saudara-saudara Muslim. “Kami diajarkan untuk saling menghormati, dan malam ini adalah wujud nyata dari persaudaraan yang telah lama terjalin di kota ini.”
Sementara itu, seorang warga Muslim yang mengikuti pawai obor juga menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan oleh saudara-saudara Kristen mereka. “Kami merasa sangat dihargai. Inilah indahnya Kota Tual, di mana perbedaan bukan menjadi pemisah, tetapi justru menguatkan persaudaraan.”
Harapan untuk Masa Depan
Malam takbiran di Kota Tual bukan hanya sebuah tradisi, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga. Di tengah dunia yang kerap dilanda konflik berbasis perbedaan, masyarakat Kota Tual menunjukkan bahwa persatuan adalah kekuatan terbesar mereka.
Generasi muda yang hadir dalam perayaan ini diharapkan dapat meneruskan semangat kebersamaan ini. Dengan melihat langsung bagaimana toleransi terwujud dalam bentuk nyata, mereka akan tumbuh dengan nilai-nilai saling menghormati dan menghargai perbedaan.
Malam itu, pawai obor terus bergerak, suara trompet masih menggema, dan takbir tetap berkumandang. Kota Tual sekali lagi membuktikan bahwa kedamaian bukanlah sekadar impian, tetapi kenyataan yang bisa dirajut bersama dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hening malam yang dipenuhi cahaya obor, di antara gemuruh takbir dan dentingan trompet, ada satu pesan yang mengalun lirih di hati setiap orang: Kita berbeda, tetapi kita satu dalam persaudaraan.