Saya lahir dan tumbuh di Makassar, sebuah kota dengan keberagaman yang begitu kental. Di kampung tempat saya dibesarkan, mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun, saya yang beragama Kristen tidak pernah merasa asing. Toleransi dan kebersamaan menjadi nafas kehidupan di sana. Masa kecil hingga remaja saya habiskan di Batangase, sebuah desa di Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, yang letaknya tak jauh dari Bandara Hasanuddin yang lama.
Hidup dalam lingkungan yang berbeda keyakinan mengajarkan saya banyak hal. Salah satu kenangan yang selalu membekas di hati adalah bagaimana saya dan teman-teman Muslim saya merayakan momen-momen istimewa bersama, terutama Ramadan dan Lebaran.
Ramadan di Kampung: Harmoni yang Menyejukkan
Ketika Ramadan tiba, suasana kampung berubah menjadi lebih syahdu. Setiap malam, lantunan ayat suci Al-Quran terdengar dari masjid kecil di ujung jalan. Secara bergantian, teman-teman saya—Hamma, Rifai, Sitti, Ida, dan Yusra—sering mengajak saya ke masjid saat tarawih. Meskipun saya tidak ikut shalat, saya senang duduk di luar, menunggu mereka selesai beribadah. Sesekali, saya mengambil peran sebagai “penjaga sandal,” memastikan alas kaki mereka tetap aman di tempatnya.
Namun, yang paling seru adalah tradisi membangunkan sahur. Menjelang pukul tiga pagi, saya dan teman-teman berkeliling kampung dengan membawa alat-alat sederhana—kaleng bekas, kayu, dan botol—untuk dipukul-pukul. Kami berteriak lantang, “Sahur! Sahur! Bangun, sudah waktunya sahur!” Suara kami menggema diantara rumah-rumah yang masih gelap.
Saya memang tidak ikut berpuasa, tetapi melihat warga yang terbangun dengan senyuman dan rasa syukur memberi saya kebahagiaan tersendiri. Bagi saya, ini bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk kebersamaan yang tak ternilai.
Lebaran: Hari Bahagia untuk Semua
Ketika hari kemenangan tiba, kampung kami diselimuti suasana penuh suka cita. Sejak subuh, gema takbir berkumandang dari masjid. Semua orang mengenakan pakaian terbaik mereka, saling bermaaf-maafan, dan berkunjung ke rumah tetangga. Saya dan keluarga pun ikut larut dalam kegembiraan ini.
Saya masih ingat betapa menyenangkannya berkeliling kampung bersama teman-teman untuk bersilaturahmi. Setiap rumah menyuguhkan berbagai hidangan khas Lebaran seperti burassa, lappa-lappa, ketupat, ayam paleko, opor ayam, rendang, dan aneka kue. Tak ada yang bertanya apa agamaku atau dari keluarga mana aku berasal. Yang ada hanya tawa, kehangatan, dan kebersamaan yang tulus.
Di sore hari, kami biasanya berkumpul di lapangan desa. Ada yang bermain layangan, ada yang main asing-asing, dan ada pula yang sekadar berbincang dan bercanda. Saat itu, saya menyadari bahwa Lebaran bukan hanya milik teman-teman Muslim saya, tapi juga milik saya. Saya merasakan makna persaudaraan yang sesungguhnya.
Mewariskan Nilai Toleransi kepada Generasi Muda
Kini, saya telah berusia 67 tahun dan tinggal di Ambon, dikelilingi oleh cucu-cucu yang penuh rasa ingin tahu. Mereka kerap meminta saya menceritakan kisah masa kecil saya di Makassar.
Suatu sore, saat kami duduk di teras rumah, seorang cucu saya bertanya dengan mata berbinar, “Opa, kenapa Opa ikut membangunkan sahur padahal Opa tidak puasa?”
Saya tersenyum, mengusap rambutnya yang lembut, lalu menjawab, “Karena kebersamaan itu indah, Nak. Meskipun kita berbeda keyakinan, kita bisa saling menghormati dan berbagi kebahagiaan.“
Saya juga menceritakan bagaimana Lebaran di kampung saya dulu, bagaimana kami saling berkunjung, menikmati makanan bersama, dan bermain tanpa peduli perbedaan.
Cucu saya kembali bertanya, “Opa, kita juga bisa seperti itu di sini, kan?”
Saya mengangguk dengan penuh keyakinan. “Tentu saja. Keberagaman adalah kekayaan kita. Selama kita saling menghormati dan menjaga persaudaraan, kita bisa hidup rukun di mana pun kita berada.”
Melihat mereka menyerap nilai-nilai ini dengan antusias, hati saya terasa tenang. Saya yakin bahwa semangat toleransi dan kebersamaan yang saya alami dulu akan terus hidup dalam generasi berikutnya.
Pesan untuk Sahabat Lama dan Teman-Teman di Sekitar
Untuk Rifai, Hamma, Ida, Yusra, dan teman-teman masa kecilku di Batangase, selamat Idul Fitri! Meskipun kita kini terpisah oleh jarak dan waktu, kenangan kita di bulan Ramadan dan Lebaran tetap hidup dalam hatiku. Terima kasih telah mengajarkanku arti kebersamaan dan keindahan dalam perbedaan. Semoga kebahagiaan dan keberkahan selalu menyertai kalian dan keluarga. Mohon maaf lahir dan batin!
Dan untuk sahabat, kolega, serta tetangga di Ambon, selamat merayakan Idul Fitri! Terima kasih atas kehangatan dan kebersamaan yang selalu kalian tunjukkan. Mari kita terus menjaga semangat persaudaraan dan saling menghormati, karena itulah yang membuat hidup ini lebih indah. Mohon maaf jika ada kata atau perbuatan yang kurang berkenan. Semoga kita semua diberi kesehatan, kebahagiaan, dan kedamaian dalam merayakan hari kemenangan ini.
Salam hangat,
Seorang sahabat dalam keberagaman.