Pramoedya Ananta Toer Mendongeng di Pulau Buru

Share:

Hujan turun deras di Pulau Buru. Pramoedya Ananta Toer duduk di depan gubuknya yang sederhana, menatap langit gelap yang tak kunjung cerah. Seorang tahanan lain, Tumiso, datang membawa sepotong singkong rebus.

“Pram, ini untukmu. Tak banyak, tapi lumayan mengganjal perut,” kata Tumiso, menyodorkan singkong itu.

Pram menerima dengan senyum tipis. “Terima kasih, Tum. Kau tahu, di tengah segala kekurangan ini, aku tetap merasa kaya.”

“Kaya? Kau sedang bercanda? Kita bahkan harus berebut kadal untuk bertahan hidup.”

Pram menggigit singkongnya perlahan. “Kaya akan cerita. Seperti yang dulu kita nikmati di kampung halaman, sebelum semua ini terjadi. Bukankah kau suka mendengar kisah-kisah?”

Tumiso menghela napas dan duduk di samping Pram. “Tentu saja. Tapi cerita tak bisa mengenyangkan perut, Pram.”

“Mungkin tidak. Tapi cerita bisa menghangatkan hati. Kau tahu, malam ini aku ingin bercerita lagi.”

“Tentang apa kali ini?”

Pram menatap api kecil yang menyala di depan mereka. “Tentang seorang perempuan yang berani melawan zamannya. Nyai Ontosoroh.”

Seorang tahanan lain, Harjo, yang mendengar percakapan itu, menghampiri dengan antusias. “Nyai Ontosoroh? Siapa dia? Aku ingin tahu.”

Pram tersenyum. “Datanglah nanti ke gubukku. Kita akan berkumpul dan mendengarkan bersama.”

Malam itu, dalam gelap yang mencekam, para tahanan berkumpul di gubuk Pram. Selain Tumiso dan Harjo, ada Kayun, Mardiman, Soeyadi, Katmo, Sarpin, Mulyono, dan Hersri Setiawan. Dengan suara pelan tapi penuh nyawa, ia mulai mendongeng. Nyai Ontosoroh hidup kembali di benak mereka—seorang perempuan yang melawan takdir, mencintai dengan sepenuh hati, dan berjuang di tengah ketidakadilan.

“Nyai Ontosoroh tidak menyerah pada nasib,” kata Pram, suaranya penuh emosi. “Ia belajar, berjuang, dan tidak membiarkan dirinya diinjak-injak.”

Tumiso mengangguk, matanya berbinar. “Pram, kau punya bakat luar biasa. Setiap kali kau bercerita, aku bisa melihat dunia lain di kepalaku.”

Harjo menyela, “Tapi, bagaimana kalau cerita ini bisa lebih dari sekadar dongeng lisan? Bagaimana kalau kau menulisnya, Pram?”

Pram menghela napas panjang. “Menulis? Dengan apa? Kita bahkan tidak punya kertas.”

Tumiso menepuk pundaknya. “Kertas semen. Oei Him Hwie menyimpannya. Aku bisa membantumu mendapatkannya.”

Pram terdiam sejenak. Pikirannya berputar. Ia tahu risikonya, tapi ia juga tahu bahwa kisah ini harus hidup lebih lama dari mereka. Dengan tekad bulat, ia mengangguk. “Baiklah. Kita mulai menulis.”

Malam-malam berikutnya, gubuk Pram semakin ramai. Selain kisah Nyai Ontosoroh, ia mulai menceritakan perjalanan Minke dan Annelies. Tentang bagaimana Minke, seorang pemuda cerdas dari kalangan pribumi, harus menghadapi ketidakadilan kolonial, dan bagaimana Annelies, perempuan keturunan Belanda-Jawa, menjadi bagian penting dari perjuangannya.

“Minke tidak hanya seorang murid HBS yang pintar,” ujar Pram, “ia juga seorang pemikir yang berani. Dan tahukah kalian, ia juga terlibat dalam pergerakan besar?”

“Pergerakan besar?” tanya Soeyadi.

“Ya. Sarekat Dagang Islam.”

Kayun yang sejak tadi diam, tiba-tiba bersuara. “Aku pernah mendengar tentang itu. Organisasi yang memperjuangkan hak pedagang pribumi, bukan?”

Pram mengangguk. “Benar. Awalnya hanya perkumpulan pedagang, tapi kemudian berkembang menjadi gerakan sosial dan politik. Minke melihat potensi besar di dalamnya. Seperti Boedi Oetomo yang lebih fokus pada pendidikan, Sarekat Dagang Islam adalah gerakan untuk meningkatkan kesejahteraan pribumi.”

Mardiman yang duduk di sudut gubuk bersuara, “Jadi, Minke bukan hanya tokoh fiksi belaka?”

Pram tersenyum. “Tidak sepenuhnya fiksi. Ia terinspirasi dari tokoh nyata. Begitu pula dengan Sarekat Dagang Islam dan Boedi Oetomo, mereka adalah bagian dari sejarah bangsa ini. Sejarah yang coba kita pertahankan dengan mengingat dan menuliskannya.”

Pada malam yang lain, setelah kisah-kisah perjuangan Nusantara, Pram menyelipkan kisah yang lebih ringan namun tetap berisi: cerita silat Tiongkok.

“Pernahkah kalian mendengar tentang To Liong To?” tanya Pram.

Sarpin mengernyitkan dahi. “Apa itu?”

“Itu kisah tentang pedang sakti dan para pendekar yang berseteru untuk mendapatkannya,” jelas Pram. “Sama seperti kita, para pendekar dalam cerita itu juga berjuang melawan ketidakadilan dan kekuasaan yang sewenang-wenang.”

Mulyono tertawa kecil. “Menarik! Apakah ada kisah lain?”

Pram mengangguk. “Ada juga kisah Sie Jin Kwie, seorang jenderal hebat yang awalnya diremehkan, tapi akhirnya menjadi pahlawan. Ia berjuang untuk negerinya dengan keberanian dan kecerdikan. Seperti kita di sini, yang meski terbuang, masih punya keberanian untuk melawan dengan cara kita sendiri—dengan ingatan, dengan cerita.”

Para tahanan larut dalam cerita-cerita itu. Gubuk sempit di tanah pengasingan berubah menjadi panggung kisah-kisah heroik, tempat sejarah dan legenda bertemu, tempat ketidakadilan dilawan dengan kata-kata. Dari tempat inilah, kisah-kisah yang mengguncang dunia lahir. Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca bukan sekadar novel—mereka adalah suara dari tahanan yang tak bisa dibungkam, dari seorang sastrawan yang menolak dikalahkan oleh keadaan.

error: Content is protected !!