Tsunami Dahsyat Ambon 1674: Bencana yang Mengubah Sejarah

Tsunami besar yang melanda Ambon pada tahun 1674.
Share:

Pada tanggal 17 Februari 1674, gempa bumi dahsyat mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya, memicu tsunami besar yang menjadi salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah Maluku. Gempa ini diperkirakan berkekuatan Mw 6.8 dengan kedalaman sekitar 40 km di bawah permukaan laut. Guncangan yang kuat menyebabkan tanah retak, bukit runtuh, dan menghancurkan permukiman di sepanjang pesisir utara Pulau Ambon. Tragedi ini terjadi 351 tahun yang lalu.

Dahsyatnya Tsunami: Gelombang Setinggi 100 Meter

Tsunami yang dipicu oleh gempa ini mencapai ketinggian luar biasa, diperkirakan hingga 100 meter (330 kaki). Gelombang besar ini menyapu wilayah pesisir dengan kekuatan yang luar biasa, meluluhlantakkan perkampungan dan menyebabkan kerusakan parah. Daerah yang paling terdampak adalah pesisir utara Pulau Ambon, terutama di Seit, yang terletak di antara Negeri Lima dan Hila.

Menurut catatan, banyak rumah dan bangunan yang rata dengan tanah, serta ribuan penduduk kehilangan nyawa. Diperkirakan lebih dari 2.000 orang meninggal dunia akibat kombinasi gempa dan tsunami yang melanda kawasan ini.

Catatan Sejarah oleh Georg Eberhard Rumphius

Salah satu saksi mata dan pencatat peristiwa ini adalah Georg Eberhard Rumphius, seorang ilmuwan dan naturalis Jerman yang bekerja untuk VOC di Ambon. Dalam catatannya yang diterbitkan tahun 1675, “Waerachtigh Verhael van der Schierlijke Aerdbevinge” atau Kisah Nyata tentang Gempa Bumi yang Dahsyat, Rumphius menggambarkan betapa dahsyatnya gempa bumi tersebut. Terjemahan buku ini ke dalam bahasa Inggris berjudul The True History of the Terrible Earthquake diterbitkan pada tahun 1997. Ia menulis bahwa guncangan berlangsung lama dan sangat keras, menyebabkan kepanikan luar biasa di antara masyarakat. Tidak hanya rumah-rumah yang hancur, tetapi juga bukit-bukit runtuh, menciptakan longsor yang memperparah kehancuran.

Rumphius mencatat bahwa:

“Lonceng-lonceng di Benteng Victoria di Leitimur, Ambon, berdentang sendiri. Orang berjatuhan ketika tanah bergerak naik turun seperti lautan. Begitu gempa mulai menggoyang, seluruh garnisun kecuali beberapa orang yang terperangkap di atas benteng, mundur ke lapangan di bawah benteng, menyangka mereka akan lebih aman. Akan tetapi, sayang sekali tidak seorangpun menduga bahwa air akan naik tiba-tiba ke beranda benteng. Air itu sedemikian tinggi hingga melampaui atap rumah dan menyapu bersih desa. Batuan koral terdampar jauh dari pantai.”

Kutipan ini diambil dari catatan sejarah tsunami pertama dan tertua di Ambon yang ditulis oleh Georg Everhard Rumphius (1627-1702). Tragedi yang terjadi pada tanggal 17 Februari 1674 ini menewaskan tidak hanya 2.322 orang di Pulau Ambon dan Seram, tetapi juga istri dan dua orang anak perempuan Rumphius sendiri. Mereka termasuk diantara 31 warga Eropa yang meninggal dalam gempa bumi dan tsunami. 

Rumphius juga mencatat kondisi desa-desa di Ambon dan Seram yang hancur akibat peristiwa itu. Hila di dekat Hitu disebut Rumphius sebagai daerah yang paling menderita. Sedikitnya ada 13 desa yang terkena dampak kejadian itu, terbentang di sepanjang pesisir utara Leihitu, mulai dari Larike di ujung barat hingga Tial di ujung timur. Di Pulau Seram, daerah yang terdampak adalah tempat-tempat di Huamual, seperti Tanjung Sial dan Luhu. Catatan lain juga menyebutkan desa Oma di selatan Pulau Haruku dan Pulau Nusa Laut.

Tsunami Ambon, 11674

Fenomena Tsunami dan Gempa di Hitu, dan Seram

Setelah gempa tersebut, dilaporkan bahwa di Sungai Waytomu, yang terletak di sisi utara, air sungai memancar hingga setinggi 6 meter. Warga yang tinggal di sebelah utara dan barat laut Hitu mendengar suara keras yang menyerupai tembakan meriam sebelum gempa terjadi. Mereka juga melihat dua tanda panjang dan ramping di langit yang membentang dari Luhu ke Seith. Dalam waktu kurang dari 15 menit setelah gempa, desa-desa antara Negeri Lima dan Hila hancur akibat tsunami yang sangat besar. Gelombang laut menyapu dengan tinggi sekitar 50 hingga 60 fathom (sekitar 90–110 meter) dan mencapai puncak bukit di sekitarnya, menyebabkan lebih dari 2300 jiwa melayang.

Fenomena luar biasa ini tidak hanya terjadi di Hitu, tetapi juga di daerah lain dengan intensitas yang jauh lebih rendah. Desa Hitu Lama, yang terletak sekitar 15 km timur Hila, melaporkan naiknya air laut hanya sekitar 3 hingga 5 meter, yang mengakibatkan 35 orang kehilangan nyawa. Di Mamala, 40 rumah terkena dampak, tetapi tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Sementara di Ureng, yang terletak kurang dari 10 km barat Negeri Lima, air laut menggenangi tanah, meskipun tidak masuk ke rumah-rumah. Di Larike, sebuah desa di bagian paling barat Hitu, penduduk melaporkan bahwa air laut naik kurang dari 1 meter di Benteng Rotterdam.

Di daerah selatan dan timur Pulau Ambon, hanya sedikit laporan tentang osilasi air laut, meskipun beberapa perahu kecil terlihat terombang-ambing. Di Luhu, yang terletak di Seram Kecil, air laut menggenangi pepohonan dan rumah-rumah perusahaan naik lebih dari 5 meter. Di ujung utara Teluk Piru, setengah dari rumah di Tanuno terendam air, tetapi tidak ada korban jiwa yang tercatat. Para nelayan di Teluk Piru melaporkan bahwa laut tetap tenang meskipun ada riak yang terlihat. Penduduk di Pulau Manipa, Salati, Haruku, Nusa Laut, dan Banda Neira melaporkan osilasi air laut yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan yang terjadi di Hitu dan Leitimur.

Gempa susulan berlanjut selama setidaknya 3 bulan, dengan dua gempa susulan terbesar terjadi pada 6 dan 10 Mei. Hingga saat ini, sumber tsunami dan gempa ini masih menjadi misteri. Para peneliti seperti Løvholt, Harris dan Major berpendapat bahwa mungkin disebabkan oleh gempa di selatan Ambon dan longsoran yang dipicu oleh gempa di dalam Teluk Ambon. Namun, belum ada penyelidikan lebih lanjut yang dilakukan untuk memahami peristiwa ini atau untuk mencari tahu mengapa lonjakan ekstrem hanya terjadi di pantai utara Ambon.

Catatan Tsunami 1950

Dokumentasi mengenai tsunami 8 Oktober 1950 di Ambon sangat terbatas, dengan hanya tersedia catatan kecil di beberapa surat kabar. Ini dapat dimaklumi mengingat situasi geopolitik saat itu, di mana berlangsung pertempuran antara TNI dan RMS. Beberapa kisah dari saksi hidup yang mengalami tsunami tersebut turut mencerminkan kondisi ini.

Rekaman seismograf dari arsip USGS menunjukkan bahwa gempa bumi Ambon terjadi pada 8 Oktober 1950, pukul 03:23:13 (UTC) atau 12:23:13 waktu setempat, di koordinat 4.199°LS 128.233°BT, dengan kedalaman 20.0 km (12.4 mi) dan Momen Magnitude 7.3. Sumber dari NOAA dan SSCC-Rusia mencatat Momen Magnitude sebesar 7.6.

Informasi historis mengenai gempa dan tsunami ini masih minim. Beberapa berita singkat dimuat di surat kabar nasional dan internasional, termasuk ringkasan berita dari media internasional di Amerika yang terdapat dalam buku ini.

Beberapa potongan berita dari surat kabar nasional dan media Amerika [Air Turun Naik di Tiga Negeri,2016]

Kesimpulan

Tsunami Ambon 1674 adalah salah satu bencana paling mematikan yang pernah melanda wilayah ini. Dengan ketinggian gelombang mencapai 100 meter dan lebih dari 2.322 korban jiwa, peristiwa ini tercatat dalam sejarah sebagai tragedi yang mengguncang Maluku. Catatan dari Georg Eberhard Rumphius membantu kita memahami besarnya dampak gempa dan tsunami tersebut serta menjadi bahan refleksi bagi masyarakat masa kini dalam menghadapi ancaman bencana serupa di masa depan.

Tsunami 1950 terjadi pada saat kondisi sosial politik yang masih bergolak, sehingga informasi tentang bencana ini sangat minim. Namun, beberapa saksi hidup menceritakan bahwa mereka merasakan gempa yang sangat kuat dan mendengar suara bunyi gemuruh sebelum tsunami datang.

Sebagai wilayah yang berada di Cincin Api Pasifik, Maluku terus menghadapi potensi gempa dan tsunami hingga saat ini. Peristiwa-peristiwa ini menjadi pengingat penting akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.

Penting untuk melakukan penyelidikan mendalam mengenai kemungkinan skenario longsoran ini untuk memahami sumber utama tsunami. Selain itu, dengan menganalisis karakteristik tsunami dan memperhatikan resonansi gelombang, kita bisa merencanakan strategi yang lebih baik untuk pengurangan risiko tsunami di masa depan. Kambe dapat belajar dari fenomena ini untuk meningkatkan keselamatan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana serupa di kemudian hari.

error: Content is protected !!