Di Negeri Rohomoni, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, berdiri sebuah masjid bersejarah yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat: Masjid Uli Hatuhaha. Didirikan pada abad ke-16, masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol persatuan budaya dan adat bagi persekutuan Amarima Hatuhaha, yang terdiri dari lima negeri: Rohomoni, Pelauw, Kailolo, Kabauw, dan Hulaliu. Dengan arsitektur unik dan tradisi yang kaya, Masjid Uli Hatuhaha mencerminkan perpaduan harmonis antara Islam, adat lokal, dan pengaruh budaya asing.
Sejarah dan Peran dalam Kerajaan Islam Hatuhaha
Masjid Uli Hatuhaha dibangun sekitar tahun 1659, menjadikannya masjid tertua di Pulau Haruku. Pendiriannya terkait erat dengan Kerajaan Islam Hatuhaha, yang terbentuk pada awal abad ke-15 setelah kedatangan Datuk Zainal Abidin, seorang penyiar agama Islam, pada tahun 1385. Rohomoni, sebagai pusat keagamaan, memegang peran penting sebagai Imam Hatuhaha, yang mengurus urusan spiritual bagi lima negeri dalam persekutuan Amarima Hatuhaha.
Salah satu tokoh sentral dalam sejarah masjid ini adalah Tete Kiblat, imam dan pendiri masjid yang makamnya kini menjadi situs kramat di kompleks masjid. Makam ini, bersama makam kuno lainnya, menjadi bukti sejarah panjang masjid sebagai pusat keagamaan dan adat. Masjid ini juga menyimpan jejak penyiar Islam dari Tiongkok, seperti Upuka Pandita Mahuang (Ma Hwang), yang dikaitkan dengan ekspedisi Laksamana Cheng Ho pada abad ke-15.
Masjid Uli Hatuhaha dibangun melalui tiga tahap utama:
- Tahap Pertama (sekitar tahun 1500). Dibangun saat masyarakat Hatuhaha masih bermukim di pegunungan.
- Tahap Kedua (1632–1666). Setelah Perang Malaka, masjid dibangun kembali untuk menyesuaikan dengan perkembangan komunitas.
- Tahap Ketiga (1670). Ketika masyarakat Hatuhaha berpindah ke pesisir dan menetap di negeri-negeri seperti Pelauw, Kailolo, Kabauw, dan Rohomoni, masjid dibangun kembali sebagai pusat ibadah bersama.
Arsitektur yang Unik
Masjid Uli Hatuhaha memiliki arsitektur tradisional yang khas. Bangunannya terbuat dari kayu tanpa paku, dengan struktur diikat menggunakan gemutu (ijuk pohon aren). Atapnya terbuat dari anyaman daun sagu yang disusun rapat, dilapisi serat ijuk untuk mencegah kebocoran. Keunikan lainnya adalah pengaruh budaya Tionghoa, yang terlihat dari ukiran motif naga dan flora pada tiang pintu serambi, mihrab, dan ventilasi. Pengaruh ini menunjukkan kontribusi pertukangan Tionghoa pada masa pembangunan masjid.
Selain itu, struktur masjid menunjukkan kemiripan dengan masjid-masjid Wali di Jawa, seperti Masjid Kuno Kudus atau Demak, yang mengindikasikan peran ulama Jawa dalam penyebaran Islam di Haruku. Kombinasi elemen lokal, Tionghoa, dan Jawa menjadikan Masjid Uli Hatuhaha sebagai bukti akomodasi budaya yang harmonis.

Tradisi Maasiri Rumah Sigit
Salah satu tradisi paling penting yang terkait dengan masjid ini adalah Maasiri Rumah Sigit, yaitu pergantian atap masjid yang dilakukan setiap tahun menjelang Ramadan. Tradisi ini melibatkan gotong royong warga dari lima negeri Hatuhaha, termasuk mereka yang merantau. Setiap warga dewasa wajib menyumbang lima bengkawang atap (tiga panjang, dua pendek), dan prosesi ini dimulai dengan doa serta ritual adat yang dipimpin tokoh adat.
Maasiri Rumah Sigit tidak hanya untuk masjid, tetapi juga untuk Baileo (rumah adat) dan sabuah negeri (tempat pertemuan). Tradisi ini berlangsung selama empat hari dan menjadi simbol penyucian diri serta penguatan ikatan antarwarga. Hanya tokoh adat tertentu yang diizinkan memotong atap pertama, menegaskan peran adat dalam kehidupan masyarakat Rohomoni.
Simbol Persatuan dan Hubungan dengan Hulaliu
Masjid ini hanya dipakai untuk salat Jumat dan hari raya, bukan salat lima waktu. Ada tiga acara utama terkait masjid Hatuhaha: pelepasan atap, yang dihadiri imam dan tokoh agama; perayaan bulan Rajab; dan penggantian tiang alif, yang melibatkan perwakilan dari empat negeri. Pengelolaannya dilakukan oleh imam dan tukang besar/arsitek, serta melibatkan siwa/wali untuk bermusyawarah. Sebagai simbol persatuan negeri, masjid ini mencerminkan eksistensi masyarakat adat.
Meskipun Hulaliu beralih ke agama Kristen pada tahun 1648, negeri ini tetap menjadi bagian dari Amarima Hatuhaha. Rohomoni memelihara sebuah masjid mini di depan Masjid Uli Hatuhaha sebagai simbol ikatan dengan Hulaliu. Dalam tradisi adat, Hulaliu memiliki kewajiban membantu pembangunan atau perbaikan masjid serta memasang tiang pertama pada Baileo di Pelauw. Hubungan ini mencerminkan toleransi dan kebersamaan yang kuat di antara negeri-negeri Hatuhaha.
Tantangan dan Peristiwa Penting
Pada 8 April 2020, Masjid Uli Hatuhaha mengalami kebakaran hebat saat proses perbaikan. Diduga, bara kemenyan dari ritual adat di bawah Tiang Alif menjadi penyebabnya. Meskipun tidak ada korban jiwa, kebakaran ini menjadi pukulan berat bagi masyarakat. Namun, semangat gotong royong tetap hidup. Pada 21 Oktober 2024, dilakukan peletakan batu pertama untuk masjid sementara, diikuti dengan pembangunan masjid baru pada 9 Desember 2024. Puncaknya, pada 30 April 2025, Tiang Alif dipasang dalam prosesi adat yang melibatkan sekitar 2.000 warga dari lima negeri.
Makna Budaya dan Keberlanjutan
Masjid Uli Hatuhaha bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol identitas budaya dan persatuan masyarakat Hatuhaha. Tradisi seperti Maasiri Rumah Sigit memperkuat solidaritas, sementara arsitektur dan makam kuno di sekitar masjid menjadi pengingat akan warisan leluhur. Meskipun hukum adat lebih dominan dibandingkan syariat di Rohomoni, masjid ini tetap menjadi pusat spiritual yang menghormati nilai-nilai Islam dan budaya lokal.
Keberlanjutan Masjid Uli Hatuhaha bergantung pada komitmen masyarakat untuk menjaga tradisi dan warisan leluhur. Dengan keterlibatan aktif dari lima negeri, masjid ini terus hidup sebagai mercusuar budaya di Pulau Haruku, mengajarkan nilai gotong royong, toleransi, dan penghormatan terhadap sejarah.