Benny Likumahuwa (18 Juni 1946 – 9 Juni 2020) adalah nama yang tak asing di telinga para pecinta musik jazz Indonesia. Seorang multi-instrumentalis berbakat, visioner, dan legenda sejati, Benny tidak hanya meninggalkan warisan musikal yang kaya, tetapi juga menginspirasi generasi musisi melalui dedikasi dan semangatnya yang tak pernah padam. Perjalanan hidupnya, dari seorang pemuda otodidak di Kediri hingga menjadi ikon jazz di panggung internasional, adalah kisah tentang bakat, ketekunan, dan cinta mendalam pada musik.
Kebangkitan Jiwa Musikal
Lahir di Kediri, Jawa Timur, dengan darah Maluku mengalir di nadinya, Benny tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi nada. Ibunya menjadi guru pertamanya, memperkenalkan dunia musik yang kemudian menjadi panggilan hidupnya. Sebagai remaja, ia belajar notasi balok secara otodidak, menunjukkan bakat alami yang luar biasa. Awalnya, ia memainkan bongo, tetapi ketertarikannya pada jazz membawanya menjelajahi berbagai alat musik, mulai dari bass, klarinet, saksofon, hingga trombon. Dengan kerja keras dan rasa ingin tahu yang besar, Benny mengasah kemampuannya, menjadikan dirinya seorang musisi serba bisa yang mampu memainkan hampir segala jenis instrumen.
Pada 1966, langkah besar pertamanya di dunia musik profesional dimulai saat ia bergabung dengan Cresendo Band dari Bandung. Dua tahun kemudian, ia menjadi bagian dari The Rollies, grup brass rock legendaris yang membawanya merekam untuk Polygram di Singapura dan tampil keliling Indonesia. Bersama The Rollies, Benny tidak hanya menunjukkan keahliannya sebagai pemain trombon, tetapi juga sebagai musisi dengan ide-ide brilian yang memberikan warna unik pada musik mereka. Salah satu karya terkenal dari masa ini adalah lagu “Salam Terakhir,” yang hingga kini dikenang dengan aura misteriusnya.
The Rollies
Perjalanan Benny di dunia musik mengalami pergeseran signifikan ketika ia bergabung dengan band rock The Rollies pada tahun 1968. Gagasan Benny untuk menambahkan instrumen tiup dalam formasi band ini membawa warna baru yang menarik. Selain itu, kemampuannya sebagai arranger sangat mempengaruhi corak musik The Rollies, memadukan unsur jazz rock yang dinamis dengan pengaruh band-band besar seperti Chicago dan Blood, Sweat & Tears.
Benny Likumahuwa berperan penting dalam mengangkat The Rollies sebagai salah satu brass band legendaris di Indonesia. Ia mengajarkan semua anggota band, termasuk para penyanyi utama Gito dan Deddy Stanzah, untuk bermain trompet, memperluas kemampuan mereka di luar memainkan gitar, bass, dan drum. Ketika grup ini mencapai puncak popularitas, mereka turut mengikuti tren musik dunia dengan mengadopsi narkoba. Namun, Benny tetap menjaga disiplin yang tinggi dalam bermusik, menjadi panutan bagi anggota lainnya.
Merajut Karier di Panggung Jazz
Karier Benny terus menanjak seiring ia membentuk berbagai grup musik, seperti The Augersindo yang tampil di berbagai negara Asia, dan Benny Likumahuwa Big Band yang memukau penonton di Jakarta, Surabaya, dan Bali. Ia juga berkolaborasi dengan musisi jazz ternama seperti Jack Lesmana, Ireng Maulana, dan Trio ABC, memperkaya khazanah musik jazz Indonesia. Kemampuan Benny untuk beradaptasi dan memainkan berbagai instrumen—dari gitar, piano, flut, hingga harmonika—membuatnya menjadi sosok yang disegani di kalangan musisi.
Panggung internasional pun menjadi saksi kehebatannya. Benny tampil di berbagai festival jazz bergengsi, seperti Singapore Jazz Festival (1986), North Sea Jazz Festival di Belanda (1990), Jakarta Jazz Festival (1988), dan ASEAN Jazz Festival di Kuala Lumpur (1992). Penampilannya yang penuh energi dan improvisasi yang memukau selalu meninggalkan kesan mendalam bagi penonton. Pengakuan atas dedikasinya datang melalui penghargaan The Most Dedicated Indonesian Jazz Artist dari Java Jazz Festival, sebuah bukti bahwa ia bukan hanya musisi, tetapi juga pilar penting dalam perkembangan jazz di Indonesia.
Tak hanya tampil di panggung, Benny juga berkontribusi pada pendidikan musik. Pada 1985, bersama Jack dan Indra Lesmana, ia mendirikan sekolah musik Farabi, yang menjadi wadah bagi musisi muda untuk mengasah bakat mereka. Inisiatif ini menunjukkan visinya untuk melihat jazz Indonesia terus berkembang melalui generasi baru.
Menghubungkan Generasi
Album Rekam Jejak Vol. 1 adalah wujud dedikasi Benny terhadap musik dan kerjasama antar generasi. Dalam album ini, Benny Likumahu menampilkan karyanya yang inspiratif bermula dari komposisi Jack & Bubi, yang didedikasikan kepada almarhum Jack Lesmana dan Bubi Chen, hingga lagu Like Father Like Son, yang menggambarkan ikatan antara ayah dan anak, Benny dan putranya, Barry Likumahu. Kebangkitan antara generasi ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan yang sering terjadi dalam dunia musik.
Selain karya orisinalnya, album ini juga melibatkan musisi legendaris Oele Pattiselanno dan pianis muda Joey Alexander, menciptakan dialog musikal yang menampilkan kemampuan kreatif mereka. Dengan tampilan komposisi yang beragam, album ini merefleksikan perjalanan musik Benny Likumahu dari era 60-an hingga saat ini, menghadirkan nuansa jazz yang ekspresif dan apresiatif.

Warisan Keluarga dan Inspirasi
Benny bukan hanya legenda di panggung, tetapi juga sosok ayah yang inspiratif bagi anak-anaknya, khususnya Barry Likumahuwa, musisi jazz ternama yang mewarisi bakatnya di bass. Hubungan mereka begitu dekat, penuh canda, dan seperti sahabat. Barry sering mengenang ayahnya sebagai “partner ngobrol” yang objektif dalam menilai musik, selalu mendorongnya untuk berkembang tanpa memaksakan pandangan. Di luar keluarga, Benny dikenal sebagai figur humoris dan suportif di komunitas musik, selalu siap berbagi ilmu dan tawa dengan musisi muda.
Meski penuh prestasi, Benny tetap rendah hati. Ia pernah berbagi mimpinya yang sederhana namun penuh makna: tampil dengan orkestra, memainkan harmonika, dan bernyanyi ala Frank Sinatra dengan jas rapi. Sayangnya, impian ini tak sempat terwujud sebelum ia berpulang.
Tantangan dan Akhir Perjalanan
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Benny menghadapi tantangan kesehatan yang berat. Ia menderita diabetes dan gagal ginjal, yang mengharuskannya menjalani cuci darah rutin sejak Oktober 2018. Kondisinya semakin sulit selama masa PSBB pada 2020, ketika keterbatasan interaksi sosial memengaruhi kesehatan mentalnya. Pada 9 Juni 2020, Benny menghembuskan napas terakhir di Ciputat, Tangerang Selatan, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, teman, dan komunitas musik. Pemakamannya di TPU Jombang pada 10 Juni 2020 dihadiri dengan penuh haru, mengakhiri perjalanan seorang maestro.
Warisan Abadi
Kepergian Benny Likumahuwa meninggalkan lubang di hati para pecinta jazz, tetapi warisannya tetap hidup. Melalui musiknya, sekolah Farabi, dan anak-anaknya, ia terus menginspirasi. Album Salute The Rollies pada 2018, yang dibuat musisi muda sebagai penghormatan kepada The Rollies, menjadi bukti bahwa pengaruhnya melintasi generasi. Benny adalah bukti bahwa musik bukan sekadar nada, tetapi juga jiwa yang mampu menyatukan dan menggerakkan hati.
Dari pemuda otodidak di Kediri hingga legenda jazz di panggung dunia, perjalanan Benny Likumahuwa adalah cerminan dari bakat, kerja keras, dan cinta pada seni. Ia bukan hanya musisi, tetapi juga pelaku sejarah yang menjadikan jazz Indonesia dikenal dan dicintai. Benny mungkin telah tiada, tetapi nadanya akan terus bergema, mengalun dalam setiap irama jazz yang dimainkan di Tanah Air.