Dalam sejarah peradaban manusia, usia 100 tahun kerap dianggap sebagai pencapaian luar biasa, sebuah anugerah yang hanya diraih segelintir orang. Kini, seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan kesehatan, individu yang mencapai usia tersebut, yang dikenal sebagai Centenarian, tak lagi menjadi mitos. Mereka adalah bukti nyata ketahanan fisik dan mental, serta jendela menuju pemahaman kita tentang penuaan yang sehat dan umur panjang.
Lebih dari sekadar angka, kelompok ini merepresentasikan sebuah fenomena demografis yang berkembang pesat. Di banyak negara maju, jumlah centenarian terus bertambah, bahkan memunculkan istilah supercentenarian untuk mereka yang melampaui usia 110 tahun. PBB memperkirakan, jumlah centenarian global akan melonjak signifikan dalam beberapa dekade mendatang, mengubah lanskap demografi dunia secara fundamental.
Centenarian adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang telah mencapai usia 100 tahun atau lebih. Istilah ini, yang berasal dari kata Latin centum (seratus), identik dengan konsep umur panjang dan menjadi fokus penelitian dalam bidang demografi, kesehatan, dan penuaan. Dengan kemajuan dalam perawatan kesehatan, nutrisi, dan gaya hidup, jumlah centenarian di seluruh dunia terus meningkat. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada tahun 2020, terdapat sekitar 573.000 centenarian di dunia, dan jumlah ini diproyeksikan mencapai 3,7 juta pada tahun 2050.
Demografi Centenarian: Sebuah Gambaran Global
Peningkatan jumlah centenarian adalah cerminan dari peningkatan harapan hidup di seluruh dunia. Jepang sering disebut sebagai “negeri centenarian” dengan populasi seratus tahunan per kapita tertinggi, diikuti oleh negara-negara seperti Italia dan Spanyol. Di Amerika Serikat, jumlah centenarian telah meningkat pesat, dan diperkirakan akan terus bertambah.
Salah satu fakta menarik adalah dominasi perempuan dalam kelompok ini. Mayoritas centenarian di seluruh dunia adalah perempuan. Meskipun alasannya masih menjadi subjek penelitian, perbedaan biologis dan gaya hidup diperkirakan berperan dalam disparitas ini.
- Populasi Global: Pada tahun 2020, jumlah centenarian dunia diperkirakan mencapai 573.000, hampir empat kali lipat dari 151.000 pada tahun 2000. Jepang memiliki rasio centenarian tertinggi per capita, dengan sekitar 6 per 10.000 orang, diikuti oleh negara seperti Uruguay dan Hong Kong. Amerika Serikat memiliki jumlah centenarian terbanyak secara absolut, sekitar 97.000 pada tahun 2021.
- Distribusi Gender: Sekitar 80-90% centenarian adalah wanita, yang mungkin disebabkan oleh faktor biologis seperti perlindungan hormon estrogen atau gaya hidup yang cenderung lebih sehat di kalangan wanita.
- Supercentenarian: Mereka yang berusia 110 tahun atau lebih (supercentenarian) sangat langka, hanya sekitar 1 dari 1.000 centenarian yang mencapai usia ini. Contoh terkenal adalah Jeanne Calment, yang hidup hingga 122 tahun (1875–1997).

Karakteristik Kesehatan Centenarian: Lebih dari Sekadar Bertahan Hidup
Yang menarik dari centenarian bukanlah sekadar fakta bahwa mereka hidup lama, melainkan bagaimana mereka hidup. Banyak penelitian menunjukkan bahwa centenarian seringkali:
- Menunda Timbulnya Penyakit: Mereka cenderung menunjukkan penundaan signifikan dalam timbulnya penyakit kronis terkait usia seperti penyakit jantung, diabetes, atau kanker. Banyak dari mereka tetap mandiri dan aktif hingga usia senja yang sangat lanjut.
- Memiliki Sistem Kekebalan Tubuh yang Kuat: Studi genetik dan imunologis menemukan bahwa centenarian sering memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih efisien dan tangguh, mampu menghadapi infeksi dan peradangan lebih baik daripada populasi umum.
- Menjaga Fungsi Kognitif: Meskipun penurunan kognitif bisa terjadi pada usia sangat tua, banyak centenarian mempertahankan kejernihan mental yang mengesankan, menunjukkan ketahanan otak terhadap proses penuaan.
- Memiliki Resiliensi Psikologis: Karakteristik umum lainnya adalah optimisme, kemampuan beradaptasi, dan resiliensi yang tinggi dalam menghadapi tantangan hidup.1 Mereka cenderung memiliki pandangan positif dan kuat dalam menjalani kehidupan.
Rahasia Umur Panjang: Kombinasi Genetik, Gaya Hidup, dan Lingkungan
Tidak ada satu pun “pil ajaib” untuk mencapai usia 100 tahun. Umur panjang ekstrem pada centenarian adalah hasil dari interaksi kompleks berbagai faktor:
- Faktor Genetik. Penelitian, seperti yang dilakukan oleh New England Centenarian Study, menunjukkan bahwa faktor genetik memainkan peran penting dalam umur panjang. Gen seperti FOXO3 telah dikaitkan dengan kemampuan tubuh untuk melawan penuaan dan penyakit terkait usia. Centenarian seringkali memiliki anggota keluarga (orang tua, saudara kandung) yang juga hidup berumur panjang.
- Gaya Hidup Sehat. Ini adalah pilar utama.
- Diet Seimbang. Pola makan kaya sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, dan protein tanpa lemak, dengan asupan kalori moderat, sering ditemukan pada centenarian. Diet ala Mediterania atau diet berbasis tumbuhan sering dikaitkan dengan umur panjang.
- Aktivitas Fisik Teratur. Kebanyakan centenarian tetap aktif secara fisik sepanjang hidup mereka, meskipun hanya dengan kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki, berkebun, atau pekerjaan rumah tangga.
- Tidak Merokok dan Konsumsi Alkohol Moderat. Menghindari kebiasaan merusak kesehatan adalah kunci.
- Tidur Cukup dan Kualitas Tidur yang Baik. Pola tidur yang teratur dan berkualitas mendukung fungsi tubuh yang optimal.
- Manajemen Stres. Kemampuan mengelola stres dan menjaga keseimbangan emosi juga krusial.
- Kesehatan Mental. Koneksi sosial yang kuat, aktivitas intelektual, dan sikap positif terhadap kehidupan sering dikaitkan dengan umur panjang.
- Faktor Sosial dan Psikologis:
- Hubungan Sosial yang Kuat: Keterlibatan dalam komunitas, dukungan keluarga, dan persahabatan yang erat terbukti meningkatkan kualitas hidup dan umur panjang.
- Tujuan Hidup dan Keterlibatan Mental: Memiliki tujuan, tetap belajar, dan terus terlibat dalam aktivitas yang merangsang mental adalah hal yang umum pada centenarian yang sehat.
- Sikap Positif: Optimisme, rasa syukur, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan adalah ciri psikologis yang menonjol.
- Lingkungan dan Dukungan Sosial. Wilayah yang dikenal sebagai Blue Zones—seperti Okinawa (Jepang), Sardinia (Italia), dan Nicoya (Kosta Rika)—memiliki konsentrasi tinggi centenarian. Faktor seperti komunitas yang erat, lingkungan rendah stres, dan akses ke perawatan kesehatan berkualitas tinggi berperan besar.
- Kemajuan Medis. Perawatan kesehatan modern, termasuk vaksinasi, pengobatan penyakit kronis, dan pencegahan penyakit, telah meningkatkan harapan hidup. Centenarian sering kali mendapatkan manfaat dari kemajuan ini sepanjang hidup mereka.

Tokoh Publik Centenarian dan Mendekati Centenarian yang Masih Hidup
Berikut adalah beberapa tokoh publik yang telah mencapai atau mendekati usia 100 tahun dan masih hidup hingga Juli 2025, berdasarkan informasi yang tersedia:
- Iris Apfel (103 tahun, lahir 29 Agustus 1921)
- Latar Belakang: Iris Apfel adalah ikon mode, desainer interior, dan pengusaha Amerika yang dikenal karena gaya eksentriknya dan pengaruhnya dalam dunia fashion. Ia menjadi terkenal di usia lanjut melalui dokumenter Iris (2014).
- Kontribusi: Apfel telah menginspirasi banyak orang dengan pendekatannya yang berani terhadap mode dan desain. Ia juga bekerja sama dengan merek seperti H&M dan memiliki koleksi di museum seperti Metropolitan Museum of Art.
- Rahasia Umur Panjang: Apfel sering menyebutkan bahwa tetap aktif secara kreatif, menjaga rasa ingin tahu, dan tidak takut mengekspresikan diri adalah kunci umur panjangnya.
- Norman Lloyd (110 tahun, lahir 8 November 1914)
- Latar Belakang: Norman Lloyd adalah aktor, produser, dan sutradara Amerika yang dikenal karena perannya dalam film-film Alfred Hitchcock seperti Saboteur (1942) dan Spellbound (1945). Ia juga memiliki karier panjang di teater dan televisi.
- Kontribusi: Lloyd tetap aktif di industri hiburan hingga usia lanjut, dengan penampilan terakhirnya dalam film Trainwreck (2015) pada usia 100 tahun. Ia adalah salah satu supercentenarian yang masih hidup dan menjadi inspirasi karena ketahanannya di dunia hiburan.
- Rahasia Umur Panjang: Lloyd diketahui menjaga gaya hidup aktif, dengan minat kuat pada seni dan teater, serta menjalin hubungan sosial yang erat.
- Tippi Hedren (95 tahun, lahir 19 Januari 1930)
- Latar Belakang: Tippi Hedren adalah aktris Amerika yang terkenal karena perannya dalam film Alfred Hitchcock The Birds (1963) dan Marnie (1964). Ia juga seorang aktivis hak-hak hewan yang mendirikan Roar Foundation dan Shambala Preserve.
- Kontribusi: Selain karier aktingnya, Hedren berperan besar dalam mengubah hukum tentang perlakuan terhadap hewan di produksi Hollywood dan mempopulerkan salon kuku yang dimiliki oleh komunitas Vietnam di AS.
- Status Terkini: Pada tahun 2025, Hedren masih aktif dalam advokasi hak-hak hewan dan tetap menjadi figur inspiratif meski mendekati usia 100 tahun.
- Dick Van Dyke (99 tahun, lahir 13 Desember 1925)
- Latar Belakang: Dick Van Dyke adalah aktor, komedian, dan penyanyi Amerika yang dikenal melalui perannya dalam Mary Poppins (1964), Chitty Chitty Bang Bang (1968), dan serial TV The Dick Van Dyke Show.
- Kontribusi: Van Dyke telah memenangkan berbagai penghargaan, termasuk lima Emmy, satu Tony, dan satu Grammy. Ia tetap aktif, muncul dalam film dan acara TV hingga usia 90-an, termasuk peran kecil dalam Mary Poppins Returns (2018).
- Rahasia Umur Panjang: Van Dyke sering menyebutkan pentingnya tetap aktif secara fisik dan mental, serta menjaga selera humor dan optimisme.
- Mahathir Mohamad (100 tahun, lahir 10 Juli 1925)
- Latar Belakang: Tun Dr. Mahathir Mohamad adalah mantan Perdana Menteri Malaysia yang menjabat selama dua periode (1981–2003 dan 2018–2020). Ia merayakan ulang tahun ke-100 pada 10 Juli 2025, dan masih terlihat sehat serta aktif.
- Kontribusi: Mahathir dikenal sebagai arsitek modernisasi Malaysia, memimpin transformasi ekonomi negara tersebut. Ia juga tetap aktif menulis dan memberikan pandangan politik hingga usia lanjut.
- Rahasia Umur Panjang: Dalam wawancara dengan IDN Times, Mahathir menyebutkan bahwa tetap aktif secara fisik (seperti mengemudi sendiri) dan mental, serta pola makan sederhana, adalah kunci umur panjangnya. Ia juga menekankan pentingnya semangat untuk terus belajar dan berkontribusi.
- Emil Salim (95 tahun, lahir 8 Juni 1930)
- Latar Belakang: Prof. Dr. Emil Salim adalah seorang ekonom dan tokoh lingkungan hidup Indonesia yang menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup (1978–1993) dan berbagai posisi penting lainnya di bawah pemerintahan Soeharto. Ia dikenal sebagai salah satu ekonom terkemuka di Indonesia.
- Kontribusi: Emil Salim berperan besar dalam memajukan kebijakan pembangunan berkelanjutan di Indonesia, termasuk memperkenalkan konsep lingkungan hidup dalam perencanaan pembangunan nasional. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi internasional dan terus memberikan pandangan tentang ekonomi dan lingkungan hingga usia lanjut.
- Status Terkini: Pada tahun 2025, Emil Salim masih aktif dalam diskusi publik dan advokasi lingkungan, menunjukkan dedikasi yang luar biasa terhadap isu keberlanjutan meski mendekati usia 100 tahun.
- Rupert Murdoch (94 tahun, lahir 11 Maret 1931)
- Latar Belakang: Rupert Murdoch adalah pengusaha media asal Australia yang mendirikan dan memimpin News Corporation, salah satu konglomerasi media terbesar di dunia, yang memiliki outlet seperti Fox News, The Wall Street Journal, dan The Times.
- Kontribusi: Murdoch telah membentuk lanskap media global melalui akuisisi dan inovasi dalam industri berita dan hiburan. Meskipun kontroversial, pengaruhnya dalam media tidak dapat disangkal.
- Status Terkini: Pada tahun 2025, Murdoch tetap terlibat dalam dunia bisnis media meski telah menyerahkan sebagian besar kendali operasional kepada anak-anaknya. Ia dikenal karena ketajaman mentalnya yang masih terjaga di usia lanjut.
- Mel Brooks (99 tahun, lahir 28 Juni 1926)
- Latar Belakang: Mel Brooks adalah sutradara, komedian, aktor, dan produser Amerika yang terkenal karena film komedi klasik seperti Young Frankenstein (1974), Blazing Saddles (1974), dan The Producers (1967).
- Kontribusi: Brooks telah memenangkan penghargaan Oscar, Emmy, Grammy, dan Tony, menjadikannya salah satu dari sedikit penerima EGOT. Ia tetap aktif dalam proyek kreatif, termasuk adaptasi teater dan penampilan publik hingga usia 90-an.
- Rahasia Umur Panjang: Brooks sering mengaitkan umur panjangnya dengan humor, kreativitas, dan menikmati hidup dengan penuh semangat.
Klaim Manusia Tertua di Indonesia: Antara Fakta dan Legenda
Di Indonesia, sering kali muncul kisah-kisah tentang individu yang mencapai usia jauh melampaui batas 100 tahun, bahkan melebihi rekor dunia yang diakui secara resmi. Dua nama yang sering disebut adalah:
- Mbah Gotho (Sodimejo). Dari Sragen, Jawa Tengah, almarhum Mbah Gotho diklaim lahir pada 31 Desember 1870 dan meninggal pada 30 April 2017, menjadikannya berusia 146 tahun. Jika klaim ini terbukti, ia akan menjadi manusia tertua yang pernah hidup di dunia. Namun, perlu dicatat bahwa klaim usianya didasarkan pada dokumen kependudukan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang Indonesia, tetapi belum diverifikasi secara independen oleh organisasi gerontologi internasional seperti Gerontology Research Group (GRG) karena kurangnya bukti otentik seperti catatan kelahiran atau dokumen pendukung lainnya yang dapat diuji silang.
- Mbah Arjo Suwito. Berasal dari Malang, Jawa Timur, Mbah Arjo Suwito disebut-sebut sebagai manusia tertua di Indonesia. Ia diklaim meninggal dunia pada tahun 2019 dengan usia yang diperkirakan mencapai 193 tahun. Sama seperti Mbah Gotho, klaim usia ekstrem ini juga belum mendapatkan verifikasi resmi dari lembaga penelitian umur panjang internasional. Verifikasi usia ekstrem membutuhkan bukti dokumenter yang sangat ketat dan konsisten.
Catatan Penting Mengenai Verifikasi Usia Ekstrem
Organisasi seperti Gerontology Research Group (GRG) memiliki standar yang sangat ketat untuk memverifikasi klaim usia ekstrem (supercentenarian dan seterusnya). Hal ini karena pada usia yang sangat tua, akurasi catatan seringkali menjadi tantangan, dan adanya kasus penipuan atau kesalahan data di masa lalu membuat proses verifikasi menjadi sangat teliti. Saat ini, manusia tertua yang pernah hidup dengan usia terverifikasi secara resmi adalah Jeanne Calment dari Prancis, yang meninggal pada usia 122 tahun 164 hari.

Tantangan dalam Meneliti Centenarian
- Verifikasi Usia. Salah satu tantangan utama adalah memverifikasi usia centenarian, terutama di negara dengan catatan kelahiran yang tidak lengkap. Organisasi seperti Gerontology Research Group dan Guinness World Records sering terlibat dalam proses verifikasi ini.
- Kualitas Hidup. Tidak semua centenarian hidup dalam kondisi sehat. Sekitar 20% centenarian tidak memiliki disabilitas signifikan, tetapi banyak yang menghadapi tantangan seperti demensia atau penyakit kronis.
- Penelitian Ilmiah. Studi seperti Georgia Centenarian Study dan Okinawa Centenarian Study terus mengeksplorasi faktor-faktor yang memungkinkan umur panjang, dengan fokus pada “healthy aging” dan kompresi morbiditas (penundaan penyakit hingga akhir usia).
Blue Zones: Pelajaran dari Wilayah dengan Centenarian Tinggi
Wilayah Blue Zones menawarkan wawasan berharga tentang umur panjang:
- Okinawa, Jepang: Diet rendah kalori, aktivitas fisik sehari-hari, dan ikatan komunitas yang kuat.
- Sardinia, Italia: Gaya hidup aktif di pegunungan dan diet Mediterania.
- Nicoya, Kosta Rika: Pola makan berbasis tanaman dan air kaya mineral.
- Ikaria, Yunani: Gaya hidup santai dan konsumsi teh herbal.
- Loma Linda, California: Komunitas Advent Hari Ketujuh dengan pola makan vegetarian dan fokus pada spiritualitas.
Penutup
Fenomena centenarian adalah bukti kemajuan manusia dalam memperpanjang usia dan meningkatkan kualitas hidup. Tokoh seperti Iris Apfel, Norman Lloyd, Tippi Hedren, Dick Van Dyke, Mahathir Mohamad, Emil Salim, Rupert Murdoch, dan Mel Brooks menunjukkan bahwa umur panjang bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi juga tentang tetap produktif, kreatif, dan berdampak. Dengan mempelajari gaya hidup, genetika, dan lingkungan centenarian, kita dapat mengambil pelajaran untuk hidup lebih sehat dan bermakna. Seiring bertambahnya jumlah centenarian di masa depan, mereka akan terus menjadi sumber inspirasi dan penelitian untuk memahami batas potensi umur manusia.
Sumber:
- Data tentang Iris Apfel, Norman Lloyd, Tippi Hedren, Dick Van Dyke, Emil Salim, Rupert Murdoch, dan Mel Brooks dari berbagai sumber terpercaya, termasuk laporan media dan biografi publik.
- United Nations Population Division, 2020.
- New England Centenarian Study, Boston University.
- Informasi dari postingan di platform X tentang Mahathir Mohamad.