Desa Wisata Waesala: Nominator API Awards 2025 dalam Kategori Destinasi Baru

Share:

Desa Wisata Waesala, terletak di Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku, telah menjadi sorotan sebagai salah satu nominator Anugerah Pesona Indonesia (API) Awards 2025 dalam kategori Destinasi Baru. Dengan potensi wisata yang kaya dan sejarah yang mendalam, desa ini menawarkan pengalaman unik yang memadukan keindahan alam, sejarah, dan budaya lokal.

Sejarah dan Makna Nama

Desa Waesala, atau dikenal sebagai Negeri Waesala, pertama kali dibuka pada 5 Maret 1905 oleh Raja Yahya Kasturian, yang memimpin dengan model pemerintahan kerajaan. Nama “Waesala” berasal dari dua kata dalam bahasa lokal: wae yang berarti air dan sala yang merujuk pada daun gatal, sebuah tanaman yang tumbuh di tepi kali desa. Nama ini mencerminkan kondisi awal desa saat ditemukan, dengan hamparan daun gatal di pesisir kali. Hingga kini, daun gatal tersebut masih ada dan digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional untuk menghilangkan rasa lelah setelah bekerja. Daftar raja yang pernah berkuasa di Negeri Waesala meliputi:

  1. Raja Yahya Kasturian (raja pertama)
  2. Raja Ali Kasturian
  3. Raja Hasyim Kasturian
  4. Raja Muhammad Kasturian

Desa ini berbatasan dengan Negeri Luhu di sebelah barat, Negeri Piru di sebelah timur, Negeri Buano di sebelah utara, dan Hutan Lindung di sebelah selatan. Jaraknya sekitar 42 kilometer dari pusat kabupaten, dengan waktu tempuh sekitar 2 jam 1 menit (77,5 km) dari Pelabuhan Waipirit.

Baca Juga: Maluku Gemilang di Malam Anugerah Pesona Indonesia 2025: Enam Prestasi, Satu Langkah Menuju Pariwisata Berkelanjutan

Potensi Pariwisata

Desa Waesala memiliki letak geografis yang strategis dengan gugusan pulau-pulau kecil di sekitarnya, menjadikannya lokasi yang potensial untuk pengembangan pariwisata. Meskipun belum sepenuhnya tergarap, potensi wisata di wilayah Kecamatan Huamual Belakang, termasuk Waesala, sangat menjanjikan. Beberapa daya tarik utama meliputi:

  • Keindahan Alam: Gugusan pulau-pulau kecil dan hutan lindung menawarkan pemandangan yang masih alami, ideal untuk wisata bahari dan ekowisata.
  • Kearifan Lokal: Tradisi penggunaan daun gatal sebagai obat tradisional menjadi salah satu atraksi budaya yang unik. Wisatawan dapat belajar tentang pengobatan tradisional ini langsung dari masyarakat setempat.
  • Sejarah dan Budaya: Sistem pemerintahan kerajaan yang pernah ada di Waesala memberikan nilai sejarah yang kaya, yang dapat dieksplorasi melalui cerita lisan dan situs-situs peninggalan.

Dari pulau-pulau kecil hingga air terjun yang memukau, Waesala menawarkan pengalaman wisata yang otentik dan menyegarkan. Berikut adalah beberapa potensi wisata Desa Wisata Waesala:

🏝️ 1. Pulau Kasumba – Safari Waesala Island

Pulau Kasumba merupakan ikon wisata bahari Desa Waesala. Hanya berjarak beberapa menit dengan perahu dari pesisir Waesala, pulau kecil ini menawarkan pengalaman safari bahari yang lengkap:

  • Snorkeling & Memancing: Air laut yang jernih dan terumbu karang yang sehat menjadikan pulau ini surga bagi pecinta bawah laut.
  • Piknik & Berkemah: Pengunjung dapat menikmati hamparan pasir putih dan area teduh untuk beristirahat atau menginap dalam tenda.
  • Sunset Point: Pemandangan matahari terbenam dari Pulau Kasumba adalah salah satu yang terbaik di Maluku.
  • Fasilitas: Tersedia toilet umum, sewa alat snorkeling, area makan, dan pemandu lokal.

Pulau ini sangat cocok bagi wisatawan keluarga, rombongan pelajar, maupun fotografer alam yang mencari lanskap laut yang eksotis.

🌊 2. Air Terjun Supe – Sentuhan Alam yang Menenangkan

Air Terjun Supe terletak sekitar 4 km dari pusat desa, dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua atau jalan kaki santai melewati ladang dan hutan ringan. Air terjun ini memiliki kolam alami di bawahnya dan dikelilingi batuan berlumut serta pepohonan rindang.

  • Aktivitas Favorit: Berenang, mandi alam, piknik keluarga, hingga konten fotografi dan vlog wisata.
  • Fasilitas: Tempat duduk alami, warung tradisional, dan area makan sederhana.
  • Nilai Lokal: Masyarakat percaya air terjun ini memiliki energi positif dan sering dijadikan tempat refleksi atau meditasi ringan.

🏖️ 3. Pulau Latunai – Eksotisme yang Masih Perawan

Pulau Latunai adalah mutiara kecil yang masih jarang dikunjungi, menjadikannya sangat eksklusif bagi wisatawan yang mencintai keheningan dan alam murni. Terletak tak jauh dari Kasumba, pulau ini memiliki:

  • Pasir putih bersih dan garis pantai melengkung alami
  • Hutan pantai dengan burung laut yang beristirahat
  • Lautan biru kehijauan yang sangat cocok untuk berenang atau sekadar berendam

Pulau Latunai sering menjadi lokasi piknik spiritual dan kegiatan healing trip oleh wisatawan domestik.

Tantangan Pengelolaan

Pengelolaan wisata di Desa Waesala masih menghadapi beberapa tantangan. Infrastruktur menuju desa belum memadai, membuat akses wisatawan cukup sulit. Selain itu, konflik administrasi dengan desa tetangga, seperti Desa Allang Asaude yang dimekarkan pada 1999 namun belum diakui sepenuhnya oleh Negeri Waesala, turut menghambat pengembangan wilayah. Kurangnya dukungan pemerintah daerah dalam hal regulasi, seperti absennya Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur pemekaran desa, juga menjadi kendala.

Namun, masyarakat lokal menunjukkan inisiatif yang kuat dalam mengelola potensi wisata secara mandiri, mirip dengan apa yang terjadi di Negeri Saleman, Maluku Tengah. Masyarakat Waesala berperan sebagai penyedia jasa akomodasi dan tur, serta memanfaatkan kearifan lokal untuk menarik wisatawan.

Nominasi API Awards 2025

Desa Wisata Waesala diajukan sebagai nominator API Awards 2025 oleh Dinas Pariwisata Kabupaten SBB, mengikuti jejak keberhasilan destinasi lain di Maluku seperti Pantai Syota yang memenangkan kategori serupa pada 2022. Nominasi ini didukung oleh dokumentasi foto, video, dan narasi budaya yang menonjolkan potensi desa sebagai destinasi baru. Periode voting publik akan berlangsung dari 1 Juni hingga 30 September 2025, dengan harapan Waesala dapat meraih penghargaan pada malam puncak di Bengkayang Regency, Kalimantan Barat, pada November 2025.

Rute Menuju Desa Wisata Waesala

Untuk mencapai Desa Waesala, wisatawan dapat memilih rute berikut:

  1. Dari Ambon:
    • Naik kapal cepat atau kapal feri ke pelabuhan Piru (ibu kota Seram Bagian Barat)
    • Perjalanan laut ± 5–6 jam (kapal cepat) atau 8–9 jam (kapal malam)
  2. Dari Piru ke Waesala:
    • Perjalanan darat ± 2–2,5 jam melalui rute Piru – Latu – Waesala dengan kendaraan roda empat (mobil sewaan atau ojek lokal)
    • Jalan cukup baik dan menyusuri pantai barat yang indah
  3. Transportasi Lokal:
    • Perahu motor atau longboat untuk menuju pulau-pulau wisata seperti Kasumba dan Latunai
    • Pemandu lokal tersedia dari komunitas wisata Waesala

Harapan ke Depan

Keikutsertaan dalam API Awards 2025 diharapkan dapat meningkatkan visibilitas Desa Wisata Waesala, mendorong perbaikan infrastruktur, dan mempercepat pengembangan pariwisata berkelanjutan. Dengan dukungan masyarakat dan pemerintah, Waesala berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Maluku, menawarkan pengalaman autentik yang menggabungkan alam, budaya, dan sejarah.


PESONA DESA WAESALA | TVRI MALUKU (Youtube)

2 thoughts on “Desa Wisata Waesala: Nominator API Awards 2025 dalam Kategori Destinasi Baru

Comments are closed.

error: Content is protected !!