Provokator Damai dan Aktifitas ‘Offline’
Banyak jurnalis membuat reportase tentang Provokator Damai sebagai gerakan masyarakat sipil yang memanfaatkan media online sebagai perlawanan terhadap gerakan provokasi konflik. Gambaran itu tidak keliru, tetapi tak mengungkapkan secara menyeluruh dinamika di balik gerakan Provokator Damai. Aktifitas media online dari gerakan Provokator Damai tak akan efektif bila tidak didukung oleh berbagai kegiatan yang bersifat offline.
Di balik pekerjaan mengklarfikasi dan meng-counter bias pemberitaan, sekelompok anak muda bekerja secara bergantian selama 24 jam untuk mengumpulkan berita, mengkompilasinya, dan melakukan klarifikasi serta ‘counter publication’ terhadap pemberitaan-pemberitaan yang bias informasi lapangan, ataupun terhadap provokasi-provokasi kebencian dan konflik. Kerja yang mereka lakukan dikategorikan sebagai jurnalisme warga yang sepenuhnya berorientasi pada jurnalisme damai (peace journalism). Jejaring lintas teman yang kuat dan tersebar di berbagai pelosok kota menjadi modal utama yang dikapitalisasi untuk pekerjaan itu.
Dalam aksinya, komunitas Provokator Damai sangat mengedepankan potensi-potensi local yang tersedia bagi upaya bina damai. Setiap media dan medium local yang menjadi kekhasan dalam pola interaksi masyarakat sehari-hari dimanfaatkan untuk memperkuat interaksi antara kelompok. Hobby, aktifitas sekolah, transaksi dagang antarkomunitas, gedung-gedung ibadah, pasar, rumah keluarga, tetangga, rumah kopi, merupakan tempat-tempat yang dikelola secara strategis dalam kerja-kerja dialog dan binadamai dari komunitas Provokator Damai.
Kerja-kerja untuk membangun ‘image’ perdamaian dan integrasi social kelompok Provokator Damai bahkan dilakukan dengan memanfaatkan tubuh mereka sebagai medium yang mengekspresikan pesan damai. Saat merebaknya ketegangan pada tanggal 11 September 2011, kelompok Provokator Damai memutuskan untuk memasuki ruang public yang lengang. Aktifitas-aktifitas sederhana mereka lakukan disana, seperti bercerita, berdiskusi ringan mengenai kondisi lapangan, berbagi mob, ngopi dan kudapan bersama. Kegiatan itu dilakukan berpindah-pindah di berbagai sudut kota, dengan tentunya secara cermat memperhitungkan kondisi keamanan di sekitar mereka. Maksud dari aktifitas itu untuk meradiasikan energy positif dari setiap perjumpaan kepada masyarakat disekitarnya, sekaligus menunjukan bahwa interaksi antar kelompok lintas agama masih dimungkinkan di tengah ketegangan. Perjumpaan demi perjumpaan itu dipublikasikan melalui berbagai bentuk social media yang diakses public secara luas.
Dalam situasi yang lebih tenang, kelompok-kelompok muda lintas iman memprovokasi perdamaian melalui gelaran music, teater, fotografi, sastera, kulinari, dan berbagai aktifitas khas anak muda, yang dikerjakan di ruang-ruang public. “Art for Peace” menjadi medium yang sangat kuat untuk membangun interaksi pemuda lintas iman. Ketika situasi semakin kondusif, aktifitas di ruang public digeserkan memasuki ruang-ruang domestic yang telah tersegregasi berdasarkan agama. Membawa aktifitas bersama di ruang domestic didasarkan pada pertimbangan bahwa dalam ruang domestic yang tersegregasi, narasi-narasi kalah menang, prasangka, dan pelabelan, bertumbuh subur, dan karenanya harus diintervensi melalui kegiatan-kegiatan bersama.
Kelompok-kelompok muda lintas iman dan etnis secara perlahan bertumbuh dan berinteraksi berdasarkan kesamaan hobby serta kepedulian terhadap persoalan-peroalan bersama. Terkait dengan tantangan bersama, pada tahun 2012 jejaring komunitas muda Provokator Damai menggawangi kampanye dan advokasi besar penyelamatan kepulauan Aru dari ancaman deforestasi masal akibat rencana pembukaan perkebunan tebu berskala besar. Komunitas blogger, sastera, music, teater, dan lainnya, bergabung dan menjadi tulang punggung advokasi dalam gerakan #SaveAru dan memenangkan kasus ini pada tahun 2014. Kisah sukses dengan dukungan jaringan nasional dan internasional yang luas itu menjadi memori kolektif yang merangsang mereka untuk memperluas aktifitasnya pada berbagai bentuk perjuangan bersama terkait isu-isu social dan lingkungan di Maluku. Semua bentuk gerakan yang sifatnya offline itu menjadi asupan data dan informasi yang dikemas untuk dipublikasikan secara luas melalui berbagai platform media online.
Provokator Damai sebagai Gerakan Para Sahabat
Komunitas Provokator Damai meyakini sepenuhnya bahwa setiap orang memiliki benih damai di dalam dirinya, sekalipun preferensi orang mengenai perdamaian berbeda-beda. Begitu pula, orang bisa berbeda dalam penggunaan medium yang mengepresikan rasa damai dalam dirinya. Ada orang-orang yang memilih kekuatan seni untuk mengekspresikan rasa damai. Orang lain menyukai ‘sport.’ Lainnya menganggap bahwa terlibat langsung dalam kerja-kerja keadilan merupakan jalan perdamaian. Sekalipun begitu, akibat situasi-situasi khusus (misalnya kondisi keamanan) tak semua orang berani mengekspresikan apa yang menjadi preferensi damainya di ruang public. Kerja para Provokator Damai adalah menemukan preferensi damai, dan berbagai beragam bentuk ekspresi itu, lalu menghubungkannya dengan orang lain yang memiliki preferensi dan ekspresi serupa. Memberanikan dan mengajak mereka terlibat dalam kerja-kerja bersama di ruang public maupun ruang domestic adalah kerja lanjutan Provokator Damai.
Teman-teman Provokator Damai juga percaya bahwa persahabatan adalah jangkar bagi dialog dan kerjasama antariman, serta upaya-upaya bina damai. Prinsipnya sederhana, ketika orang-orang telah memaknai satu sama lainnya sebagai sahabat, bahkan sebagai saudara, berbagai perbedaan dapat dikelola secara lebih terbuka dan damai. Perjumpaan-perjumpaan langsung dan kerjasama diyakini sebagai imperative yang mengentalkan jejaring persahabatan. Untuk maksud itu, setiap perjumpaan tidak harus diawali dengan percakapan mengenai perbedaan, terutama perbedaan keyakinan agama atau ideology. Membicarakan perbedaan agama akan sangat sensitive di wilayah yang baru dilanda konflik bernafaskan agama. Pilihan bijak dan strategis yang ditempuh adalah mengangkat isu-isu yang menjadi tantangan bersama untuk dibicarakan.
Kerusakan lingkungan, HIV-AIDS, Narkoba, dan sejenisnya adalah isu-isu netral yang tak memiliki agama. Mendialogan secara dialogis isu-isu yang menjadi tantangan bersama ini akan membangun ‘trust’ secara bertahap antar individu maupun kelompok. Semakin jauh terlibat dalam kerjasama untuk penanganan isu-isu ini, semakin merangsang mereka untuk memandang satu sama lainnya sebagai sahabat sepenanggungan. Saya menganalogikan pendekatan ini sebagai strategi ‘makan bubur panas.’ Kita bekerjasama untuk menanggulangi isu-isu bersama, dan bergerak melingkar ke dalam untuk mengelola isu-isu yang jauh lebih sensitive terkait identitas masing-masing kelompok. Di ujung setiap dialog dan kerjasama, kepada masing-masing kelompok akan dipertanyakan pandangan teologisnya terkait tantangan bersama dimaksud. Dialog teologis terintegrasi secara konkrit pada upaya mengelola tantangan bersama. Dialog dan kerjasama antariman dengan sendirinya menjadi dialog kehidupan.
Komunitas Provokator Damai, adalah komunitas para sahabat. Mereka mengawalinya dari persahabatan antar individu, membesar menjadi kelompok, lalu berjejaring antar kelompok untuk memperkuat tikar social yang sobek akibat konflik. Strategi membangun dan memperluas jejaring persahabatan dikerjakan secara sistematis dengan memperhitungkan pola patronase, serta jejaring social (social web) di sekitar modal social yang tersedia; baik modal social yang terkait dengan kearifan-kearifan local, maupun modal social baru yang dibentuk berdasarkan kesamaan karakter, kegemaran, dan kepedulian.