Gerakan Provokator Damai: “Membangun Dialog Antariman dan Binadamai Berbasis Masyarakat”

Share:

Mengelola Dialog Antariman dan Binadamai Berbasis Masyarakat

Dalam banyak study perdamaian, model gerakan Provokator Damai mewajahkan sebuah gerakan dialog dan perdamaian berbasis masyarakat. Ini bukanlah gerakan yang dibayangkan berada di tingkat elit, dan dipenuhi dengan berbagai prosedur formal seputar pengungkapan kebenaran dan keadilan. Pendekatan-pendekatan strategis dalam gerakan ini tidaklah bisa disejajarkan dengan model para tokoh agama yang dimobilisir untuk menyerukan slogan-slogan perdamaian berdasarkan keyakinan agama-agama, ketika konflik merebak.

Gerakan Provokator Damai yang dipelopori oleh kaum muda mengedepankan keinginan segmen ini untuk memperbaiki kondisi hidup bersama. Anak-anak muda memiliki rekaman yang kuat tentang memori dan narasi kolektif mengenai persahabatan, dan mereka ingin kondisi itu dikembalikan lagi. Sekalipun demikian, mereka menginginkan supaya upaya merajut keintiman tidak berlangsung dalam cara-cara formal, sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah, lembaga-lembaga keagamaan, maupun oleh banyak NGOs yang bekerja untuk membangun perdamaian. Rentetan kegagalan dalam upaya membangun perdamaian sejak awal konflik pada tahun 1999 menyemangati komunitas-komunitas muda untuk mengkreasi cara-cara yang lebih informal dalam mendorong integrasi antar komunitas yang terbelah.

Keyakinan bahwa setiap orang memiliki benih damai dalam dirinya menumbuhkan cara pandang positif untuk tak lelah mengkapitalisasi setiap modal social yang tersedia, ataupun mengkreasi modal social baru diantara mereka. Perdamaian bagi mereka dimengerti secara sederhana sebagai sebuah kondisi dimana orang bisa berhubungan satu sama lainnya dalam situasi damai. Dengan begitu mereka dapat membangun relasi social sebagai sahabat dan orang bersaudara yang saling membantu, dan saling bergantung satu sama lainnya. Dalam pemahaman itu, kerja-kerja bina damai dimaknai sebagai tanggung jawab bersama masyarakat pada tingkatan ‘grassroot. Memberanikan diri untuk saling berjumpa dan membagi kepedulian lalu menjadi gerakan yang membesar diantara komunitas muda lintas agama, yang melaluinya mereka memprovokasi orang lain untuk melakukan hal serupa. Secara perlahan mereka melebur segregasi mental yang memisahkan mereka dalam kategori korban dan pelaku. Bertumbuh kesadaran baru bahwa mereka semua adalah’penyintas.’ Kesadaran ini memperkuat konsep identitas bersama yang menjadi modal sosial untuk menapak sebuah era baru paska konflik. Hal ini nampak dalam lirik-lirik lagu atau pusisi komunitas muda yang secara dominan menyuarakan narasi-narasi identitas bersama.

Gerakan Provokator Damai dengan sendirinya mengkapitalisasi pengalaman-pengalaman local dalam berbagai pola perjumpaan untuk memperkuat upaya-upaya binadamai pasca berlangsungnya konflik fisik. Hal ini tidak berarti bahwa kelompok ini menegasi pentingnya intervensi pendekatan-pendekatan formal dari pemerintah yang mengedepankan regulasi, lembaga hukum, keamanan, serta deklarasi-deklarasi damai. Komunitas Provokator Damai bekerja berdasarkan kapasitas lebihnya untuk mengelola pendekatan-pendekatan dialog dan kerja binadamai yang lebih bersifat kultural, dengan mengedepankan persuasi, negosiasi, serta penguatan solidaritas.

Sebagai gerakan yang dikelola berbasis masyarakat, Provokator Damai mengisyaratkan keterlibatan setiap segmen masyarakat, atau perwakilannya, dalam perencanaan sampai dengan implementasi setiap kegiatan mereka. Proses itu menuntun mereka untuk menjadi lebih jujur dan terbuka, serta merasa nyaman dan aman dalam komunikasi. Itu juga memampukan mereka untuk saling mendengar, dan menerjemahkan pengertian kedalam aksi bersama. Dalam kaitan ini, tekhnik partisipatori digunakan secara maksimal untuk memelihara keseimbangan kuasa antara setiap kelompok yang bekerjasama. Melalui pendekatan partisipatoris dapat ditingkatkan rasa memiliki terhadap proses bersama, serta memperkuat komitmen untuk terlibat dalam proses selanjutnya. Adapun metode dan pilihan strategi yang digunakan untuk membangun gerakan ini secara langsung mempertegas dimensi masyarakat dalam proses dialog maupun upaya-upaya binadamai.

Pendekatan gerakan Provokator Damai tidak semata-mata merupakan sebuah ‘moral force’ tetapi juga dikondisikan untuk menyampaikan pesan dan kesadaran politik bahwa, ‘sekalipun kelompok-kelompok elit politik mencoba mamanfaatkan masyarakat yang berbenturan, namun masyarakat tak mudah lagi untuk diprovokasi.’ Dengan sendirinya model gerakan ini merupakan aksi nir-kekerasan berbasis masyarakat untuk melawan provokasi konflik dengan cara membangun pemahaman bersama, mengkondisikan sikap saling bergantung, serta memperbanyak kerjasama antarkelompok, untuk menutup celah retakan social akibat konflik.

Belajar Dari Gerakan Provokator Damai

Gerakan Provokator Damai mendorong kita untuk meyakini bahwa masyarakat basis memiliki kekuatan untuk membangun dan mengelola perdamaian. Hal ini lebih mudah kita pahami bila pendekatan yang bersifat ‘emic’ (keunikan dalam sebuah konstruksi budaya) kita kedepankan untuk mempelajari anatomi dialog antaragama dan bina damai di Maluku, ketimbang mendahulukan sebuah sudut pandang ‘ethic’ yang berorientasi pada universalitas nilai dan perilaku. Dalam kaitan ini, setiap upaya mengadaptasi gerakan Provokator Damai ke wilayah lainnya membutuhkan kecermatan untuk memahami elemen-elemen local yang membentuk modal social dalam interaksi masyarakat sehari-hari. Memori dan narasi-narasi kolektif tentang perdamaian antar komunitas merupakan salah satu modal social penting yang bisa dikapitalisasi untuk membangun proses binadamai paska berlangsungnya konflik.

Gerakan Provokator Damai juga mengedepankan pentingnya merawat interaksi langsung lintas komunitas. Apa yang kita kenal sebagai ‘silaturahim, atau saling mengunjungi,’ dan istilah-istilah sejenis dalam kosakata local di masing-masing daerah merupakan elemen-elemen penting dari karakter masyarakat kita yang ‘guyub’ dan saling peduli. Karakter dasar ini perlu dikuatkan terus-menerus melalui rekayasa social secara strategis, terutama dalam situasi dimana masyarakat kita diprovokasi untuk terbelah berdasarkan garis agama, etnisitas, golongan, dan lainnya.

Membangun dan memperluas jejaring persahabatan (friendship web) merupakan keunikan strategi di dalam proses binadamai yang dikelola oleh gerakan Provokator Damai. Di dalam lingkup para sahabat, level rasa percaya bisa diangkat secara bertahap melalui beragam proses dan aktifitas bersama. Hal ini memungkinkan terkelolanya isu-isu sensitive dengan cara yang lebih damai.

Pengalaman menggerakan Provokator Perdamaian meperlihatkan bahwa komunitas muda pada level akar rumput cenderung menghindari percakapan yang dibatasi pada aspek-aspek normative dalam agama, semisal pengampunan, kasih, keadilan, dan lainnya. Mereka lebih tertarik untuk menggeluti implementasi praktis dan pragmatis dari sejumlah variable normative dimaksud. Lembaga-lembaga agama ataupun yang lainnya akan lebih dihargai bila mereka berhasil mendorong berkembangnya interaksi konkrit antar komunitas, sebagai bentuk implementasi dari nilai-nilai normative itu yang bersentuhan secara langsung dengan tantangan dan kebutuhan bersama masyarakat basis.

Model pengelolaan dialog dan binadamai berbasis komunitas di balik gerakan Provokator Damai menegaskan pentingnya memelihara keseimbangan kuasa dalam relasi lintas kelompok, bahkan sejak awal perjumpaan di antara mereka. Hal ini mengisyaratkan kepekaan terhadap pilihan-pilihan media maupun medium di dalam interaksi dimaksud, contohnya; pilhan ruang, bahasa, jejaring social, pola dan strategi komunikasi, serta karakteristik partisipatori dari setiap perjumpaan. Dengan memperhatikan semua hal ini, lebih dari setengah tujuan dialog dan binadamai telah tercapai.


Penulis : Pdt. Jacky Manuputty – Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) periode 2024-2029.

Eagle Awards – Youtube
error: Content is protected !!