Di wall saya beberapa hari lalu, saya mengatakan #indonesiamendung dan belum #indonesiagelap. Terbongkarnya kasus Pertalite-Pertamax Pertamina membuat saya harus memastikan buat saya sendiri bahwa sekaranglah waktu yang tepat untuk mengiyakan: #indonesiagelap. “Lho, tapi kan itu berarti Prabowo membuktikan bahwa dia serius dengan korupsi.” Entah, bisa ya, bisa tidak. Buat saya belum sungguh terbukti. Justru penyingkapan ini yang membuat mendung itu menjadi sungguh gelap. Yang paling menggelisahkan saya adalah bahwa ini semua membuat kita patut bercuriga bahwa korupsi di Indonesia sudah sangat sistemik dan mengakar kuat. Dulu, kabar korupsi yang kita dengar memakai satuan M, kini berulang-ulang kita mendengar satuan T yang muncul. Gila luarbiasa. Semua ini patut membuat kita curiga bahwa penguasa yang ada sekarang juga tidak bersih. Saya tidak cukup bajik untuk memakai asas praduga tak bersalah. Saya merasa perlu untuk memakai asas praduga bersalah, sampai mereka membuktikan diri sungguh-sungguh tak bersalah. Sikap default dari rakyat terhadap penguasa haruslah curiga. Sebaliknya, sikap default penguasa terhadap rakyat harusnya trust atau percaya. Jangan dibalik.
Kutipan di atas ini, saya dapatkan dari ‘wall FB’ Pdt. Prof. Joas Adiprasetyo, Th.D.
Korupsi yang Semakin Mengakar
Kasus Pertalite-Pertamax hanyalah satu dari sekian banyak kasus korupsi yang terungkap belakangan ini. Namun, kasus ini menjadi semacam simbol betapa korupsi di Indonesia sudah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Jika dulu korupsi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kini seolah-olah korupsi sudah menjadi bagian dari sistem yang tak terpisahkan.
Kasus Pertalite-Pertamax hanyalah satu dari sekian banyak kasus korupsi yang terungkap belakangan ini. Namun, kasus ini menjadi semacam simbol betapa korupsi di Indonesia sudah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Jika dulu korupsi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kini seolah-olah korupsi sudah menjadi bagian dari sistem yang tak terpisahkan.
Krisis Kepercayaan terhadap Penguasa
Dengan semakin banyaknya kasus korupsi yang terungkap, kepercayaan rakyat terhadap penguasa semakin menipis. Rakyat mulai curiga bahwa para penguasa tidak lagi bekerja untuk kepentingan rakyat, melainkan untuk kepentingan pribadi atau kelompok mereka sendiri.
Sikap curiga rakyat terhadap penguasa sebenarnya adalah hal yang wajar. Sejarah telah membuktikan bahwa kekuasaan yang tidak dikontrol dengan baik cenderung disalahgunakan. Oleh karena itu, sikap default rakyat terhadap penguasa haruslah curiga. Sebaliknya, penguasa harusnya memiliki sikap default trust atau percaya terhadap rakyat.
Asas Praduga Bersalah
Dalam situasi seperti ini, saya merasa perlu untuk menggunakan asas praduga bersalah terhadap para penguasa. Artinya, saya akan menganggap mereka bersalah sampai mereka bisa membuktikan bahwa mereka benar-benar tidak terlibat dalam korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan lainnya.
Asas praduga tak bersalah memang penting dalam sistem hukum, namun dalam konteks korupsi yang sudah sedemikian sistemik, asas ini seringkali disalahgunakan oleh para koruptor untuk menghindari hukuman. Oleh karena itu, sebagai rakyat, kita perlu lebih kritis dan tidak mudah percaya begitu saja pada janji-janji manis para penguasa.
Semoga Maluku Tidak Gelap
Di tengah kegelapan yang semakin menyelimuti Indonesia, ada satu harapan yang terus saya pegang: semoga Maluku tidak gelap. Maluku, dengan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, memiliki potensi besar untuk menjadi contoh bagaimana sebuah daerah bisa berkembang tanpa harus terjerumus dalam praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Maluku memiliki sumber daya alam yang melimpah, mulai dari hasil laut hingga tambang. Namun, kekayaan ini seringkali menjadi bumerang jika tidak dikelola dengan baik dan transparan. Kita tidak ingin melihat Maluku terjebak dalam lingkaran korupsi yang sama seperti yang terjadi di tingkat nasional.
Oleh karena itu, penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat Maluku untuk bekerja sama dalam menciptakan sistem yang transparan dan akuntabel. Masyarakat harus aktif mengawasi penggunaan anggaran dan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah. Selain itu, pemerintah daerah harus membuka ruang partisipasi publik dalam setiap proses pengambilan keputusan.
Semoga Maluku bisa menjadi contoh bagaimana sebuah daerah bisa berkembang dengan prinsip-prinsip good governance. Semoga Maluku tidak gelap, tetapi justru menjadi cahaya yang menerangi Indonesia di tengah kegelapan yang semakin pekat.
Penutup
Indonesia sedang berada dalam situasi yang gelap. Korupsi yang sistemik dan mengakar telah membuat kepercayaan rakyat terhadap penguasa semakin menipis. Sikap curiga rakyat terhadap penguasa adalah hal yang wajar, dan seharusnya menjadi pengingat bagi para penguasa untuk bekerja lebih transparan dan akuntabel.
Kita tidak bisa lagi hanya diam dan berharap bahwa segala sesuatu akan berubah dengan sendirinya. Sebagai rakyat, kita harus terus mengawasi dan menuntut para penguasa untuk bekerja demi kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok mereka. Hanya dengan cara ini, kita bisa berharap bahwa suatu saat nanti, Indonesia akan kembali terang.