Menyala di Bumi Pattimura: Mengoptimalkan Ikatan Alumni Fakultas Pertanian UNPATTI untuk Mengatasi Pengangguran Sarjana

Share:

Di tengah pesona Kepulauan Maluku, yang kaya akan potensi pertanian dan kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (UNPATTI) di Ambon berdiri sebagai pilar pendidikan yang mencetak lulusan untuk memajukan sektor agraris. Namun, tantangan pengangguran terdidik tetap membayangi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Maluku pada Februari 2023 mencapai 6,08%, lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 5,45% pada periode yang sama, meskipun menunjukkan penurunan sebesar 0,36 poin persentase dibandingkan Februari 2022. Angka ini mencerminkan kesulitan lulusan sarjana, termasuk dari Fakultas Pertanian, dalam menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi mereka. Di sinilah Ikatan Alumni Fakultas Pertanian UNPATTI (IKAPATI) memiliki potensi untuk menjadi jembatan emas—menghubungkan lulusan baru dengan peluang, pengalaman, dan inspirasi. Meski begitu, peran IKAPATTI dalam mengatasi pengangguran sarjana masih terbatas. Bagaimana IKAPATTI dapat menyala lebih terang untuk mendukung lulusannya?

Ayo alumni Faperta, kita selami bersama peran IKAPATTI, tantangan yang dihadapi, dan visi untuk menjadikannya kekuatan transformatif bagi lulusan pertanian di Maluku.

IKAPATI: Jaringan dengan Potensi Besar

IKAPATTI adalah wadah yang menyatukan alumni Fakultas Pertanian UNPATTI dari berbagai program studi, seperti Agroteknologi, Pemuliaan Tanaman, dan Ilmu Tanah, Agribisnis dan Penyuluhan Pertanian, Kehutanan, Pengelolaan Hutan dan Ilmu Lingkungan, Teknologi Hasil Pertanian dan Peternakan. Berdasarkan informasi dari situs resmi UNPATTI, IKAPATTI berperan dalam acara-acara formal seperti yudisium, dimana lulusan diserahkan secara simbolis dari fakultas kepada ketua IKAPATI, dan kartu alumni diberikan kepada perwakilan lulusan. Pada yudisium Desember 2024, jumlah lulusan 32, dan April 2025, 56 lulusan Fakultas Pertanian IKAPATTI menjadi bagian dari proses ini.

Lebih dari sekadar simbol, IKAPATTI memiliki potensi untuk menjadi jaringan profesional yang kuat. Alumni Fakultas Pertanian UNPATTI tersebar di berbagai sektor—dari dinas pertanian hingga wirausaha agribisnis—dan bisa menjadi sumber inspirasi serta koneksi. Seorang alumnus yang mengelola usaha pengolahan cengkeh di Ambon, misalnya, bisa berbagi pengalaman tentang memanfaatkan komoditas lokal untuk membangun bisnis. Alumni lain di pemerintahan bisa memberikan wawasan tentang peluang magang atau kebijakan pertanian. Potensi ini sangat relevan di Maluku, di mana sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap tenaga kerja signifikan, meskipun banyak pekerjaan bersifat informal, dengan 62,89% pekerja di Maluku Utara pada Februari 2024 tergolong informal.

Namun, aktivitas IKAPATTI saat ini tampaknya terbatas pada peran seremonial dan administratif. Pada Juli 2022, IKAPATTI mengumumkan pemutakhiran data alumni S-1 melalui formulir daring untuk pembuatan kartu anggota. Tidak ada indikasi kuat bahwa IKAPATI telah mengembangkan program strategis seperti mentoring atau inkubasi bisnis untuk mendukung lulusan baru menghadapi pasar kerja. Dengan TPT Maluku yang lebih tinggi dari rata-rata nasional, IKAPATI perlu melangkah lebih jauh untuk membantu lulusan mengatasi tantangan pengangguran.

Tantangan yang Membatasi Peran IKAPATI

Beberapa faktor menghambat IKAPATTI untuk memberikan kontribusi signifikan.

  1. Struktur organisasi IKAPATTI tampaknya belum matang. Tidak ada informasi publik tentang kepengurusan aktif, visi jangka panjang, atau program kerja spesifik. Berbeda dengan ikatan alumni universitas besar seperti Universitas Indonesia, yang memiliki platform digital dan kegiatan rutin, IKAPATTI tidak memiliki kehadiran daring yang kuat. Situs IKAPATTI (Ikatan Alumni Universitas Pattimura) memang ada, tetapi lebih berfokus pada alumni universitas secara keseluruhan, tanpa menyebutkan inisiatif spesifik IKAPATTI. Ini menunjukkan bahwa IKAPATI mungkin beroperasi secara informal atau dengan sumber daya terbatas.
  2. Keterlibatan alumni tampak rendah. Banyak alumni yang sukses, terutama yang berkarier di luar Maluku, mungkin terlalu sibuk untuk berkontribusi. Sebaliknya, lulusan baru sering kali tidak tahu cara mengakses jaringan alumni atau merasa ragu untuk menghubungi senior mereka. Seorang lulusan Agribisnis yang ingin memulai usaha, misalnya, mungkin tidak tahu bahwa ada alumnus di dinas pertanian yang bisa memberikan saran. Kurangnya platform komunikasi memperparah kesenjangan ini.
  3. Konteks Maluku menambah tantangan. Banyak lulusan Fakultas Pertanian berasal dari pulau-pulau terpencil seperti Seram atau Buru, di mana akses ke internet, informasi, dan peluang kerja terbatas. Dengan jumlah pengangguran di Maluku mencapai 57.504 orang pada Agustus 2023, turun 2.233 orang dari tahun sebelumnya, tantangan ini nyata. Ekonomi Maluku, yang bergantung pada pertanian dan perikanan, sering kali menawarkan pekerjaan informal yang tidak sesuai dengan ekspektasi lulusan sarjana, mendorong mereka untuk mencari peluang di luar provinsi. IKAPATI, yang berbasis di Ambon, mungkin kesulitan menjangkau alumni atau lulusan di daerah terpencil.
  4. Fokus IKAPATTI lebih pada menjaga nama baik fakultas daripada mengatasi isu praktis seperti pengangguran. Pada yudisium 2021, Prof. I. Rafael M. Osok, Ketua Senat Fakultas Pertanian, menekankan agar lulusan bergabung dengan IKAPATTI untuk menunjukkan kebersamaan, tetapi tidak ada ajakan konkret untuk memanfaatkan jaringan ini untuk karier. Akibatnya, IKAPATTI belum menjadi solusi nyata bagi lulusan yang menghadapi pasar kerja yang kompetitif.

Menyulut Potensi IKAPATI: Visi untuk Maluku

Meski menghadapi tantangan, IKAPATTI bisa menjadi katalis perubahan dengan memanfaatkan semangat “Hotumese”—motto UNPATTI yang berarti berjuang untuk kemajuan. Berikut adalah visi untuk mengoptimalkan IKAPATTI, dengan narasi yang menggambarkan dampak nyata di tengah realitas pengangguran di Maluku.

Bayangkan sebuah platform digital IKAPATTI yang menjadi pusat koneksi bagi alumni dan lulusan. Seorang lulusan Kehutanan bisa menemukan peluang magang di perusahaan pengolahan kayu di Maluku Tenggara, diposting oleh alumnus pengusaha. Mahasiswa tingkat akhir bisa mengikuti webinar dengan alumni yang berbagi strategi mengembangkan agribisnis berbasis kakao, komoditas unggulan Maluku. Platform ini juga bisa menyediakan forum untuk bertanya tentang sertifikasi pertanian atau peluang kerja di sektor publik. Dengan memanfaatkan teknologi open-source, platform ini bisa dikembangkan dengan biaya terjangkau, mengambil inspirasi dari situs IKAPATTI yang bertujuan mempermudah komunikasi antaralumni universitas.

Program mentoring terstruktur adalah langkah lain yang menjanjikan. Bayangkan seorang lulusan Peternakan yang dibimbing oleh alumnus seperti Ir. Sadli IE, M.Si., bendahara umum IKAPATTI dan mantan Sekda Maluku, melalui sesi daring atau tatap muka. Mentor bisa membantu menyusun rencana karier, memperkenalkan koneksi di koperasi peternakan, atau mengarahkan ke peluang wirausaha seperti pengolahan susu lokal. Program ini bisa diintegrasikan dengan pusat karier fakultas, memastikan lulusan dari daerah terpencil juga mendapat akses. Mentoring tidak hanya memberikan bimbingan, tetapi juga menanamkan semangat wirausaha, yang krusial mengingat tingkat wirausaha Indonesia hanya 3,55% menurut Global Entrepreneurship Monitor (2022).

Kemitraan dengan industri dan pemerintah daerah bisa membuka peluang lebih luas. Maluku memiliki potensi besar di sektor rempah-rempah, kelapa, dan perikanan, tetapi lulusan sering kekurangan akses ke pasar atau teknologi. IKAPATTI bisa memanfaatkan posisi alumni di perusahaan atau dinas pertanian untuk menciptakan program magang atau pelatihan. Misalnya, kolaborasi UNPATTI dengan PT ASDP Indonesia Ferry untuk rekrutmen pada 2024 menunjukkan potensi kemitraan. IKAPATTI bisa mengadakan pameran karier tahunan, mengundang koperasi, perusahaan agribisnis, dan startup untuk merekrut lulusan. Acara ini juga bisa menampilkan kisah alumni seperti Spica Alphanya Tutuhatunewa, lulusan Fakultas Pertanian yang menjadi diplomat, menginspirasi lulusan untuk mengejar karier non-konvensional.

Wirausaha adalah pilar kunci. Fakultas Pertanian UNPATTI telah mendorong lulusan untuk menciptakan lapangan kerja melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. IKAPATTI bisa mendirikan inkubator bisnis berbasis pertanian, mendukung lulusan untuk mengembangkan usaha seperti pengolahan minyak kelapa atau produk olahan kakao. Bayangkan seorang lulusan Agroteknologi yang, dengan bantuan IKAPATTI, mendapatkan modal awal dari alumni investor dan pelatihan dari alumni pengusaha. Lokakarya hidroponik yang diadakan fakultas pada 2023 bisa diperluas oleh IKAPATTI, melibatkan alumni sebagai mentor untuk mengajarkan teknologi pertanian modern.

Terakhir, IKAPATTI perlu membangun budaya solidaritas. Acara seperti “Hari Alumni Pertanian” bisa menggabungkan reuni, pameran produk agribisnis alumni, dan sesi mentoring, menciptakan kebersamaan yang produktif. Kisah alumni seperti Nining Purwokanti, yang pada yudisium 2021 menekankan tanggung jawab lulusan untuk bermanfaat bagi masyarakat, bisa menjadi narasi inspiratif. Dengan semangat “Hotumese,” IKAPATTI bisa menjadi komunitas yang tidak hanya merayakan prestasi, tetapi juga membuka jalan bagi lulusan baru.

Mengatasi Hambatan: Kolaborasi untuk Masa Depan

Tantangan seperti keterbatasan sumber daya, rendahnya partisipasi alumni, dan kesenjangan regional memerlukan solusi kolaboratif. Fakultas Pertanian UNPATTI bisa mendukung IKAPATTI dengan anggaran untuk platform digital atau acara karier. Pemerintah Provinsi Maluku, yang fokus pada pengembangan pertanian, bisa memberikan insentif untuk program wirausaha IKAPATTI. Alumni senior, seperti mereka di posisi strategis, bisa menjadi penggerak dengan menyumbangkan waktu atau dana.

Untuk menjangkau lulusan di pulau-pulau terpencil, IKAPATTI bisa memanfaatkan grup WhatsApp atau webinar untuk berbagi informasi. Kerja sama dengan IKAPATTI tingkat universitas juga bisa memperluas jangkauan. Yang terpenting, IKAPATTI harus menetapkan visi jelas—misalnya, “Memberdayakan lulusan pertanian untuk memajukan ekonomi Maluku”—dan membentuk kepengurusan aktif untuk mewujudkannya.

Kesimpulan: Menyala untuk Maluku

Pengangguran sarjana, dengan TPT Maluku sebesar 6,08% pada Februari 2023, adalah tantangan yang membutuhkan solusi inovatif. IKAPATTI memiliki potensi untuk menjadi nyala yang menerangi jalan lulusan Fakultas Pertanian UNPATTI, menghubungkan mereka dengan peluang melalui platform digital, mentoring, kemitraan industri, inkubasi wirausaha, dan solidaritas. Inspirasi dari alumni seperti Spica Alphanya Tutuhatunewa, yang menunjukkan bahwa lulusan pertanian bisa mencapai karier global, atau Nining Purwokanti, yang menyerukan manfaat sosial, adalah bahan bakar untuk perubahan.

Meski data TPT Maluku terbaru untuk 2024 belum tersedia, angka 2023 menegaskan urgensi tindakan. Dengan kolaborasi antara fakultas, pemerintah, dan alumni, IKAPATTI bisa bangkit sebagai kekuatan yang memperkuat almamater dan membangun Maluku yang sejahtera. Bayangkan seorang lulusan Agribisnis yang, berkat IKAPATTI, membuka usaha pengolahan cengkeh, menciptakan lapangan kerja dan menginspirasi generasi berikutnya. Ini adalah visi yang layak diperjuangkan. Mari kita sulut nyala IKAPATTI, satu koneksi, satu perubahan pada satu waktu.

error: Content is protected !!