PT Dok dan Perkapalan Waiame Ambon, atau yang dikenal luas sebagai Dok Wayame, adalah sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Provinsi Maluku. Perusahaan ini bergerak di sektor strategis, yakni jasa perbaikan dan pembangunan kapal. Terletak di kawasan pesisir Wayame, Kota Ambon, Dok Wayame diharapkan mampu menjadi tulang punggung pembangunan sektor maritim di kawasan timur Indonesia yang didominasi oleh wilayah kepulauan. Namun, harapan tersebut kini menghadapi tantangan berat, sekaligus peluang yang menjanjikan.
Tantangan: Luka dalam Tata Kelola
Tahun 2025 menjadi titik kritis dalam perjalanan Dok Wayame ketika Kejaksaan Negeri Ambon menetapkan status penyidikan terhadap dugaan korupsi di tubuh perusahaan tersebut. Penyelidikan mengungkap adanya penyalahgunaan anggaran operasional perusahaan mencapai Rp177 miliar selama periode 2020–2024, dengan kerugian negara yang ditaksir mencapai Rp3,76 miliar.
Penyimpangan itu meliputi pengadaan barang fiktif, penggelembungan harga dan volume, serta aliran dana perusahaan yang ditransfer ke rekening pribadi staf. Bahkan, ditemukan indikasi penggunaan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi dan gratifikasi terhadap pejabat perusahaan. Kasus ini tidak hanya mencoreng citra BUMD, tetapi juga menggoyahkan kepercayaan masyarakat terhadap kapasitas pemerintah daerah dalam mengelola aset publik.
Selain persoalan hukum, tantangan lainnya adalah keterbatasan teknologi dan sumber daya manusia. Sebagai galangan kapal di wilayah timur, Dok Wayame belum mampu bersaing dengan galangan-galangan kapal besar di wilayah barat seperti Surabaya atau Makassar. Kapasitas produksi yang terbatas membuatnya kesulitan memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang, apalagi di tengah pesatnya program Tol Laut yang diluncurkan pemerintah pusat.
Ketergantungan yang besar terhadap suntikan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) juga menjadi tantangan tersendiri. Ketika perusahaan belum bisa mandiri secara keuangan, ruang geraknya menjadi sempit dan potensi ekspansi pun terhambat.
Peluang: Potensi Maritim yang Belum Digali Sepenuhnya
Meski tantangan besar membayang, Dok Wayame tetap menyimpan potensi yang layak diperjuangkan. Letak geografisnya yang strategis di Ambon, sebagai simpul pelayaran di Indonesia timur, memberikan keuntungan tersendiri. Galangan ini bisa menjadi pusat servis dan pemeliharaan kapal-kapal perintis, kapal dagang antar-pulau, hingga armada logistik nasional.
Dukungan dari Pemerintah Provinsi Maluku juga menjadi titik terang. Setelah terungkapnya skandal korupsi, pemerintah daerah bergerak cepat dengan mengganti jajaran direksi dan mempercepat proses evaluasi kinerja BUMD. Langkah ini menjadi sinyal positif bahwa perbaikan serius memang sedang diupayakan.
Tak hanya itu, Dok Wayame sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjalin kerja sama dengan berbagai program nasional di bidang kemaritiman, termasuk dalam mendukung pembangunan industri perkapalan berbasis daerah. Sinergi dengan lembaga pendidikan vokasi dan pelatihan kerja bisa menjadi jalan memperkuat kapasitas SDM lokal.
Kontribusi bagi Masyarakat Maluku
Di balik segala problematika, kontribusi Dok Wayame terhadap masyarakat tidak bisa diabaikan. Perusahaan ini menyerap ratusan tenaga kerja dari wilayah Ambon dan sekitarnya. Bagi banyak keluarga di kawasan Wayame, pekerjaan di galangan kapal menjadi sumber penghidupan utama.
Lebih jauh, Dok Wayame juga berperan dalam proses transfer pengetahuan dan keahlian teknis. Beberapa program pelatihan dan magang telah dilakukan bekerja sama dengan sekolah-sekolah kejuruan dan lembaga pelatihan kerja, meskipun skalanya masih terbatas.
Meskipun belum memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), keberadaan BUMD ini tetap penting dalam menjaga denyut nadi ekonomi lokal, terutama di sektor maritim yang menjadi andalan Maluku.
Penggantian Direksi: Awal dari Babak Baru?
Langkah strategis yang diambil pemerintah daerah untuk mengganti jajaran direksi PT Dok Wayame menjadi momen penting untuk memulai lembaran baru. Pengangkatan manajemen baru diharapkan mampu memulihkan kredibilitas perusahaan dan membangun kembali kepercayaan publik.
Direksi baru diharapkan membawa semangat reformasi dalam tubuh perusahaan—menguatkan sistem pengawasan internal, menertibkan proses pengadaan, dan menyusun ulang rencana bisnis yang realistis dan berkelanjutan. Bagi para pegawai, perubahan ini menjadi sinyal bahwa perbaikan bisa terjadi dan harapan baru bisa tumbuh.
Penggantian kepemimpinan juga berdampak positif bagi mitra usaha, pelabuhan, dan pelayaran di kawasan timur. Harapan tumbuh akan lahirnya kolaborasi yang lebih sehat, terbuka, dan saling menguntungkan, terutama dalam mendukung sistem logistik laut nasional.
Penutup: Menyongsong Harapan di Dermaga Timur
Dok Wayame adalah cermin dari pergulatan panjang BUMD di Indonesia: antara cita-cita besar dan kenyataan yang tak mudah. Namun dengan tata kelola yang dibenahi, manajemen yang profesional, serta dukungan masyarakat dan pemerintah, galangan kapal ini masih bisa menjadi simbol kebangkitan industri maritim Maluku. Dok Wayame tidak boleh dibiarkan karam. Ia harus didorong untuk berlayar kembali—menuju perairan masa depan yang lebih jernih.