Tidak banyak yang tahu bahwa jauh di jantung Pulau Seram, Maluku, terbentang sebuah kawasan hutan tropis yang pernah menjadi panggung ekspedisi dunia. Namanya Taman Nasional Manusela—sebuah tempat yang kini sunyi dari sorotan wisatawan, namun pernah disinggahi oleh ratusan pemuda dari berbagai negara dalam sebuah misi ilmiah dan kemanusiaan bernama Operation Raleigh pada tahun 1987.
Sekilas Tentang Taman Nasional Manusela
Taman Nasional Manusela terletak di bagian tengah Pulau Seram, Provinsi Maluku, mencakup area seluas sekitar 189.000 hektar. Kawasan ini menggabungkan keindahan ekosistem pegunungan dan dataran rendah, dari pesisir pantai Teluk Sawai di utara hingga Lembah Tehoru di selatan. Keanekaragaman hayati Manusela sangat luar biasa: lebih dari 117 jenis burung, 14 di antaranya endemik Maluku, termasuk kakatua seram (Cacatua moluccensis), nuri seram, dan burung madu. Vegetasinya mencakup hutan dataran rendah, hutan pegunungan, dan padang alang-alang, dihiasi anggrek liar dan pakis purba.
Gunung Binaiya, puncak tertinggi di Maluku (3.027 mdpl), juga berada di dalam kawasan ini, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki dan peneliti. Beberapa komunitas adat seperti suku Nuaulu dan Huaulu mendiami kawasan sekitar taman nasional, dengan budaya dan pengetahuan tradisional yang masih lestari.
Apa Itu Operation Raleigh?
Operation Raleigh adalah ekspedisi keliling dunia selama empat tahun yang dimulai dari Inggris pada November 1984. Tujuannya adalah melibatkan 4000 pemuda dari berbagai negara (2000 diantaranya dari Inggris) dalam beragam proyek menantang dan petualangan yang bersifat ilmiah maupun bantuan masyarakat. Terdiri dari 16 fase, masing-masing berdurasi sekitar tiga bulan, ekspedisi ini melibatkan pemuda berusia 17–24 tahun yang disebut ‘venturers’. Pada tahun 1992, menyusul meningkatnya jumlah relawan internasional, nama ekspedisi ini diubah menjadi ‘Raleigh International’ dengan fokus organisasi yang tetap pada pengembangan pemuda dan keberlanjutan. Kegiatan ini menjadi ajang pengembangan karakter, kerja lintas budaya, serta kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan.
Ekspedisi Operation Raleigh 10F (Juli–Oktober 1987) berlokasi di Pulau Seram, Indonesia. Lebih dari 200 venturers, staf operasi, dan pemimpin ilmiah dari seluruh dunia ambil bagian. Selama tiga bulan, para peserta terlibat dalam berbagai proyek riset ilmiah dan proyek bantuan masyarakat. Salah satu proyek penting adalah pembangunan sekolah di desa pegunungan Manusela.
Indonesia menjadi salah satu lokasi ekspedisi, dan Taman Nasional Manusela dipilih sebagai medan petualangan. Bagi sebagian peserta, inilah pertama kalinya mereka menginjakkan kaki di hutan hujan tropis yang lebat, menghadapi tantangan alam sekaligus menjalin persahabatan dengan masyarakat lokal.
Ekspedisi di Jantung Seram
Selama kurang lebih tiga bulan, para peserta dari berbagai negara—termasuk Inggris, Australia, dan beberapa negara Eropa lainnya—membangun basecamp di wilayah Manusela. Mereka mendirikan tenda-tenda ekspedisi di pinggir sungai, menembus lembah dan pegunungan, dan mencatat berbagai spesies flora dan fauna.
Kegiatan yang dilakukan mencakup:
- Penelitian biodiversitas: pencatatan burung endemik, serangga, anggrek hutan, dan satwa liar lainnya.
- Pemetaan wilayah dan geografi kawasan.
- Interaksi sosial dan pengabdian masyarakat bersama warga desa sekitar.
- Studi etnobotani dan wawancara budaya dengan masyarakat adat.
Suasana basecamp penuh warna: bahasa yang bercampur, logistik yang harus diangkut manual, tantangan medan, dan kekaguman para peserta pada keelokan lanskap Manusela yang masih perawan.
Warisan yang Nyaris Terlupakan
Seiring waktu, kegiatan Operation Raleigh ini perlahan menghilang dari ingatan kolektif. Tidak banyak publikasi atau dokumentasi yang tersisa, kecuali beberapa arsip di luar negeri dan memori kolektif warga yang saat itu masih muda dan ikut membantu para ekspeditor.
Padahal, jejak dari ekspedisi ini cukup penting:
- Kontribusi data awal mengenai keanekaragaman hayati di kawasan Manusela.
- Kenangan interaksi lintas budaya yang memberi kesan mendalam bagi warga desa.
- Inspirasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga hutan dan memahami budaya sendiri.
Sayangnya, peristiwa penting ini tidak pernah diangkat dalam narasi wisata daerah, tidak diajarkan dalam sekolah, dan tidak terdokumentasi dalam museum atau pusat informasi Taman Nasional.
Saatnya Menghidupkan Kembali Manusela
Manusela bukan sekadar taman nasional—ia adalah lembaran sejarah hidup tentang bagaimana alam dan manusia pernah berjumpa dalam semangat persaudaraan global. Artikel ini ingin mengajak pembaca untuk merenungkan: mengapa pengalaman besar seperti ini bisa hilang dari radar nasional?
Taman Nasional Manusela memiliki potensi untuk dijadikan pusat edukasi, laboratorium ilmiah terbuka, dan destinasi wisata berbasis konservasi yang autentik. Jejak Operation Raleigh bisa dihidupkan kembali lewat:
- Dokumentasi ulang dengan mengundang kembali peserta ekspedisi (jika memungkinkan).
- Pembuatan narasi sejarah dan video dokumenter lokal.
- Pengembangan ekowisata berbasis komunitas yang menonjolkan pengalaman sejarah dan kekayaan biodiversitas.
Penutup
Mungkin dunia telah lupa pada Manusela. Tapi di jantung Seram, hutan itu masih berdiri kokoh, menyimpan rahasia petualangan lintas bangsa, menunggu untuk diceritakan kembali. Kini tugas kita bersama—masyarakat, pemerintah, peneliti, dan generasi muda—untuk mengangkat kembali nama Manusela sebagai ikon ekowisata dan warisan global dari Maluku.
Karena sejarah bukan untuk dilupakan. Ia untuk ditemukan kembali dan dibagikan ke dunia.