PALITA PROJECT: Harmoni dari Ambon untuk Dunia

Di tengah geliat musik di tanah Maluku, sebuah nama mulai menyita perhatian penikmat musik dalam dan luar negeri: PALITA PROJECT. Bukan sekadar grup musik biasa, mereka adalah simbol semangat kreatif generasi muda Ambon yang memadukan harmoni vokal khas dengan eksplorasi musikal progresif yang tak kalah dari grup-grup papan atas nasional—bahkan internasional.

Lahir dari Tanah Musik

Ambon bukan sekadar kota biasa—ia adalah Kota Musik Dunia versi UNESCO. Dari tanah yang melahirkan musisi-musisi besar inilah PALITA PROJECT muncul. Terbentuk dari komunitas muda yang cinta musik, grup ini menjadi rumah bagi para musisi berbakat: Igor Leonard Sopamena (keyboard/sequencer), Geraldo Krikhof (gitar), Calvin Jhosua Pelmelay (drum), Yoreins Alexander Salamor (bass), dan Juan Alfa Almendo Siahaya (keyboard). Tidak ketinggalan pula para vokalis dengan karakter kuat: Nathasya Lonica Dates, Hardy Jamelio Harefa, Lodewyk Hahury, Charmellita Saptenno, dan Rachel Anjali Yamlaay.

Sejak awal, PALITA PROJECT punya misi jelas: menghadirkan warna musik Ambon yang otentik, modern, dan bisa dinikmati lintas generasi serta budaya.

Musik dengan Jiwa Lokal dan Aransemen Global

Dalam karya-karyanya, PALITA PROJECT banyak menyisipkan nuansa lokal baik dari segi lirik maupun nada. Lagu-lagu seperti “Nona Beta”, “La Apa Tempo”, dan “Ronda” memperlihatkan kemampuan mereka dalam membingkai cerita dan nuansa budaya Maluku ke dalam komposisi musik yang sophisticated.

Salah satu karya menonjol mereka adalah kolaborasi dengan Barry Likumahuwa, musisi jazz kenamaan Indonesia, dalam lagu “La Apa Tempo”. Kolaborasi ini menjadi semacam validasi kualitas musik PALITA PROJECT di mata para profesional industri.

Mereka juga merilis EP bertajuk “LUMA – Tampa Beta Pulang”, yang berisi 5 lagu dengan durasi total 18 menit. Judul EP ini mencerminkan kerinduan akan tanah kelahiran, nostalgia, dan identitas diri—tema yang kuat dalam tradisi musik Maluku.

Dibandingkan dengan Elfa’s Singers dan Manhattan Transfer

Tak berlebihan jika Direktur Ambon Music Office (AMO), Ronny Loppies mengatakan PALITA PROJECT mengingatkannya kepada Elfa’s Singers atau Manhattan Transfer, karena kekuatan utama mereka adalah harmoni vokal yang matang. Meski baru, mereka sudah punya karakter musikal yang khas dan mudah dikenali.

Elfa’s Singers adalah grup vokal legendaris Indonesia yang dibentuk oleh komposer Elfa Secioria pada tahun 1978. Grup ini dikenal dengan aransemen vokal yang kompleks dan harmonisasi yang kuat, serta telah melahirkan banyak penyanyi berbakat seperti Yana Julio, Ucie Nurul, dan Lita Zen. Mereka menjadi pionir dalam menggabungkan unsur jazz dengan musik pop Indonesia, dan hingga kini tetap aktif berkarya.

Sementara itu, The Manhattan Transfer adalah grup vokal asal Amerika Serikat yang dibentuk pada tahun 1969 oleh Tim Hauser. Grup ini dikenal karena kemampuan mereka dalam menggabungkan berbagai genre musik seperti jazz, pop, R&B, dan acappella. Dengan formasi klasik yang terdiri dari Tim Hauser, Janis Siegel, Alan Paul, dan Laurel Massé, mereka telah meraih sebelas Grammy Awards dan menjadi salah satu grup vokal paling berpengaruh di dunia.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa PALITA PROJECT memiliki potensi besar untuk mengikuti jejak kedua grup legendaris tersebut dalam menciptakan karya musik yang berkualitas dan mendunia.

Road to SiahFran Event 2025: Dari Ambon Menuju Belanda

Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi PALITA PROJECT. Mereka diundang untuk tampil di ajang SiahFran Event 2025 di Belanda, sebuah platform budaya yang mempertemukan seniman Maluku diaspora dengan komunitas internasional.

Sebagai bagian dari persiapan, PALITA PROJECT telah menggelar mini concert bertajuk “Road to Belanda” pada 12 Mei 2025 di Wairana Café, Hative Besar – Ambon. Konser tersebut sekaligus menjadi ajang penggalangan dukungan dan doa dari masyarakat Ambon sebelum mereka berangkat.

Saat ini, mereka berada di Jakarta untuk mengurus visa dan segala persiapan administratif, sebelum terbang ke Eropa dan membuktikan bahwa musik dari timur Indonesia juga layak mendapat panggung dunia.

Menjembatani Budaya dan Generasi

Lebih dari sekadar tampil, PALITA PROJECT membawa misi budaya: memperkenalkan Maluku lewat musik, mempererat tali antara generasi muda dan identitas lokal, serta menjembatani diaspora Maluku dengan tanah leluhur mereka.

Di panggung SiahFran Event 2025 nanti, mereka tidak hanya membawa lagu, tapi juga cerita, semangat, dan warisan budaya dari Ambon untuk dunia.

Kesimpulan: Dari Ambon, Suara Itu Bergema

PALITA PROJECT bukan sekadar grup musik. Mereka adalah duta seni dan suara kolektif anak muda Ambon yang siap menembus batas-batas geografis dan budaya. Dalam setiap lagu, mereka mengajak kita untuk mendengar denyut nadi tanah Maluku—penuh semangat, cinta, dan keindahan.

Kita patut bangga, dan lebih dari itu: mendukung.


Palita Project X SiahFran Events – Maluku Manise || SiahFran Events (Youtube)
Share:

5 thoughts on “PALITA PROJECT: Harmoni dari Ambon untuk Dunia

  1. Hi there, I apologize for using your form, but I was not sure who to ask for when calling your restaurant, The Awning Company specializes in custom commercial awnings and we have created awnings for the Hollywood Bowl, Dugout at the Padres Stadium, Nick’s and many other well known restaurants in LA, Orange, and San Diego county. If your restaurant is considering redoing your awnings we would love the opportunity to give you a quote, you can reach us online at https://theawningcompanyca.com email at mailto:sales@theawningcompanyca.com or phone at 866-567-8039. Don’t worry I won’t be contacting you a bunch of times, we just wanted to send you a quick note in case it is something your thinking about. Thanks!

Comments are closed.

error: Content is protected !!